Browse > Home / Archive: February 2008

| Subcribe via RSS

Hati yang sepi

February 17th, 2008 | No Comments | Posted in Curhatan, My Words

Semalam, kau hadir dalam mimpiku. Senyummu mengembang, bibirmu ucapkan kata-kata yang lembut dengan sesekali tergelak tawa dari canda yang terlantun.

Kau begitu nyata meski hanya untuk sesaat. Ku ingin hentikan sang waktu, persilakan malam tetap mencengkeram, lelapkan mentari dalam peraduannya, sehingga pagi tak menjelang, dan kau tak turut menghilang. Namun, aku tak miliki kuasa untuk melakukan itu semua.

Hatiku begitu sepi. Tanpa hadirnya dirimu. Aku tahu, aku memang bodoh. Tak berani ungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku selalu berkaca. Siapa diriku? Aku tak tampan, aku tak pandai, dan aku juga tak kaya. Betapa lancangnya diriku bila ternyata aku berani ungkapkan rasa itu. Kau begitu sempurna, tak pantas untuk menjadi milikku yang selalu papa.

Ku hanya mampu mimpikan dirimu. Harap kita selalu bertemu, bertatap muka, dan berkata-kata dengan diselingi canda yang ceria.

Jarak terkadang lancang, memisahkan dua insan yang berbeda. Walau zaman telah maju, sinyal radio bergentayangan di seantero bumi, kendaraan berkelebat cepat, namun semuanya seakan tak mampu pupuskan rinduku. Ku selalu berharap kau disana selalu baik-baik saja, selalu ceria, selalu bahagia, meski lautan, jarak, dan waktu bahu membahu membentuk suatu spektrum pemisah antara kita.

Aku kan selalu ada, kala kau bahagia atau pun duka.

Terkadang aku menantang sang duka, ingin menderanya dalam segenap siksa, bila ia berani menghampiri dirimu, meski sesaat.

Namamu selalu terangkai dalam bulir-bulir munajat yang senantiasa terpanjat seusai lima shalatku.

Entah sampai kapan rasa ini terpendam. Aku sendiri tak tahu. Sebab bibirku serasa kelu, bila mendengar suaramu diseberang sana. Aku tak mampu ungkapkannya. Ya, seperti kataku tadi, aku tak pantas untukmu.

Sebentar lagi kau wisuda, sedangkan aku belum apa-apa. Bahkan aku pun tak berani tanyakan, apa kau akan pulang setelahnya? Ataukah akan menetap disana? Meskipun tanya itu dapat terselip dalam canda, sedikitpun tak berani ter-udara.

Cutie, aku tak tahu lagi apa yang ingin kutuangkan dalam baris-baris kata tak terucap ini. Entah apa kau melirik baris-baris ini, walau sedikit. Atau mungkin kau memalingkan diri darinya. Anggap baris-baris ini tak pernah ada? Anggap baris-baris ini tak pernah tercipta? Anggap baris-baris ini tak bermakna? Aku tak peduli. Karena hanya melalui baris-baris inilah aku mencurahkan apa yang berkecamuk dalam jiwaku.

‘Meine Traurigkeit’ menggambarkannya jelas. Bila kau mengerti…

Symphony X – Awakenings

February 16th, 2008 | No Comments | Posted in Curhatan, Music

Needless to say, another day has passed away
Yet everything, and nothing, has changed
Awake I lie, my thoughts get lost up in the sky
Needless to say, nothing will change…

Maybe a mystic – with fortunes to tell…
Surrender my coin at the old wishing well…
Maybe the stars will light in the night…
To show me the path that is right

‘Would’ve been’s and ‘could’ve been’s
they waste my days away
the colors of my life dissolve and fade to gray

So many paths of promise
Indecision poisons my mind
If only I had seen the signs – so blind

Yet I must journey on – on and on

A haunting vision torments me
It smothers and steals my dreams
I see an old man in the mirror
cold and bitter starring back at me

Here I am – at the crossing of life I stand
On my own – looking down the road
Hear my cry – answer me
Still I’m searching yet the truth is unknown – though the night is cold
I walk the road alone

Ini lagu yang lagi sering menggelegar dari Simbadda Z-300 saya. Lagu Awakenings dari Symphony X. Kayaknya bener-bener ngegambarin apa yang saya rasakan akhir-akhir ini.

