Menanti revolusi dunia perfilman Indonesia
Well, dunia perfilman negara tercinta kita ini dapat dikatakan telah mencapai titik jenuhnya, alias membosankan! ga’ kreatif! kampungan! norak! dan lain sebagainya. Mengapa gw bilang begitu? Anda tentu telah mengetahui jawabannya, yaitu: “KE-MONOTON-AN TEMA!”.
Emang, gw bukan seorang yang professional dalam bidang perfilman, gw nulis artikel ini semata-mata karena keprihatinan gw terhadap keterpurukan dunia perfilman kita.
Monoton! Apanya yang monoton? Ya itu tadi, TEMA! Mengapa monoton? Karena ga’ jauh-jauh dari yang namanya cinta dan setan. Cinta-cintaan versus setan-setanan. Lalu, siapa yang menang? Saat ini keduanya masih dalam kedudukan imbang, satu sama :P (hehehe…udah kayak tanding bola aja yah). Keduanya masih mendapat tempat di hati para penggemarnya yang notabene adalah kaum remaja. Disinilah letak ketidakkreatifannya! Coba hitung, film yang mengusung tema cinta ada berapa? Dan yang mengusung tema setan ada berapa? Kandidat dari ‘cinta’ antara lain: Eiffel I’m in Love, Love is Cinta, Kangen, Dealova, Merah Itu Cinta, Cinta Pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan dari kubu ‘setan’ ada Pocong, Hantu Jeruk Purut, Lantai 13, Kuntilanak, Hantu, Jaelangkung, dan hampir semua jenis hantu/setan telah difilmkan.
Walaupun begitu, masih ada beberapa film yang mencoba untuk keluar dari kungkungan kedua kubu tersebut walaupun tidak 100%, antara lain: Jomblo!, Ada Apa dengan Cinta?, Realita Cinta dan Rock ‘n Roll, Janji Joni, Gie, Nagabonar Jadi 2, I Love You Om, dan beberapa lainnya yang mengusung tema yang lebih kreatif.
Gw juga pernah mengutarakan tentang hal ini kepada beberapa temen gw, trus kata mereka, “yang nguntungin mah emang kedua tema itu, kalo ngangkat tentang hal laen mungkin ga akan selaku dan selaris ini.” Gw lantas berpikir, “emang kedua tema ‘besar’ itu nguntungin bener yach?”. Tapi gw yakin kalo tema-tema kreatif lainnya yang dipadu dengan alur cerita dan penokohan yang apik serta akting yang baik, tentulah akan menghasilkan film yang berkualitas!
Beberapa pakar justru mengatakan kalau film-film Indonesia yang diproduksi akhir-akhir ini lebih condong ke arah ‘instan’ atau dengan kata lain ‘cepat saji’ yang pada akhirnya menurunkan kualitas film itu sendiri baik dari segi cerita, penokohan, akting, dll. Coba kita bandingkan, bagaimana kualitas film yang dihasilkan oleh cara ‘instan’ tersebut dengan film-film yang dihasilkan oleh studio-studio besar luar negeri seperti 20th Century Fox, Disney, dan Universal Pictures misalnya. Dari segi tema aja kita udah ‘ke-bantai’ sama mereka. Lihat saja contohnya kayak Spiderman, Titanic, Jaws, 300, Star Wars, dan film-film ‘box office’ lainnya.
Sebenarnya kita juga bisa membuat film ‘besar’ seperti mereka. Coba cari dan angkat tema serta ide cerita yang unik dan fresh serta menarik. Misalnya memfilmkan skenario “Aku” karya Sjuman Djaya yang mengisahkan tentang kehidupan penyair besar kita, Chairil Anwar. Dalam bukunya gw baca bahwa akan sulit untuk mewujudkan skenario tersebut kedalam bentuk visual (baca: film) dikarenakan beberapa alasan seperti: sulitnya menggambarkan kembali suasana kota Jakarta pada masa itu, susahnya menemukan mobil-mobil yang dipakai pada saat itu, hingga masalah dana. Tapi bila memang diniatkan, gw yakin skenario itu akan dapat difilmkan, apalagi bila didukung oleh semua pihak mulai dari pemerintah, sutradara-sutradara ternama yang berbakat, produser-produser yang berkantong tebal, tokoh politik, sejarawan, seniman, hingga masyarakat. Bila mereka (studio luar negeri) mampu, mengapa kita tidak? Iya sih, tapi mereka mah enak, punya duit banyak, studio besar dengan peralatan super canggih, dll. Ya, itu tadi! Kalau emang diniatkan pasti bisa! Kita bahkan bisa mengadakan kerjasama dengan mereka agar turut membantu dalam melahirkan sebuah karya sinema Indonesia yang revolusioner yang bisa dibanggakan kepada ‘dunia luar’.
Ayo! Insan perfilman Indonesia! Bangkit berdiri! Jangan cuma mengekor tren aja! Masih banyak tema lain yang bisa dieksplorasi! Ga cuma terbatas pada cinta dan setan! Kami sudah bosan dengan kedua tema bulukan tersebut!
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:




