Aaahhh… politik… politik… :D

Pernah ada yang berguyon kepada saya seperti ini, “Politik identik dengan banyak dan beragam tikus (poli tikus).” :P *sudahlah, lupakan guyonan tersebut, lets back to topic* :P

Seminggu yang lalu (2 - 10 November), saya bekerja untuk sebuah perusahaan independen yang bergerak di bidang riset sosial dan politik. Yayaya… kasta saya adalah yang paling rendah, surveyor/interviewer lapangan. Apa tugas saya? Ya itu tadi, survey dan interview dari rumah ke rumah secara random sampling dalam dua wilayah kelurahan. Sebagai surveyor/interviewer, saya hanya berhak dan berkewajiban mendengar serta mencatat jawaban dari para responden di lembar kuesioner yang telah disediakan, dan tidak dibenarkan untuk mengintervensi mereka dengan pendapat-pendapat pribadi *walau terkadang ingin juga sie mengutarakan pendapat pribadi saya, tapi apa daya, tak punya hak, hehehe…* :P

Memang capek sie, tapi ada banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya petik. Diantaranya pandangan masyarakat terhadap kancah dunia perpolitikan Indonesia, yang akhir-akhir ini hot adalah Pemilihan Umum pada April 2009 nanti.

Apa kesan bapak/ibu terhadap partai ‘X’ yang bapak/ibu sebutkan tadi?

Kesan? Bapak/ibu ga punya kesan apa-apa terhadap partai ‘X’ itu…

Tapi bapak/ibu suka dan mendukung partai ‘X’ itu untuk berlaga di Pemilu 2009 nanti?

Iya. Sangat suka dan mendukung.

Bapak/ibu tau ga apa program kerja dari partai ‘X’ dan calon ‘A’, ‘B’, ‘C’? Indonesia ini mau dibawa kemana?

Duh… dek… bapak/ibu ga tau… Bapak/ibu cuma tau partai ‘X’ dan calon ‘A’, ‘B’, ‘C’ itu sering muncul di tivi-tivi dan radio… Kelihatannya sie bagus dan memberi harapan baru…

Itulah sekelumit gambaran politik di mata rakyat. Rada miris memang, mereka tahu, suka, dan mendukung partai ‘X’, ‘Y’, ‘Z’ dan calon ‘A’, ‘B’, ‘C’, namun mereka justru tidak tahu visi dan misi dari partai dan calon tersebut.

Beberapa kali juga saya dengar jawaban dari pertanyaan berikut:

Kalo boleh saya tahu, mengapa bapak/ibu suka dan mendukung partai ‘X’?

Ga tau juga dek, lah wong di daerah sini orang-orangnya dukung partai ‘X’ semua, tho?

Peer group dan lingkungan ternyata berperan besar terhadap persepsi politik mereka. Partai apa yang paling banyak didukung oleh teman/kerabat/tetangga mereka, partai itulah yang mereka suka dan dukung. Sebagian justru tanpa pertimbangan terlebih dahulu (nurani, visi-misi, dsb).

Hidup Di Zaman Orde Baru Lebih Tenteram

Pernah kata-kata ini terlontar dari mulut salah seorang responden saya.

“Kalo bapak/ibu bisa milih, bapak/ibu lebih suka hidup di zaman orde baru. Lebih aman, tenteram, damai. Harga-harga murah. Ga ada huru-hara dan demonstrasi mahasiswa. Jumlah partai ikut pemilu pun ga sebanyak seperti tahun-tahun terakhir ini. Makin banyak partai makin ruwet.”

Aaahhh… Orde baru… Zaman penuh penindasan berkedok kemakmuran…

Cengkeraman tangan besi keluarga Cendana dan konco-konconya yang kekar dan kuat. Aroma korupsi, kolusi, dan nepotisme yang disamarkan dibalik harumnya kesturi. Hanya mata-mata yang kasat yang bisa melihat kebobrokan tersebut, namun mereka hanya bisa melihat, tidak mampu (atau tidak berani) untuk mengungkapkan. Karena bila mereka ‘membangkang’, dalam hitungan hari mereka hanya akan tinggal nama.

Wallahualam…

Partai-Partai Itu, Tidak Usahlah Menunggangi Agama

Ah… Sulit juga mencerna kata-kata ini. Kata-kata dari seorang responden yang kurang suka (bila tidak mau disebut anti) terhadap partai-partai bernafaskan agama (khususnya Islam).

Indonesia ini negara demokrasi, berlandaskan Pancasila, bukan negara agama. Tidak usahlah partai-partai itu menunggangi agama sebagai kendaraannya. Lurus-lurus sajalah… *ini yang membuat saya miris, apakah agama itu tidak lurus?*. Saya yakin bila mereka terpilih nanti, negara ini akan mereka jadikan negara agama yang memberlakukan hukum rajam dan potong tangan. Masya Allah, astaghfirullah, wallahualam… *cuma bisa ngurut dada mendengar penuturan bapak itu sembari menonton ilustrasi yang digambarkannya*.