Symphony X merupakan band progressive metal yang terbentuk pada 1994 lalu. Irama dan pola permainan Symphony X kalo menurut saya sangat mirip dengan Dream Theater.

Sedikit cerita tentang Symphony X, dapat dilihat disini atau disini.

Training ‘Dare To Be A Leader’

February 16th, 2008 | No Comments | Posted in Curhatan



Pelatihan yang diadakan pada 13 dan 14 Februari lalu ini bertempat di Hotel Marcopolo, Bandar Lampung. Dalam rangkaian program ‘Djarum Bakti Pendidikan’, bekerjasama dengan ‘TopConcept, Training and Organisationsentwicklung’ yang berpusat di Munich, Jerman dan memiliki cabang di Prague, Zurich, Vienna, dan Jakarta. Pelatihan ini diberikan kepada perwakilan ‘aktivis kampus’ yang tergabung dalam lembaga-lembaga kemahasiswaan (LK) di Universitas Lampung. Total peserta ada 80 orang yang terbagi dalam 10 kelompok. Saya tergabung dalam kelompok 3, meja paling depan :)

Dare to be a leader, berani untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, itulah tema pelatihan kali ini. Disini kami diberikan banyak materi yang berkaitan dengan kepemimpinan. Sepanjang acara juga menurut saya sangat mengasyikkan karena kepiawaian sang trainer, ‘Marthen H. Sumual’ beserta kru-nya dalam membaca dan memahami waktu serta kondisi psikis dan psikologis kami, para trainee.

Pelatihan dibuka pada hari pertama, tanggal 13 Februrari 2008, sekitar pukul 8:30, dengan kata sambutan dari pihak Panitia, Djarum, dan Universitas Lampung. Setelah pembukaan, pelatihan langsung dimulai dengan Games. Kami diberikan selembar kertas yang berisikan enam belas kolom, masing-masing kolom berisi satu butir pertanyaan singkat, misal: “carilah seseorang yang tidak sesuku dengan anda.” Setelah menemukan orang tersebut, kita diharuskan menulis nama orang tersebut dan meminta tanda tangannya. Tidak semua kolom bisa terisi oleh saya, selain hiruk pikuknya suasana ruangan, waktu yang diberikan pun terbatas. Setelah games, kami disuruh menyimpulkan apa pesan yang terkandung dibalik games tersebut. Tidak ada yang menjawab. Sang trainer melanjutkan, “bahwa bila kita membutuhkan pertolongan, kita tidak akan mempedulikan lagi dari siapa pertolongan itu datang.”

Setelah games pertama selesai, otak kami mulai ‘dijejalkan’ dengan materi yang sarat dengan ilmu yang diharapkan kedepannya akan dapat berguna bagi kami. Pukul 10:00, coffee break, kami beristirahat sejenak di ruang makan yang berhadapan langsung dengan pemandangan sekitar Teluk Betung yang begitu indah. Dari ketinggian tampak jajaran rumah-rumah penduduk, pohon-pohon, jalan-jalan, dan dikejauhan tampak laut dan pulau-pulau yang menggugus.

Pukul 10:15, pelatihan dilanjutkan, masih dengan games dan materi-materi yang berbobot hingga menjelang waktu Dzuhur. Pukul 12:30 kami dipersilakan break lagi, makan siang, dan sholat.

Sekitar pukul 13:15, pelatihan dilanjutkan kembali, lalu break pada waktu Ashar, setelah Ashar dilanjutkan, dan break kembali menjelang Maghrib. Seusai Maghrib, pelatihan dilanjutkan hingga sekitar pukul 21:00.

Setelah pukul 21:00 kami masih harus mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh trainer. Baru selesai menjelang tengah malam. Tugas kelompok saya mengagendakan, mengalkulasi dana, menyisipkan ide kreatif, dalam sebuah proyek ‘fake’ roadshow Nidji.

Tanggal 14 pagi, pelatihan dilanjutkan kembali. Agenda pagi itu adalah presentasi tugas proyek masing-masing kelompok. Pelatihan baru selesai sekitar pukul 15:00. Dilanjutkan dengan check out dari hotel, mengambil sertifikat, dan pulang.

Melalui pelatihan ini, saya banyak belajar tentang apa dan bagaimana kepemimpinan itu. Misalnya, kompetensi apa saja yang mesti dimiliki oleh seorang leader, ada tiga, yakni: Skills, Knowledge, dan Attitude. Lalu, tipe-tipe kepemimpinan, masuk ke tipe apakah saya? Ternyata pada suatu kondisi saya cenderung ke ‘task oriented leadership’ dan pada kondisi yang lain saya dapat berpindah ke ‘people oriented leadership’.

