Puisi-Puisi Romantis
Baru saja melihat statistik blog ini secara seksama, dan ternyata salah satu keyword yang paling banyak dicari adalah “puisi pernikahan”, salah satunya menuju ke halaman ini.
Ada satu puisi yang sering ditemukan dalam undangan pernikahan, bunyinya sebagai berikut;
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada![]()

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono
Puisi indah berjudul “Aku Ingin” tersebut banyak disalah duga sebagai karya sang penyair besar, Kahlil Gibran. Namun ternyata merupakan karya pujangga bangsa sendiri, Bapak Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono.
Secuil informasi mengenai beliau dapat diintip di Wikipedia berbahasa Indonesia.
Masih banyak karya beliau yang tidak kalah romantis dan menarik, antara lain yang berjudul “Hujan Bulan Juni” berikut;
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Aahhh… Benar-benar sajak yang dalam, sedalam lautan…
Masih ingin sajak-sajak Pak Sapardi lainnya? Here they are;
Sajak Kecil Tentang Cinta
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
MencintaiMu harus menjadi aku
Nokturno
Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat
Dan tak habis-habisnya gelisahTiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
Entah kapan kau bisa kutangkap…
Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi
Hutan Kelabu
Kau pun kekasihku
Langit di mana berakhir setiap pandangan
Bermula kepedihan rindu itu
Temaram kepadaku semata
Memutih dari seribu warna
Hujan senandung dalam hutan
Lalu kelabu menabuh nyanyian
Ketika Jari-Jari Bunga Terluka
Ketika jari-jari bunga terluka
Mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
Cahaya bagai kabut, kabut cahaya
Di langit menyisih awan hari ini
Di bumi meriap sepi yang purba
Ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mataSuatu pagi, di sayap kupu-kupu
Di sayap warna, suara burung
Di ranting-ranting cuaca
Bulu-bulu cahaya
Betapa parah cinta kita
Mabuk berjalan diantara
Jerit bunga-bunga rekah…Ketika jari-jari bunga terbuka
Mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
Cahaya bagai kabut, kabut cahaya
Di langit menyisih awan hari ini
Di bumi meriap sepi yang purba
Ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiriPada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasatiPada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Masih kurang juga? I suggest you to buy his poem anthology, there you’ll find more and more interesting and high quality poems
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.



