Browse > Home / Personal / Budaya Jam Karet

| Subscribe via RSS

Budaya Jam Karet

March 15th, 2010 Posted in Personal

Karet, merupakan sesuatu yang bisa melar. Lah, kalau jam karet, apa pula itu? Sederhananya, jam yang bisa melar. Saya yakin, banyak orang Indonesia yang telah familiar dengan ungkapan “Jam Karet” ini. Saking familiarnya, bahkan bagi sebagian orang, sudah dianggap sebagai budaya bangsa sendiri (yang sebenarnya tidak perlu dilestarikan) :-P

Contoh fiktif yang bisa ditemukan dalam kehidupan nyata, antara lain;

Si X: “Hei, Y. Besok kita ke rumah Z. Ada calon klien baru, dari Jerman, buat pengembangan bisnis kita.”
Si Y: “Oke. Jam berapa?”
Si X: “Sekitar jam 10 pagi lah ya. Tadi gw udah bilang ke Z, ketemuannya jam segitu. Jangan lupa siapin file presentasi sama berkas-berkas pendukung lainnya.”
Si Y: “Sip. Lo jemput gw di rumah yak.”
Keesokan harinya… Pukul 9.30 pagi…
Si X: “Wah, baru jam 9.30, masih 30 menit lagi. Jam 10 teng aja lah jemput si Y-nya.”
Pukul 10.00…
Si X: “Saatnya berangkat…”
Sementara itu…
Si Y: “Eh, udah jam 10 aja. Mandi dulu ah… Paling bentar lagi si X dateng.”
Pukul 10.30…
Si X: “Hoi, Y. Sori gw telat, tadi macet di jalan. Hayuk cabut sekarang aja.”
Si Y: “Oke.”
Pukul 11.00… Di rumah Si Z…
Si X & Y: “Hei, bro Z. Jadi gimana planningnya? Kliennya mana?”
Si Z: “Kampret! Kemaren kalian bilangnya mau ke sini jam 10! Ini udah jam berapa coba?! Kliennya udah pulang! Sejam nungguin kalian belum datang juga! Gw mana bisa njelasin prospek kita ke depannya gimana. Toh, file-nya ada di lo Y!”
Si X & Y: #$!#@#%$#^@%\*&

Dapat inti ceritanya? Ya, dalam dialog itu, kita sama-sama bisa melihat betapa waktu bisa begitu disepelekan oleh tokoh X dan Y, yang akibatnya tidak hanya berimbas pada diri mereka pribadi, namun juga bisnis mereka. Tidak jarang, ketika berjanji, kita tidak memperhitungkan waktu dalam perjalanan, seperti dalam contoh di atas.

Ada satu hal lagi yang menurut saya lucu, masih berkisar tentang jam karet ini. Dalam sebuah penyelenggaraan acara misalnya. Betapa agar para tamu undangan tidak ngaret datangnya, maka oleh panitia, jam di undangan acara pun dimajukan beberapa menit (bahkan jam). Yang diharapkan acara dapat dimulai tepat pukul 9 pagi, maka di undangan dituliskan bahwa acara akan dimulai tepat pukul 7 pagi.

Namun, kebijakan aneh ini justru terkadang masih juga tidak efektif bahkan tidak jarang malah mengecewakan para tamu undangan yang terbiasa tepat waktu. Para penganut ideologi jam karet, biasanya sudah bisa mengendus modus operandi jenis ini. Mereka tidak yakin bahwa acara akan tepat waktu, dilaksanakan pukul 7 pagi. Dalam pikiran mereka, acara mungkin akan dimulai pukul 9 pagi. Maka mereka pun biasanya akan berangkat pukul 9 tepat atau setidak-tidaknya beberapa menit lebih cepat, bagi yang memperhitungkan faktor jarak antara tempat acara dengan titik keberangkatan mereka (misal; rumah). Dan hasil akhirnya sudah bisa ditebak sendiri; tidak menutup kemungkinan, acara malah akan semakin ngaret.

Well, untuk memusnahkan budaya jam karet ini mungkin tidak mudah. Tentu saja semuanya harus dimulai dari hal paling kecil terlebih dahulu, yakni dari diri kita sendiri. Ada satu ungkapan mengenai arti sebuah waktu, yang saya dapat dari sumber yang tidak dikenal via e-mail;

Bila kita ingin tahu;
Arti waktu 10 tahun, tanyalah petani yang menanam pohon jati.
Arti waktu 1 tahun, tanyalah pelajar yang tidak naik kelas.
Arti waktu 1 bulan, tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.
Arti waktu 1 minggu, tanyalah redaksi dan editor dari majalah mingguan.
Arti waktu 1 hari, tanyalah mereka yang akan menikah dan pergi meninggalkan rumah keluarga.
Arti waktu 1 jam, tanyalah seorang Romeo yang menunggu kedatangan Juliet.
Arti waktu 1 menit, tanyalah mereka yang ketinggalan kereta api/pesawat.
Arti waktu 1 detik, tanyalah orang yang selamat dari kecelakaan maut.
Arti waktu 0,1 detik, tanyalah atlet yang kalah dalam lomba lari 100 meter.

Semoga dapat memberi inspirasi dan dapat membantu kepunahan budaya jam karet dari bangsa yang besar ini. Amin.

#Cartoon taken from http://seemikedraw.files.wordpress.com/2007/08/biological-clock-final.jpg



Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

Related posts:

  1. Budaya ‘sakit mendadak’ dikalangan ‘tersangka berdasi’
Tags:

2 Responses to “Budaya Jam Karet”

  1. suzan Says:

    yupssss… memang sudah seharusnya dipangkas jam karet … bete banget nih :D

    [Reply]


  2. dealer pulsa Says:

    hahaha seandainya indo sudah mampu membersihkan korupsi, ternyata ada 1 halngan budaya lag yang mghambat kmajuan. yaitu budaya jam karet

    [Reply]


Leave a Reply

You can use plurk smilies syntax, for example: (LOL), (tears), (ROFL), etc.