Art of questioning, “He who asks, leads!”. Ya, siapa yang bertanya, dia juga yang memimpin. Sebab, ia bisa lebih tahu, mengerti, dan paham tentang suatu hal yang ditanyakannya itu daripada orang-orang yang mengikutinya. Dalam pelatihan ini pula, kami diperkenalkan dengan “Lorenz Pyramid”, suatu model piramida komunikasi dan kepemimpinan.

Dan masih banyak ilmu lainnya yang saya dapat dari pelatihan ini, yang tidak mungkin untuk dituliskan apalagi dijabarkan satu persatu.

Denger-denger, setelah pembukaan, yang diadakan di Universitas Lampung, rangkaian acara training “Dare To Be A Leader ini akan dilanjutkan di Universitas Andalas.




Minggu yang melelahkan

February 16th, 2008 | No Comments | Posted in Curhatan

Capek, bener-bener capek. Ya, itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. Saya sempet ‘jatuh’ kecapekan di kasur dengan kondisi badan yang bisa dibilang mengenaskan, pegel-pegel karena masuk angin, ditambah panas badan yang sedikit tinggi dari biasanya.

Selasa, tanggal 12, malemnya badan saya telah menampakkan gejala-gejala kurang sehat. Setelah siang harinya sibuk berkutat dengan Acer yang bermasalah milik temen saya. Tangan kiri saya dari tungkai atas sampai ke siku begitu pegal dan sakit. Berkali-kali saya oleskan minyak kayu putih namun belum juga mereda. Tengah malemnya, karena rasa pegal yang tak tertahankan lagi, saya ambil balsem ‘Geliga’ dan dengan semangat perang, saya oleskan balsem tersebut ke sekujur tangan kiri saya, dalam dosis tinggi. Awalnya cuma hangat, semakin hangat, panas, lalu semakin panas serasa terbakar. Dengan sabar dan tegar, saya berusaha untuk tetap menahankan rasa panas balsem tersebut.

Sakit yang saya rasakan tidak hanya di tangan kiri saya, pun begitu dengan punggung dan belakang leher saya. Tidur malam itu benar-benar serasa tersiksa dan tak terasa ‘kenyamanan’ sedikitpun.

Untunglah sore sebelumnya saya telah mempersiapkan tiga sachet ‘Bintangin’ cair dan satu keping ‘Tolak Angin’ isi empat tablet. Dengan rutin, malam itu saya menghabiskan semuanya. Tiap dua jam, sepanjang malam, saya minum satu sachet dan mengoleskan balsem ke sekujur tubuh saya.

Pagi harinya, saya mulai berkemas. Mempersiapkan baju ganti, buku catatan, dan peralatan mandi guna mengikuti pelatihan kepemimpinan “Dare To Be A Leader” yang diadakan oleh Djarum Bakti Pendidikan. Tentu saja dengan kondisi badan yang belum pulih seutuhnya, mungkin kira-kira baru 55%.

Pelatihan tersebut berlangsung selama dua hari satu malam, bertempat di Hotel Marcopolo, Bandar Lampung. Hari pertama, pelatihan selesai sekitar pukul 21:00. Ternyata masih harus dilanjutkan lagi dengan mendiskusikan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh trainer, selesai kira-kira pukul dua belas tengah malam. Barulah setelah itu kembali lagi ke kamar, dan saya bisa beristirahat dengan tenang.

Pukul 5 kurang, hari kedua pelatihan, seusai subuh, saya mengisi penuh bath-tub dengan air hangat lantas menceburkan diri didalamnya sambil sesekali mencelupkan kepala saya kedalam air. Badan saya terasa mulai membaik.

Hari kedua pelatihan selesai pada pukul 15:00, check out dari hotel, mengambil sertifikat, lalu coffee break sejenak sebelum beranjak pergi dari hotel yang nyaman itu. Untunglah walaupun dengan kondisi badan seadanya, saya masih bisa mengunyah, menelan, dan mencerna materi pelatihan yang diberikan dengan baik.

