Browse > Home / Info / From Batavia with Love – Seratus Tahun Cinta Menanti

| Subcribe via RSS

From Batavia with Love – Seratus Tahun Cinta Menanti

February 24th, 2010 Posted in Info
-->

Tulisan ini merupakan review wajib dari kegiatan “Tukar Buku Antaranggota WongKito” yang pertama kali diadakan pada 6 Februari 2010 kemarin, bertempat di Batagor Ihsan, Jln. R. Soekamto, Simpang Empat Sekip/Angkatan 66.

Dihadiri oleh belasan anggota Komunitas Blogger WongKito. Sebelas orang yang bertukar buku yakni; Arie Ardiansyah, Suzan Oktaria, Triana Haryani, Nike F Andaru, Alamsyah Rasyid, Indah Mastuti, M Fikri Solichin, M Ilham, Janatul Firdaus, Emilda Noviansari, dan saya sendiri. Dan dimeriahkan oleh Ramadhani Alaya Rasyid (anak pasangan Pak Alam dan Nike), Lies Surya, Aribowo Nugroho, juga ada blogger tamu; Kang Tutur :-)

Oke, back to topic. Untuk apa sih acara ini diadakan?

Digagas pertama kali oleh Nike, dalam sebuah postingannya di milis, dan mendapat tanggapan positif dari beberapa anggota. Acara ini bertujuan selain untuk mempererat rajutan tali silaturahmi antaranggota, juga ditujukan untuk bertukar minat dan sudut pandang dalam membaca buku.

Seperti yang kita ketahui bersama; buku adalah jendela ilmu yang membuka cakrawala ke dunia baru. Dan as I guess, bahwa tiap orang memiliki minat terhadap genre buku yang berbeda. Bisa saja seseorang hanya menyukai buku-buku novel bertema cinta, kriminal, atau lelucon. Atau mungkin seseorang itu memiliki minat lebih terhadap buku-buku motivasi, agama, dsb. Tidak jarang seorang reader, hanya karena minatnya terhadap beberapa genre buku saja, maka dapat membuatnya tertutup terhadap genre buku yang lain. Hal itu berarti bahwa bagi reader tersebut, beberapa pintu menuju sisi lain kehidupan juga tertutup rapat.

Kegiatan membaca, bagi saya pribadi merupakan suatu kegiatan yang mengasyikkan. Melalui buku-buku yang saya baca, saya bisa berkeliling jauh ke tempat-tempat yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Ada satu sajak yang ditulis oleh Edgar Guest, berkaitan dengan buku dan kegiatan membaca ini;

“Now” – said a good book unto me -
“Open my pages and you shall see
Jewels of wisdom and treasures fine,
Gold and silver in every line,
And you may claim them if you but will
Open my pages and take your fill.

“Open my pages and run them o’er,
Take what you choose of my golden store.
Be you greedy, I shall not care -
All that you seize I shall gladly spare;
There is never a lock on my treasure doors,
Come – here are my jewels, make them yours!

“I am just a book on your mantel shelf,
But I can be part of your living self;
If only you’ll travel my pages through,
Then I will travel the world with you.
As two wines blended make better wine,
Blend your mind with these truths of mine.

“I’ll make you fitter to talk with men,
I’ll touch with silver the lines you pen,
I’ll lead you nearer the truth you seek,
I’ll strengthen you when your faith grows weak -
This place on your shelf is a prison cell,
Let me come into your mind to dwell!”

Kebetulan pas acara tukar buku kemarin, saya mendapat buku dari Indah. Bukunya bergenre novel romantis dengan judul; “From Batavia with Love – Seratus Tahun Cinta Menanti.”

Berkisah tentang Tara Medira, seorang yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Tara merupakan gadis yang tegar dan ulet dalam menjalani hidup. Setelah lulus dari pendidikan D2 Sekretarisnya, Tara sempat bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan. Namun sayangnya, badai krisis menghantam perusahaan itu yang membuatnya limbung dan berakibat Tara harus kehilangan pekerjaan tetapnya itu. Hari-harinya pun diisi dengan pekerjaan-pekerjaan paruh waktu.

Suatu hari, Tara berkesempatan untuk menjadi guide bagi sepasang peneliti dari Amerika yang tertarik pada kebudayaan Betawi. Saat mereka mengunjungi Museum Sejarah Jakarta, Tara mulai merasakan hal-hal aneh. Ia seakan-akan tengah menonton sebuah tayangan masa lalu yang berkisah tentang cinta dua anak manusia yang bisa dibilang tragis. Dan tidak lama setelah itu, ia pun bertemu dengan seorang arwah dari awal tahun 1900-an yang merupakan tokoh utama dalam bayang-bayang mimpinya, Pieter van Riessen.

Diceritakan juga, Pieter merupakan seorang aristokrat dari Belanda. Petualangan yang dilakukannya untuk mengisi liburan kuliahnya mengantarkannya ke Singapura dan untuk selanjutnya merapat ke Batavia. Di Batavia inilah Pieter bertemu dengan seorang gadis tanah Nusantara bernama Yasmin. Kebetulan-kebetulan yang terjadi, menyemaikan benih-benih cinta di antara mereka.

Lalu, apa hubungan antara Pieter, Yasmin, dan Tara? Apa pula yang menyebabkan Pieter harus menunggu tepat seratus tahun untuk mewujudkan keinginan terakhirnya itu?

Well, penulisan novel ini menggunakan pola forward-backward. Pada satu bab penulis menyuguhkan kisah Tara yang berlangsung pada masa sekarang. Dan pada bab berikutnya pembaca akan diajak mengelana ke masa lalu, masa-masa hidupnya Pieter van Riessen. Begitu seterusnya hingga mencapai bab-bab klimaks barulah kisah yang diceritakan terus berjalan maju.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik. Pola penulisan dua generasi yang berbeda secara berkesinambungan mampu membuat pembaca hampir tidak merasakan bosan. Selain itu, penggambaran kota Batavia pada masa 1900-an juga apik. Namun ada satu hal yang membuat saya cukup terusik, yakni beberapa pertemuan Pieter dengan Yasmin secara kebetulan, terkesan agak dipaksakan. Begitu pula klimaks dan endingnya yang terasa tidak begitu njelimet dan terkesan terjadi dengan cepat.

Yap, sekian review dari saya. Sengaja ditulis dengan ringkas supaya tidak terkesan spoiler dan merugikan atau bahkan mengecewakan pembaca yang akan membaca novel ini :-P

*Waiting for the next WongKito Book Exchange Event* (dance)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
----

Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Cinta Sejati dan Cinta yang Mati
  2. Menanti kebangkitan generasi Al-Quran
  3. This I Love, What Should AXL Rose Tell About Love
  4. Menanti revolusi dunia perfilman Indonesia

2 Responses to “From Batavia with Love – Seratus Tahun Cinta Menanti”

  1. suzan Says:

    akhirnya diposting juga nih :D

    [Reply]


  2. Fickry Says:

    wkwk… aku blm baco. :D

    [Reply]


Leave a Reply

:-)) :-) :-D (LOL) :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (highfive) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (muhaha) (taser) (cry) (blush) (banana_ninja) (beer) (coffee) (fish_hit) (muscle) (smileydance)