Di dunia ini, apa ada yang sempurna? Tentu saja tidak ada! Yang sempurna hanyalah Sang Maha Pencipta. Lantas mengapa manusia banyak yang menuntut kesempurnaan? Entah itu kesempurnaan dirinya pribadi maupun kesempurnaan orang lain? Termasuk perilaku orang lain tersebut pun harus sempurna! Harus sesuai dengan apa yang ia inginkan!
Entahlah, beberapa hari yang lalu, saya ngerasa kesel sama salah seorang temen saya. Yang selalu bersikap seolah dia lah yang paling sempurna, kepribadiannya, fisiknya, kuliahnya, pandangannya, ideologinya, dsb. Pokoknya dia yang paling sempurna dan perfect! Sucks!
Dia juga bahkan menyindir saya, ketika berbicara ngalur ngindur yang ujung-ujungnya sampai kepada satu kata, MONOTON. Begini katanya, “hidup itu harus dinamis. Jangan kaku. Jangan kayak kehidupannya si Idrus, MONOTON! Gitu-gitu aja.”
Kuping saya terasa panas dan terbakar kala mendengar ucapan itu. Bila akal sehat dan pikiran jernih saya saat itu sedang ‘away’ mungkin sudah habis si temen yang menyebalkan tadi saya tonjok! Tapi alhamdulillah, ga kesampean. Otak saya masih jalan dan mikir dengan jernih. Saya diam saja, sedikitpun tak menggubris ucapannya. Dalam hati saya padahal telah tersusun rapi serangkaian kata dan kalimat serta skenario untuk membalas semua ucapannya tadi. Tau apa kau tentang hidupku, wahai temanku?! Atas dasar apa kau katakan hidupku monoton dan membosankan? Aku yang menjalani hidup saja tidak pernah merasakan bahwa hidupku begitu monoton dan membosankan! You sucks!
Okelah, saya tau kalau dia ingin orang lain melihat dirinya sebagai sebuah sosok yang sempurna.
Pun begitu ketika saya perhatikan beberapa temen saya berbincang mengenai sport (sepakbola, MotoGP, F1, dsb). Mereka seolah selalu menyalahkan si pemain/atlit yang berlaga dimedan pertarungan ketika si pemain/atlit tidak melakukan hal/gerakan seperti apa yang mereka inginkan. Tidak jarang umpatan pun keluar dari mulut. Pheeww…
Bicara mengenai wanita. Dalam konteks wanita sempurna. Bleh! Saya mah enakan diam dan ga angkat bicara mengenai hal yang satu ini. Mereka seolah ingin menyatakan bahwa wanita ini, wanita itu, atau bahkan wanita pujaan mereka-lah yang paling sempurna. Sekali lagi saya tanya apakah didunia ini ada hal yang sempurna? Eits… Ini bukannya bentuk arogansi saya loh. Ini cuma sekedar menumpahkan apa yang saya rasakan mengenai salah satu kata dalam KBBI yang selalu dituntut oleh banyak orang, SEMPURNA.
Mengenai masalah perkuliahan pun begitu. Kuliah saya seakan dianggap mudah oleh temen saya tadi dan kuliah dia-lah yang menuntut ‘pengorbanan’ lebih. Fiiuuhh… Miris memang bila memikirkannya. Toh, bukankah setiap ilmu didunia ini selalu berkaitan dan membutuhkan antara satu sama lainnya. Ilmu komunikasi (jurusan kuliah saya saat ini), misalnya, dalam pandangan saya, hal paling esensi yang dibutuhkan oleh manusia adalah komunikasi. Tapi saya sadar, komunikasi tidak dapat stand alone tanpa sokongan ilmu-ilmu lainnya, sosiologi misalnya. Begitu juga dengan ilmu-ilmu lainnya, matematika, kimia, fisika, ekonomi, biologi, dsb. Saling membutuhkan antara satu dan lainnya. Salah! Sangat salah! Bila ada orang yang dengan lantangnya menyuarakan, “ah, elo sih enak cuma belajar mengenai itu doank. Liat gw nih. Ilmu yang gw pelajari lebih rumit dan ilmu ini pula yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.” Oh my god! Ingin rasanya saya menampar muka orang itu!
Semalem juga hampir terjadi perdebatan panas mengenai profesi pengacara. Ya, pengacara. Temen saya berkata begini, “alaaahhh… apa-apaan sih pengacara tuh. Bener-bener calon penghuni neraka semua!” Weeww… Hebatnya dirimu wahai teman, bisa memprediksikan apakah seseorang itu akan masuk surga ataupun neraka. Engkau pun sanggup memberikan fatwa bahwa semua pengacara adalah calon penghuni neraka. Wallahualam. Benar-benar generalisasi yang tidak berlandaskan logika dan akal sehat.
Manusia pasti ingin setelah matinya memasuki surga yang penuh kenikmatan abadi, tidak ada manusia yang menginginkan agar dilemparkan dan disiksa dalam panasnya neraka. Pun begitu mereka yang berprofesi sebagai pengacara. Semenjak kuliah dulu, tentulah mereka telah memikirkan dengan matang, mau jadi praktisi hukum yang seperti apakah mereka. Dan tidak sedikit dari mereka pula melakoni profesi pengacara itu dengan tujuan yang baik dan mulia. Membantu klien mereka terlepas dari tuduhan yang tidak seharusnya dan yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Pun begitu dengan profesi, tidak ada yang sempurna. Okelah mungkin dapat kita asumsikan misalnya seorang pengacara itu berada disebuah titian tali yang tipis. Yang bila ia jujur, benar, serta adil ia dapat terus meniti tali tersebut dan sampai diujungnya dengan selamat, dan bila ia salah, ia dapat terjatuh kedalam jurang yang dalam, gelap, serta mematikan. Bila sudah begitu, lantas, apakah profesi lainnya berarti aman-aman saja? Tentu saja tidak! Seorang kimiawan misalnya, bila ia menggunakan ilmu dan keahliannya demi kesejahteraan umat manusia, tentulah amal kebaikan yang dicatat, dan bila ia menggunakan ilmu dan keahliannya untuk menciptakan sesuatu yang buruk, sebuah bom berdaya rusak hebat misalnya, dan bom itu digunakan untuk menghancurkan serta membantai orang-orang, nah, wallahualam deh! Pun begitu dengan akuntan, pemerintah, dan profesi-profesi lainnya.
Agak OOT yak, iya memang, saya akui :P. Toh tulisan pun tidak ada yang sempurna bukan? Apalagi tulisan dari orang yang tidak sempurna, seperti saya :). Hayooo… Apa kamu berani berkata kalo kamu sempurna? :P *kaburrr…*