Sampai di kosan sekitar pukul 16:15. Barulah saya merasa memiliki waktu yang cukup luang untuk tidur dan beristirahat. Ternyata temen saya datang, meminta tolong agar laptop-nya diperbaiki, file sistemnya rusak setelah terserang virus. Saya setuju, dan sempat bilang ke dia bahwa laptop-nya akan saya kerjakan esok pagi, seusai subuh. Dia juga setuju. Dan saya bisa tidur dengan tenang.

Pagi hari, tanggal 15, saya mulai menjamah laptopnya. Ternyata sistemnya telah rusak parah, beberapa file yang dibutuhkan oleh Windows telah hilang. Tak ayal lagi, laptop tersebut harus diinstal ulang. Saya booting CD Windows XP SP 2, lalu mulai menginstal. Sialnya dan anehnya, pada saat mau memformat harddisk, installer bilang kira-kira begini, “please make sure the harddisk drive is connected and powered on.” Wakz, padahal saya booting pake Ubuntu, harddisknya terbaca dengan jelas dan dapat diakses dengan lancar. Asumsi saya, laptop ‘HP Compaq Presario V3000′ tersebut membutuhkan driver harddisk tertentu yang di-supply oleh HP, mungkin juga sejenis SCSI disk. Karena putus asa, sore harinya, saya instal saja laptop tersebut dengan Windows Vista Ultimate, walaupun RAM-nya cuma 512 MB, berat berat dah! Satu tugas selesai.

Setelah jumatan, saya dan salah seorang temen kosan, pergi ke ‘Karang’, rencananya sih mau ke ‘Istana Buah’ buat beli beberapa buah. Namun, rencana berubah, saya mengusulkan agar membeli buahnya di Alfa saja, karena deket dengan Gramedia. Kan sekalian bisa mampir liat-liat buku :P

Malam harinya, lanjut ke komputer temen kosan, yang juga menginginkan agar di-instal-kan Windows Vista. Selesai kira-kira pukul 22:00 malam.

Pagi ini, kondisi badan saya down lagi… *siigghh…*

Pokoknya sabtu dan minggu ini, saya ingin SANTAI!!!

Meine Traurigkeit (kesedihanku)???

February 12th, 2008 | No Comments | Posted in Curhatan


Tadi pagi iseng-iseng buka The GIMP, trus iseng-iseng juga ngedit salah satu foto narsis saya, digabung sama salah satu karya VladStudio, eh kok malah jadi gini hasilnya. Mungkin karena saya ngeditnya ga serius kali yah :P

Judulnya Meine Traurigkeit, yang kira-kira kalo di-Indonesia-kan artinya kesedihanku (bener ga?). Sedih kenapa? Lah kok tanya? Wong saya juga ga tau :P Kayaknya karena tadi pagi saya ngerasa sendiri kali yah :P

Puisi di undangan pernikahan…

February 12th, 2008 | 1 Comment | Posted in Curhatan

Kemaren, pas saya maen-maen di ruang jurusan komunikasi, iseng-iseng saya buka sebuah undangan pernikahan yang ditujukan ke salah satu dosen saya. Eh, nemu puisi yang menurut saya bagus dan begitu tulus, bunyinya begini:

Ayahanda dan ibunda tercinta.
Terima kasih atas hidup yang begitu indah yang telah engkau berikan kepada kami.
Kau buat hari-hari kami berharga untuk mengarungi hidup lebih dari segalanya.
Telah engkau tunjukkan bagi kami cinta dan perhatian yang tidak akan pernah berhenti.
Cinta kami akan selalu bersamamu.

Kreatif bener, saya salut…

Ntar kalo saya nikah, undangannya akan saya buat se-kreatif mungkin :)

Anggota WongKito, Nike dan Pak Alam, pas pernikahan mereka kemaren juga undangannya kreatif, ada script PHP-nya malah :) Salut…

Kebersamaan???

February 11th, 2008 | 4 Comments | Posted in Curhatan





Ini ’squad’ yang hampir empat tahun (2004) lalu diperkenankan oleh Yang Maha Kuasa untuk bertemu, bertatap muka, berceloteh, dan berinteraksi satu sama lain dalam ‘core’ yang bernama Ilmu Komunikasi, FISIP Unila.

