Browse > Home / Personal, Social Politics / Ngamal atau Nyawer?

| Subscribe via RSS

Ngamal atau Nyawer?

July 13th, 2007 Posted in Personal, Social Politics

Nyawer, istilah ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat kita, terutama bagi yang menyukai hiburan malam dan hiruk pikuk organ tunggal. Yang disawer biasanya penari atau penyanyi yang biasanya melakukan gerakan erotis guna menghibur penontonnya. Penonton disini notabene adalah kaum lelaki dan biasanya yang suka nyawer itu gw sebut ‘lelaki gatel’. Saweran seringkali dilakukan sembari mengincar dan menyentuh bagian-bagian ‘sensitif’ dari tubuh si biduan/penari.

Pada beberapa kesempatan, nyawer juga digunakan untuk menunjukkan salah satu identitas fana dunia yakni ‘kekayaan’. Biasanya si penyawer akan merasa minder/malu/rendah diri bila uang sawerannya kecil. Bahkan tidak jarang para penyawer berduit ini rela mengeluarkan rupiah yang bukan lagi dalam hitungan ribuan melainkan puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu.

Seringkali gw mikir gini, “ngapain ngasih duit banyak orang yang ga jelas (biduan/penari)”. Beberapa hari yang lalu gw ikut suatu acara yang dihadiri oleh kalangan berkantong tebal. Banyak sekali uang saweran yang ‘berseliweran’ di panggung hiburan tersebut. Denger-denger si biduan dapet sejuta lebih.

Kalo dilihat dari sisi yang lain, sebenarnya apa manfaat yang kita dapat dari melakukan saweran tersebut? Untuk membiayai biaya hidup si biduan/penari agar ia dapat lebih panas sepanas bara api dan lebih atraktif lagi seatraktif gerakan ‘ayam hidup kecebur di kuali berisi minyak mendidih’? Coba tanya ke para penyawer itu apakah mereka rela dan ikhlas memberikan uangnya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat seperti zakat, infak, dan sodaqoh? Kalo menurut gw sih nggak! Mereka cuma menuntut kebahagiaan di dunia dengan berjoget, bernyanyi, dan bercanda ria dengan sejenis setan yang berwujud manusia. Padahal bila uang tersebut dizakatkan/diinfakkan/disodaqohkan tentulah akan sangat mengurangi beban dan derita hidup mereka yang membutuhkan.

Betapa teganya mereka, menari dan berbahagia sembari menghambur-hamburkan uang untuk hal mubazir dan tidak membawa berkah sedikitpun sedangkan disekitar mereka masih banyak kaum dhuafa yang kadang makan kadang nggak, tidur di kolong jembatan dan di emperan pertokoan, ibu-ibu yang mengemis demi memberikan sebotol susu untuk anaknya yang masih bayi, dan mereka-mereka yang kurang beruntung…

Nurani dimanakah kau berada kini…???



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Dateline atau Deadline?

Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.