Aaahhh…
Jadi kangen masa lalu, ketika masih berusia kanak-kanak…
Apalagi pas bulan puasa…
Hihihi…
Jadi inget beberapa kenakalan dulu. Ada satu yang sempet bikin kedua orang tua saya marah dan merasa malu karena kelakuan saya. Ketika itu (kalo ga salah pas SMP kelas dua), PlayStation menginvasi keseharian anak-anak Indonesia, tidak terkecuali saya dan temen-temen. Begitu tenarnya kata PlayStation itu, sampai-sampai banyak bermunculan rental PlayStation, dimana-mana. Ya, bak jamur dimusim hujan.
Seperti biasa, selepas sahur, saya dan temen-temen sepermainan selalu keluar rumah untuk sholat Subuh berjamaan di masjid. Sebenernya sie, niat awalnya bukan untuk itu, melainkan jogging (atau lebih tepatnya, main). Sepanjang jalan dari Pusri hingga Pasar Lemabang, tumpah ruah oleh para bujang-gadis Palembang, tak terkecuali rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu. Ada yang bener-bener jogging, ada yang sekedar jalan-jalan pagi sembari cuci mata ngeliatin cewek-cewek (dan berharap siapa tahu bisa ketemu jodohnya :P), ada rombongan ibu-ibu yang belanja ke pasar pagi, ada yang kebut-kebutan motor dan mobil, ada pula yang cuma ngumpul-ngumpul di depan lorong (sebutan untuk gang) bercengkrama dengan temen-temen karibnya.
Petasan atau mercon (di Palembang biasa disebut dengan percon), benda yang bisa menimbulkan ledakan ini *jaah… dijelasin :P*, sudah menjadi seperti barang wajib disaat-saat seperti itu. Masih segar diingatan saya, ketika saya dan temen-temen seperjuangan terlibat dalam perang petasan melawan anak-anak dari lorong tetangga. Seru euy, sekaligus menegangkan! Berbagai macam jenis dan ragam petasan dikeluarkan dan dibakar serta dilempar secara membabi-buta. Jenis petasan yang paling saya suka ketika itu adalah jenis roket (percon tujuh/roket). Hehehe… Bisa dipastikan musuh pasti segera mencari tempat berlindung dari serangan petasan jenis ini. Pegang lidinya, arahkan ke musuh, bakar, dan sssyyyuuuhhhh…. duarrrrr… *hihihi…*
Kembali ke PlayStation, ketika mentari mulai meninggi, menghangatkan satu sisi bumi, ketika itu pula keramaian di jalan berangsur-angsur berkurang. Tentu saja, petualangan kami belum berakhir sampai disitu. Biasanya, kami berkumpul di teras masjid, dan mulai mengeluarkan lembaran uang lima ratus atau seribu. Loh?! Untuk apa?
Hehehe…
Kami akan membagi diri menjadi beberapa kelompok, dan uang hasil sokongan bersama tadi pun akan dibagi rata sesuai jumlah kelompok. Setelah ‘urusan administrasi keuangan’ beres, kami bergegas pergi ke rental PlayStation, dan menghabiskan waktu berjam-jam disana. Dasar edan!
Suatu hari, kami berada dalam suatu situasi dan kondisi ‘out of money’ yang menyebabkan kegiatan putar dan peras otak berlangsung sengit. Mencari cara bagaimana caranya bisa mendapat uang untuk bermain PlayStation. Kebetulan saat itu kami berkumpul di sebuah telepon umum, dan salah seorang temen saya isengnya mulai kumat. Diambilnya sebatang lidi yang berada didepannya, dan ia pun bangkit berdiri, serta merta dan tanpa kami duga, batangan lidi tadi dimasukkannya ke lubang koin si telepon umum, and finally… Diluar dugaan… Cringggg… Cringggg… Cringggg… Sejumlah uang logam keluar…
Kami yang terpana melihat keajaiban itu tanpa sadar dan tanpa komando, segera mencari batangan lidi guna mencucukkannya ke lubang telepon umum lain yang ada tepat di sebelahnya. Seperti yang anda duga, puluhan uang logam pecahan seratus rupiah bergerincing keluar dari lubang bawah telepon umum itu. Dan hal ini tentu merupakan sebuah mukjizat bagi kami. Entah berapa ribu uang yang terkumpul, dan yang pasti kesemuanya dihabiskan di rental PlayStation!
Sialnya, ketika kami melakukan ‘kejahatan’ tadi, ada salah seorang tetangga yang melihat aksi tersebut dan melaporkannya ke orang tua kami, orang tua saya juga tentunya. Sepulangnya dari ‘menghamburkan uang rampokan dari telepon umum’ tadi, saya habis-habisan kena marah. Dan sempat diskors tidak diberi uang jajan untuk beberapa hari. Nasib…
Ada beberapa hal lain yang saya rindukan dibulan puasa ini, selain kenakalan-kenakalan masa kecil. Diantaranya: sholat tarawih di masjid tercinta yang ramai dan penuh rasa kekeluargaan, membantu ibu saya membuat kue lebaran, menghabiskan sore hari dengan menikmati suguhan balap liar, tadarusan di TPA (ketika masih SD), sesekali minggat tarawih dengan menghabiskan waktu di warung belakang masjid (pernah salah seorang temen kami melihat bayangan yang diklaim sebagai makhluk halus yang menyebabkan kami lari tunggang-langgang dan bertobat untuk tidak minggat lagi ketika tarawih), parade petasan, jalan-jalan keliling lorong dan sesekali berkeliling komplek Pusri, dsb.parade petasan, jalan-jalan keliling lorong dan sesekali berkeliling komplek salah satu BUMN di Palembang, dsb.
Seiring bertambahnya usia, dan dituntutnya kedewasaan diri, momen-momen tak terlupakan itu saat ini sudah begitu langka bagi saya dan temen-temen. Kami hanya bisa mengenangnya, tanpa bisa mengulangnya. Andai ada mesin waktunya Doraemon… *ngayal mode on*
Dapatkan penghasilan tambahan dari blog kamu




wakakakkakak…
nakal jugo kau ni dulunyo…
aku jugo dulu pas puaso gawenyo cuma harvest moon-an…
hee…