Browse > Home / Social Politics / Golput Itu…

| Subcribe via RSS

Golput Itu…

July 6th, 2009 Posted in Social Politics
-->

Logo Golput, Source: Politikana

Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengklarifikasi dugaan pembaca sekalian yang mungkin mengira saya adalah golput. Perlu saya tegaskan bahwa “my politics is my business” (politik saya adalah urusan pribadi saya). Jadi, ada kemungkinan saya adalah pendukung salah satu calon tertentu atau bahkan tidak mendukung satupun dari calon yang ada. Wajar bukan? Karena menjaga kerahasiaan itu juga merupakan hak saya dan hak seluruh bangsa Indonesia pada umumnya :D Selain itu, sumber pemikiran dalam tulisan ini juga telah banyak dikontaminasi dari beberapa sumber baik itu berupa artikel online maupun media cetak, jadi ini bukanlah seratus persen hasil pemikiran saya sendiri :D

Forewords

Pemilihan umum (Pemilu), menurut Wikipedia berbahasa Indonesia, “adalah proses pemilihan orang(-orang) untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat, di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa.”[1]

Fenomena golongan putih atau yang lebih populer dengan sebutan golput merupakan hal yang menarik di ranah demokrasi terutama pada masa-masa menjelang pemilihan pemimpin bangsa seperti sekarang ini. Beberapa alasan melatarbelakangi aksi golput, mulai dari alasan-alasan yang logis dan bersifat teknis hingga alasan-alasan yang terkesan dibuat-buat dan dipaksakan. Definisi golput menurut Wikipedia berbahasa Inggris, “Golput is used to refer from voters who abstain from voting, from Golongan Putih, “blank party” or “white party.”[2] Atau dengan kata lain, golput adalah pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilihnya dan suara yang tidak sah.[3] Namun sialnya, definisi golput yang umum digunakan saat ini masih terbilang membingungkan seperti misalnya dua contoh yang saya angkat diatas. Lalu definisi golput yang sebenarnya apa dong? Hehehe… Saya tidak mau berspekulasi mengenai hal ini, silakan anda jawab sendiri ya :P Namun mungkin definisi yang diungkapkan oleh Arief Budiman berikut bisa menjadi panduan;

“Golput adalah orang yang sengaja datang ke TPS dan membuat pilihannya tidak sah dengan mencoblos gambar putih. Kita bisa memperluas definisi golput dengan orang yang tidak percaya dengan hasil pemilu dan tidak mau berpartisipasi. Ia bisa tidak datang ke TPS atau dia datang, tapi membuat suaranya tidak sah.” (Media Indonesia Dinny Mutiah mewawancarai Direktur Eksekutif Cetro, Hadar Navis Gumay di Jakarta).[4]

Pada pemilihan legislatif bulan April yang lalu, jumlah golput tercatat sebesar 49.677.076 jiwa dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) 31 provinsi sebanyak 171.265.442 jiwa.[5] Entah berapa besar jumlah golput pada pemilihan presiden 8 Juli mendatang yang hanya tinggal hitungan hari lagi.

Katanya Golput Itu Haram?

“Golput kok bangga? Dimana letak nasionalismemu bila golput? Tahu tidak bahwa golput itu haram? Lima menit di bilik suara menentukan nasib bangsa lima tahun kedepan!” Ungkapan-ungkapan itu adalah beberapa yang paling sering digunakan untuk menyindir para pelaku golput. Beberapa yang ‘lemah iman golputnya’ mungkin akan segera ‘murtad’ dan menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon. Namun bagi mereka yang keukeuh dan banyak merasakan asam garam kehidupan berbangsa dan bergolput ria, ungkapan diatas hanyalah angin lalu saja.

Fatwa haram yang dikeluarkan MUI awal 2009 lalu itu sendiri masih merupakan suatu kerancuan, sebab memilih ataupun tidak memilih adalah suatu hak dan bukan kewajiban, hal ini telah tercatat dalam UU Pemilu itu sendiri. Lagipula memilih untuk tidak memilih itu juga dapat dikategorikan kedalam memilih, bukan?

