Browse > Home / Archive: July 2008

| Subscribe via RSS

Internet dan privasi?

Gonjang-ganjing mengenai masalah privasi di dunia maya sepertinya masih menyisakan pertanyaan di benak para penggunanya.

Here the story goes…

Beberapa hari yang lalu, saya nyolong file-file e-book dari komputer temen. Sesampainya di kosan, setelah harddisk terpasang, saya browse file-file tadi. Ada cukup banyak e-book yang saya dapatkan. Setelah beberapa saat melakukan ritual bongkar-membongkar, saya menemukan satu e-book Playboy edisi Maret 2008 lalu. Wehehehe… :D

File tersebut saya double click, dan mulai menyedot lembar per-lembar halaman digitalnya. Pada halaman Forum-nya saya menemukan artikel menarik, mengenai privasi dan anonimitas, khususnya di dunia internet. Nama Facebook cukup sering disebut-sebut dalam artikel tersebut. “Profiling for Profit – It’s No Surprise Facebook is Selling Your Secrets,” itu judulnya. Yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia kira-kira menjadi: “Menyusun Profil (orang lain) Demi Mencari Keuntungan – Bukan Sesuatu yang Mengejutkan bahwa Facebook Menjual Rahasia Anda.”

Web 2.0 memang telah menancapkan kukunya dalam-dalam, mengubah paradigma dan pola berinternet manusia modern. Bila dulu, halaman-halaman website bersifat statis dan read-only, alias cuma bisa dibaca dan ga bisa dikomentari apalagi di-edit. Kini justru bermunculan tren-tren pendobrak seperti Social Networking (Facebook, Friendster, MySpace, Multiply, dsb), blogging, wiki, Social Bookmarking, dsb.

Kini tampaknya telah banyak pengguna internet yang berani memunculkan dirinya ke permukaan dengan berbagai alasan; mencari ketenaran, teman, dsb. Masih segar di ingatan saya, ketika awal perkenalan dengan internet semasa mengecap pendidikan di bangku SMP dulu (sekitar tahun 1998-1999). Prinsip ‘jangan tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya’, secara perlahan mulai memudar. Apalagi ketika saya mulai mengenal apa itu IRC. Daftar nama alias tersusun rapi di otak saya, pun kerapkali bergonta-ganti, dan tiap nama alias terdaftar di server IRC yang bersangkutan serta diproteksi dengan password. Begitu pula dengan akun e-mail, satu e-mail untuk pribadi, satu e-mail untuk umum, dan entah ada berapa e-mail lagi untuk keperluan lainnya. Mengapa harus ada lebih dari satu nama alias dan alamat e-mail? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi apapun dan siapapun yang saya mau. Tiap nama alias memiliki karakteristik dan kepribadian tersendiri begitu pula dengan alamat e-mail yang diasosiasikan dengan nama alias yang bersangkutan.

Ketika era Friendster mulai menunjukkan giginya, mulanya saya tidak terlalu acuh. Saya pun sempat memberikan statement, bahwa Friendster itu cuma untuk anak-anak remaja cewek saja. Eehhh… sekitar akhir tahun 2004 atau awal 2005, temen-temen kampus saya rame-rame mendaftarkan dirinya di Friendster dan pembicaraan di kampus pun sempat berubah, serba Friendster! Akhirnya, dengan malu-malu kucing sembari menjilat ludah sendiri, saya mendaftar juga di Friendster. Sempat keranjingan juga sie, hehehe… :P Tapi kini, akun Friendster saya entah sudah berapa lama ga disentuh. Ditambah lagi dengan datangnya pesaing-pesaing baru Friendster di dunia Social Networking; MySpace, Facebook, Multiply, dsb.

Begitu pula ketika era kebangkitan massal (atau kelahiran massal?) blog di tanah air, saya mulanya tidak terlalu mengacuhkannya. Tapiii… Yep, as you all know, saya terbawa arus juga! Pada Agustus 2006, blog aneh ini lahir! Dan sampe sekarang candunya masih kuat mencengkeram saya :P

Baik di Friendster maupun di blog, saya terkadang memberikan informasi ‘real’ mengenai diri saya. Keadaannya sungguh terjungkir balik, tidak seperti dulu lagi. Bila dulu, memberikan nama asli kepada temen IRC terasa ‘haram’ bagi saya, boro-boro foto, curhatan, dan informasi lainnya. Anonymity is numero uno! Walaupun begitu, saya masih mengenal batas-batas sejauh mana informasi mengenai diri saya layak untuk diketahui oleh orang lain. Bila tidak…

Bila tidak, apa?

