Memori masa kecil…
Jadi kangen sama masa kecil saya dulu…
Begitu lugu, lugas, dan santai tanpa beban…
Ga perlu mikir keras, baca buku berat, dan begadang sampe lewat tengah malem…
Duh…
Memang bener kata seorang senior saya di kampus, gara-gara skripsi sikap orang bisa berubah. Yah, gara-gara skripsi saya jadi merasa dijatuhi setumpuk karung beras dengan bobot berton-ton dari ketinggian puluhan meter diatas pundak saya.
Setiap melihat anak kecil yang bermain-main, ataupun bayi yang digendong dipelukan ibunya, perasaan saya jadi begitu tenang, adem, dan merindukan masa kecil. Tidak jarang saya senyum-senyum sendiri bila melihat mereka.
Yah, masa kecil saya mungkin tidak begitu indah menurut orang lain, tapi bagi saya, masa kecil itulah yang membentuk karakter dan kepribadian saya saat ini.
Dulu, tidak ada yang namanya PlayStation, X-Box, dan permainan digital lainnya. Yang ada cuma permainan tradisional seperti ‘urikan’ (kejar-kejaran), ‘sumputan’ (permainan bersembunyi), ekar (kelereng), layangan (layang-layang), benteng, dan lain sebagainya. Kesemua permainan tradisional tersebut tidak dapat dimainkan seorang diri, butuh teman untuk memainkannya. Dari sinilah sosialisasi antar sesama manusia dibentuk. Tidak seperti permainan modern saat ini yang telah menggunakan teknologi komputer seperti PlayStation, yang menurut saya mematikan semangat bersosialisasi anak-anak. Saat ini sudah sangat jarang saya lihat sekumpulan anak kecil memainkan permainan-permainan tradisional tersebut. Sedih…
Di dekat rumah saya dulu ada kebun milik tetangga dan disebelah kebunnya itu adalah hutan dan rawa-rawa. Kami begitu senang bermain di hutan tersebut. Berendam, berenang, dan memancing di rawa, memanjat pohon-pohon disana yang bercabang banyak (udah kayak monyet dah pokoknya), dan tidur-tiduran didahan-dahan pohon tersebut sambil berceloteh ria. Sekarang? Wilayah tersebut hampir hilang, berganti rumah-rumah penduduk yang kian hari kian padat :(
Bermain sepeda dan layangan merupakan favorit saya. Ada dua kejadian lucu yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di arsip otak saya. Dulu saya pernah bermain sepeda, melewati jalan setapak yang kanan kirinya diapit oleh rawa. Saking semangatnya mengayuh pedal sepeda, saya ga memperhatikan gundukan batu yang menghalangi jalan, tak ayal lagi saya pun terpeleset dan tercebur kedalam rawa tersebut. Sepeda saya ikut tercebur dan menimpa badan saya, menenggelamkan saya ke rawa tersebut. Kacamata saya lepas. Pas didalam air, saya membuka mata, dan entah ilusi atau bukan saya seperti melihat ikan-ikan kecil berenang dengan lucunya di depan mata saya. Untung rawa tersebut tidak dalam, cuma sekitar setengah sampai satu meter. Setelah berhasil bangkit, saya mencari kacamata saya didalam rawa yang berlumpur tersebut namun tidak ketemu. Tetangga saya datang, membantu mengangkat sepeda saya dari dalam rawa. Ibu saya berbondong-bondong datang, dan mencari kacamata saya. Akhirnya kacamata tersebut ketemu juga :)
Kejadian lucu lainnya saya alami saat mengejar layangan yang putus. Dengan ‘satang’ (tongkat bambu panjang), saya dan temen-temen telah siap menanti dan mengejar layangan yang putus dan melayang kedaerah rumah-rumah kami. Kebetulan saat itu ada satu layangan dari kertas minyak warna kuning dengan ‘kuncung’ (ekor) berwarna-warni putus dan terbawa angin. Temen-temen saya sontak langsung bersemangat, tak terkecuali saya. Dengan kaki seribu kami saling dahulu mendahului demi mendapatkan layangan tersebut. Saya yang tidak mau kalah, mengambil jalan pintas, melewati belakang rumah tetangga saya, melompati kolam kecil yang ada persis disebelah rumah tetangga saya tersebut, dan mendarat tepat diatas sekeping seng. Namun “byurr…” seng tersebut bergeser dan saya pun terjatuh kedalam kolam tersebut. Untungnya kepala saya tidak sampai masuk kedalam air. Pergelangan kaki kiri saya terasa perih (luka terkena pinggir seng). Setelah sedikit sadar dengan apa yang terjadi, saya mencium bau aneh, dan ‘sesuatu’ yang berwarna kuning mengambang di sekeliling badan saya. Sial! Ternyata dibawah seng tersebut adalah ‘septic tank’ alias kolam penampung ‘tai’ milik tetangga saya yang belum rampung seratus persen (atasnya belum ditutup semen). Temen-temen saya yang melihat saya tercebur, serta merta melupakan layangan putus tadi dan menghambur ke arah saya. Setelah naik ke atas tanah, temen-temen saya tertawa terbahak-bahak sembari menutup hidung dan terlihat jijik melihat kondisi badan saya yang dilumuri oleh ‘kotoran manusia’. Sial!!!
Saya pun berlari ke dalam hutan belakang kebun tetangga saya dan serta-merta menceburkan diri kedalam rawa disitu yang berair bening. Untunglah salah seorang temen saya datang dengan membawa peralatan mandi (sabun, shampo, handuk, dll) dan baju ganti. Saya pun dengan tenang mandi sambil mendengarkan derai tawa temen-temen saya. Sesampainya dirumah, ibu saya marah. Emang hari yang bener-bener sial…
Sampai sekarang kenangan dari tercebur di septic tank itu masih ada, terbentuk dua bekas luka didekat pergelangan kaki kiri saya.
Saya sudahi dulu tulisan mengenai masa kecil saya, mungkin lain kali saya akan menuliskan pengalaman lainnya. Yupe, sekarang kembali lagi ke waktu saat ini. Masih ada skripsi yang menunggu untuk dijamah :(
----
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:





February 3rd, 2008 at 7:21 am
emang beda masa kecil kita ulu kitalebih kratif dlm hal bermain alias bisa menciptakan sendiri mainan yang ada disekitar kita.hmmm mainan favorit saya waktu masih kecil yahhh main layangan
[Reply]