Humas MUI, Djalal, memaparkan golput hukumnya haram bila masih ada calon yang amanah dan imarah.[6] Andaikata golput itu memang haram, maka memilih wakil rakyat yang salah (yang tidak amanah dan tidak imarah, yang dapat mengantarkan ke jurang kebobrokan) pun hukumnya haram?

Beberapa Alasan Seseorang Memilih Untuk Golput:

1. Faktor Teknis

Salah satu faktor teknis yang bisa menyebabkan seseorang golput adalah tidak terdaftar di DPT. Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa golput dengan cara ini meluapkan kekesalannya kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahkan ke aparat pemerintah (RT, RW, Kepala Desa, dsb). Bisa jadi mereka benar-benar ingin memberikan suaranya kepada salah satu jagoannya namun terhalang oleh faktor teknis yang mempertaruhkan profesionalitas aparat penyelenggara Pemilu ini.

2. Memilih dengan Pertimbangan, Bukan dengan Perasaan

Biasanya golongan ini adalah mereka yang memiliki kesadaran politik yang baik. Sebelum menentukan pilihan, mereka menggali informasi sebanyak-banyaknya dari para kandidat kemudian membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Siapa yang lebih unggul dari siapa, juga siapa yang dianggap memiliki kelemahan terbanyak. Beberapa kriteria, faktor, dan pertimbangan-pertimbangan khusus digulirkan dalam benak mereka. Mulai dari latar belakang para kandidat, prestasi apa saja yang pernah mereka dapatkan, kontroversi apa saja yang pernah melibatkan mereka, hingga visi misi dan program kerja seperti apa yang mereka tawarkan bila nanti terpilih menjadi pemimpin bangsa ini. Bagi golongan ini, ‘isi’ dari calon pemimpin itu adalah yang utama sedangkan ‘kulit’ hanyalah faktor kesekian yang harus dipertimbangkan. Bersyukurlah bila ternyata dari sekian jumlah kandidat ternyata ada satu atau dua kandidat yang mampu menarik simpati golongan ini. Namun, bila tidak ada satupun yang dianggap pantas untuk dipilih, tentu saja bagi mereka golput adalah pilihan paling logis yang bisa diambil.

3. Kurangnya Kesadaran Politik

“Pemilu itu apaan sih?” atau “Pemilu gak Pemilu, sama saja!” atau yang lebih kasar lagi, “Politic is bullshit!”. Hal itu menunjukkan kurangnya kesadaran politik dari pribadi yang bersangkutan. Bagi golongan ini, politik itu omong kosong, begitu pula dengan menggali informasi seputar politik itu adalah “a waste of time”, dan lebih parah lagi, terlibat di dalamnya adalah seperti tercebur ke dalam kubangan got yang sangat kotor, berlumpur, serta menebarkan bau busuk.

Oke, saya akui, tidak semua orang suka mendengarkan peristiwa seputar politik apalagi seputar para politikus yang (beberapa) dianggap busuk dan berbau comberan. Adalah lumrah bila banyak yang berpikir politik itu kotor. Namun dengan menggali dan memilah informasi seputar politik bukanlah sebuah perbuatan yang kotor, sebaliknya justru dapat menjauhkan kita dari hal-hal kotor itu sendiri.

Bila disuruh untuk memilih, biasanya golongan ini akan memilih calon berdasarkan perasaan. Siapa yang dianggapnya paling bagus, paling santun, paling ganteng, dan paling paling yang lainnya itulah yang cenderung akan mendapatkan tempat di hati mereka. Latar belakang dan tindak-tanduk calon yang mereka usung di masa lalu dan yang akan datang bukanlah merupakan hal yang harus mereka permasalahkan.

4. Tidak Percaya Kepada Calon-Calon yang Ada

Saya pikir poin ini jelas, tidak sedikit dari pemilih logis yang mengangkat poin ini sebagai salah satu diktenya. Ketidakpercayaan itu sendiri bisa berasal dari kekecewaan terhadap kinerja pemerintah.