Hehehe… Terpengaruh oleh novel nie. Saya tidak ingin cerita yang dikarang oleh Jeffery Deaver dalam The Blue Nowhere benar-benar terjadi, apalagi ke diri saya :P

Ada beberapa informasi yang sebaiknya tidak tersebar luas di internet. Semisal: nomor telepon, alamat rumah, nama ibu, nama ayah, nomor rekening bank, tempat dan tanggal lahir, asal sekolah, dan informasi-informasi sensitif lainnya.

The story ends here…

Jadi, apa kesimpulannya?

Sebisa mungkin untuk tidak mengekspos informasi pribadi. Bila memang ingin melakukannya (di situs-situs Social Networking, misalnya) dengan alasan tertentu (menjalin hubungan pertemanan, mencari ketenaran, dsb), silakan saja, asal ada batas-batas yang anda tentukan sendiri, sejauh mana anda ingin terekspos di dunia maya.

WongKito Goes to School :)

July 24th, 2008 | 2 Comments | Posted in News and Information
Lagi males ngarang kata-kata nie, jadi kopipas dari blognya WongKito aja :P

WongKito Goes to School

Hari & Tanggal: Sabtu, 26 Juli 2008 jam 11:00 – selesai
Tempat: SMAN 3 Palembang

Disponsori oleh:

Dicekik refill tinta infus

July 19th, 2008 | 4 Comments | Posted in News and Information, Personal

Huh! Saya bener-bener merasa dipermainkan nie, oleh toko tempat saya nginfus printer tiga bulan yang lalu! Emang apa masalahnya sie?

Here the story goes…

Empat hari yang lalu, saya baru nyadar kalo ternyata tangki tinta item printer saya udah sekarat. Nyawanya udah di ujung tanduk. Demi memperpanjang nyawanya, maka saya pergi ke toko tempat masang infusnya dulu, bareng sama temen saya (dia baru mau masang infus).

Di toko, saya menanyakan harga tinta refill infus printer saya. Trus ditanya oleh pelayan tokonya, “tintanya pake merek apa, mas?”. Trus saya jawab, “printernya Canon IP1600, merek tinta gimana maksudnya? Dulu saya pasang infusnya disini loh.”

“Iya mas, tapi merek tinta yang dipake apa? Good Ink? PrintPal? Blue Print? Atau yang laen?”, lanjut si pelayan toko.

Sontak saya bingung, lah wong sejak awalnya saya ga terlalu memperhatikan apalagi mempedulikan merek tinta yang dipasang di infus printer saya. Eh, sekarang malah ditanya mereknya. Trus saya tanya lagi, “harga Good Ink, PrintPal, sama BluePrint berapaan, mas? Yang 100 mililiternya?”

“Kalo Good Ink sama PrintPal, itu yang biasa mas, BluePrint yang bagus, harganya Rp.22500 per-botol isi 100 ml,” cerocos si pelayan.

Saya telpon temen saya untuk menanyakan tinta infusnya pake merek apa. Ternyata dia pake PrintPal. Saya tanya lagi, “yang PrintPal berapaan?”

“Dua belas ribu, mas.”

“Kalo Good Ink?”

“Kalo Good Ink sama mas, segitu juga harganya. Tapi kita ga jual yang botolan isi 100 ml. Adanya yang 1 Liter.”

“Hoh? Satu liter?” Saya sedikit kaget. “Berapa harganya? Emang ga bisa ya beli 100 ml aja?”

“Satu liternya seratus sepuluh ribu. Maaf mas, tapi kita ga jual yang 100 ml.”

God! Seratus sepuluh ribu Rupiah! Siiggghhh… Lagian satu liter mah kebanyakan, batin saya. “Kalo misalnya saya refill sama merek tinta laen, semisal BluePrint, bisa ga mas?”

