Browse > Home / News and Information, Personal / Dirgahayu #63 Indonesiaku, ‘Rumah’ Baru, dan Balada Pengusiran dari Kosan

| Subscribe via RSS

Dirgahayu #63 Indonesiaku, ‘Rumah’ Baru, dan Balada Pengusiran dari Kosan

August 17th, 2008 Posted in News and Information, Personal

Dirgahayu Indonesiaku #63

Tak terasa, 63 tahun sudah kita merdeka. Bebas dari cengkeraman penjajahan para kolonial. Tapi, apakah kita benar-benar telah merdeka seutuhnya? Apakah sudah tak ada lagi jiwa-jiwa tertindas? Oleh pemerintahan? Ataupun oleh sistemnya? Bagaimana dengan neokolonialisme? Entahlah… Tapi saya merasa Indonesia belum merdeka seutuhnya :(

Eniwey, DIRGAHAYU INDONESIAKU!!! Mari kita merdekakan bangsa ini!!! SEUTUHNYA!!!

Rumah Baru

Saya habis pindah rumah? Rumah beneran? O tentu bukan :P

Yang saya maksudkan dengan rumah disini adalah blog. Pindah rumah alias pindah blog dari blogger (http://xvader.blogspot.com) ke platform WordPress dengan hosting dan domain sendiri (http://idrus.net).

Ya, semua catatan saya yang entah berguna entah tidak (tapi saya berharap ada yang berguna), mulai hari ini akan saya tuangkan ke blog ini :)

Mengapa saya pindah blog? Hmmm… Kalo ditanya seperti itu sie, saya rada gagap juga mau jawabnya gimana. Tapi intinya:

  • Saya bosan di Blogger.com, dan ingin mencoba suasana baru.
  • Saya ingin menikmati kebebasan eksplorasi di WordPress. Eksplorasi yang gimana sie? Yaaa… Segala macam eksplorasi dan kebebasan yang ditawarkan oleh WordPress. Misalnya: kebebasan modifikasi themes (sampai ke akar-akarnya) yang bisa dilakukan secara offline (localhost), penggunaan berbagai macam plugins dan enhancement yang ditawarkan WordPress, dsb.
  • Dengan hosting dan domain sendiri, itu juga berarti bahwa saya bisa belajar bagaimana mengelola serta memanajemen webhost.
  • Ingin tampil lebih pede aja :P
  • Dsb.

Emang sie, dengan berpindah blog ditambah pula menggunakan domain baru, itu berarti saya harus memulai semuanya dari awal lagi; blogwalking dan memperkenalkan blog ini, menjalin relasi melalui blogroll, mengumpulkan poin-poin Google PageRank mulai dari ’0′ (nol) lagi, dsb.

But, it’s okay. Seperti kata seseorang; “Turn it into a joy, play it like a toy, and you’ll enjoy! Whatever is it!” :)

Balada Pengusiran dari Kosan

Huahahahahaha… Yang ini nih yang sempet bikin saya kesel sekaligus marah sama si ibu kos. Emang gimana ceritanya?

Here the story goes…

Sejak akhir Juli lalu, si ibu kos telah gesit mengumpulkan uang sewa kosan dari anak-anak yang ingin memperpanjang sewanya. Tak terkecuali saya. Beberapa kali ditanya, “Kamu memperpanjang kosan disini lagi ga? Kalo iya, kapan mau bayar?”

“Iya bu, saya akan memperpanjang kosan di kamar yang sama untuk jangka waktu satu tahun kedepan. Insya Allah saya akan bayar sekitar tanggal 20-an,” Jawab saya.

“Ya, kalo bisa dipanjar aja dulu, sebagai bukti kalo kamu serius.”

“Duh, saya ga tau bu kalo masalah panjar-memanjar. Soalnya sejak awal, saya ga pernah memanjar. Selalu saya bayar cash, di muka. Biar urusannya sekali beres.”

Dialog itu terjadi ga cuma sekali, tapi telah berkali-kali. Dan puncaknya kemaren (16/8), seorang temen kosan memberitahu saya kalo si ibu kosan menyuruh saya menghadap. Yep, saya langsung bergegas menemuinya. But, ketika sampai di pintu rumah si ibu kos, seorang temen kosan yang lain memberikan saya sepucuk kertas yang bertuliskan:

“Saudara Idrus, tolong kamar pas tanggal masuk anda dikosongkan karena sudah diisi orang lain. Karena anda tidak ada perpanjangan waktu (pasal tanda perpanjangan dengan Ibu kost. Harap maklum.”

Anjrit!!! Apa-apaan ini? Apakah ini surat pengusiran? Entah tuli budeg atau apalah si ibu kos ini? Sudah berkali-kali saya bilang kalo akan membayar sewa kos sekitar tanggal 20-an Agustus. Paling lambat tanggal 25 Agustus! Lah, wong masa masa sewanya aja belom habis, berakhir tanggal 3 September. Ini kok malah kayak ga sabaran begini sih?! Pake perantara surat pula! Kenapa ga ngomong langsung?! Apa dia takut?!

