Rekayasa Sosial yang Gagal
Forewords
Rekayasa sosial atau yang populer disebut sebagai social engineering adalah:
The art of manipulating people into performing actions or divulging confidential information. While similar to a confidence trick or simple fraud, the term typically applies to trickery for information gathering or computer system access and in most cases the attacker never comes face-to-face with the victim [http://en.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_(security), diakses tanggal 21 November 2008].
Yang bila diIndonesiakan kira-kira artinya:
Seni memanipulasi orang lain untuk melakukan suatu aksi atau membocorkan informasi yang bersifat rahasia. Hampir mirip dengan trik kepercayaan atau penipuan yang sederhana, terminologi ini digunakan untuk menipu daya demi menggali informasi atau sistem akses komputer dan kebanyakan kasusnya, penyerang tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan korbannya.
Yayaya… kali ini saya akan mengulas sedikit mengenai fenomena sosiologi dan psikologi manusia ini, walau hanya sedikit. Loh? Kok sedikit? Simple aja, karena saya bukanlah seorang Kevin Mitnick. Tanya kenapa saya menulis hal ini? Heee… soalnya dalam satu bulan ini, saya merasa cukup akrab dengan aksi rekayasa sosial ini. Ada dua hal yang melatarbelakangi, yakni:
- Ketika saya bekerja untuk salah satu perusahaan independen yang bergerak dalam bidang riset sosial politik selama satu minggu (http://idrus.net/2008/11/16/politik-rakyat.shtml). Saya sedikit banyak mengenal apa itu rekayasa sosial.
- Fenomena penipuan yang mengatasnamakan Telkomsel yang saya alami tadi pagi.
Oke, kita mulai dari yang pertama. Apa kaitannya kerja untuk perusahaan riset dengan rekayasa sosial? Tentu saja berkaitan erat. Yayaya… salah satunya karena jabatan saya sebagai orang lapangan, interviewer yang bertugas mengumpulkan data melalui wawancara langsung ke masyarakat.
Pada awalnya semua terdengar mudah. Namun pada kenyataannya, hal itu tidaklah semudah yang saya kira. Karena riset yang dilakukan berkaitan dengan politik, yakni Pemilu (Pemilihan Umum) 2009, pada sebagian responden, agak sulit untuk mengorek informasi dari mereka. Ada yang menolak secara halus bahkan ada yang terang-terangan memberikan alasan: “takut”. Loh? Takut kenapa? “Takut ditangkap polisi”, kata mereka. Ah…
Dalam berhadapan dengan masyarakat (demi mendapatkan data dari mereka), hal pertama yang saya pelajari dan menurut saya penting, tentu saja, kesan pertama. Ya, kesan pertama sangat menentukan kesediaan mereka untuk diwawancarai atau tidak. Beberapa elemen dari kesan pertama ini antara lain: penampilan, gaya bicara, dan senyum. Penampilan yang rapi dan meyakinkan, gaya bicara yang halus, tegas, dan mempersuasi, dan senyum yang senantiasa terkembang akan dapat dipastikan, responden akan tidak menolak untuk diwawancarai.
Selain kesan pertama, persuasi juga penting. Demosthenes dan Aristoteles mengingatkan kita dengan rumus-rumus sederhana dalam mempersuasi orang. Rumusan itu adalah:
The etical or emotional mode of persuasion. Metode persuasi dengan etika. Komunikator ulung adalah komunikator yang perilaku nya menjadi rujukan banyak orang. Seorang komunikator mesti menjadi teladan bagi banyak orang
The pathetic or emotional mode of persuasion. Persuasi dengan memakai emosi. Komunikan akan berubah dan mengikuti pandangan seorang komunikator yang berhasil melakukan pendekatan emosional.
The logical mode of persuasion. Komunikan akan mengikuti pembicaraan komunikator yang sistematis dan logis [http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=102].
Biasanya, untuk orang yang merasa takut dan terkesan menutup-nutupi apa yang ia ketahui, agak sulit untuk mengorek informasi yang lebih mendalam dari mereka. Hal ini dapat diakali dengan memposisikan diri kita sejajar dengan mereka. Buatlah diri kita ikut prihatin dan merasakan penderitaan mereka. Dan mereka akan memberikan informasi apa saja yang kita tanyakan.
