The Art of Computer Virusses
Beberapa saran dari saya, seorang newbie, untuk para virus maker, khususnya mereka yang berasal dari Indonesia. Tulisan ini terinspirasi setelah melihat begitu banyak virus-virus baik lokal maupun internasional yang semakin merajalela. Beberapa diantaranya bahkan mirip antara satu sama lainnya. Well, disini saya tidak akan banyak mengupas virus-virus mana saja yang memiliki kemiripan maupun mana virus yang unggul dan mana yang tidak. Sekali lagi -seperti yang telah saya sebutkan pada pembuka paragraf ini, tulisan ini hanyalah beberapa saran dari saya, seorang newbie, untuk para virus maker. Dan virus yang dimaksudkan disini adalah malware (virus, worm, dan trojan) yang menyerang sistem operasi populer dengan tingkat pembajakan yang luar biasa banyak; Microsoft Windows. Oh ya, saya menulis artikel ini bukan berarti saya bisa membuat virus loh, ya… Mungkin perlu juga ditegaskan, saya bukanlah orang yang ahli dalam bidang virus-memirus :)
Sekarang ini, membuat virus bukan lagi sebuah hal yang tabu, yang rahasia, yang susah, yang menguras otak, dsb. Bahkan untuk mereka yang hanya mengenal sedikit mengenai bahasa pemrograman atau bahkan nihil sama sekali, dapat membuat virus baru. Cara yang paling mudah adalah mendownload program-program virus generator yang banyak tersebar di belahan bawah tanah dunia maya (saya tidak akan menyebutkan contoh maupun link downloadnya, cari sendiri dengan memanfaatkan Google saja ya…). Atau bagi yang menginginkan tantangan yang lebih, dapat membeli buku-buku ‘cara membuat virus instan’ yang kini banyak beredar di toko-toko buku. Bila kamu memilih opsi kedua, sempatkan diri untuk mengenal bahasa pemrograman tingkat tinggi yang juga populer di Windows; Microsoft Visual Basic 6/.NET.Oke, cukup OOT-nya, mari kembali ke topik utama yang akan saya bahas disini. Berikut beberapa saran saya kepada para virus maker:
- Kreatif! Bila kamu mengikuti langkah-langkah membuat virus yang disajikan oleh ‘buku-buku hitam yang kini tidak hitam lagi’ itu, ada baiknya kamu tidak mengikuti atau bahkan menggunakan keseluruhan kode yang dibahas dalam buku tersebut. Eksplorasilah sedikit. Tambahkan fitur-fitur baru yang unik kepada virusmu tersebut. Misal; meledakkan komputer host yang terinfeksi; menyerang dan menjatuhkan server-server layanan yang populer semisal Google, Facebook, Yahoo!, Microsoft; dsb. Jangan hanya menyajikan fitur-fitur umum kepada ‘pelanggan’ virusmu seperti; menampilkan pesan/puisi cinta, menampilkan gambar, me-restart/shutdown komputer, mengeluar-masukkan CD/DVD ROM drive, menonaktifkan mouse, memenuhi harddisk dengan shortcut, menyembunyikan/menghapus dokumen, dsb. Sekali lagi; kreatif!
- Ukuran file? Berapa kilobytes ukuran file virusmu setelah dikompilasi? Hanya puluhan kilobytes? Bagus! Atau masih menyentuh angka ratus kilobytes? Oh no! Sepertinya kamu perlu mengompres/pack file virusmu. Gunakan saja *.exe packer yang banyak tersedia di internet, ada yang gratis dan ada pula yang berbayar. “Yap! Yang berbayar tentulah lebih bagus! Saya pilih yang berbayar, namun saya tidak memiliki lisensi maupun dollar untuk membeli lisensinya! Bagaimana donk!” Bajak saja! “Apa?” Ya! Bajak saja! Toh, banyak situs-situs yang menyediakan crack/keygen/serial number di seantero jagad maya. Tapi dengan satu catatan; ASAL TIDAK MALU!
- Nama virus? Biarlah Shakespeare berkata; “apalah arti sebuah nama.” Acuhkan saja Pak Shakespeare yang terhormat itu. Pilihlah nama yang unik, lucu, sekaligus memberi identitas kepada virusmu. Pilih nama yang benar! Jangan gunakan nama-nama yang norak!
- Bahasa pemrograman dan dependensi file virus? Bahasa pemrograman apapun yang anda gunakan kemungkinan dapat ‘disalahgunakan’ untuk melahirkan virus. Namun hal yang harus diperhatikan adalah mengenai dependensi. Virus idealnya hanya berupa single file yang tidak membutuhkan ketergantungan kepada library/ActiveX/pustaka/dependensi tertentu maupun file-file lain diluar dirinya sendiri. Misal anda memrogram virus menggunakan Visual Basic, demi mempersingkat kode-kodenya, maka anda menggunakan beberapa ActiveX dan Dynamic Link Library (*.dll). Bila ActiveX/DLL tersebut adalah bawaan Windows (dalam artian satu paket terintegrasi pada saat instal Windows) mungkin dapat diterapkan, tetapi bila ActiveX/DLL yang digunakan itu berasal dari pihak ketiga yang tidak semua sistem memilikinya, maka lebih baik mengurungkan niat anda untuk menggunakannya. Bila ngotot, bayangkanlah korban anda yang di sistemnya tidak terinstal dependensi yang dibutuhkan, tiba-tiba bengong ketika disuguhkan sebuah pesan error pada saat menjalankan file virus anda, lantas tertawa terbahak-bahak ketika mengetahui virus anda tidak dapat berjalan karena “DLL not found.”
