Browse > Home / Personal / Bunga untukmu, bidadari…

| Subscribe via RSS

Bunga untukmu, bidadari…

August 13th, 2007 Posted in Personal

Mawar itu merah, bidadari. Memang, mawar tidak hanya merah. Mawar ada yang kuning dan putih, tapi aku lebih suka dengan mawar merah. Kata orang, warna merah berarti berani. Namun, aku sendiri meragukan keberanianku ‘tuk nyatakan rasa yang bergejolak dihatiku. Apa ini cinta? Entahlah… tapi satu yang pasti, rasa itu kian kuat membuncah dan meluap-luap saat kuingat dirimu apalagi beradu pandang dengan mata indahmu.

Tak berani berarti pengecut. Memang, aku pengecut! Sang waktu pernah menorehkan sejarah kelam kepengecutanku yang membuatku menyesal hingga detik ini. Tapi tolong, bidadari, jangan kau tanyakan tentang sejarah itu, aku tak mau mengungkit-ungkitnya lagi. Pernah kudengar umpatan orang-orang terhadap sang pria pengecut, “potong saja kemaluanmu bila kau tak memiliki keberanian!”. Sejenak aku diam, mencerna makna tiap rangkaian huruf-huruf itu. Lalu, ingin sekali kubantah kata-kata mereka, “Hei! aku pengecut! hadapi seorang gadis saja aku takut! apalagi bila harus memotong kemaluanku! tentu saja aku tak berani melakukannya! karena aku pengecut! justru karena kalianlah sang pemberani, maka kusarankan kalian memotong kemaluan kalian! untuk buktikan keberanian kalian!”. Tapi kuurungkan niat untuk membantah itu, kau tanya kenapa, bidadari? Karena aku pengecut! Kupikir lebih baik diam daripada berbacot tak karuan.

Mawar itu bunga, bidadari. Bunga itu sangat indah, dan mereka memiliki wangi yang memanjakan penciuman. Kata orang, nyatakanlah setiap perasaanmu dengan bunga. Entah itu perasaan bahagia ataupun duka cita. Aku setuju dengan kata mereka, bidadari. Sudah terlalu sering aku melihatnya di TV, adegan romantis saat seorang pria menyatakan cinta, sembari memberikan sekuntum bunga mawar merah pada gadis pujaan hatinya yang pada akhirnya mampu meluluhkan hati sang gadis. Atau pada adegan lain, saat berlangsungnya suasana berkabung, beberapa orang membawa bunga sebagai tanda turut berduka cita mereka.

Mawar itu berduri tajam, bidadari. Kata orang, durinya itu untuk melindungi dirinya dari tangan-tangan jahil. Aku ingin kau memiliki duri seperti sang mawar untuk melindungi dirimu dari ‘pria setan’, bidadari.

Bidadari, ingin rasanya saat ini juga kunyatakan rasa-ku ini padamu melalui setangkai bunga mawar merah. Namun, aku masih ragu, bidadari, aku masih takut. Aku merasa tak pantas untuk menyatakannya, kau begitu sempurna, sedangkan aku hanyalah manusia biasa yang tak sesempurna dirimu.

Mungkin, lebih baik kupendam saja rasa ini, hingga malaikat maut datang berderap dengan kuda-kudanya dan mencambuki jiwaku agar bercerai dengan ragaku. Aku tahu, bidadari, memendam rasa itu sama halnya dengan menancapkan duri-duri tajam bunga mawar ke dalam bilik-bilik jantungku, sakit dan perih tak tertahankan. Tapi aku rela, bidadari, aku rela dan siap menerima semua itu…

Hanya satu yang kupinta darimu, izinkan aku ‘tuk sekedar membayangkan eloknya paras pahatan Yang Maha Kuasa, setiap waktu sebelum aku tiba di depan gerbang alam mimpi dan memasukinya untuk bertemu dengan dirimu yang semu…

Hanya itu yang kupinta, bidadari…

Home Sweet Home, Palembang
Minggu, 12 Agustus, 2007
00:14



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Bunga
  2. Bidadari cantikku t’lah pergi
  3. Aku hanyalah…
  4. Ungu – Disini Untukmu
  5. Ungu – Untukmu Selamanya (lirik yang dalem…)

Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.