Browse > Home / Curhatan, Social Politics / Tarik ulur ‘nafas’ Pak Harto, mahalnya kedelai, dan kelangkaan minyak tanah

| Subcribe via RSS

Tarik ulur ‘nafas’ Pak Harto, mahalnya kedelai, dan kelangkaan minyak tanah

January 15th, 2008 Posted in Curhatan, Social Politics
-->

Beberapa hari terakhir ini ada tiga topik utama yang terjadi di negeri ini yang menyedot perhatian banyak orang, yakni: kondisi kesehatan mantan presiden Soeharto, mahalnya harga kedelai, dan kelangkaan minyak tanah yang masih saja terjadi. Dengan mudah informasi seputar tiga topik ini ditemukan di program-program acara berita baik di media cetak maupun media elektronik.

Tarik ulur ‘nafas’ Pak Harto, mengapa saya tulis begini? Karena kondisi kesehatan mantan presiden kedua republik ini yang naik turun. Kalau kata temen-temen saya sih, Pak Harto sulit meninggalnya karena kebanyakan dosa. Soal dosa, wallahualam deh. Malaikat seakan ‘mempermainkan’ nyawanya dengan sesekali menariknya dan sesekali mengulurnya, ibarat bermain layang-layang, dan setelah ‘ia’ bosan barulah dengan perlahan ia ‘menyentak’ benangnya dan me-lego-kan layang-layangnya (istilah lego dalam bahasa Palembang sering digunakan untuk istilah layang-layang yang putus karena kalah aduan). Beberapa hari yang lalu, saya menonton berita di salah satu stasiun TV (lupa…) yang menayangkan komentar dari Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Ustadz Abu Bakar Baasyir, ia menyatakan bahwa sebaiknya Pak Harto segera bertobat atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap negeri ini.

Jadi inget pas saya kecil dulu, waktu itu pemilihan umum, dan hanya ada tiga partai yang mengikuti pemilihan umum tersebut. Saya berkata kepada kedua orang tua saya, “Kenapa harus memilih Golkar pa? Kenapa tidak partai yang lain? PDI atau PPP?”, saya berkata seperti itu saat berada dalam keramaian. Di daerah rumah saya waktu itu memang ‘dipenuhi’ oleh pendukung Golkar. Kontan saja orang tua saya ‘membekap’ mulut saya dan membawa saya pulang ke rumah. Di rumah, saya disuruh supaya tidak mengulangi hal yang sama atau bila tidak bisa-bisa saya ditangkap Polisi atau ABRI trus dipenjarakan!!! Mereka juga menceritakan beberapa kasus yang entah benar entah tidak mengenai orang-orang yang ditangkap gara-gara ‘berbicara’ mengenai Golkar dan kepemimpinan Soeharto serta Dwifungsi ABRI saat itu. Mendengar ‘wejangan’ seperti itu saya serta-merta merasa takut (maklum masih kecil :P). Dari sini dapat dilihat bagaimana kondisi rakyat semasa pemerintahan (rezim) Soeharto.

Pernah saya baca disebuah artikel/buku (lagi-lagi lupa sumbernya… maaf…), bahwa kondisi negara ini pada masa pemerintahan Pak Harto adalah kuat namun rapuh. Negara ini tampaknya kuat bila dilihat dari luar, namun keadaan didalamnya sungguh berlawanan, begitu lemah begitu rapuh. Kebebasan rakyat banyak dibungkam, pembredelan pers adalah hal yang biasa, insiden ‘orang hilang’ pun adalah biasa.

Baik, saya sudahi pembicaraan mengenai Pak Harto, saya jadi pusing sendiri bila harus banyak menulis tentangnya :P.

Yang kedua, harga kedelai yang meroket hingga tembus persen ke-seratus. Harganya melambung gila-gilaan, yang semula berkisar tiga ribuan per-kilo-nya, sekarang mencapai tujuh ribuan per-kilonya. Industri tahu tempe pun ‘megap-megap’. Sebagian produsen menyiasatinya dengan memperkecil ukuran produksi tahu/tempe-nya dan mengurangi jumlah tenaga kerjanya bahkan beberapa nekat berutang kepada pengepul kedelai. Tapi sebagian lainnya memutuskan untuk ‘beristirahat’ untuk jangka waktu yang belum diketahui.

Tahu dan tempe merupakan salah satu makanan/lauk pauk favorit rakyat. Selain harganya yang relatif terjangkau dan rasanya yang enak, kandungan gizinya pun baik. Bila disuruh memilih antara tahu atau tempe, saya sih lebih suka tahu :P. Oh ya, dampak lain dari mahalnya harga kedelai ini adalah jumlah tahu dan tempe yang beredar di pasaran pun berkurang bahkan harganya ikut-ikutan naik. Contoh yang saya alami, tadi pagi saya sarapan nasi uduk di dekat kos-an, nasi uduk itu disajikan bersama tempe dan atau bakwan. Tempe yang saya makan ternyata ukurannya kecil sekali, terlihat besar karena tepungnya saja.

Yang ketiga, masalah kelangkaan minyak tanah yang tak kunjung menampakkan akhirnya. Kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah semakin menjadi-jadi, antrian semakin panjang dan semakin lama, Rupiah yang harus dikeluarkan semakin banyak, dan jumlah pembelian pun dibatasi (rata-rata dua liter per-orang).

Saya pantau di media, kelangkaan ini berkaitan dengan kebijakan Pertamina mengurangi jumlah pasokan minyak tanahnya. Dan juga guna mendukung program konversi minyak tanah ke gas.

Tidakkah mereka lihat ‘kebawah’? Rakyat kecil yang semakin tercekik? Tadi pagi, saya menonton berita di salah satu stasiun TV, tentang seorang tukang gorengan yang diduga stress gara-gara kelangkaan minyak tanah ini, omzet penjualannya menurun drastis, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di tali gantungan. Tragis memang, gantung diri gara-gara kelangkaan minyak.

Contoh yang saya temui di lapangan adalah turut naiknya harga jual gorengan. Bila dulu biasanya dengan uang seribu Rupiah, bisa mendapatkan ‘tiga biji’ gorengan atau setidaknya empat ratus rupiah per-bijinya, sekarang cuma dapat dua. Duh.

Harapan saya tidak jauh berbeda dengan harapan kebanyakan orang yaitu; Pak Harto segera diberi kesembuhan (atau segera berakhir penderitaannya alias ‘pass away’), harga kedelai segera stabil sehingga keberadaan tempe dan tahu di pasaran kembali seperti semula, dan kelangkaan minyak segera diselesaikan demi ‘keberlangsungan’ kepulan asap dapur rakyat. (15 Januari 2007, 13:03)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
----

Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Hari terakhir (selamat jalan Pak Harto)
  2. Bangsaku kian terpuruk???

2 Responses to “Tarik ulur ‘nafas’ Pak Harto, mahalnya kedelai, dan kelangkaan minyak tanah”

  1. Anggie Says:

    Ya.. Memang gitu lah.. Waktu jamannya Pak Harto dari luar negara kita seperti makmur dan kaya, coba dari sudut pandang yang lain,,, Kacau n Balau,hehehe…..

    [Reply]


  2. Au' Says:

    Komen dulu baru baco :D
    Panjang nian euy, lelah mata ku membacanya. Hehehe….

    [Reply]


Leave a Reply

:-)) :-) :-D (LOL) :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (highfive) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (muhaha) (taser) (cry) (blush) (banana_ninja) (beer) (coffee) (fish_hit) (muscle) (smileydance)