Browse > Home / Communication / Model Jarum Hipodermik VS Model Uses and Gratification

| Subscribe via RSS

Model Jarum Hipodermik VS Model Uses and Gratification

March 10th, 2008 Posted in Communication

Dalam Kick Andy episode “Gambar Buram Layar Kaca Kita” (Minggu, 9/3), mengangkat topik mengenai tayangan boneka yang pernah populer pada beberapa tahun yang lalu, diantaranya “Si Unyil”, “Si Komo”, “Boneka Tongki”, dan “Susan”. Dulu, tayangan-tayangan tersebut boleh dikatakan populer pada zamannya. Tidak hanya itu, “cap” sebagai tayangan yang mendidik pun turut melekat pada mereka.

Episode ini lahir karena keprihatinan para praktisi dan orang tua akan tayangan-tayangan televisi yang semakin “tidak mendidik”, penuh dengan kekerasan, dan bahkan unsur-unsur seks. Sekali lagi, televisi disalahkan.

Disini, saya bukan mau membela televisi, melainkan hanya menuangkan pendapat saya terhadap ‘kasus’ dualisme televisi ini (yang pada satu sisi dipandang positif dan pada sisi lainnya dipandang negatif).

Memang benar, dunia pertelevisian Indonesia akhir-akhir ini diramaikan oleh tayangan-tayangan yang bisa dibilang jauh dari penyampaian pesan dan nilai yang mendidik. Secara garis besar, ada 3 tipe tayangan yang menurut saya laris manis, yakni: Infotaiment, Sinetron, dan Reality Show (termasuk didalamnya acara-acara yang berkonsepkan ‘Idolisme’).

Mengapa tidak mendidik?

Boleh saya balik bertanya? Pendidikan (atau nilai dan pesan positif) apa yang ditawarkan oleh Infotainment, Sinetron, dan Reality Show? Dari balik kacamata saya, tayangan-tayangan tersebut tidak lebih hanya mengumbar mimpi-mimpi kosong. Menyebarkan harum semerbaknya dunia selebriti yang bergelimang keindahan dunia.

Unsur-unsur kekerasan yang dibalut dengan kelezatan bumbu heroik dengan mudah dapat kita temukan di banyak tayangan anak-anak. Misalnya: Power Rangers.

Model Jarum Hipodermik

Model ini mengasumsikan bahwa khalayak bersifat pasif. Dapat dengan mudah diterpa dan dipengaruhi oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator (dalam hal ini: tayangan televisi).

Dalam kasus unsur kekerasan pada tayangan-tayangan yang ditujukan untuk anak-anak, dapat dikatakan model ini berperan besar. Sebab, anak-anak akan lebih mudah terpengaruh atas apa yang mereka lihat dan tonton.

Namun, dalam kasus penonton dewasa, efektivitas model ini dapat diragukan. Mengapa? Sebab dari segi pola pikir, penonton dewasa lebih matang dan lebih dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Walaupun tidak menutup kemungkinan penonton dewasa pun akan turut terimbas dampak tayangan-tayangan tersebut, meski sedikit.

Model Uses and Gratification

Model ini menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak (Uchjana, 1993: 289-290).

Khalayak/penonton dianggap aktif dalam menentukan tayangan mana yang mereka kira akan dapat memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan.

Sebanyak apapun tayangan yang tidak mendidik, apabila khalayak menganggapnya tidak penting dan tidak akan memberikan ‘keuntungan’ bagi mereka, tidaklah berpengaruh negatif.

Apakah model ini berpengaruh pada anak-anak. Bisa ya, bisa juga tidak. Bila merujuk pada kebiasaan saya menonton televisi ketika kecil dulu, saya hanya akan menonton tayangan yang menurut saya bagus dan memberikan kepuasan bagi saya. Misal, tayangan Doraemon, Ksatria Baja Hitam, dan beberapa lainnya. Dulu, saya tidak menyukai tayangan seperti Sailor Moon karena saya anggap tidak menarik. Dari contoh ini, dapat dilihat bahwa sedari kecil kita sudah dapat memilih tayangan apa yang menurut kita menarik dan tayangan apa yang menurut kita tidak menarik. Memang, lingkungan juga berperan dalam membentuk pola pandang ini. Teman sepergaulan misalnya, bila sebelumnya kita mendoktrin bahwa tayangan ‘A’ tidak menarik tetapi menurut teman-teman kita justru sebaliknya, tayangan ‘A’ adalah sangat menarik. Persepsi kita pun dapat berubah, walaupun perlahan.

Bila orang tua mampu membimbing dan mengarahkan anak-anaknya dalam memilih tayangan mana saja yang menarik dan mendidik tentulah persepsi dan cara pandang anak terhadap tayangan televisi akan menjadi lebih baik.

Oknum yang tidak bertanggung jawab

Tidak dapat dipungkiri, pemroduksian tayangan-tayangan tertentu, yang memuat nilai-nilai negatif, berdiri dibelakangnya orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memiliki tujuan-tujuan khusus, misal merusak generasi muda.

Kasus yang sempat heboh belakangan adalah DVD film anak-anak yang disisipi adegan tak senonoh.

Jelas sekali ada semacam pergerakan bawah tanah yang terstruktur demi merusak generasi muda bangsa ini?

Lantas, siapa yang salah?

Bila ditanya demikian, saya serahkan pertanyaan ini kepada anda. Anda dapat menyalahkan televisi dan orang-orang yang berada dibelakangnya (stasiun televisi, rumah produksi, advertising agency, dll), yang terus menerus memproduksi dan menyajikan tayangan-tayangan yang dianggap tidak mendidik. Anda dapat pula menyalahkan diri anda sendiri yang telah dengan sukarela dibuai dan dimanjakan oleh televisi dan tayangan-tayangannya.

Belakangan, santer orang-orang yang menggembar-gemborkan gerakan untuk mematikan televisi dengan alasan yang telah saya sebut sebelumnya. Itu kembali lagi kepada anda, kepada bagaimana pola penggunaan media televisi oleh anda. So? It’s up to you as the consumer of the massive generation of audio-visual called Television.

[9 Maret 2008]



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Kejamnya Dunia; Eksploitasi Kekurangan Orang Lain Demi Menangguk Untung

2 Responses to “Model Jarum Hipodermik VS Model Uses and Gratification”

  1. Au' Says:

    OOT : Memang yg enak tu cm model ikan, apolagi maknnyo anget2. Maknyusss..!!! hehehe….

    [Reply]


  2. Idrus Fhadli Says:

    @au’:
    wadohh… nyeleneh! kalo aku lemakla model gendum :P

    [Reply]


Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.