Ah, Cobaan, Ada-Ada Saja…
Tanpa cobaan dan masalah hidup akan terasa hampa. Entah sudah seberapa sering saya mendengar ungkapan itu. Ada benarnya juga. Cobaan membuat hidup lebih berwarna. Cobaan memberikan tantangan yang berbeda. Cobaan membuat kita berpikir dewasa. Dan lain-lain *tambahkan sendiri* :P
Ada beberapa cobaan dari Yang Maha Kuasa yang diberikannya kepada saya akhir-akhir ini. Diantaranya:
#1. Laptop Mati Total
“Segitu saja? Itu mah gampang, tinggal dibawa ke service center terdekat. Dalam beberapa hari udah bener lagi tu laptop! Apalagi kalo masih ada garansinya!”
Benar! Tapi yang jadi masalah (lagi-lagi) adalah keteledoran dan kekhilafan makhluk bernama manusia itu.
Beragam file dan data tersimpan di dalam harddisknya. Mulai dari yang remeh-temeh hingga yang penting. “Lupa nge-backup!” Ah! Itu cuma alasan klise!
Gara-gara si “Sheby-Crawler” yang ngambek, ga mau bernafas sama sekali, berimbas ke skripsi saya dan tiga teman saya. Padahal sehari sebelumnya kami telah mendapatkan ACC untuk mencetak fotonovela yang akan digunakan sebagai instrumen penelitian eksperimental kami. File-filenya belum sempat disalin ke komputer/laptop temen-temen saya :( Ada sie, di flashdisk, tapi seluruh data didalamnya saya cut dan paste ke harddisk sebelum flashdisk tersebut saya shred.
Laptopnya telah saya bawa ke service center pada hari Jum’at kemarin, dan belum diketahui kapan baru bisa bener. Sembari menunggu, terpaksa saya berkutat lagi dengan Comic Life, membuat ulang fotonovelanya berpanduan hasil cetak terakhir :(
#2. Ditabrak (Motor)!
Ini kejadiannya kemarin pagi (Sabtu, 22/11), sekitar jam 10 kurang 5. Saya yang dalam perjalanan ke lab komputer kampus guna mengajar mata kuliah Aplikasi Komputer, baru turun dari angkot, tiba-tiba ditabrak oleh motor yang menurut saya berlari cukup kencang. Saya jatuh terlentang dan LCD proyektor yang ada dalam genggaman saya sempat terlepas dan membentur sisi trotoar.
Ternyata yang menabrak adalah anak dari fakultas pertanian angkatan 2008 di kampus yang sama dengan saya (selanjutnya akan kita sebut si R), berbonceng dua. Motornya rusak dibagian depan, spatbor pecah dan sayap kiri tergores cukup banyak. Dan parahnya lagi motor tersebut adalah motor pinjaman dari kakak tingkatnya yang satu angkatan dengan saya, 2004.
Si kakak (selanjutnya akan kita sebut ‘Si A’) tingkat tiba-tiba muncul di hadapan saya dan meminta ‘pertanggungjawaban’. Lah, saya yang ditabrak kok malah saya yang bertanggung jawab. Untung saat itu saya dapat menguasai emosi dan perasaan shock karena ditabrak. Si A terus ngotot meminta ganti rugi. Saya melirik jam, dan mendapati jam telah menunjukkan pukul 10 lewat 10, “Telat 10 menit,” pikir saya. Karena saya mulai muak dan sedikit kesal dengan mulut dan sikap si A yang seenaknya, yang terkesan mulai mendiskreditkan saya.
“Antar saya ke lab dulu! Saya mau ngajar, dan sekarang telah jam 10 lewat 10. Kita cek LCD yang saya bawa ini, karena ini bukan milik saya, melainkan milik fakultas, bila LCD ini kenapa-kenapa, kalian yang akan saya tuntut!” Itu lontaran kata pertama saya setelah sejak awal mencoba untuk diam dan menenangkan diri serta mengamati situasi.
“Oke!”, balas si A. Selanjutnya si A mengantar saya ke lab komputer. Sesampainya di lab, ternyata para mahasiswa saya telah bertanya-tanya, “Kok terlambat, Kak? Tumben…”
Kelas saya buka, dan lembar latihan saya berikan kepada mereka untuk dikerjakan. Lalu LCD saya pasang dan cek. Pada awalnya sedikit saya permainkan, dengan sengaja memasang kabel monitor out dan computer in secara terbalik. Apa alasannya?
“Kak, kenapa LCDnya? Kok ga nampilin gambar?”, tanya salah seorang mahasiswa, dan itulah pertanyaan yang saya tunggu-tunggu.
“Ga tau nih, tadi ada sedikit insiden, kayaknya LCDnya bermasalah. Duh…,” jawab saya dengan ekspresi takut dan deg-degan sembari melirik kepada si A yang tampaknya sudah mulai takut dan deg-degan pula :)
Setelah mengutak-atik, lepas kabel, gonta-ganti posisi kabel, mengecek komputer, akhirnya permainan pertama saya sudahi. LCD menampilkan gambar. Si A saya ajak keluar kelas, dan mulai berunding. Sebelumnya saya telepon temen akrab saya dari Palembang yang kuliah di kampus yang sama, menggunakan logat dan bahasa Palembang tentunya. Setelah telepon saya tutup, si A bertanya, “Asal lo darimana?”