“Bisa aja, tapi tabungnya harus dikuras dulu. Itungannya kena biaya servis. Kalo sembarang refill pake tinta yang ga sejenis ntar printernya kenapa-kenapa, mas” Sahut si pelayan toko.

Saya tanya lagi, “emang biaya servisnya berapa?”

“Lima puluh ribu.”

Otak saya mulai buka program kalkulator, servis 50000 ditambah tinta BluePrint yang seratus mili 22500. Jadi totalnya, 72500. Sedangkan Good Ink satu liternya 110000. Duh! Saya jadi bimbang. Akhirnya saya urungkan niat beli tinta refillnya dikarenakan saat itu saya lagi ga ada duit selain itu saya juga masih ragu, tinta infus saya pake merek apa. Lagian kalo saya sembarang refill pake tinta yang ga sejenis, takutnya apa yang dibilangin oleh si pelayan toko itu jadi kenyataan, printernya ‘kenapa-kenapa’.

Sepulangnya, pas di kosan, saya bongkar arsip nota pembelanjaan saya, mencari tahu merek tinta yang digunakan ketika memasang infus pertama kali dulu. Jreeng… Ternyata pake tinta Good Ink, yang ga dijual per-100 ml, dan cuma ada yang 1 L. Oh my ghost!

Baru tadi siang, saya lagi bener-bener butuh tinta buat nge-print. Saya muter-muter di toko komputer di seputaran Unila buat nanyain, siapa tau mereka ada yang jual tinta Good Ink yang 100 ml. Ternyata ga ada yang jual! Damn!


Ujung-ujungnya, pikir saya, daripada bimbang, harus ganti merek tinta + biaya servis, atau beli tinta Good Ink satu liter. Enakan saya beli yang satu liter aja. Agak mahal memang, tapi setidaknya bisa dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama. Dan saya pun meluncur ke toko tersebut, dengan melarikan motor temen kosan saya. Pulangnya botol satu liter berisi tinta item saya boyong.

Doh! Keluar duit lagi deh. Tinggal ngirit aja sampe akhir bulan :(

Pelajaran yang saya petik, sekaligus bisa jadi pembelajaran buat yang mau pasang infus di printernya; “ketika memasang infus, carilah/mintalah kepada toko untuk menggunakan tinta yang well-known dan mudah didapat serta menyediakan jual ‘eceran’ (100 ml).”

Mengatur perizinan aplikasi Java pada sistem operasi Symbian

July 19th, 2008 | 3 Comments | Posted in Gadgets, Tips n Tricks

Pada beberapa aplikasi Java, ada yang memerlukan pengaksesan beberapa fitur/fungsi pada handphone yang dianggap vital, seperti mengakses fungsi networking, multimedia, connectivity, dan read/write data pada handphone. Contoh kasusnya pada aplikasi Opera Mini v4.1 yang kerapkali saya gunakan.


Kadangkala membuat saya kesal karena harus terus-menerus menjawab pertanyaan yang sama, “Allow application Opera Mini to use Network and send or receive data?”, “Allow application Opera Mini to read user data?”, dan “Allow application Opera Mini to write user data?”. Lalu, bagaimana mengatasi hal tersebut?

Berikan izin pada aplikasi untuk melakukan apa yang diperlukannya tanpa harus mendapatkan konfirmasi dari user.


Masuk ke menu, lalu pilihlah Manager, setelah Application manager terbuka, arahkan ke aplikasi yang akan diberikan izin khusus (dalam kasus ini Opera Mini). Pilih Options > Suite Settings, dan tentukan izin apa saja yang akan diberikan pada aplikasi Opera Mini tersebut. Network access, misalnya, dari empat pilihan yang ada: Not allowed (tidak memberikan izin sama sekali), Ask everytime (tanya perizinan setiap kali aplikasi membutuhkan izin), Ask first time (tanya sekali saja), Always allowed (selalu memberikan izin kepada aplikasi untuk melakukan aksi yang dibutuhkannya).

Got it?