Tidak Satupun Yang Saya Suka Dan Dukung! Mereka Hanya Mengumbar Janji, Tanpa Ada Realisasi!

Golput (Golongan Putih, mereka yang tidak memberikan suaranya dalam pemilihan) itu pilihan. Apalagi bila dilandasi oleh perasaan capek. Ya, capek mendengar janji-janji, capek menonton mereka yang dengan semangat merangsek maju, senggol kanan senggol kiri, ke kursi pemerintahan, dan capek dibohongi.

Sudah bukan rahasia umum, ketika mereka butuh rakyat (dukungan suara), janji-janji manis (yang bahkan lebih manis daripada ‘gula’ dan ‘madu’) silih berganti dan tanpa henti digembar-gemborkan kesana kemari. Namun ketika mereka terpilih, dan rakyat membutuhkan mereka, hanya ‘garam’ yang bisa mereka berikan.

Sebenarnya saya kurang suka dengan golput. Mengapa? Simpel aja, ilustrasinya begini: “Lima menit di bilik suara akan turut menentukan nasib kita lima tahun kedepan. Bila hasilnya baik, selama lima tahun kita akan hidup sejahtera, namun bila hasilnya buruk, selama lima tahun pula kita akan menderita.”

Pelajari dan kenali partai dan calonnya sebelum menentukan pilihan.

Mahasiswa, Untuk Apa Sih Kalian Berdemonstrasi?

Seorang bapak (responden) bertanya kepada saya, “Mahasiswa, untuk apa sih kalian berdemonstrasi? Tidak ada untungnya. Yang ada malah menambah masalah!”

Hhh… Disini saya dituntut untuk memberikan jawaban.

“Pak, tidak semua dari kami (mahasiswa) setuju dengan aksi demonstrasi. Tidak semua. Melainkan hanya segelintir yang merasa terpanggil dan percaya bahwa harapan itu masih ada.”

Lalu, untuk apa berdemonstrasi, sampai-sampai melakukan aksi anarkis segala?

“Kami tidak ingin aksi anarkis itu terjadi, Pak. Bila memang itu terjadi, tentulah ada provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan ingin menghancurkan aksi damai kami. Demonstrasi kami letakkan sebagai opsi kesekian, mendekati terakhir, bila melalui opsi-opsi lain belum menampakkan perubahan yang berarti. Sebagian besar yang kami suarakan dan perjuangkan dalam aksi demonstrasi itu adalah suara hati nurani rakyat, Pak.”

Hidup Kami Susah, Dek…

Pada bagian menjelang akhir dari kuesioner wawancara, ada bagian Aspirasi Masyarakat. Disini, saya banyak mendengar keluhan dari mereka. Berbagai keluhan. Yang beberapa sempat membuat saya terenyuh dan hampir menumpahkan air mata.

“Bapak tidak punya pekerjaan, Dek… Bagaimana mau kerja, umur bapak sudah tua, pendidikan hanya setingkat SD, itupun tidak tamat. Istri bapak juga sudah tua, anak-anak ada empat. Mereka semua harus dihidupi, diberi makan, anak-anak harus disekolahkan, biar mereka pintar. Untunglah satu anak bapak yang paling tua sudah bekerja. Dia yang menopang hidup bapak, ibu, dan adik-adiknya.”

Jleb! Jleb! Jleb! Subhanallah… Mulianya anak sulung itu…

Atau adegan lain.

“Ibu ingin kedepannya nanti, harga-harga bisa murah, khususnya sembako. Suami ibu cuma tukang ojek, yang penghasilannya tidak menentu. Anak ibu juga harus sekolah (masih SD), alhamdulillah sekolahnya gratis. Tapi yang ga nahan itu buku sekolahnya, dek… Mana? Katanya ada program pemerintah dalam hal buku sekolah ini? Nyatanya tidak ada. Harga satu buku sekolah aja mencapai 20.000 Rupiah… Uang segitu ga sedikit… Lebih baik ibu belikan beras buat dimakan…”

Jleb! Jleb! Jleb! *lagi* :(

Untuk Penguasa

Penguasa… Penguasa… Berilah hambamu uang… Beri hamba uang…

Penggalan lirik dalam salah satu lagu Iwan Fals itu mungkin pantas digunakan untuk menggambarkan kehidupan rakyat kecil yang papa. Disaat mereka yang di atas bertarung dan berlaga (tidak jarang sampai menjatuhkan dan menjelekkan lawannya) memperebutkan kursi kekuasaan tertinggi republik ini, mereka yang di bawah justru sibuk berkutat mengais tanah, memeras keringat, membanting tulang demi sesuap dua suap nasi untuk keluarganya.

Obral janji harus diikuti dengan obral realisasi janji.

Rakyat bukan hanya butuh materi, tapi mereka juga butuh teladan yang baik. Teladan yang bisa menjadi inspirasi dan dicintai. Teladan yang memahami nurani rakyatnya…

HIDUP RAKYAT INDONESIA!

Sumber gambar: http://lovesandcares.files.wordpress.com/2007/05/checkmate.jpg

----
Dapatkan penghasilan tambahan dari blog kamu