“Komunikasi, FISIP,” jawab saya.
“Bukan, maksud gue asal daerah,” lanjut si A.
“Palembang, kenapa?” selidik saya.
“Gak apa-apa,” sahutnya. Dan saya lihat ekspresi serta sikapnya berubah total, dari yang angkuh ke respect.
“Gue dari Baturaja”, dia melanjutkan. “Ya udah, ntar temen si R tadi yang keseleo, biar gue yang ngurus.”
Loh? Bukannya tadi dia mencoba memeras saya? Dengan menimpakan dua tanggungan? Motor dan temen si R yang keselo. Sekarang kok…? Saya cuma bisa tersenyum dalam hati.
“Kau dari Sumsel jugo, kan? Kalu cak itu, kito pake baso Plembang bae. Pacak kan?” saya melanjutkan percakapan.
“Iyo,” jawabnya dengan logat Sumsel yang terkesan aneh bagi saya.
Pembicaraan berlanjut, dia masih meminta perbaikan motornya yang rusak, walau sikapnya ga seangkuh pada mulanya. Saya menawarkan solusi, “Cak ini bae, aku ngajar sampe jam 2, empat jam. Agek temui aku di sini, kito rundingke lagi.”
Eee… dia coba-coba meminta jaminan! “Apa-apaan ini?” Pikir saya. Lah saya kan korban, bukan pelaku?
Permintaan jaminan (KTP, KTM, Handphone, atau yang lain) saya tolak mentah-mentah. Akhirnya dia mengalah, dan bersedia melanjutkan pembicaraan hingga saya selesai mengajar.
Sore harinya, jam 15 lewat 20.
Saya bersama seorang temen yang sama-sama dari Palembang, mulai memainkan skenario yang telah kami susun di kosannya. Kami juga telah menghubungi beberapa temen lain untuk backup kalau-kalau terjadi masalah yang tidak diinginkan.
Pembicaraan berlanjut lagi, kali ini ga cuma saya dan si A. Ada beberapa orang lain disana, si A bersama si R dan dua orang temennya. Sedangkan saya hanya bersama satu temen saya. Tidak lama kemudian, satu lagi temen saya datang. Yayaya… saya dan temen-temen saya tadi semuanya berasal dari satu daerah.
Setelah cukup lagi berakting akhirnya disepakati titik temu penyelesaian masalah. Sebenarnya, masih ada satu skenario yang saya dan temen-temen saya siapkan, yakni manipulasi kerusakan LCD, salah seorang temen akan membuat kerusakan kecil di LCD untuk menggertak si A dan konco-konconya. Skenario ini hanya sebagai backup, kalau-kalau si A dan si R terus mendesak saya untuk memberikan ganti rugi yang tidak seharusnya saya berikan. Tapi alhamdulillah, skenario LCD ini ga sampe dieksekusi karena saya dan dan si R telah sepakat untuk membagi dua biaya perbaikan motor si A.
Saya bersama salah satu temen saya, dan si A bersama si R menuju ke dealer Honda terdekat. Disana, kami mendapati biaya perbaikan dan penggantian spare parts adalah sebesar 250 ribu rupiah. Untuk tidak memperpanjang dan memperparah masalah, saya menyanggupi untuk membayar setengahnya, 125 ribu. Sebenarnya, bila mau, saya bisa saja mengikuti saran temen saya untuk tidak menolak perjanjian itu dan melanjutkan ke jalur lain. Ada dua alternatif jalur yang ditawarkan temen saya tadi; a. kepolisian, atau b. kekerasan.
“Ah, sudahlah… masalah ini dak usah kito bikin berlarut-larut, aku la capek, sudahi bae sampe sini,” kata saya ke temen saya.
Dan uang 125 ribu pun melayang, ditambah sedikit memar di tangan dan kaki kiri saya.
Ambil Hikmahnya
Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Dari kedua kejadian itu, saya belajar untuk lebih waspada dan berhati-hati dalam segala hal. Belajar untuk lebih rutin melakukan backup, belajar untuk menguasai emosi, belajar untuk tetap tenang dibawah tekanan, belajar berakting, dan tentu saja belajar untuk lebih hati-hati ketika turun dari angkot.
Terima kasih kepada temen-temen seperjuangan saya, sama-sama anak rantau dari Palembang. “We loves peace and hate violence, rite?” :)
----
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
No related posts.




November 24th, 2008 at 2:53 pm
wahh namanya juga hidup drus ga ada cobaan ga ada seni nya ..hidup jadi ga berwarna . life is never flat
[Reply]
November 25th, 2008 at 7:15 pm
yang sabar ye Drus… :)
[Reply]
December 4th, 2008 at 11:39 am
Woi mang, saluT aq… Dah kna tabrak msh mw byr gnti rugi… Tp btw, skrg kau jd asdos yo? horee..rumah kayu..
[Reply]