- Windows lagi, Windows lagi? Entah sudah ada berapa banyak varian virus yang terlahir untuk menginfeksi sistem operasi besutan Microsoft ini. Bila dilihat dari segi marketing, semakin banyak saingan maka kemungkinan untuk merebut pangsa pasar yang lebih luas akan membutuhkan kerja ekstra. Diferensiasi produk adalah salah satu caranya. Nah, bila motif pada virus maker ini untuk mencari ketenaran, mengapa tidak membuat virus untuk lingkungan sistem operasi lain, semisal Mac dan Linux? :P
Motif Dibalik Pemrograman Virus
Beberapa waktu lalu, saya pernah bertanya-tanya, apa sih sebenarnya motif yang mendasari seseorang untuk memrogram virus? Setelah bertapa sejenak di gunung nan jauh di sebuah pulau terpencil *alay mode on* akhirnya saya menyimpulkan beberapa motif, diantaranya yaitu:
- Popularitas? “Gue pengen jadi populer! Gue pengen dianggap hebat, keren, de-es-be-de-es-be!” Yayaya… mencari popularitas adalah salah satu motif yang cukup masuk akal. Seperti yang kita sama ketahui bahwa internet kini telah berwujud laiknya sebuah digital island (pulau digital), yang di dalamnya berjuta manusia dari seluruh dunia berkumpul bersama dengan beragam kepentingan yang beragam pula tentunya. Bila popularitas adalah alasan utama seseorang memrogram virus, ada baiknya untuk tidak terlalu mengumbar informasi pribadi yang bersifat sensitif. Bila tidak… *hmmm… lanjutkan sendiri ya” :P
- Cinta? Mau menyatakan cinta, tapi kurang merasa percaya diri? Menyatakannya lewat virus mungkin sebuah ide yang unik, terkesan begitu geek, dan cukup romantis(?). Baru saja putus cinta, ingin mencaci-maki dan meluapkan kekesalan pada mantan kekasih, tapi kurang memiliki keberanian? Menyampaikannya lewat virus mungkin juga sebuah ide yang unik, terkesan begitu geek, dan cukup gagah(?). Hmmm… Kesimpulan ini saya tarik setelah melihat beberapa virus yang membawa pesan cinta dan/atau benci di dalamnya. Contoh? Saya juga tidak begitu hafal nama-nama virusnya, maybe uncle Google may help you :P
- Kampanye/Dakwah/Promosi? Virus Yuyun.vbs, adalah salah satu virus dengan muatan dakwah di dalamnya. Virusnya sendiri tidak begitu ganas, namun cukup mengesalkan juga, dengan membuat Windows banjir oleh shortcut-shortcut yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya (tergantung pada jumlah folder yang ada di harddisk anda). Terlepas dari efektif tidaknya, benar tidaknya, dsb, efektivitas penyampaian pesan (karena kampanye/dakwah/promosi erat kaitannya dengan komunikasi) melalui virus tersebut, yang perlu diperhatikan bila hal ini merupakan motif utama dalam pemrograman virus, ada baiknya tidak memberikan payload yang dapat menyebabkan kerusakan parah pada komputer target. Gunakan payload yang sesuai dengan isi pesan yang ingin disampaikan. Misal: anda ingin mengkampanyekan anti situs porno, mungkin payload yang paling sesuai untuk ditanamkan kedalam virus anda adalah memblok akses ke hal-hal yang berbau pornografi (memblok akses ke situs-situs porno, membatasi akses ke file-file yang dicurigai mengandung muatan pornografi, dsb).
- Merusak? Wah, kalo hal ini yang menjadi motifnya, menempatkan beragam payload dengan beragam tingkat kerusakan mungkin adalah ide yang bagus. Mungkin pada permulaannya cukup dengan mempermainkan korban (me-restart komputer, membanjiri harddisk dengan kloningan file virus, dsb) hingga sampai ke payload utama, meledakkan komputer korban misalnya *alay mode on lagi*
Baiklah, tulisan nyeleneh ini saya akhiri sampai disini saja, jangan tanya kenapa. Jawabannya cuma satu: “Gak tau lagi apa yang mau ditulis.”
Bagaimana? Apakah anda ingin segera membuat virus?
----
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.




June 26th, 2009 at 11:55 am
Wkwkw.. funny article :)
Membayangkan worm yang ngasi message
“This worm here need .NET Framework Installed,
please install .NET framework first..
And oh.. I’m a worm, since I didn’t inject
any executable with my body and self-duplicate by it ”
ROFL LMAO
[Reply]