Saya bergegas mencarinya, masuk ke rumahnya, dan memanggil-manggilnya. Namun tiada jawaban! Dua kali saya mencarinya tapi si ibu kos tidak juga menampakkan batang hidungnya. Dan setelah ketiga kalinya mondar-mandir dari kamar kosan saya ke rumah si ibu kos, akhirnya saya ‘menemukannya’ sedang mencuci piring. Langsung aja saya tanya perihal ‘surat pengusiran’ tadi. Debat panjang pun tak terelakkan. Dia ngotot, saya makin ngotot. Sebuah kesalahan besar mengajak saya adu mulut disaat pikiran saya tengah berkecamuk setelah merombak bab 1 skripsi saya yang beberapa hari sebelumnya dicoret-coret oleh dosen pembimbing saya.

Karena kesal dengan sikapnya, akhirnya saya dengan tegas dan dengan nada keras, memberikan pernyataan: “Oke bu, kalo emang itu kemauan ibu, saya ga bisa menentang! Saya keluar dari kosan ini! Tapi harap ingat bahwa saya masih punya hak meninggali kamar saya yang sekarang ini sampai tanggal 3 September nanti, sampai waktu kontraknya habis!”

Dan si ibu kos diam tak bicara lagi.

Kata temen kosan saya sih, si ibu kos itu cuma gertak sambel doank supaya anak-anak kosan (khususnya saya) segera membayar uang perpanjangan sewa kosan. Tapi, lagi-lagi sebuah kesalahan besar, menegur dan menagih uang kosan kepada saya dengan cara ‘hina’ seperti itu.

Mulai hari ini saya akan survey kosan baru yang lebih baik untuk saya tinggali selama 6 bulan kedepan (saya menargetkan untuk lulus bulan Desember ini, Insya Allah, doakan saya ya).

Ngomong-ngomong soal kosan yang sekarang beserta ibu kosnya. Wuih, kalo anda yang tinggal disini sih, sudah dapat saya pastikan anda pun pasti akan merasa kesal karena ulahnya, khususnya masalah yang berkaitan dengan uang. Sudah begitu banyak aib dan kecurangan si ibu kos ini terhadap kami. Mulai dari pemutusan aliran listrik blok tengah (kamar saya berada di blok ini) oleh PLN gara-gara penunggakan hingga beberapa bulan, masalah utang-piutang, dan berbagai kelicikan serta akal bulus yang senantiasa dia ‘apply’ kepada kami, para penghuni kosan demi menangguk untung sepihak (khususnya uang). Namun anehnya dia dapat dikatakan jarang menegur tingkah laku saya, pun dia tidak pernah berusaha untuk mencurangi saya dalam hal keuangan (meminjam uang kepada saya, misalnya), dsb. Selain itu, di kosan, saya juga dikenal sebagai anak yang paling membangkang. Beberapa hari yang lalu juga dia habis memasang sebuah ‘plakat peraturan’ di dekat kamar mandi depan yang berbunyi: “Dilarang mencuci di kamar mandi depan. Hemat air. Musim kemarau telah tiba. Harap mencuci di kamar mandi belakang.” Loh? Apa sih maksudnya? Apa sih bedanya? Antara mencuci di kamar mandi depan dan belakang dengan hemat air? Bener-bener aneh! Yep, as you all think, saya dengan cuek bebek mencuci di kamar mandi depan. Sampe ditegor sama dia sie, disuruh pindah ke kamar mandi belakang. Tapi saya ga mau. Toh, saya mencuci pakaian cuma seminggu sekali, itupun ga banyak.

Jangan ditanya mengenai aib si ibu kos ini lebih jauh deh. Terlalu banyak. Dan ga bakal bisa dituangkan dalam sebuah-dua buah posting paling panjang sekalipun dalam blog.

Intinya, saya senang bisa keluar dari kosan yang sekarang ini. Seperti keluar dari lingkaran setan. Yaaa… Walaupun harus repot pindahan. Dan tadi siang saya telah ‘menemukan’ satu kosan baru yang Insya Allah lebih baik :)

“Turn it into a joy, play it like a toy, and you’ll enjoy! Whatever is it!” :)



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Beberes rumah… :)
  2. Sehari Tanpa Listrik
  3. Tahun baru, semangat baru
  4. Introducing… blog baru gw…
  5. Cerita dari pelatihan desgraf dan weblog BEM-U KBM Unila

7 Responses to “Dirgahayu #63 Indonesiaku, ‘Rumah’ Baru, dan Balada Pengusiran dari Kosan”

  1. kang gery Says:

    semoga happy di rumah baru yah drus, wah emang kostan lu dimana?tega banget tuh bu kost, gw samperin nih

    [Reply]


  2. Amel Says:

    rumah baru ye Dus??

    Makan-makan :mrgreen:

    [Reply]


  3. afwan auliyar Says:

    dengan semangat kemerdekaan…..pindah rumah juga bisa menambah semangatnya juga…. :D

    [Reply]


  4. jafis Says:

    tetap semangat drus…
    dalam hidup ini ..
    selalu harus ada kata pertama….
    Keep Blogging and spirit

    [Reply]


  5. Ranny Says:

    dont give up drus

    [Reply]


  6. xvader Says:

    @kang gery: samperinlah kang :D
    @Amel: yoa, rumah baru nie. loh, harusnya amel lah yang traktir :P
    @afwan auliyar: amin… :D
    @jafis: trims kak :)
    @Ranny: u2 :)

    [Reply]


  7. Ungu Says:

    Haha2… Gt tho critanya pindah kosan?! Jalanmu msh panjang ank muda!!

    [Reply]


Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.