Mengenai hal ini, ada yang berpendapat; “Lah, kalau begitu, bagaimana rakyat akan maju bila rakyat tidak menaruh kepercayaan kepada (calon) pemimpinnya?” Hmmm… Kalau begitu, analoginya mungkin bisa diputarbalik seperti ini; “Bagaimana rakyat akan menaruh kepercayaan kepada (calon) pemimpinnya yang dianggap tidak bisa memberikan kemajuan bagi rakyatnya?” Mungkin perlu untuk diingat, Pemilu bukanlah ajang perjudian, jadi sebelum menentukan pilihan, kenali dengan baik siapa dan bagaimana kepribadian calon pemimpin tersebut, dan mengetahui siapa saja orang-orang di belakangnya pun patut untuk menjadi bahan pertimbangan.

Pertentangan Golput

Ada kalangan yang berpendapat,

Sebagai golput mestinya harus konsisten, artinya jika sudah memutuskan untuk tidak diwakili atau memilih presidennya maka selama 5 tahun kedepan seharusnya tidak boleh menuntut atau meminta sesuatu dari wakil atau presidennya dan secara ekstrim tidak boleh menerima apapun dari mereka.

Kalau pemerintah gagal maka golput seharusnya tidak boleh terkena dampaknya. Juga kalau pemerintahan berhasil dan rakyat makmur maka golput tidak boleh menikmati kemakmuran. Tetapi kenyatannya khan tidak, kalau pemerintah gagal atau sukses golput pasti terkena pengaruhnya.[7]

Nah loh? Bagaimana menurut anda? :D

Final Words

Pemilihan presiden tinggal dua hari lagi, sudahkah menentukan pilihan anda?

Atau, jika anda adalah seorang golputer, just spreading the words from the underground, tetaplah datang ke TPS dan buatlah kertas suara anda menjadi tidak sah, dengan mencontreng diluar ketentuan yang berlaku misalnya. Loh? Kenapa? Agar kertas suara anda tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Tapi walaupun begitu, harap diingat bahwa golput itu tidak diakui dalam undang-undang, dan meskipun golput menang dalam pemilihan presiden kali ini, bukan berarti golput berhak untuk menentukan siapa presiden dan wakil presiden impian sendiri loh ya :P

Sebagian sumber literatur:

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Portmanteau#Indonesian_.28Bahasa_Indonesia.29

[3] http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0408/03/Politikhukum/1183215.htm

[4] http://www.pemiluindonesia.com/pemilu-2009/jumlha-golput-hampir-50-juta-orang.html

[5] http://forum.detik.com/showthread.php?t=86783

[6] http://hizbut-tahrir.or.id/2009/01/27/golput-haram/

[7] http://public.kompasiana.com/2009/05/09/golput-perlukah-diatur/


    Gambar dicomot dengan semena-mena dari Politikana :P

    Share and Enjoy:
    • Print
    • Digg
    • del.icio.us
    • Facebook
    • Google Bookmarks
    • Add to favorites
    • email
    • LinkedIn
    • Live
    • MySpace
    • PDF
    • Ping.fm
    • StumbleUpon
    • Technorati
    • Twitter
    • Yahoo! Bookmarks
    • Yahoo! Buzz
    ----

    Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

    Related posts:

    1. Politik Rakyat

    3 Responses to “Golput Itu…”

    1. aqi Says:

      idrus pny tutorial script html dak or kode hexa?
      aii cknyo l lm dagang..hehehe
      tlg ye kl ado krim ke email aq b :smile:

      gek kucari dulu yo, kak, filenyo ado di komputer :D

      [Reply]


    2. rd Limosin Says:

      `my politics is my business` kalo pake kata: `my politics is my privacy` bener jg dak mok?

      bener jugo, mok :P

      [Reply]


    3. nomercy Says:

      semua memiliki pilihan dan prinsip pribadi masing-masing dan harus saling menghormati hal itu … bukankah semuanya juga bertujuan sama untuk kebaikan bangsa? … kalau tujuannya malah kebalikan, misalnya hanya untuk melemahkan bangsa ini, nah itu yang harus diberantas …

      [Reply]


    Leave a Reply

    :-)) :-) :-D (LOL) :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (highfive) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (muhaha) (taser) (cry) (blush) (banana_ninja) (beer) (coffee) (fish_hit) (muscle) (smileydance)