Kisah di fotokopian…
Kemaren siang gw njilid laporan pkl gw di salah satu tempat fotokopi di Lemabang (Palembang), pas lagi nunggu jilidan, gw mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan tempat fotokopi tersebut. Ada sekitar 6 atau 7 mesin fotokopi disana, dan hampir semuanya terpakai, beberapa ibu dan anaknya yang masih SD menunggui mesin tersebut. Iseng-iseng gw keliling dari satu mesin fotokopi ke mesin fotokopi yang lain sembari melihat apa gerangan yang difotokopi oleh orang-orang ini. Setelah mengetahui hal yang sebenarnya, gw ngucap Masya Allah, ternyata buku pelajaran, ada PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan lain sebagainya.
Saking penasarannya, gw tanya ke salah satu ibu yang kebetulan duduk disamping gw, motokopi apa? trus jawabnya buku pelajaran, nak. Ibu ini orang susah, mana mampu beli buku pelajaran baru yang harganya udah puluhan ribu, mending duitnya buat beli beras. Mendengar jawaban tersebut, hati gw berdesir sedih. Gw teringat sama diri gw pas sekolah dulu, dari SD, SMP, sampe SMA gw ga pernah yang namanya make buku bekas apalagi fotokopian, seragam, tas, dan sepatu hampir setiap tahun ajaran baru berganti dengan yang baru pula. Batin gw tertampar, selama ini gw kurang berterima kasih dan bersyukur kepada Allah dan orang tua gw, gw malah mengharapkan segala sesuatu yang lebih. Ternyata masih banyak orang lain yang kehidupannya lebih susah dan menderita. Gw malu sama diri gw sendiri…
Ada perasaan menyesal, dulu semasa sekolah gw males-malesan belajar, pengennya maen terus. Gw jadi malu sama anak ibu itu, yang terlihat begitu semangat bercerita tentang sekolahnya dan pelajaran yang telah ia dapat, terlihat jelas bahwa anak itu cerdas…
Lagi-lagi gw malu sama diri gw sendiri…
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:




