Jemari-mu harimau-mu
Istilah “mulut-mu harimau-mu” mungkin sudah terlalu sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam posting ini, saya angkat judul “jemari-mu harimau-mu”, mengapa? Lets begin…
Seiring perkembangan teknologi, pola dan cara manusia berkomunikasi pun turut berubah. Perlahan komunikasi menggunakan tulisan mulai diadaptasi dengan berbagai alasan, diantaranya: singkat, padat, dan jelas (mungkin juga: murah :P). Bila sebelumnya komunikasi menggunakan media tulisan hanya bisa dilakukan melalui surat menyurat, yang notabene memakan waktu yang lebih lama. Namun kini, dunia internet dan seluler telah memprakarsai dan mengubah paradigma penggunaan komunikasi langsung-tulisan tersebut yang lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat dari beberapa layanan yang ditawarkan oleh dua teknologi itu antara lain: Short Messaging Services (SMS), Electronic Mail (E-mail), Internet Relay Chat (IRC), dari zaman bulletin board hingga era GMail. Tidak ketinggalan, fax.
Banyak keuntungan dan kelemahan dari komunikasi tertulis ini. Diantara keuntungannya yakni seperti yang telah saya sebutkan diatas: singkat, padat, jelas, dan murah. Namun dibalik itu ada pula hal yang dapat menjadi keuntungan sekaligus kelemahannya yakni: komunikator dan komunikan tidak bertatap muka secara langsung. Keuntungannya mungkin akan sangat terasa bagi orang-orang yang sering merasa canggung dalam komunikasi langsung (tatap muka), disisi lain, karena hanya melalui baris-baris teks, tentu saja tidak tahu bagaimana keadaan dan perasaan sebenarnya antara si komunikator dan komunikan. Disinilah sering terjadi kesalahan persepsi yang pada ujungnya dapat memicu konflik.
Dalam dunia internet ada semacam aturan dan kesepakatan bersama yang dikenal dengan istilah netiquette (net etiquette/etika internet). Sedikit saya ungkit aja deh, nettiquette itu antara lain diharapkan tidak menggunakan huruf kapital semua, ukuran font yang oversized, tanda seru, ataupun menggunakan warna membara (merah) pada font-nya. Karena dianggap kasar. Namun, lagi-lagi ini tergantung dari cara dan pola pandang masing-masing individu. Untuk lebih jelasnya silakan digugel sendiri :P
Di kalangan ilmu komunikasi terkenal proposisi “words don’t mean, people mean” yang artinya kira-kira “kata-kata tidak memiliki makna maupun arti apapun, melainkan manusia-lah yang memberikannya makna dan arti. Misal: bunyi “wi” berarti “kita” menurut orang Inggris, “siapa” menurut Belanda, “bagaimana” menurut Jerman, “duhai” menurut Arab, atau hanya panggilan sayang bagi gadis Sunda yang bernama Wiwi (Rakhmat, 2001: 27).
Begitu pula dengan netiquette tadi, bagi sebagian orang ia dianggap begitu sakral, namun bagi sebagian yang lain, “toh itu cuma sederetan huruf-huruf saja kok!” atau “warna merah kan menarik”, dsb. Tidak ada siapa yang benar ataupun siapa yang salah dalam konteks ini, toh persepsi tiap orang berbeda-beda namun hendaknya disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tempat dimana ia berada (misal: milis). Tiap milis tentulah memiliki seperangkat aturan tersendiri. Ada milis yang santai, ada pula milis yang serius. Aturan-aturan ataupun budaya-budaya yang telah tumbuh dan berkembang didalam milis tersebut hendaklah kita hargai. Toh, milis juga merupakan sarana berinteraksi dan mengaktualisasikan diri dalam lingkungan sosial, bukan? Khususnya bagi manusia modern. Yaa, walaupun hanya melalui baris-baris teks doank.
Lewat baris-baris teks pun manusia dapat bersengketa (hhh…)
Setujukah anda dengan kalimat diatas? Kalo saya sih setuju sekali. Hal ini juga yang terjadi ‘di suatu tempat saya bernaung’. Sengketa terjadi hanya karena baris-baris teks! Tidak salah memang, karena seperti yang telah saya ungkapkan diatas, ‘words don’t mean, people mean’. Semuanya kembali kepada cara dan pola pandang individu yang bersangkutan. Bisa saja menurut si A, kata-katanya (atau lebih tepatnya tulisan) itu hanya sekedar joke belaka, namun menurut si B, kata-katanya itu adalah ejekan keras. Si A dan si B ini terus menerus berdebat, mempertahankan ‘kehormatannya’, sama-sama tidak mau mengalah. Okelah, mungkin kalo saya terlibat didalamnya, saya pun mungkin akan bersikap sama. Watak keras kepala saya mungkin akan muncul kembali (atau dengan sengaja saya munculkan :P).
Seperti biasa, tiba-tiba stuck nie, jadi tulisan ini saya sudahi sampai disini saja. Mohon maaf bila tulisannya ngambang, mohon maaf bila ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati, mohon maaf pula bila ada kesamaan kejadian di dunia nyata. Semuanya hanya faktor kebetulan belaka :P
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
No related posts.




June 22nd, 2008 at 12:22 pm
APO MAKSUDNYO INI?
DAK JELAASSS!!!
hehehehe…
kujelaske irus yee.. itu cuma tulisan bae pake caps
cuma sebenernyo maen-maen bae aka J/K..
pisss
[Reply]
June 24th, 2008 at 8:39 am
eh loe nyindir gue ya..
[Reply]