Angkatan 2004 termasuk angkatan yang solid, dengan hubungan kekerabatan yang erat. Kemana-mana bareng, berantem bareng *loh?*, nongkrong bareng, makan bareng, pulang bareng, dll bareng-bareng pula *dll yang positif maksudnya!* :)

Emang sih sempat terbentuk ‘blok-blok’ yang ingin diistimewakan, dulu pernah ada ‘Genjer’ (entah singkatan dari apa :P) yang terdiri dari Miu, Sherry, Dipi, Mizan, Syawal, dan saya. Genjer ini begitu lengket, serba bareng! Namun, sejak beberapa waktu lalu, sepertinya blok-blok ini mulai meredup dan mulai bercampur baur dalam ‘fluida’ Komunikasi 2004.

Mmm, sempet tercetus omongan tentang skripsi bareng dan wisuda bareng dikalangan anak-anak Komunikasi 2004 ini. Namun, sepertinya hal itu ‘agak susah’ untuk terealisasi, terutama poin yang pertama (skripsi bareng). Skripsi ternyata pun mempengaruhi aspek solidaritas dari Komunikasi 2004, tiap mahasiswa saling berupaya kejar mengejar. Dan dampak lainnya adalah ‘kerjasama’ dalam skripsi itu agak terlupakan. Terbukti dengan kasus salah satu temen saya yang kesulitan untuk mencari pembimbing mahasiswa dalam seminar usulnya. Ada sih yang sempet ‘fix’ namun tiba-tiba membatalkannya secara sepihak. Duh… Saya jadi kepikiran, gimana kalo saya nanti?

Saat-saat kebersamaan itu sebentar lagi akan lenyap, walau secara perlahan, tapi pasti. Tinggal menghitung hari saja. Ketika Komunikasi 2004 tinggal berupa kenangan, baik yang manis maupun yang pahit. Ketika anak-anak Komunikasi 2004 udah pada lulus, kerja, dan membina rumah tangga. Akankah ‘kita’ ingat satu sama lainnya?

Seperti dalam lagu WhiteLion yang berjudul ‘farewell to you’:
“It was easier to say hello, than to say good bye…”

Ujung-ujungnya, kata ‘good bye’ itu pasti akan terucap juga. Karena tidak ada pertemuan yang sempurna dan abadi selamanya.

Tiba-tiba aja otak saya buntu neh, ga tau lagi apa yang mau ditulis, padahal sebenernya masih banyak ide. Ntar aja deh disambung lagi :P

Cayo… anak-anak Komunikasi 2004, tetap semangat!!!

Laskar wong kito berjaya, wong kito euforia

February 11th, 2008 | 2 Comments | Posted in Info

Setelah melalui 627 partai pertandingan yang dimulai sejak 10 Februari 2007 lalu dan berakhir pada 10 Februari 2008 (seharusnya 9 Februari 2008).

Dan setelah ‘menekukkan lutut’ kubu PSMS Medan semalam, dalam partai Grand Final Liga Djarum Indonesia. Dengan kedudukan skor akhir 3 untuk Sriwijaya FC dan 1 untuk PSMS Medan, akhirnya memantapkan Sriwijaya FC sebagai ‘penguasa’ persepakbolaan Indonesia musim 2007.

Tidak hanya itu, kemenangan ini turut menorehkan ‘daratan’ Sumatra sebagai juara dalam sejarah champion Liga Indonesia, yang sebelumnya didominasi klub-klub asal ‘daratan’ Jawa.

Pertandingan yang seharusnya dilaksanakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, terpaksa dipindahkan ke stadion Jalak Harupat Kabupaten Bandung, akibat kerusuhan supporter dalam pertai sebelumnya, PSMS Medan melawan Persipura Jakarta. Ya, pertama kalinya juga dalam sejarah persepakbolaan Indonesia, pertandingan final tanpa dukungan penonton di stadion.

Gol pertama klub asuhan Rahmat Darmawan ini ditetaskan oleh Obiora pada menit ke lima belas, yang menobatkan Sriwijaya FC sebagai ‘leader’ di babak pertama. Namun, di babak kedua, PSMS Medan melalui ‘kaki’ James C, berhasil menyamakan kedudukan 1:1 hingga akhir babak kedua. Perpanjangan waktu 2×15 menit pun digelar, yang semakin mengokohkan Sriwijaya FC sebagai ‘tim juara’, melalui dua gol yang diciptakan oleh Gumbs (sepak pojok) dan Zah Rahan (akibat perjudian yang dimainkan oleh Markus, Goal Keeper PSMS Medan yang menyebabkan bola dengan mudahnya melenggang masuk ke gawang yang tanpa perlindungan), masing-masing tercipta pada perpanjangan waktu 15 menit yang kedua. Keunggulan jumlah pemain pun memberi keuntungan tersendiri bagi Sriwijaya FC, dikarenakan PSMS Medan hanya mampu bermain dengan 10 pemain akibat ‘pengusiran’ Murphy oleh wasit melalui pelanggaran berbuah dua kartu kuningnya pada menit ke 43.

