Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh
Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik.
Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15).
Dua baris diatas adalah kalimat yang saya temukan pada halaman 15, buku Kubik Leadership karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini, ketika menanti waktu berbuka puasa kemarin sore (7/9) di Gramedia Lampung.
Pertama kali membaca kalimat tersebut, saya langsung ‘ngeh’. Kenapa? Hmmm… Entahlah, mungkin karena sedikit mirip dengan filosofi saya yang ingin selalu merasa bodoh untuk terus dapat belajar dan belajar dari mereka yang lebih pandai dari saya. Pernah seorang temen nyeletuk, “Lo ini aneh, orang laen pada pengen pinter, eeehhh… lo malah pengen tetep bodoh…?!” Dan celetukan itu cuma saya balas dengan sunggingan senyum *yang tentu saja: manis… wakakakakakaka… muntah! muntah! :P*
Alasan saya ingin tetap merasa bodoh karena saya tidak ingin seperti beberapa orang yang saya kenal-yang tentu saja pandai-namun angkuh dan sombong dengan kepandaiannya. Tidak jarang pula meremehkan pendapat dan pola pikir orang lain yang dianggapnya tidak sejalan dengannya. Alasan lain adalah saya ingin terus belajar dan belajar, mengenal dan mengeksplorasi hal-hal baru, agar kebodohan dalam bentuk sebenarnya tidak serta merta dan dengan semena-mena datang lantas membodohkan saya sampai menjadi bodoh sebodoh-bodohnya.

Hhh… Kalo bicara tentang belajar memang terkadang ditanggapi negatif oleh beberapa orang. Pernah saya bertanya kepada salah seorang temen, yang kerjaannya tidur melulu :P Apakah kelak ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi? Menggapai gelar Masternya. Lantas, apa jawabnya? “Aaahhh… Entahlah drus, gw ga mau lagi kuliah S2, udah capek rasanya. Udah ga jaman lagi kuliah!” Duh… Ada benarnya juga sie tapi bertolak belakang dengan saya. Saya justru malah merencanakan (dan jika Allah menghendaki) untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2.
Mari kita coba telaah (tentu saja dengan logika yang bodoh), mengapa temen saya itu mengeluh bahwa ia capek kuliah dan berharap tidak akan bertemu lagi dengan yang namanya ‘kuliah’ di masa depannya? Menurut saya ada beberapa faktor, diantaranya; dia telah merasa betah dan nyaman berada di zona nyamannya. Apa pula itu? Zona nyaman?
Ya, zona nyaman! Suatu zona (tempat atau kondisi) dimana anda sudah merasa sangat terpuaskan dengan keadaan yang sekarang dan tidak ingin beranjak darinya untuk mencapai suatu zona yang (mungkin) lebih nyaman dari yang sekarang, yang mungkin akan dapat dicapai dengan melakukan sedikit pengorbanan lagi. Pernah saya dengar kalau ingin maju dan jadi lebih baik lagi, maka bagaimanapun caranya kita harus keluar dari zona nyaman kita.
Memang, belajar tidak hanya terbatas pada pendidikan formal (sekolah dan kuliah) saja, melainkan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Ada banyak cara dan metode belajar, yang tiap orang tentu memiliki cara dan metode favoritnya tersendiri dan belum tentu cocok bila diaplikasikan pada orang lain. Saya misalnya, jujur, saya tidak menyukai suasana kuliah dalam kelas. Membosankan! Saya justru menyukai cara membaca dan diskusi mendalam juga aplikasi secara langsung, tidak hanya sebatas teori dalam baris-baris buku teks saja. Tanya lagi, mengapa membaca? Karena: The more you read, the more things you will know. The more you learn, the more place you will go. (Dr. Seuss)
Dan kini, filosofi tetaplah merasa bodoh itu memiliki pasangan jiwanya, yakni tetaplah merasa lapar. Namun perlu ada sedikit penambahan dalam istilah lapar disini; lapar dalam arti duniawi dan ukhrawi yang seimbang dan tidak berat sebelah. Mengapa? Karena tujuan akhir hidup bukan dunia, melainkan akhirat.
Wallahualam bi shawab.
—
Wishlist: Pengen beli dan baca buku Kubik Leadership tersebut… Tapi blom ada duit :(
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:




September 8th, 2008 at 4:36 pm
hahahahahahaha!
ado kato2 lucu!
Orang lapar tahan banting!
pucet oi yang bener!
wekekekkeek!
[Reply]
September 8th, 2008 at 5:29 pm
Mirip ceramah inaugurasinya Steve Jobs
Stay Hungry, Stay Foolish.
Saya juga sependapat dengan ini, jangan pernah nyaman di zona aman.
[Reply]
September 8th, 2008 at 5:34 pm
kalo lapar dak pacak mikir drus
[Reply]
September 8th, 2008 at 7:52 pm
Puasa-puasa ngomongin lapar ?
[Reply]
September 8th, 2008 at 8:16 pm
men lapar.. makan kak.. uji gusdur tu ye.. “muakan aja kok ruepottt”
[Reply]
September 9th, 2008 at 6:25 am
dak mau ah jadi wong bodoh.
Tetap berproses untuk terus belajar, Long life education,
aha!
[Reply]
September 9th, 2008 at 9:34 am
keep your spirit high, drus ! S2 atau S3. mumpung masih mudo. masih terejo nak begadang2 mbikin thesis .. ! bisaaa .. !!
[Reply]
September 9th, 2008 at 11:50 am
semua tergantung diri kita sendir, bung!
[Reply]
September 9th, 2008 at 2:42 pm
@trendy: hihihi… tahan banting loh, tren. beneran. contoh: puasa, toh bisa kuat sampe maghrib, kan? :P
@Riky Kurniawan: yupe, jangan betah berlama-lama di zona nyaman :)
@easy: hihihi… biso kok, contoh (lagi): puaso :P
@Nike: jadi laper beneran yo, ke? :P
@ilham: lah, kalo kagak ada duit gimana, am? :P
@Jasmin: eh, setiap hari kita belajar, bukan? :)
@iYus: aminnn…
@Ranny: yupe, tiap orang memiliki pandangan yang berbeda dan mungkin tidak sama antara satu dan lainnya :)
[Reply]
September 10th, 2008 at 6:41 am
Subhanalloh… Pandai juga mamang ni kultum sblm buka puasa. Klo cak itu, bsk buka puasa bem kau be yo yg kultum! Tp… Bener juga tulisan kau ni mang,
[Reply]