Browse > Home / Communication, Personal, Social Politics / Antara kulit putih dan cinta sejati (?!)

| Subscribe via RSS

Antara kulit putih dan cinta sejati (?!)

January 15th, 2008 Posted in Communication, Personal, Social Politics

Akhir-akhir ini semakin sering kita melihat iklan-iklan produk pemutih kulit dan wajah, terutama di televisi. Dan anehnya, inti pesan yang ingin disampaikan dalam iklan-iklan itu cenderung sama yaitu “bila memiliki kulit putih maka akan semakin mudah mendapatkan cinta”, baik secara tersurat maupun tersirat. Ada satu iklan yang saya lihat akhir-akhir ini yang membuat saya geli, kalau tidak salah sang wanita mengatakan “seminggu yang lalu saya jomblo loh!”, lalu ditampilkan adegan saat ia sedang chatting, dan di layar laptopnya tiba-tiba terpampang jendela-jendela yang menyatakan banyak ‘orang/lelaki’ yang ingin chatting dengannya, dan pada akhirnya ia bilang “duh, jadi bingung nih (yang secara tersirat menurut saya, ia bingung untuk memutuskan dengan lelaki mana ia akan chatting atau bahkan menjalin hubungan).

Janji-janji yang ditawarkan oleh produsen-produsen produk pemutih kulit tersebut, melalui iklan-iklannya sungguh hebat dan memukau bahkan terkadang terdengar tidak masuk akal dan terlalu dilebih-lebihkan, “dapatkan kulit putih dan mempesona hanya dalam tujuh hari”, bahkan kurang!!! Atau “dapatkan kembali cintamu hanya dalam tujuh hari”, dll. Entah apakah janji-janji itu memang terbukti atau tidak.

Contoh iklan lainnya adalah produk-produk ‘anti aging’ atau bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti ‘anti penuaan’, ‘anti keriput’, dll. Pesan yang disampaikan disini pun tidak jauh berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh produk-produk pemutih kulit yang telah saya sebutkan sebelumnya, namun dengan sedikit ‘improvisasi’, yakni “bila kulit anda sudah tidak putih, tidak kencang (keriput), tidak bercahaya (kusam), dll, maka anda akan ditinggalkan oleh suami anda. Terdengar lucu bukan? Bukankah sebelum menikah dulu sepasang suami istri telah berjanji untuk sehidup semati, setia, dan menerima pasangannya dengan apa adanya? Apakah ikatan suci pernikahan itu dengan mudah dapat ‘digunting’ hanya karena masalah kulit? Aneh.

Ada dua hal yang mengusik pikiran saya, yang pertama adalah dari inti pesan tersebut. Memamg, wanita dengan kulit putih, halus, lembut, bercahaya, dan entah apa lagi istilahnya, terlihat lebih menawan. Tapi lantas apakah dengan ‘bermodalkan’ kulit putih saja ia akan dengan mudah mendapat apa yang ia inginkan? Cinta pria idaman misalnya. Apakah wanita dengan kulit yang ‘tidak putih’ akan sulit untuk ‘menemukan cintanya?’. Tampak adanya pembentukan sugesti diantara para wanita tentang ‘kelebihan-kelebihan’ bila memiliki kulit putih, yang ujung-ujungnya adalah mereka berbondong-bondong membeli dan memakai produk pemutih kulit tersebut.

Yang kedua adalah ketidaksamaan persepsi saya dengan inti pesan tersebut. Sebagai seorang pria, yang saya lihat dari seorang wanita tidak terbatas pada putih tidaknya kulitnya, cantik tidaknya ia, atau seksi tidaknya ‘body-nya’. Ada satu hal yang lebih penting dari kesemuanya itu menurut saya, yakni sikap dan tingkah lakunya. Setuju?!



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Cinta Sejati dan Cinta yang Mati
  2. Melati putih
  3. Saat Prioritas Cinta Dipertanyakan…
  4. Bidar dan Cinta (Sebuah Legenda)
  5. Bersentuhan tangan?

Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.