:)

Menanti kebangkitan generasi Al-Quran

July 18th, 2008 | 6 Comments | Posted in Personal, Social Politics


Tadi pas khutbah Jum’at saya bener-bener merasa ‘tertampar’ keras. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena dari apa yang disampaikan oleh khatib tersebut kepada para jamaah Jum’at. Emang apa sie yang disampaikannya?
Here the story goes…

Di deket rumah anda pasti ada masjid (atau setidaknya musholla), bukan? Apakah setiap akan memasuki waktu shalat (sebelum adzan), masjid tersebut selalu mengumandangkan tilawah Al-Quran? Bila iya, siapakah yang bertilawah? Apakah manusia (imam masjid, qari, atau masyarakat sekitar)? Ataukah… KASET?

Kalo saya mah jujur, masjid di deket rumah saya (di Palembang), setiap menjelang waktu shalat, selalu berkumandang tilawah Al-Quran nan merdu dan indah namun qari yang mengumandangkannya tak lain dan tak bukan adalah dari sebuah kaset yang diputar menggunakan tape recorder! Tidak jarang pula dari siaran radio!

Miris…

Kemanakah generasi Al-Quran kita saat ini dan masa depan?

Sedikit flash back ke masa lalu, suatu masa ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SD (Sekolah Dasar). Ya, saya merasa beruntung sempat merasakan masa-masa indah dimana para anak-anak kecil di daerah tempat tinggal saya, berbondong-bondong ikut pengajian (atau biasa dikenal dengan sebutan TPA – Taman Pendidikan Al-Qur’an).

Kala itu, masjid tempat kami belajar mengaji selalu ramai, oleh anak-anak yang belajar Al-Qur’an. Sejak siang hari, selepas jam pulang sekolah, sore hari, hingga malam hari yang selesai sekitar pukul delapan atau sembilan malam.

Sebelum pindah ke TPA di masjid deket rumah, saya sempat mengenyam pendidikan Al-Qur’an di TPA yang letaknya boleh dibilang agak jauh dari rumah. Di TPA itu pula, saya belajar Iqra, dari jilid I hingga VI. Setelah itu barulah mempelajari Al-Qur’an (baca tulis, tafsir, menghafal, dsb). Namun, ketika saya duduk di kelas V SD, saya berhenti dari TPA itu, dan pindah ke TPA di masjid deket rumah saya, dengan alasan lebih deket dan ketika itu pula saya mulai memasuki jenjang Children Class di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Palembang.

Belajar Al-Qur’an di TPA masjid deket rumah ini pun hanya bertahan hingga kelas I SMP. Alasan saya dulu begitu klasik, “karena banyak pe-er dari sekolah yang harus dikerjakan, dan selain itu masih harus belajar di rumah, dan kursus bahasa Inggris.”

Bagaimana dengan masa kecil anak-anak yang hidup di era digital saat ini? Apakah mereka masih mengikuti yang namanya TPA/pengajian? Sepanjang yang saya tau, masih. Namun, tidak sebanyak dan seramai ketika saya kecil dulu. Pun ‘kelas malam‘ pengajian seperti saya dulu sudah tidak ada lagi!

Pernah beberapa waktu lalu, ketika di Palembang, saya menanyai seorang anak tetangga saya yang masih duduk di bangku SD, “kok ga ngaji ke masjid?”. Jawabnya, “nggak ah, kak, game-nya (PlayStation as known as PS) belom tamat.” Weleh! Alesannya lebih canggih, bro! Game PS!

Stop here! Back to topic!

Sedikit gambaran yang saya jabarkan diatas, pada beberapa bagian, jelas-jelas menohok relung hati saya. Salah satunya; alasan berhenti ngaji di TPA karena harus belajar dan mengerjakan pe-er dari sekolah, kursus, ekskul, dsb. Lantas? Belajar Al-Qur’an dianaktirikan? Astaghfirullah… *karena saya dulu termasuk salah satunya…* :(

Dan, mengenai tilawah di masjid yang menggunakan kaset, sang ustadz (khatib ceramah Jum’at tadi) menyarankan agar kaset-kaset tersebut dibuang saja (bila perlu dibakar). Sebab akan lebih terasa indah bila yang mengisi tilawah di masjid adalah manusia dalam bentuk yang sebenarnya. Generasi-generasi penerus Islam.