Sriwijaya FC, tim yang tiga tahun lalu (2005) mulai menapakkan kakinya di kancah sepakbola Indonesia, dengan predikat tim ‘anak bawang’, yang dianggap tidak ada apa-apanya. Namun kini berhasil memboyong dan mengawinkan dua piala bergengsi sepakbola Indonesia, Copa Indonesia dan Liga Djarum Indonesia. Selamat kepada Sriwijaya FC, semoga ‘perkawinan kedua piala’ itu langgeng dan melahirkan ‘anak-anak’ yang akan terus mengharumkan nama Sumatra Selatan pada kancah sepakbola nasional.

Go…!!! Sriwijaya FC!!! Go…!!!

Simple Mass Pinger v0.2

February 8th, 2008 | 2 Comments | Posted in Programming, Windows Software




Ditengah stress dan pikiran yang berembuk di otak, saya menyempatkan untuk melanjutkan proyek yang telah saya mulai sejak hampir setahun lalu. Yah, itung-itung refreshing lah :)

Simple Mass Pinger, adalah sebuah tool sederhana dan sesuai namanya, bener-bener simpel, untuk mem-ping beberapa host/alamat IP secara bersamaan. Tanpa perlu membuka ‘Command Prompt’ trus mengetikkan ‘ping’ yang diikuti dengan target, kalo satu host saja yang di-ping mah masih enak, lah kalo udah puluhan bahkan ratusan??? Pegel juga tuh jari :P

Emang sih aplikasi ini belum sempurna. Simple Mass Pinger merupakan ‘pemecahan’ dari aplikasi ‘NetMatrix’ (networking tool) yang sempat saya buat pada 2004 lalu, namun sekarang perkembangannya mandeg. Dulu, NetMatrix adalah temen setia saya dalam mempelajari apa itu jaringan. Dengannya pula, saya berkelana dalam rangkaian kabel-kabel yang menghubungkan banyak komputer di kampus saya, Unila.

Silakan dijajal, dan berikan komentar anda :)

Oh ya, aplikasi ini saya dedikasikan untuk “SHE”, my breath and my spirit of life… :)

[DOWNLOAD]

Memori masa kecil…

February 1st, 2008 | 1 Comment | Posted in Curhatan

Jadi kangen sama masa kecil saya dulu…
Begitu lugu, lugas, dan santai tanpa beban…
Ga perlu mikir keras, baca buku berat, dan begadang sampe lewat tengah malem…

Duh…

Memang bener kata seorang senior saya di kampus, gara-gara skripsi sikap orang bisa berubah. Yah, gara-gara skripsi saya jadi merasa dijatuhi setumpuk karung beras dengan bobot berton-ton dari ketinggian puluhan meter diatas pundak saya.

Setiap melihat anak kecil yang bermain-main, ataupun bayi yang digendong dipelukan ibunya, perasaan saya jadi begitu tenang, adem, dan merindukan masa kecil. Tidak jarang saya senyum-senyum sendiri bila melihat mereka.

Yah, masa kecil saya mungkin tidak begitu indah menurut orang lain, tapi bagi saya, masa kecil itulah yang membentuk karakter dan kepribadian saya saat ini.

Dulu, tidak ada yang namanya PlayStation, X-Box, dan permainan digital lainnya. Yang ada cuma permainan tradisional seperti ‘urikan’ (kejar-kejaran), ’sumputan’ (permainan bersembunyi), ekar (kelereng), layangan (layang-layang), benteng, dan lain sebagainya. Kesemua permainan tradisional tersebut tidak dapat dimainkan seorang diri, butuh teman untuk memainkannya. Dari sinilah sosialisasi antar sesama manusia dibentuk. Tidak seperti permainan modern saat ini yang telah menggunakan teknologi komputer seperti PlayStation, yang menurut saya mematikan semangat bersosialisasi anak-anak. Saat ini sudah sangat jarang saya lihat sekumpulan anak kecil memainkan permainan-permainan tradisional tersebut. Sedih…

