Browse > Home / Personal / If I could, girl…

| Subscribe via RSS

If I could, girl…

May 29th, 2008 Posted in Personal

Semalem, karena rasa rindu yang begitu menyeruak hebat hingga menyentak benteng keangkuhan saya untuk menahan rasa itu, akhirnya saya memasang kembali nomor XL bebas yang telah hampir sebulan bersemayam didalam dompet. Turning on my Komm-Warrior, typing my password, loading, and finally the S60 desktop shown up. Dengan cekatan jari jemari saya menekan dua belas digit angka istimewa itu, tuuttt… suara diseberang berdengung menandakan hubungan antar dua telepon bersatu. Tak berapa lama kemudian, “Halo…”, suara nan merdu itu menyahut. Namun telepon segera saya tutup. Entahlah…

Yap, setelah makan malem, gosok gigi, wudhu, dan menunaikan kewajiban saya sebagai seorang khalifah dimuka bumi, dan setelah keberanian itu terkumpul cukup, dua belas digit nomor itu kembali saya hubungi. Komunikasi dua insan dalam jarak yang terpaut ratusan kilometer berlangsung…

Perlahan rasa rindu itu sedikit terobati setelah bercakap-cakap dan sedikit bersenda gurau dengannya. Basa-basi dimulai dengan pertanyaan standar, sudah makan atau belum? Dia jawab sudah, percakapan pun terus berlanjut.

Saat ini dia telah bekerja di salah satu perusahaan di ibukota republik ini. Pergi pagi dan tidak jarang pulang larut malam dengan badan kecapaian. Tinggal sendiri di kosan. Dengan gaji yang masih dapat dikategorikan low. Ya, tersirat dari suaranya bahwa dia telah melalui hari ini dengan keras dan penuh pengorbanan. Hati ini sakit mendengarnya, saya merasa tidak tega. Andai saya ada didekatnya, mungkin sudah saya dekap dan bisikkan kata-kata penghibur hatinya yang tengah gundah gulana. Andai saya ada didekatnya, mungkin sudah saya acungkan jari tengah dengan kemarahan yang meluap-luap kepada duka karena telah berani mendekatinya dan merenggut cerah hatinya. Namun saya bukan siapa-siapa dan saya juga tidak sedang berada didekatnya…

Percakapan masih berlangsung, merambat dari satu topik ke topik lainnya. Hingga pada akhirnya, saya menanyakan kabar kekasihnya yang berada nun jauh disana. Dia jawab, “entahlah”, masih dengan nada kesedihan yang tersirat dan terselip disela-sela tawanya. Dan dia balik bertanya, apakah saya telah menemukan wanita yang saya impikan? Ingin rasanya seketika saya jawab bahwa telah sejak hampir setahun yang lalu wanita itu muncul dan mengisi sebagian rongga kosong hati saya, yaitu dia. Namun, lagi-lagi saya urungkan, begitu singkat saya jawab, “belum, aku belum mau menjalin hubungan dengan seseorang, aku masih ingin konsentrasi dan menyelesaikan skripsi serta hal-hal lain. Insya Allah setelah lulus dan berpenghasilan, aku akan mencari wanita itu.”

Dia juga berkata bahwa dia bertemu dengan seorang pria baik, yang sama-sama baru mulai bekerja ditempat yang sama. Jgerrr… Petir itu menyambar. Namun, selama percakapan saya masih saja berusaha menampilkan nada suara membesarkan hatinya dengan sesekali cengengesan dan tertawa, namun sungguh dalam hati ini begitu terenyuh, terbuai dalam badai yang berkecamuk. Tapi saya bukan siapa-siapa, dan saya tidak berhak untuk sakit hati. Biarlah Allah yang mengatur, jika kau memang tulang rusukku yang hilang, aku yakin Allah pasti akan mengembalikannya kepadaku. Namun, jika bukan, aku juga yakin Allah akan memberikan pengganti yang terbaik untukku.

Entah berapa lama dan berapa ribu pulsa saya terpotong, saya tidak peduli. Saya tanya apakah dia sudah mandi dan shalat atau belum. Karena dia menjawab baru saja pulang dan belum mandi serta belum sempat shalat Isya, percakapan saya akhiri dengan memberikan dia semangat dan dukungan serta mewanti-wanti agar dia bisa menjaga dirinya. Terdengar nada gembira dari suaranya saat membalas salam dan kata-kata saya sebelum akhirnya hubungan telepon saya putuskan.

If I could, girl…
I would like always be with you
Standing beside you
Protecting you
Keeping you away from misery
Holding you high and steal your sorrow and pain

If I could, girl…
I would like you to know what I feel
I would like you to know the lies within my heart
I would like be your special one
I never be would apart
Forever…

;(

Jam sekarang telah menunjukkan pukul 03:12 dan saya telah mereguk gelas kopi yang keempat sementara cracker Jacobs itu telah ludes. Masih berkutat dengan buku-buku, terus menjamah dan menggerayangi skripsi, ingin agar ia lekas terselesaikan… Terima kasih atas semangat yang kau berikan, bidadari… Semoga kau baik-baik saja disana… Amin…



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. The Slaver Of Girl

5 Responses to “If I could, girl…”

  1. eRiek Says:

    wah…idrus curhat :D
    cewek itu sudah jadian kah?
    kok ngga ditembak aja drus :)
    jangan sampe kaget si cewek itu :D

    [Reply]


  2. Au' Says:

    Hmmm… takkan lari jodoh dikejar. That’s it :)

    [Reply]


  3. Triana Says:

    terharu sekali baca kalimat ketiga sampai terakhir di paragraf ke 4. ternyata Idrus bisa juga berkata sedalem itu..huhuhu…

    btw, puisinya bagus *eh itu puisi bukan sih? aku kupipes yeh!

    SEMANGAT bro..kalo jodoh gak kemana :)

    [Reply]


  4. iyus Says:

    Boleh jg trik Idrus. Utk nlp cewe2, harus pk no hape yg beda2. Ini cuma curhat ttg cewe yg pk no tlp XL bae kan, Drus ? :)
    Kl yg tlpnyo pk T’sel makmano ? sad ending jg apo hepi ending ? :)

    [Reply]


  5. the best i ever had Says:

    matiiiiii kauuu idrus jadi roman picisan.aseli alangkah dalemnya curhatan tuh sedalam syamudra.dari dulu beginilah cinta deritanya tiada akhir (nyambung dak ye?)

    [Reply]


Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.