Selain itu, khatib tadi juga mengenai imam masjid. Khususnya yang telah ‘berumur’ dan ‘renta’ serta ‘ompong’ sehingga menyebabkan bacaan shalat yang diucapkannya tidaklah jelas lagi. Ia mempertanyakan, kemana para pemuda masjidnya? Generasi penerus yang masih segar bugar? Masak imam yang seharusnya sudah ‘pensiun’ itu masih dipekerjakan dengan keras? Yang bacaan shalatnya sudah ga terdengar jelas lagi karena sudah ompong! Wallahualam!

Mengapa hal ini dipermasalahkan? Sebab suatu bacaan Al-Qur’an akan berbeda maknanya bila satu huruf saja berbeda!

Fiuuhhh…

Saya jadi terpacu untuk mengintrospeksi diri saya lebih dalam lagi. Memperbaiki bacaan Qur’an saya yang masih ‘belepotan’ (kalo ga mau dibilang ‘kacau balau’, hehe…).

Kalo bukan kita, siapa lagi penerus generasi Islam kedepannya? Kalo ga sekarang, kapan lagi? *ga pake [dot] com, loh! :P*.

son of fail

July 17th, 2008 | 3 Comments | Posted in Music, Personal, Poems

[hypnotherapist]
open the memories of your past
and says it all clearly to me
don’t worry on anything bad
which may distort your visions

[alexander]
in that cold windy night
i’m standing in front of the broken furnace
beside the holy window
in my house full of silence
alone…

[rosemary]
hello dear, how are you?
here i brought some sweet love for you
dear, don’t keep such an empty words
talk with me
tell me what you have been seen outside
from your favorite window

[son of fail]
mom, i feel bad
the world seems doesn’t pay me
any attention i need
they hurts me…
my body was wounded…
my thought was emptied…
still i can’t find any friends…
they’re all my enemies…

[rosemary]
don’t talk with me, son of fail!
i’m not your mom!
go to your bed of death!

[son of fail]
why mom…?
why can’t you give me a bunch of warm loves?
you’re seen like one of my enemies, too
why do the world acts such a f*ck with me?

[alexander]
i walk to my son
and whispered some words of wisdom
to awakens his spirits
to open his minds
and to let him know
i’m there to protect him

rosemary really a bad woman
nor a good wife and mother
for me and her son
her closest friends are lies
i don’t believe on whatever she said
and did…

[hypnotherapist]
don’t be afraid, son
just tell me what happenned in that day?

[alexander]
there’s come any black clouds
even i don’t know who am i
and where am i
all too dark to see
all too crowd to hear
somekind of evil drove me
to an act…
evil act…
blinded me…
i don’t know how
rosemary make a love with another man
in front of my hazy eyes
i don’t know how
i can be trapped in a twisted mind
and complex situation
a gun fired…
some bullets flown…
and stops in her and her man’s heart…

[son of fail]
god!
why you let me live in such a cruel world?!

(ending scene: alexander shot his head with the remaining bullets in his gun)

[son of fail]
no, dad!
don’t do that!
don’t leave me alone…!!!
mom… dad…

inspired by the no one who i met in one of my nightmare
kopi 15
16 juli 2008
20:38


Hmmm… entahlah baris-baris kata ini akan saya jadikan lagu, baru liriknya doank, belom dapet inspirasi buat ngegabungin beberapa riff yang telah saya tab-kan.

Terinspirasi dari salah satu mimpi buruk saya beberapa malam yang lalu. Dalam mimpi tersebut saya melihat empat orang yang saya ceritakan diatas (namun muka dan namanya tidak diketahui). Memang telah mengalami sedikit perubahan sie. Tapi intinya ya tetep :P

TypingScorist – konsep dasar menghitung kecepatan mengetik

July 17th, 2008 | 3 Comments | Posted in Programming


Hal yang paling penting yang berkaitan dengan dunia komputasi adalah typing alias mengetik. Sebuah komputer dapat dipastikan tidak akan bisa dioperasikan tanpa adanya sebuah input device yang bernama keyboard (setidaknya hingga saat ini).

Kecepatan dan ketepatan mengetik tentu saja berbanding lurus dengan tingkat produktivitas kita didepan komputer. Entah itu mengetikkan kata dan kalimat di program pengolah kata, memberikan perintah baris kepada komputer, dsb.

