Browse > Home / Personal, Social Politics / Menanti kebangkitan generasi Al-Quran

| Subscribe via RSS

Menanti kebangkitan generasi Al-Quran

July 18th, 2008 Posted in Personal, Social Politics


Tadi pas khutbah Jum’at saya bener-bener merasa ‘tertampar’ keras. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena dari apa yang disampaikan oleh khatib tersebut kepada para jamaah Jum’at. Emang apa sie yang disampaikannya?
Here the story goes…

Di deket rumah anda pasti ada masjid (atau setidaknya musholla), bukan? Apakah setiap akan memasuki waktu shalat (sebelum adzan), masjid tersebut selalu mengumandangkan tilawah Al-Quran? Bila iya, siapakah yang bertilawah? Apakah manusia (imam masjid, qari, atau masyarakat sekitar)? Ataukah… KASET?

Kalo saya mah jujur, masjid di deket rumah saya (di Palembang), setiap menjelang waktu shalat, selalu berkumandang tilawah Al-Quran nan merdu dan indah namun qari yang mengumandangkannya tak lain dan tak bukan adalah dari sebuah kaset yang diputar menggunakan tape recorder! Tidak jarang pula dari siaran radio!

Miris…

Kemanakah generasi Al-Quran kita saat ini dan masa depan?

Sedikit flash back ke masa lalu, suatu masa ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SD (Sekolah Dasar). Ya, saya merasa beruntung sempat merasakan masa-masa indah dimana para anak-anak kecil di daerah tempat tinggal saya, berbondong-bondong ikut pengajian (atau biasa dikenal dengan sebutan TPA – Taman Pendidikan Al-Qur’an).

Kala itu, masjid tempat kami belajar mengaji selalu ramai, oleh anak-anak yang belajar Al-Qur’an. Sejak siang hari, selepas jam pulang sekolah, sore hari, hingga malam hari yang selesai sekitar pukul delapan atau sembilan malam.

Sebelum pindah ke TPA di masjid deket rumah, saya sempat mengenyam pendidikan Al-Qur’an di TPA yang letaknya boleh dibilang agak jauh dari rumah. Di TPA itu pula, saya belajar Iqra, dari jilid I hingga VI. Setelah itu barulah mempelajari Al-Qur’an (baca tulis, tafsir, menghafal, dsb). Namun, ketika saya duduk di kelas V SD, saya berhenti dari TPA itu, dan pindah ke TPA di masjid deket rumah saya, dengan alasan lebih deket dan ketika itu pula saya mulai memasuki jenjang Children Class di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Palembang.

Belajar Al-Qur’an di TPA masjid deket rumah ini pun hanya bertahan hingga kelas I SMP. Alasan saya dulu begitu klasik, “karena banyak pe-er dari sekolah yang harus dikerjakan, dan selain itu masih harus belajar di rumah, dan kursus bahasa Inggris.”

Bagaimana dengan masa kecil anak-anak yang hidup di era digital saat ini? Apakah mereka masih mengikuti yang namanya TPA/pengajian? Sepanjang yang saya tau, masih. Namun, tidak sebanyak dan seramai ketika saya kecil dulu. Pun ‘kelas malam‘ pengajian seperti saya dulu sudah tidak ada lagi!

Pernah beberapa waktu lalu, ketika di Palembang, saya menanyai seorang anak tetangga saya yang masih duduk di bangku SD, “kok ga ngaji ke masjid?”. Jawabnya, “nggak ah, kak, game-nya (PlayStation as known as PS) belom tamat.” Weleh! Alesannya lebih canggih, bro! Game PS!

Stop here! Back to topic!

Sedikit gambaran yang saya jabarkan diatas, pada beberapa bagian, jelas-jelas menohok relung hati saya. Salah satunya; alasan berhenti ngaji di TPA karena harus belajar dan mengerjakan pe-er dari sekolah, kursus, ekskul, dsb. Lantas? Belajar Al-Qur’an dianaktirikan? Astaghfirullah… *karena saya dulu termasuk salah satunya…* :(

Dan, mengenai tilawah di masjid yang menggunakan kaset, sang ustadz (khatib ceramah Jum’at tadi) menyarankan agar kaset-kaset tersebut dibuang saja (bila perlu dibakar). Sebab akan lebih terasa indah bila yang mengisi tilawah di masjid adalah manusia dalam bentuk yang sebenarnya. Generasi-generasi penerus Islam.

Selain itu, khatib tadi juga mengenai imam masjid. Khususnya yang telah ‘berumur’ dan ‘renta’ serta ‘ompong’ sehingga menyebabkan bacaan shalat yang diucapkannya tidaklah jelas lagi. Ia mempertanyakan, kemana para pemuda masjidnya? Generasi penerus yang masih segar bugar? Masak imam yang seharusnya sudah ‘pensiun’ itu masih dipekerjakan dengan keras? Yang bacaan shalatnya sudah ga terdengar jelas lagi karena sudah ompong! Wallahualam!

Mengapa hal ini dipermasalahkan? Sebab suatu bacaan Al-Qur’an akan berbeda maknanya bila satu huruf saja berbeda!

Fiuuhhh…

Saya jadi terpacu untuk mengintrospeksi diri saya lebih dalam lagi. Memperbaiki bacaan Qur’an saya yang masih ‘belepotan’ (kalo ga mau dibilang ‘kacau balau’, hehe…).

Kalo bukan kita, siapa lagi penerus generasi Islam kedepannya? Kalo ga sekarang, kapan lagi? *ga pake [dot] com, loh! :P*.



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Masjid dan Kampanye Pilkada
  2. Menanti revolusi dunia perfilman Indonesia
  3. From Batavia with Love – Seratus Tahun Cinta Menanti

6 Responses to “Menanti kebangkitan generasi Al-Quran”

  1. Au' Says:

    Wanna do something good : start it from now.

    *mmmm….hiks…

    [Reply]


  2. trendy Says:

    kalo masjid di tempat saya muternya lewat radio!
    nggak tau lagi mo ngomong apa!

    [Reply]


  3. Mas Koko Says:

    Tanya kenapa ??

    [Reply]


  4. Ranny Rachma Suci Says:

    jadi inget dah lamo dak baco Al-Qur’an
    hiksss

    [Reply]


  5. faisol Says:

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    [Reply]


  6. widi Says:

    terima kasih atas sharingnya. ini sharing dariku:

    http://www.universitas-quran.com

    terima kasih kembali :D

    [Reply]


Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.