Browse > Home / Stupid Thought (?!) / Menjebak Persepsi Awal Pembaca dengan Judul dan Satire

| Subcribe via RSS

Menjebak Persepsi Awal Pembaca dengan Judul dan Satire

April 25th, 2010 Posted in Stupid Thought (?!)
-->

Entahlah, kata apa yang paling cocok untuk digunakan; menjebak atau menipu?

Agak lucu juga sebenarnya melihat fenomena ini. Sebuah fenomena di mana seorang pembaca hanya membaca sebuah judul tulisan, tanpa membaca dan mencerna isi tulisan itu seutuhnya, kemudian membuat persepsi yang salah tentang tulisan tersebut. Di sinilah saya mulai menyadari betapa kuatnya pengaruh sebuah judul tulisan terhadap persepsi awal pembaca.

Sebuah judul merupakan salah satu faktor utama yang menarik minat pembaca. Bila judul itu dikemas secara apik, maka pembaca akan merasa penasaran, ingin mengetahui perihal yang sebenarnya dari tulisan dengan judul yang eye and mind catching itu, vice versa. Namun tidak jarang, setelah membaca judul, pembaca tidak meneruskan membaca isi tulisan. Apalagi bila judul yang disuguhkan itu merupakan kontra-realitas terhadap isi tulisan. Model pembaca seperti inilah yang biasanya mudah terkecoh terhadap persepsi awal yang dimunculkan oleh suatu judul tulisan, apalagi bila judul tulisan tersebut bernada kontroversial.

Dalam dunia per-blogger-an pun hal itu kerap dapat dijumpai dengan mudah. Para penulis (blog) yang terbiasa menggunakan teknik linkbaiting biasanya juga membuat judul-judul tulisan (dan intro) yang ‘wah’ guna menjaring pengunjung. Pengunjung ‘pintar’ biasanya membaca keseluruhan isi tulisan tersebut kemudian mencari tulisan pembanding dari sumber lain (crosscheck) untuk kemudian membuat kesimpulan yang benar tentang tulisan tersebut. Namun sayangnya, tidak semua pembaca melakukan hal ini. Tidak jarang mereka hanya berpedoman pada satu sumber tulisan saja, tanpa peduli apakah sumber itu benar atau salah. Dan sangat disayangkan lagi, tidak semua pembaca membaca keseluruhan isi suatu tulisan, sebagian justru merasa cukup puas dengan hanya membaca judulnya atau sekilas tulisan saja, dan menarik kesimpulan yang tidak jarang terkesan menggelikan dan (maaf) menampakkan kebodohan mereka. Bilapun pendapat mereka itu dituangkan dalam kolom komentar, biasanya hal itu hanya bertujuan untuk menunjukkan eksistensinya saja.

Saya pernah melakukan eksperimen sederhana mengenai perilaku pembaca ini, dengan menulis suatu artikel dengan judul yang boleh dikata kontroversi. Beruntung artikel tersebut dicopas semena-mena oleh orang lain, ke salah satu forum terbesar di Indonesia. Saya baru mengetahui perihal copas tanpa pencantuman sumber ini beberapa bulan setelahnya. Dan pada awalnya cukup surprised juga. Terlebih setelah membaca satu persatu tanggapan dari penghuni forum yang bersangkutan. Beberapa menangkap pesan terselubung dalam artikel copas tersebut dengan baik dan menanggapinya dengan positif, dan beberapa justru memberikan komentar pedas disertai dengan argumen yang bertubi-tubi, yang sebenarnya argumen tersebut adalah inti pesan yang ingin saya sampaikan dalam artikel yang (tidak) mereka baca dan pahami itu. Terlepas dari budaya “ngejunk”, “nyampah”, atau “mengejar jumlah postingan” dalam forum tersebut, satu hal yang menggelitik adalah bahwa ternyata masih banyak orang yang terkecoh hanya karena judul saja, diperparah lagi dengan tidak membaca tulisan itu seutuhnya.

Bahasa Figuratif dan Satire

Soedjito (1986) mendefinisikan bahasa figuratif (atau yang populer dengan sebutan majas) sebagai bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan kondisi tertentu. Bahasa figuratif membuat suatu tulisan menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987: 83). Bahasa figuratif inilah yang membuat suatu tulisan tidak terasa monoton dengan gaya bahasa yang ‘itu-itu saja’.

Satire termasuk salah satu bahasa figuratif yang lazim digunakan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Pada umumnya, untuk memahami suatu satire diperlukan pemaknaan konotatif, daya imajinasi, serta pemahaman latar belakang permasalahan yang diungkit di dalamnya; mencoba memahami konteks teks dan kejadian tersebut dari berbagai sudut, dan menjalinnya ke dalam satu kesatuan pemaknaan yang hakiki. Tidak jarang bila suatu satire dipahami secara denotatif maupun parsial, justru akan menimbulkan kerancuan makna bahkan kesalahpahaman.

Tidak sedikit orang yang terkecoh dengan satire (tidak dapat menangkap makna yang ingin disampaikan) dikarenakan mereka hanya memaknai teks secara parsial dan sesuai apa yang tersaji. Misal; “Alangkah jeleknya pakaianmu, sampai-sampai ratu negeri seberang pun iri”. Bila kalimat tersebut dipahami hanya sebatas “alangkah jeleknya pakaianmu”, ataupun dimaknai secara denotatif, maka tidak menutup kemungkinan, orang yang menjadi objek kalimat tersebut akan tersinggung. Namun sebaliknya, bila kalimat tersebut dipahami secara menyeluruh ditambah dengan daya imajinasi, pemaknaan konotatif, dan pemahaman latar belakang permasalahan yang diungkit, maka kalimat tersebut justru memancarkan suatu kekaguman, “alangkah bagusnya pakaianmu, sampai-sampai ratu negeri seberang pun iri”. Apakah wajar seorang ratu yang notabene berpakaian mewah, merasa iri dengan orang yang menjadi objek kalimat—yang berpakaian jelek?

Tujuan penggunaan satire ini biasanya untuk mendobrak dan membongkar suatu paradigma yang sudah ada dengan gaya humor, olok-olok, ironi, sarkasme, parodi, pengandaian (imajinasi), dsb.

As a closing of this unintended article, I would like to share a quote;

“Only jokes that have a purpose to run the risk of meeting with people who do not want to listen them” ~ Sigmund Freud.

Image courtesy of http://www.spurgeon.org/~phil/posters.htm and Wikimedia.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
----

Creative Commons License Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.

No related posts.

2 Responses to “Menjebak Persepsi Awal Pembaca dengan Judul dan Satire”

  1. Advenda Says:

    ya memang saya juga sering menjumpai hal serupa dulu :) kalau saya sih positive thinking aja. yang penting kita tetap berbagi dan semoga article yang kita tulis akan beranfaat bagi para pembaca.

    [Reply]


  2. Rental Says:

    Kadang orang bikin judul dengan semenarik mungkin agar artikelnya di baca

    [Reply]


Leave a Reply

:-)) :-) :-D (LOL) :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (highfive) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (muhaha) (taser) (cry) (blush) (banana_ninja) (beer) (coffee) (fish_hit) (muscle) (smileydance)