Kita dapat membuat sendiri program untuk mengukur kecepatan mengetik kita dalam satuan waktu detik, menggunakan Visual Basic (dalam kasus ini menggunakan Visual Basic 6). Proyek ini saya namai TypingScorist. Memang, ini hanyalah sebuah konsep, dan tingkat akurasi penghitungan waktunya pun tampaknya masih belum begitu baik. Tapi setidaknya, dapat membantu pemula dalam mempelajari dasar-dasar pemrograman Windows menggunakan Visual Basic. Perlu untuk dicatat, saya bukanlah seorang yang expert dalam bidang pemrograman, saya juga masih dalam tahap belajar. Program dan postingan yang saya buat ini semata-mata untuk berbagi :)

Untuk lebih jelasnya, silakan donlot file zip proyek yang berisikan source code beserta executable yang telah dikompilasi, [DISINI].

Happy coding!

Orang-orangan sawahnya Avantasia

July 12th, 2008 | 4 Comments | Posted in Music


Apanya yang orang-orangan sawah? Hehe… Itu cuma terjemahan ngeyel saya saja, dari kata The Scarecrow, judul album ketiga Avantasia yang rilis awal tahun 2008 lalu, tepatnya 25 Januari 2008, dibawah payung Nuclear Blast Records. Dua album sebelumnya; The Metal Opera dan The Metal Opera Part II.

Boleh saya tau, apa pendapat anda mengenai cover albumnya? Wakakakaka… Jangankan burung (gagak), manusia pun mungkin bakalan lari terbirit-birit pas ngeliat orang-orangan sawah seperti itu :P

Saya cuma mau bicara sedikit mengenai lagu-lagu di album ini. Ya, cuma sedikit, mengapa? Jangan tanya deh! :P Toh, saya bukan seorang yang expert dalam bidang apresiasi musik.

Ok. Lets begin.

Avantasia adalah proyek yang dimotori oleh Tobias Sammet, vokalis sekaligus pentolan band Power Metal asal Jerman, Edguy. Genre musik yang diusung Avantasia berkisar pada Symphonic Metal dan dibalut lekukan tenaga dari Power Metal. Avantasia juga diperkuat oleh Sascha Paeth (gitar) dan Eric Singer (drums).

Terbentuk pada 1999, lebih kurang 9 tahun silam. Umur yang boleh dibilang relatif muda memang, bila dibandingkan dengan band-band yang telah lebih dulu eksis di ranah yang sama semisal Symphony X yang telah mulai menunjukkan giginya pada 1994 dan inang Avantasia sendiri, Edguy, yang telah eksis sejak 1992 silam. Sedikit cerita tentang Edguy; band ini dibentuk pertama kali oleh bocah-bocah umur 14 tahun (kalo di Indonesia masih duduk di bangku SMP yak?); Tobias Sammet, Jens Ludwig, Dirk Sauer, dan Dominik Storch. Nama Edguy sendiri merupakan ephitet dari guru matematika mereka ketika itu. Apa itu epithet? Epithet adalah kata/frase dengan makna/arti tersirat atau bisa juga merupakan sebutan yang mengarah kepada seseorang baik (tokoh) nyata maupun fiktif, objek, hal-hal yang bersifat kedewaan, dan penamaan biologi (biological nomenclature).

Tobias Sammet tampaknya menyukai penggunaan permainan frase dan kata-kata. Mengapa? Sebab nama Avantasia sendiri pun merupakan portmanteau, atau penggabungan kata, antara Avalon (nama sebuah pulau yang terdapat dalam legenda Raja Arthur) dan Fantasia (fantasy atau fantasi). Kata Avantasia digunakan untuk melukiskan sebuah dunia diluar imajinasi manusia.

Ada sebelas lagu yang terdapat dalam album The Scarecrow ini, yakni:

