Browse > Home / Personal / Salah Siapa?

| Subscribe via RSS

Salah Siapa?

December 19th, 2008 Posted in Personal

Jadi… semuanya salah siapa? Salah dia! Bukan! Salah si anu! Oh iya, salah si Mister X!

Saling salah menyalahkan…

judge-handing-down-verdict-bxp64659

Pernah terlibat dalam situasi seperti itu? Saya yakin tiap orang pernah. Apa? Ada yang ga pernah? Oke… oke… Mari kita buat sebuah contoh kasus (hanya sebuah contoh kasus! bukanlah suatu kejadian yang benar-benar terjadi!).

Misalkan, anda bekerja di perusahaan XYZ. Posisi anda disitu hanya sebagai bawahan namun anda kenal dekat dengan salah seorang atasan. Suatu ketika, perusahaan anda tengah dilanda masalah, katakanlah gaji pegawai yang kurang memadai. Teman-teman anda sibuk bergunjing sana-sini membicarakan masalah gaji ini. Memang, anda turut merasakan dampaknya. Namun, si A, atasan yang kenal dekat dengan anda, suatu kali bercerita mengenai kebobrokan ini, mengenai masalah gaji pegawai yang tidak mencukupi, mengenai bagaimana tindak tanduk perusahaan dalam menghadapi krisis global, dsb. Anda dengan segera turut memahami dan prihatin dengan kondisi yang ada.

Beberapa minggu kemudian, keadaan makin memanas, beberapa pegawai yang tergabung dalam aliansi kesejahteraan pegawai mulai mengkoordinasi sebuah aksi menuntut kenaikan gaji. Pegawai terus menerus menyerukan kenaikan gaji, kemudian perusahaan menjelaskan dengan bijak bahwa hal itu tidak mungkin untuk dilakukan pada saat seperti ini, kondisi keuangan perusahaan sedang kritis. Pegawai terus terus dan terus ngotot dan menyalahkan perusahaan. Perusahaan mulai kesal, dan balik menyalahkan pegawainya, bahwa para pegawai kurang giat bekerja.

Adu argumentasi terus berlangsung…

Dan anda? Ya, anda! Anda yang berdiri di persimpangan, diantara dilema nasib pegawai dan masalah keuangan perusahaan. Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan turut bersuara bersama para pegawai, atau turut membela perusahaan dengan memberikan penjelasan. Atau… mungkin juga anda akan diam saja?

Ketiga opsi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bila anda memilih yang pertama, turut mendukung perjuangan para pegawai, anda telah mengambil langkah yang benar. Walaupun mungkin akan ada rasa tidak enak hati dengan teman anda, sang atasan yang akrab dan dekat dengan anda, yang telah menumpahkan keluh kesahnya kepada anda, dsb.

Anda juga bisa memilih opsi nomor dua, turut memberikan penjelasan kepada teman-teman anda sesama pegawai mengenai permasalaham yang sebenarnya. Teman yang akrab yang sekaligus atasan anda mungkin akan merasa senang dan berterima kasih kepada anda karena telah turut membela perusahaan. Konsekuensinya, anda mungkin akan dianggap tidak memiliki solidaritas oleh teman-teman anda yang lain, sesama pegawai. Atau separah-parahnya, anda juga mungkin akan dianggap sebagai mata-mata dan pengkhianat.

Opsi ketiga, diam, adalah opsi yang juga bisa anda pilih. Sebuah opsi yang bisa dibilang bijak namun juga bisa dibilang penakut. Dengan tidak memihak salah satu diantara keduanya, anda mungkin akan merasa sedikit aman. Ya, hanya sedikit aman. Namun hati anda tetap diliputi gundah gulana, disatu sisi anda ingin berjuang bersama teman-teman anda sesama pegawai, dan disisi lain, anda ingin turut membantu teman anda, sang atasan, dalam memberi penjelasan tentang keadaan perusahaan yang sebenarnya kepada teman-teman pegawai anda.

Dilema memang…

Tapi itulah adanya. Dan saya saat ini memilih opsi ketiga.

Baik, mari kita telaah dari kedua sisi. Pertama, dari sisi para pegawai. Menurut mereka, perusahaan terlalu egois dan tidak memperhatikan kesejahteraan para pegawainya. Bagaimana para pegawai akan menghidupi diri dan keluarganya dengan gaji yang hanya segitu? Sementara harga-harga bahan pokok semakin melambung akibat krisis global ditambah lagi dengan dicabutnya subsidi minyak yang menyebabkan harga minyak melambung gila-gilaan. Ini pandangan para pegawai, perusahaanlah yang salah dan patut dipersalahkan serta mempertanggungjawabkan semuanya.

Sekarang kita pindah ke sisi yang kedua, dari sisi perusahaan. Krisis global dan pencabutan subsidi minyak oleh pemerintah secara tidak langsung turut mempengaruhi faktor produksi perusahaan. Harga bahan-bahan baku produksi turut melambung, dengan alasan menjaga kualitas hasil produksi, perusahaan tetap menggunakan bahan baku produksi yang sama, yang menyebabkan perusahaan mau tidak mau ikut menaikkan harga jual produknya. Konsumen, yang merasa produk perusahaan XYZ mahal, mulai melirik produk lain sejenis dari perusahaan ZXY yang harganya lebih murah walau dengan kualitas yang lebih rendah. Secara tidak langsung hal tersebut turut mempengaruhi kondisi perekonomian perusahaan XYZ. Kini masalah yang harus dihadapi perusahaan XYZ semakin bertambah dengan adanya tuntutan kenaikan gaji dari para pegawainya. Perusahaan berusaha menjelaskan situasi kepada para pegawai, namun segera ditampik oleh para pegawai yang tampaknya mulai bosan mendengar alasan dari para jajaran elite perusahaan yang menurut mereka klise. Serta merta perusahaan balik menyalahkan para pegawainya yang kurang rajinlah, sering terlambatlah, egoislah, banyak tuntutanlah, dan lah lah lah yang lainnya.

Got my point?

Sulit memang…

Jadi, bila anda berada di posisi seperti itu, jalan apa yang akan anda tempuh?



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Kalian Tahu Siapa Saya? HAH?!
  2. Cari tahu siapa yang menyalin isi situs/blog anda…
  3. Salah satu lambang kebesaran Allah…

2 Responses to “Salah Siapa?”

  1. Eriek Says:

    pening. bahaso sederhanonyo bae kk :mrgreen:

    hehe… blom sederhana ye kk? :mrgreen:

    [Reply]


  2. ArtenĀ® Says:

    njelimet dan mbulet.. :D

    iyo e :D

    [Reply]


Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.