Oleh: Idrus Fhadli
Patroli, TKP, Sidik Kasus, dan Sergap mungkin hanya sebagian kecil acara yang mengetengahkan topik kejahatan sebagai menu utamanya. Beberapa dari mereka bahkan sudah menjadi santapan sehari – hari sebagian pemirsa televisi di negeri ini. Berita dan informasi kriminal ini tidak hanya dapat dengan mudah kita temukan di media – media elektronik tetapi juga dapat kita temukan dalam media – media cetak. Tetapi, tidakkah pernah terbayang dibenak kita betapa banyaknya kasus kejahatan yang terjadi di sekitar kita sehingga setiap acara berita kriminal baik di media elektronik maupun media cetak tersebut mampu menyajikan konten yang berbeda dari rival – rivalnya dari hari ke hari?
Ya, anda pasti tahu bahwa hampir segala jenis kejahatan dan variasinya selalu diekspos setiap harinya pada media – media tersebut dalam suatu kolom/program acara tertentu. Mulai dari pembunuhan, perampokan, pencurian, penipuan, pemerkosaan, penculikan, judi, korupsi, dan lain sebagainya. Mungkin kita merasa bahwa kehidupan sehari – hari kita jauh dari hal – hal keji dan tidak berperikemanusiaan tersebut, namun kita tidak boleh terlena karena mungkin saja suatu saat kitalah yang akan menjadi berita didalamnya, entah sebagai korban entah sebagai pelaku (harap itu tidak terjadi…).
Bila kita renungkan, mungkin akan tergambar dengan jelas betapa moral bangsa ini kian merosot. Inikah raut muka sebenarnya bangsa Indonesia? Yang dalam pergaulan internasional kita dikenal sebagai bangsa dengan kepribadian yang baik? Memang, tidak semuanya jahat, melainkan hanya sebagian kecil saja. Namun, sebagian kecil inilah yang dapat mencoreng muka bangsa ini.
Kejahatan – kejahatan tersebut tidak hanya terjadi di suatu daerah saja melainkan menyebar dari kota – kota besar hingga ke desa terpencil sekalipun. Bila asumsi saya benar, bahwa hampir seluruh propinsi yang ada di Indonesia ini pernah tampil dalam pemberitaan kriminal tersebut. Tetapi porsi penampilan setiap propinsi tentu berbeda. Ada propinsi yang hampir setiap hari tampil dan ada juga propinsi yang hanya sekali – sekali saja tampil. Beberapa propinsi yang dapat dikatakan sebagai “bintang” antara lain DKI Jakarta, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan masih banyak lagi yang tidak sanggup saya sebutkan satu persatu.
Dampak dari sering munculnya suatu daerah dalam suatu berita kriminal tentu mempengaruhi persepsi orang – orang dari daerah lain. Katakanlah Sumatera Selatan dan Lampung sebagai propinsi yang memiliki jam terbang yang tinggi dalam berita kriminal, maka orang – orang dari misalnya DI Yogyakarta, akan memiliki persepsi yang buruk terhadap orang – orang yang berasal dari Sumatera Selatan dan Lampung ini. Atau bahkan akan timbul rasa ngeri atau tidak suka. Padahal tidak semua orang dari daerah tersebut seburuk seperti apa yang tergambar dalam berita – berita kriminal.
Kebanyakan motif yang menjadi pemicu tindakan kriminal oleh para penjahat dalam acara berita kriminal adalah harta, wanita, dan tahta, tiga unsur kebahagian duniawi yang kelak diakhirat nanti akan membawa kita ke surga atau bahkan neraka. Beberapa dari pelaku kejahatan tersebut mengaku terpaksa melakukan kejahatan karena desakan ekonomi, dan tidak jarang pula kita dengar kisah mengharukan, mereka terpaksa melakukan kejahatan untuk membeli susu utuk anaknya, biaya pengobatan orang tercinta, dan lain sebagainya.
Entah sampai kapan hal ini akan terus berlanjut, kejahatan akan terus menorehkan krayon hitamnya dalam hidup kita, hanya Allah SWT yang mengetahui. Kita hanya bisa berdoa semoga kita dijauhkan dari hal – hal tersebut. Amin.