Tiket Kereta Kelas Ekonomi Harga Kelas Bisnis
Disclaimer: Tulisan ini hanyalah sebagai curahan hati saya, selaku konsumen, yang merasa dirugikan. Dan tidak ada maksud untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu :)
Ridiculous! Itu yang terlintas di benak saya ketika untuk kedua kalinya mengalami hal yang menggelikan ini.
Beberapa hari yang lalu, saya berangkat ke Bandar Lampung guna menuntaskan suatu keperluan. Ketika akan pulang kembali ke Palembang, dan mengantri tiket kereta api di loket yang telah disediakan.
Mulai mengantri sekitar pukul 15.00, namun gerbang stasiun baru dibuka sekitar pukul 16.30. Antrian berlanjut di depat loket yang belum dibuka hingga sekitar pukul 18.30. Bisa dibayangkan berapa lama kami mengantri demi selembar tiket kereta api?
Berniatkan naik kereta eksekutif seharga Rp.95.000, namun sayang seribu sayang, ternyata tiket untuk kelas eksekutif telah habis, dan hanya tersisa 30 tempat duduk di kelas Bisnis. FYI, tiket kelas Bisnis dibanderol dengan harga Rp.60.000.
Namun lagi-lagi sayang sejuta sayang, saya dan beberapa teman (berikut ratusan pengantri lainnya) tidak kebagian tiket kelas Bisnis lagi. Well, PT Kereta Api berinisiatif untuk menambah rangkaian gerbong guna mengangkut penumpang yang lumayan membludak. Kebetulan hari itu adalah H+2 Idul Adha 1430 H.
Firasat geli segera melintas di benak saya, “Ah, jangan-jangan kejadian beberapa tahun yang lewat akan terulang lagi.” Dengan sedikit sentilan keisengan, saya bertanya sambil sedikit berteriak kepada petugas yang ada di sana, “Pak, gerbong tambahannya gerbong apa, Pak?” And luckily, sang petugas menyahut dengan ketus, “Gerbong ekonomi! Kalo mau ayo, kalo ga mau ya sudah!” Dan ternyata dugaan saya itu benar adanya! PT Kereta Api menambah rangkaian gerbongnya dengan gerbong kelas Ekonomi (atau biasa juga disebut Kereta Ekspress), yang pada hari biasanya tiket kereta kelas Ekonomi ini dihargai tidak lebih dari Rp.20.000. Namun malam itu, justru dijual seharga Rp.60.000! Ridiculous!

Sepertinya perusahaan kereta api satu-satunya di Indonesia itu (AFAIK), masih menerapkan prinsip monopoli, “Anda butuh kami, dan anda tidak punya pilihan lain selain kami. Maka kami pasang harga sekian. Jika anda mau silakan merapat ke kami, namun jika tidak silakan cari alternatif lain.”
Baiklah, saya akan coba mengurai permasalahan ini dari dua sudut pandang yang berbeda.
1. Sudut Pandang Saya (Konsumen)
Sepertinya untuk bagian ini akan lebih (sedikit) bagus kalau bahasa yang digunakan lebih santai :P
- Sudah lama antri, eh, malah dapet di gerbong tambahan kelas ekonomi, harga bisnis pulak! Ga sesuai banget sih!
- Seharusnya kalo memang harus menggunakan gerbong kelas ekonomi sebagai gerbong tambahan, harusnya tiketnya ga dihargai sama dengan kelas bisnis donk!
- Kalo kelas bisnis biasanya Rp.60.000, maka setidak-tidaknya gerbong tambahan itu dihargai sama dengan harga tiket kelas ekonomi. Atau mahal dikit ga pa pa lah!
- Kereta kelas ekonomi itu sumpek loh, dan kami harus melalui lebih kurang delapan jam perjalanan dalam suasana seperti itu? Mending kalo dapetnya di kelas Bisnis. Saya aja sampe rela tidur di depan WC demi agar bisa meluruskan kaki!
- Suasana kereta yang udah sempit itu pun harus diperparah pula dengan hilir mudiknya para pedagang asongan. Doh.