  1. Twisted Mind (6:14). Lagu pembuka yang bertenaga dan penuh dengan distorsi. Adalah salah satu lagu yang langsung saya suka sejak pertama kali mendengarnya.
  2. The Scarecrow (11:12). Judul album ini tampaknya diambil dari judul lagu ini, The Scarecrow. Menceritakan suatu kisah yang panjang (yang saya sendiri belum mengerti :P), ya, sepanjang durasi lagu ini.
  3. Shelter from the Rain (6:09). Termasuk salah satu lagu yang bertenaga, dengan dentuman double bass drums di beberapa bagiannya.
  4. Carry Me Over (3:52). Wah. Ini lagu santai nih. Ga banyak rentetan aneh baik drums maupun gitarnya. Pokoke nyante :P
  5. What Kind of Love (4:56). Lagu yang satu ini lebih santai lagi. Pertama kali denger intronya, saya seperti lagi denger lagu Enya yang Only Time. Ada satu verse dalam liriknya yang saya suka: “What kind of love would let us bleed away? No kind of love would make us bleed away.” Agak ragu juga sih, “tidak ada cinta yang akan membuat kita terluka.” Benarkah? Terserah anda mau jawab gimana :P
  6. Another Angel Down (5:41). Uummm… Intronya mirip-mirip kayak satu lagu Dream Theater *lupa judulnya :P*. Dan cukup bertenaga juga nih, hampir seluruh bagian lagu di fill oleh double bass drums.
  7. The Toy Master (6:21). Nah! Ini dia! Lagu yang paling saya suka! Unik! Ya, bener-bener unik! Agak progressive juga sih. Iramanya seperti meliuk-liuk. Kayaknya ni lagu enak kalo dibawain pas festival. Bisa bikin audience ngelakuin headbang ala Led Zeppelin. Liriknya juga bercerita tentang ketakutan, kesedihan, dan kesenangan anak-anak. Entah mengapa, saya suka dengan lirik mengenai masa kecil dan anak-anak. Ya, salah satunya seperti pada lagu Enter Sandman-nya Metallica. Ada satu penggalan lirik dalam lagu The Toy Master ini yang saya suka: “Out in the cold, I see water frozen in their eyes. What a sorry sight….”
  8. Devil in The Belfry (4:42). Intro gitarnya kriuk-kriuk, gurih dan renyah! Ni lagu bertenaga juga. Cukup memacu adrenalin.
  9. Cry Just a Little (5:15). Menangis sedikit saja, gadis… Gila! Ni lagu mellow bener. Saya ga nyangka kalo ternyata band yang mengusung genre keluarga heavy metal, bisa juga bikin lagu kayak gini. Halus, lembut, dan sedikit mendayu. Tapi teteup, ga kehilangan unsur metalnya. Hal ini bisa dilihat dari riff dan lick gitar yang pendek di seperempat bagian akhirnya.
  10. I Don’t Believe in Your Love (5:34). Ni lagu cocok bener buat yang lagi merasa sakit hati sama wanita pujaannya. “Loving her is dying. Loving her is pain.” Itulah salah satu penggalan kata dalam liriknya. Ya, dikhianati dan dibohongi oleh orang yang dicintai memang amat sangat menyakitkan! Intinya, ni lagu seorang pria yang tersakiti oleh cinta. Balik lagi ke penggalan lagu What Kind of Love diatas yang menyatakan, “No kind of love would make us bleed away.” Dan sekali lagi saya tanya, benarkah? :P
  11. Lost in Space (3:53). Wah. Ni juga lagu yang sangat saya suka di album ini. Iramanya mengingatkan saya pada salah satu lagu di kaset lagu klasik “Sway Cha-Cha” *kalo ga salah :P* yang pernah saya beli pas SMP dulu. Slow but sure, kayaknya pa
    s diterapin sama lagu yang satu ini. Slow dan mellow sie tapi amat-sangat-bener-bener-enak-nikmat-sekali buat didengerin.

Buat penikmat metal, ni album boleh saya katakan, a must have! Ya, harus ada dalam daftar koleksi. Beli boleh, donlot yang original juga boleh, atau mau yang gratisan? Yang ilegal? *halah* Buoleh juga kok! *toh saya juga donlod dari sini nih* Wekekekekeke… :P

Tarif GPRS Simpati jadi Rp.5/Kb

July 12th, 2008 | 3 Comments | Posted in Gadgets, News and Information


Wohohoho…

Ternyata Simpati menurunkan juga tarif GPRS-nya, menjadi Rp.5/Kb. Hmmm… Terjadi penurunan Rp.7/Kb. Lumayan… Bila dibandingkan dengan tarif sebelumnya yang menurut saya bener-bener mencekik leher konsumen, yakni Rp.12/Kb.

Walaupun begitu, masih kalah murah nih sama IM3 yang menerapkan tarif akses Rp.1/Kb.

