Diam…
Oleh: Idrus Fhadli
Disini, di lapangan yang luas membentang ini, dalam gelap dan pekatnya malam. Aku berdiri terdiam, menerawangkan imaji, sendiri tiada kawan maupun lawan, terlarut dalam belaian mesra sang khayal yang masih setia menceritakan kisah-kisah indah dunia.
Angin malam itu begitu kencang, menggoyangkan rerumputan ilalang disekelilingku, menciptakan sederetan ritme yang semakin membuaiku. Sekejap ku tersentak, kulihat sesuatu yang berkelebat cepat mendekatiku, dekat, semakin dekat. Aku ingin mundur dan berlari tapi sendi-sendiku serasa kaku, membuatku semakin terdiam membisu, terpejam tak berkutik. Sesuatu itu menyambar dan mencengkeram erat kedua lenganku dengan lengan-lengannya yang besar, kuat, dan kokoh. Kurasakan kakiku yang sedari tadi menjejak tanah, terangkat, aku terbang. Ingin ku mengetahui apa yang terjadi, namun kedua mataku masih terpejam, belum cukup keberanianku untuk mengetuk dan memintanya membukakan pintu-pintu yang menghalangi segenap pandanganku.
Sekarang kakiku menjejak angkasa, begitu luas, begitu bebas, tak ada kerikil ataupun perakaran pohon yang dapat membuatku berhenti berlari sejenak kemudian terjatuh, menangis tersedu, tergugu, dan bangkit berdiri untuk kemudian berlari lagi.
Aku lelaki! pikirku, apa yang harus kutakutkan? Kecuali penciptaku! Kuhimpun keberanianku, perlahan kuketuk pintu itu sembari mengucapkan salam, dengan perlahan pula pintu itu terbuka lebar, dan lebar hingga sepasukan cahaya berebut masuk dengan leluasa. Silau, sangat silau, ingin rasanya ku memekik dan meminta sang tuan rumah menutup kembali pintu-pintunya. Namun percuma, ia telah menghilang entah kemana.
Cahaya itu perlahan meredup dan kunang-kunang dihadapanku satu-persatu pergi menjauh. Kudongakkan kepalaku, mencoba mencari tahu apa dan siapa yang membawaku terbang. Aku terkesima, takjub sekaligus kagum atas apa yang kulihat, seekor burung besar dengan jambul indah dan bulu panjang berwarna-warni yang meninggalkan jejak-jejak pelangi di setiap jengkal angkasa yang dilaluinya. Belum pernah kulihat apalagi kubayangkan keindahan seperti ini sebelumnya.
Burung itu masih melesat cepat, membelah gumpalan-gumpalan awan sedemikian rupa, membawaku terbang jauh, semakin jauh, hingga ku tak bisa menerka-nerka lagi dimana aku sekarang. Belum habis bengongku, tiba-tiba ia menukik tajam secepat ia melesat. Samar-samar kulihat di bawahku, di kejauhan yang masih diluar jarak pandangku, titik-titik kecil dengan diameter yang berbeda, berkerumun, membentuk pola-pola yang tidak beraturan. Saat ketinggian kami semakin berkurang, semakin jelas pula mataku melihat titik-titik itu. Bentuknya seperti kerucut dengan ujung-ujungnya yang meruncing. Otakku bekerja keras dengan kecepatan petaflops yang aku tak tahu berapa nominalnya, memerintahkan milyaran neuron didalamnya untuk memasuki ruang perpustakaan dan perbendaharaan kata, mencari tahu apakah titik-titik itu.
Stalagmit! Kontan ku terkesiap dan menjerit, memekik, melengking sejadi-jadinya, sampai putus pita suaraku, saat burung itu menukik tajam, semakin cepat, mendekati stalagmit-stalagmit itu dan seketika itu pula melepaskan cengkeraman kaki-kakinya seraya melemparku, membanting tubuhku ke gugusan yang beberapa milidetik lalu berupa titik-titik tak bermakna. Kucoba meraih ekornya yang terjuntai melambai kearahku. Kugenggamkan tanganku, berharap juntaian ekor indah itu turut tergenggam didalamnya. Namun hanya sebentuk kosong yang kugapai. Ekor indah itu semakin menjauhiku dan masih melambai kepadaku seakan ingin mengucapkan salam perpisahan. Aku melayang sejenak kemudian jatuh, tubuhku hancur tercerai-berai, tertusuk, tersobek, dan terkoyak tombak alam itu.
Kembali aku terdiam, terpana, tanpa suara, namun kali ini untuk selamanya…
Home Sweet Home, Palembang
27 Juli 2007
20:50
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
No related posts.