Rekayasa Sosial yang Gagal #1
Ini adalah yang pertama. Ada seorang yang mengaku cross checker dari perusahaan riset tempat saya bekerja waktu itu. Dia juga mengaku mahasiswa angkatan 2004 di salah satu fakultas di universitas yang sama dengan saya. Anehnya, saya tidak menemukan sedikitpun informasi mengenai dia dari website sistem informasi akademik mahasiswa yang ada di kampus saya
Rekayasa Sosial yang Gagal #2
Ini yang kedua. Tadi pagi sekitar jam 9, saya baru selesai mandi pagi. Seorang wanita dengan nomor 0813XXXXXXXX menelepon saya dan memberitahukan bahwa saya memenangkan undian poin plus-plus dari Telkomsel, sebuah mobil! Wooowww… senangnya hatiku…
Ya, saking senangnya, saya teruskan pembicaraan via telepon itu hingga saya mendapatkan nama si penelepon berikut nomor rekening bank mana saya disuruhnya mentransfer sejumlah uang. Percakapan ngalur ngindur, memanjangkan tali kolor terus dan terus berlangsung, hingga akhirnya dia merasa curiga. Ya! Curiga!
Curiga karena apa?
Huakakakakaka… si cewek penelepon dengan logat batak yang kentara tiba-tiba marah dan mencaci maki saya dengan kata-kata hinaan yang tidak pantas untuk saya tuliskan disini, salah satunya: Anj*ng. Dia dengan suara keras dan membentak bertanya kepada saya, “Keparat! Anda merekam pembicaraan ini ya?!”. Saya jawab, “Merekam? Pake apa, Mbak yang cantik? Saya ga lagi nyalain tape recorder kok.”
“Ga usah berlagak bodoh kamu! Itu suara tat-tit-tut di hape kamu itu suara apa hah, Bangsat?!”
Fffiiiuuuhhh… saya dibilang bangsat? Wakakakakakakaka… makin dia marah makin senang saya dan semakin panjang durasi obrolan yang terekam di kartu memori hape saya.
Dan hubungan telepon pun diputuskannya. Tentu saja, senyum kemenangan mengembang di wajah saya :P
Yayaya… tentu saja obrolan itu benar saya rekam. Pake apa? Sebuah aplikasi recorder untuk Symbian, SpyCall. Linknya cari aja sendiri ya :P
Registrasi SIM Card, Efektifkah?
Patut dipertanyakan. Registrasi yang dilakukan ketika akan mengaktifkan SIM card yang baru kita beli via 4444, apakah efektif dalam menanggulangi kasus seperti ini? Lalu validitas informasi pengguna SIM card itu juga, validkah?
Kenapa saya meragukan hal ini? Karena ketika tadi siang saya mencoba untuk menghubungi kembali nomor si penipu itu, ternyata nomornya sudah tidak aktif lagi. Hal ini juga dipicu dengan menjamurnya konter penjual SIM card yang telah diaktivasi. Hhh…
Final Words
Apa ya? Saya bingung kalo disuruh bikin kata penutupnya. Ya udah, kalo gitu saya akhiri tulisan ini sampai disini, dan Insya Allah bila memungkinkan, akan saya update
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:






November 21st, 2008 at 7:32 pm
*Ketawa* liat gambar nya
[Reply]
November 21st, 2008 at 8:12 pm
wuey, keren nian maenan homok sikok ini sekarang. social engineering jack!
good-word!
[Reply]
November 22nd, 2008 at 10:08 am
Uhm… aku ngakak baco yg abis direkam tuh
sukurny hape aku ad fasilitas ngerekam :p
[Reply]
November 22nd, 2008 at 12:44 pm
registrasi sim card itu ga ada manfaatnya sama sekali !!
[Reply]
November 22nd, 2008 at 6:50 pm
kalo spy call buat java ada nggak om!
wkekekekek!
[Reply]
November 23rd, 2008 at 11:20 am
i just want to say…
welcome to the real world..heheheh
[Reply]
November 23rd, 2008 at 5:48 pm
@Mas Koko: wekekekeke… ntu gambar hacker jadul kayaknya :P
@Arten: ish! awak dewek homok! :P
@Deddy Huang: hehehe…
@trendy: doh, kayaknya blom ada…
@jafis: real world not underworld, right, kak :P
[Reply]