Dari segi kepuasan *halah*, saya akui kecepatan akses data Telkomsel (Simpati) memang lebih cepat dan stabil bila dibandingkan dengan provider lain. Yaaa… Adakalanya kualitas layanannya kurang memuaskan, tidak bisa terhubung ke server misalnya.

Dan satu pertanyaan lagi yang menggantung mengenai tarif baru GPRS Simpati ini, yaaa… Seperti yang kita semua tahu, sudah tabiat Telkomsel untuk menerapkan yang namanya tarif promo. Nah, tarif baru GPRS ini sampe kapan ya? Apakah untuk seterusnya? Ataukah hanya tarif promo yang berlaku untuk jangka waktu tertentu saja?

Kala waktu terasa begitu sempit…

July 11th, 2008 | 1 Comment | Posted in Personal


Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Ya, bila ditelaah, definisi waktu tidak cuma sebatas itu saja. Ada banyak definisi lainnya misal: waktu adalah uang, waktu adalah kesempatan, waktu adalah kehidupan, waktu adalah anugerah, waktu adalah pedang, waktu adalah ibadah, dan lain sebagainya. Bahkan ada pula yang menyatakan waktu adalah racun.

1 hari = kurang lebih 24 jam.

12 jam terang dan 12 jam gelap.

Waktu yang lebih dari cukup bila dimanfaatkan dengan optimal dan didukung dengan manajemen yang baik.

Tapi…

Bagi saya waktu segitu terasa sangat sempit. Oke, saya akui, manajemen waktu saya akhir-akhir ini memang amat sangat berantakan *halah*. Mengapa? Entahlah, saya sendiri tidak tahu! Hari demi hari saya lalui lebih banyak didalam kamar kosan saya, mengerjakan skripsi, membaca buku-buku, me-recode ulang program-program yang pernah saya buat, menonton tv, mendengarkan musik, sarapan, makan siang, makan malem, ngemil, maen gitar, kalo lagi mood-saya ke kampus dan mampir ke perpus, me-tablature-kan riff-riff gitar yang secara tidak sengaja saya mainkan, menulis beberapa quote dan sajak pendek, masuk kelas conversation, dsb.

Tidak jarang pula saya tidur larut malam, demi mencicil skripsi saya, walaupun hanya satu paragraf. Tidak jarang pula selepas subuh saya tidur hingga pukul 09.00. Kebiasaan mandi jam 12 siang pun mulai kumat.

Teh, multivitamin, cemilan *akhir-akhir ini lagi demen sama Wafret :P*, kopi, dan susu menjadi asupan wajib disaat saya melakukan aktivitas ga jelas diatas.

Niat untuk hibernasi sejenak dari kegiatan online pun sepertinya agak susah untuk terealisasi. Entah kenapa, saya malah merasa seperti terasingkan dari teknologi bila tidak melakukan request client-server melalui port 8080 tersebut.

Ummm…

Ini udah bulan Rajab yak? Berarti kurang lebih dua bulan lagi Ramadhan akan tiba. Perasaan baru kemaren lebarannya.

Ini udah bulan Juli yak? Berarti sudah hampir 4 tahun saya kuliah. Beberapa hari yang lalu juga saya telah membayar SPP untuk semester 9!!! Memasuki tahun ke 4,5. Perasaan baru kemaren saya memasuki awal-awal masa perkuliahan.

Target wisuda bulan Juni? Halah! Totally failed! Menggantungkan harapan pada September? Kayaknya impossible deh. Harapan yang paling logis adalah Desember. Insya Allah.

Induk semang juga udah mulai meneror anak-anak kosan, “ayo, ayo, pundi-pundi uangku, bayarlah sewa kosan kalian untuk satu tahun kedepan…” *ngeyel*. Ya, kira-kira itulah yang saat ini ada dibenak si induk semang as known as ibu kos. Tinggal saya yang mikir! Duh.

Ada satu kata-kata bijak yang kadang menampar sekaligus memotivasi saya, “menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan hidup.” Bagaimanakah menerapkan manajemen waktu yang efektif? Sehingga saya tidak merasa selalu kekurangan waktu seperti sekarang ini? Sehingga saya tidak merasa hidup saya sia-sia?