Tentang Masalah dan Menikmati Hidup
Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?)
Hmmm…
Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit.
Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week… *lebay mode on :P*
Dowh! Entahlah…
Lo mah ga tau, drus, masalah gue berat bener nie, seberat tujuh lapis langit yang spontan jatuh menimpa kepala gue! Lo masih nanya, apakah hidup itu harus dinikmati atau tidak? Dasar!
Okay, okay…
Calm down… *loh?! kok tulisan ini jadi nyeleneh gini sih?* :P
Stop it! Let’s BTT (back to topic-red)
Saya tahu, setiap orang pasti punya masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan oleh Sang Maha Pencipta terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Bisa saja suatu masalah bagi seseorang terasa berat namun justru bagi orang lain, masalah itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Nah, ketika anda mengalami masalah terberat itu, bagaimanakah tampaknya dunia ini? Masihkah ia berwarna-warni cerah? Atau justru cuma ada tiga warna? Hitam, putih, kelabu?
Pernah saya baca di salah satu blog temen saya, “Sesungguhnya tidak ada masalah dengan masalah, karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menghadapi masalah.” I totally agree with that!
Dan ada satu hasil kontemplasi antara saya dengan seseorang mengenai hidup dan masalah, “Turn it into a joy, play it like a toy, and make sure you’ll enjoy.” Apa kau gila?! Menganggap dan menjadikan suatu masalah sebagai permainan? Yeah, that’s an alternative door to get out of a complex labyrinth. IMSO (in my stupid opinion), jangan terlalu serius dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, berikan sedikit kesenangan pada diri anda, takutnya bila terlalu serius, masalah itu kemungkinan akan membuat anda tertekan dan semakin tertekan saat ia menjadi semakin rumit. Tapi, jangan pula menganggap suatu masalah itu terlalu mudah, yang bila anda terlena karenanya, ia akan menjadi semakin rumit dan rumit, atau bahkan tidak akan terselesaikan sama sekali. Dan beberapa masalah yang tidak terselesaikan justru akan tetap menggelayut di pikiran anda dan membebaninya. Bukankah akan terasa lebih plong, bila tidak ada beban sama sekali?
Bahkan, salah satu filsuf Yunani kuno yang terkenal itu, mister Plato, menyatakan, “Kalau begitu, bagaimana cara menjalani hidup yang benar? Jalani hidup seperti permainan.”
Yayaya…
Lagi-lagi nyangkut ke permainan. Mari sedikit mengenang, kapankah terakhir kali kita bermain? Bermain apa? Berapa lama? Dan apakah permainan itu memberikan perasaan senang?
Bermain bukan hanya hak yang dimonopoli oleh anak-anak. Kita pun butuh bermain. Ummm… Terakhir kali saya bermain adalah tiga puluh menit sebelum saya memulai menulis artikel ini. Saya bermain-main dengan kucing saya, lalu menjalankan game Alien Arena di mesin Ubuntu saya, memainkan beberapa riff lagu dengan gitar kesayangan, dan mencoret-coret di beberapa lembar kertas bekas.
Dengan menganggap suatu masalah sebagai sebuah permainan (anggap saja seperti dalam sebuah game) yang tentu saja ingin dimenangkan, saya merasa termotivasi untuk tetap tegak berdiri menghadapi gelombang hidup.
Memandang Masalah Secara Terbalik
Aaahhh…
Apa pula ini? Entahlah, saya juga rada bingung dengan konsep itu :P
Memangnya masalah bisa dibolak-balik? Tentu tidak! Namun cara kita memandang masalahlah yang bisa dibolak-balik. Misalnya gini, A merasa suntuk dengan masalah pekerjaannya, dimarahi bos tiap hari, kerjaan yang terus menumpuk, dsb. Bila A memandang masalah itu secara linear, tentu ia akan terjebak pada arus masalah tersebut.
Sekali-sekali melawan arus boleh, kan? Ga ada yang melarang kok! Tapi resiko tanggung sendiri. Balik lagi ke contoh si A diatas, bila ia merasa suntuk dengan pekerjaannya, cobalah sekali-sekali menganggap pekerjaannya itu sebagai permainan yang menyenangkan yang justru akan semakin menyenangkan bila semakin banyak permainan dan waktu yang dapat dihabiskan untuk bermain. Begitu pula bila ia bosan dan merasa gerah karena sering dimarahi oleh bosnya, coba pandang dan anggap kemarahan si bos itu sebagai sebuah lagu perjuangan yang mengingatkannya pada masa-masa penjajahan dulu, tentu semangatnya akan berkobar-kobar, bukan? Kemarahan si bos akan menjadi suatu hal yang senantiasa dirindukannya. Atau, mengapa tidak berbalik saja? Si A yang memarahi si bos? :P
Hahaha… Ternyata ada banyak cara dalam memandang dan menyikapi masalah…
Hhhh… Udah! Udah! Makin ngawur tho? Hihihi… Stop dulu ah nulisnya, ntar laen kali disambung lagi… :P
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:





October 9th, 2008 at 8:44 am
Uhm… tiap orang jg punya masalah. Dunia ladangnya masalah… itukah?
[Reply]
October 9th, 2008 at 10:15 am
drus, stupid thought ?
[Reply]
October 9th, 2008 at 2:10 pm
wah sepertinya koq ada yg disembunyikan dari artikel ini..
[Reply]
October 9th, 2008 at 6:40 pm
dinikmati dan dijalani!
wkeekekkeek!
[Reply]
October 10th, 2008 at 9:47 am
@Deddy Huang: yep, you’re rite
@albasit: mmm… kayaknya is iye :P
@herdianto: ga ada yang disembunyikan kok, kak :P
@trendy: benar! wekekekekeke… *melok ketawo* :P
[Reply]
October 14th, 2008 at 8:38 pm
Tinggal menunggu waktu :)
[Reply]
November 6th, 2008 at 4:28 pm
kalau ga ada masalah hidup tuh ga ada seninya ..datar
[Reply]