Di dekat rumah saya dulu ada kebun milik tetangga dan disebelah kebunnya itu adalah hutan dan rawa-rawa. Kami begitu senang bermain di hutan tersebut. Berendam, berenang, dan memancing di rawa, memanjat pohon-pohon disana yang bercabang banyak (udah kayak monyet dah pokoknya), dan tidur-tiduran didahan-dahan pohon tersebut sambil berceloteh ria. Sekarang? Wilayah tersebut hampir hilang, berganti rumah-rumah penduduk yang kian hari kian padat :(

Bermain sepeda dan layangan merupakan favorit saya. Ada dua kejadian lucu yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di arsip otak saya. Dulu saya pernah bermain sepeda, melewati jalan setapak yang kanan kirinya diapit oleh rawa. Saking semangatnya mengayuh pedal sepeda, saya ga memperhatikan gundukan batu yang menghalangi jalan, tak ayal lagi saya pun terpeleset dan tercebur kedalam rawa tersebut. Sepeda saya ikut tercebur dan menimpa badan saya, menenggelamkan saya ke rawa tersebut. Kacamata saya lepas. Pas didalam air, saya membuka mata, dan entah ilusi atau bukan saya seperti melihat ikan-ikan kecil berenang dengan lucunya di depan mata saya. Untung rawa tersebut tidak dalam, cuma sekitar setengah sampai satu meter. Setelah berhasil bangkit, saya mencari kacamata saya didalam rawa yang berlumpur tersebut namun tidak ketemu. Tetangga saya datang, membantu mengangkat sepeda saya dari dalam rawa. Ibu saya berbondong-bondong datang, dan mencari kacamata saya. Akhirnya kacamata tersebut ketemu juga :)

Kejadian lucu lainnya saya alami saat mengejar layangan yang putus. Dengan ’satang’ (tongkat bambu panjang), saya dan temen-temen telah siap menanti dan mengejar layangan yang putus dan melayang kedaerah rumah-rumah kami. Kebetulan saat itu ada satu layangan dari kertas minyak warna kuning dengan ‘kuncung’ (ekor) berwarna-warni putus dan terbawa angin. Temen-temen saya sontak langsung bersemangat, tak terkecuali saya. Dengan kaki seribu kami saling dahulu mendahului demi mendapatkan layangan tersebut. Saya yang tidak mau kalah, mengambil jalan pintas, melewati belakang rumah tetangga saya, melompati kolam kecil yang ada persis disebelah rumah tetangga saya tersebut, dan mendarat tepat diatas sekeping seng. Namun “byurr…” seng tersebut bergeser dan saya pun terjatuh kedalam kolam tersebut. Untungnya kepala saya tidak sampai masuk kedalam air. Pergelangan kaki kiri saya terasa perih (luka terkena pinggir seng). Setelah sedikit sadar dengan apa yang terjadi, saya mencium bau aneh, dan ’sesuatu’ yang berwarna kuning mengambang di sekeliling badan saya. Sial! Ternyata dibawah seng tersebut adalah ’septic tank’ alias kolam penampung ‘tai’ milik tetangga saya yang belum rampung seratus persen (atasnya belum ditutup semen). Temen-temen saya yang melihat saya tercebur, serta merta melupakan layangan putus tadi dan menghambur ke arah saya. Setelah naik ke atas tanah, temen-temen saya tertawa terbahak-bahak sembari menutup hidung dan terlihat jijik melihat kondisi badan saya yang dilumuri oleh ‘kotoran manusia’. Sial!!!

Saya pun berlari ke dalam hutan belakang kebun tetangga saya dan serta-merta menceburkan diri kedalam rawa disitu yang berair bening. Untunglah salah seorang temen saya datang dengan membawa peralatan mandi (sabun, shampo, handuk, dll) dan baju ganti. Saya pun dengan tenang mandi sambil mendengarkan derai tawa temen-temen saya. Sesampainya dirumah, ibu saya marah. Emang hari yang bener-bener sial…

Sampai sekarang kenangan dari tercebur di septic tank itu masih ada, terbentuk dua bekas luka didekat pergelangan kaki kiri saya.

Saya sudahi dulu tulisan mengenai masa kecil saya, mungkin lain kali saya akan menuliskan pengalaman lainnya. Yupe, sekarang kembali lagi ke waktu saat ini. Masih ada skripsi yang menunggu untuk dijamah :(