2. Sudut Pandang PT Kereta Api (Penyedia Jasa)
Karena saya tidak terlalu paham seluk-beluk perkeretaapian, maka pernyataan-pernyataan berikut mungkin benar mungkin pula salah. Dan tidak menutup kemungkinan dapat menjadi bumerang untuk mematahkan argumen saya.
- Biaya untuk perjalanan kereta di malam hari itu lebih mahal daripada perjalanan kereta di siang hari. Salah satunya beban listrik yang harus disuplai ke setiap gerbong guna menyalakan lampu-lampu. (I speak: “no comment”)
- Kalau tidak mau membeli tiket tersebut ya sudah, silakan cari alternatif lain seperti travel dan bus! (I speak: “Sialnya biaya perjalanan menggunakan travel dan bus itu lebih mahal, bro! Dan sebagian besar kuota mereka untuk malam itu sudah penuh.”)
- Kalau tidak mau membeli tiket tersebut ya sudah, berangkat saja keesokan harinya! (I speak: “Sialnya besok saya sudah harus ada di tempat tujuan, bro! Okelah kalau memang harus berangkat besok, tapi malam ini saya harus menginap dimana?”)
Fiuh…
Berbicara sedikit mengenai prosedur pemesanan tiket kereta api. Saya baru saja membaca artikel ini, dan sepertinya pemesanan tiket kereta api secara online seperti yang dijabarkan dalam artikel tersebut patut untuk dicoba. Dan kalau boleh nimbrung ide, saya pikir pengimplementasian sistem online booking seperti salah satu maskapai penerbangan di Indonesia ini juga patut untuk menjadi bahan pertimbangan PT Kereta Api :)
Dan sekarang, boleh saya mendengar apa pendapat teman-teman sekalian?
----
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:




December 5th, 2009 at 2:11 pm
Kareno jarang naik kereta api, baru sadar pas baco tulisan ini.. hhh. Dulu perjalanan dari Linggau ke Palembang ditarok di gerbong ekonomi, dg hargo bisnis. Semaleman duduk di kursi keras. Dg posisi duduk ngadep belakang. Jendelo ditutup kepanasan, jendelo dibuka masuk angin. Aww.
Perjalanan pergi dg kelas bisnis pun dak kalah sedih. 2 jam sebelum sampe tujuan, 2 gerbong paling belakang anjlok. Pdhl katonyo slh 1 gerbong itu yg suplai power utk lampu di gerbong lain (kalo dak salah..lupo jg). Akhirnyo terpaksolah gerbong plg belakan itu ditinggal, perjalanan diterusken slamo 2 jam dlm keadaan gelap gulita. Spooky nian. Heu.. transportasi indonesia
[Reply]
December 5th, 2009 at 7:33 pm
Saya jarang atau lebih tepatnya belum pernah memakai jasa Kereta Api di Pulau Sumatera, jadi gak tahu secara pasti.
Berharap pemesanan via online? Jangan terlalu berharap. Gak ada bedanya kok, sama-sama kacau. Saya tahu coz salah satu program berita di salah satu tv pernah melipu ttg pemesanan onlive kereta apai dan hasilnya…..
[Reply]
December 11th, 2009 at 4:06 pm
iya, mestinya sebel banget kalo dalam kondisi seperti itu… klo untuk pengalaman pahit naek KA, itu pernah pas mo ke Yogya dari Jakarta. jadi abis magang, mo balik lagi ke kampus. pjalanan yg harus ud sampe jam 4 subuh, tnyata lelet sampe jam 11 siang. bayangin btapa parah kterlambatannya… selama di jalan, KA kayak jalan penganten, lambat bgt, padahal kelas bisnis yg jg drenteng dg kelas eksekutif & ekonomi. alasan klasik moda transportasi ini, yakni sedang ad kcelakaan KA. duh, kenapa g dcek secara bkala gitu kan kondisi rel ma KA-nya biar gak melulu masalah yg sama yg muncul…
[Reply]
February 1st, 2010 at 1:26 pm
take it or leave it !
bhuahahahahhahahaaa …
[Reply]
July 13th, 2010 at 2:14 pm
wow keren
[Reply]