Budaya; Kenal Namun Tak Kenal (Bagian II)
Lanjutan dari Bagian I…

Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia, berumur pas 1327 tahun pada 16 Juni 2010 lalu. Meski begitu, arus zaman turut menyeret kota tua ini ke era modern. Dan berimbas pada mulai lunturnya nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Dari segi bahasa, Palembang masih termasuk kota yang konservatif. Terbukti bahasa yang dipergunakan masih bahasa Palembang ari-ari (sehari-hari). Kalau boleh mengambil perbandingan, hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi yang ada di Lampung, tepatnya Kota Bandar Lampung. Meski Lampung memiliki bahasa dan bahkan aksara sendiri, namun bahasa dan aksara asli Lampung tersebut tampak terpinggirkan oleh bahasa suku-suku pendatang (terutama Jawa) dan bahasa gaul elo-elo-gue-gue (yang umum dipergunakan sebagai bahasa pergaulan). Lampung sendiri, dalam penglihatan saya cenderung didominasi oleh pendatang luar Lampung (dan lagi-lagi, terutama Jawa; entah, mungkin ini akibat dari politik etik yang dijalankan oleh Belanda dahulu kala; Emigrasi (juga Irigasi dan Edukasi), sehingga penduduk pulau Jawa yang di-emigrasi-kan (sekarang dikenal dengan istilah; transmigrasi) tersebar di seantero nusantara).
Arus modernisasi memang deras. Tidak sedikit aturan-aturan dan norma-norma yang turun temurun di masyarakat tanpa ampun, ambruk diterjangnya, tergantikan oleh budaya global atau yang lazim dikenal sebagai popular (pop) culture. Banyak daerah di Indonesia, dengan berbagai daya dan upaya, bahu-membahu mempertahankan budaya asli mereka agar tidak tergerus dan hilang sama sekali. Idealnya, budaya asli itu dapat bersanding dengan budaya populer. Ada satu contoh yang menarik bagi saya, yakni; Bali. Betapa pulau dewata itu seakan berdiri tegar meski gempuran budaya dari luar begitu deras. Bali tetap menyuguhkan keunikan budayanya (dan keindahan alamnya) kepada dunia luar. Wisatawan lokal dan mancanegara berduyun-duyun datang untuk menikmati suguhan khas Bali itu.
Palembang sendiri, menurut saya, berdiri diantara kedua garis budaya itu. Namun generasi mudanya tidak berusaha untuk melestarikan budayanya, tidak menutup kemungkinan di kemudian hari, Palembang pun hanya akan jadi kota modern tanpa warna, tanpa corak, tanpa suguhan khas yang membedakannya dari kota-kota lain di Indonesia bahkan dunia. Bila dari segi makanan khas, saya pikir Palembang merupakan surganya. Begitu banyak variasi dan jenis makanan khas Palembang, mulai dari pempek, mie celor, martabak HAR, tekwan, celimpungan, dan sebagainya. Dan masih menurut saya, dengan keberagaman citarasa itu, Palembang dapat menonjolkan dirinya dalam segi wisata kuliner. Namun, bila dari wisata budaya yang lain, saya belum tahu banyak. Beberapa yang layak untuk disebutkan antara lain; perlombaan bidar (yang biasanya hanya diselenggarakan pada momen agustusan) dan tari tradisional. Jangan harap di Palembang, para wisatawan akan dapat menemukan pagelaran-pagelaran budaya tradisional yang meriah dan diselenggarakan secara berkala laiknya di Jawa dan Bali.
Pada 2008 lalu, Pemerintah Kota Palembang mencanangkan program Visit Musi 2008, namun bagi saya, program itu hanyalah bersifat sesaat. Dan sepertinya tidak ditujukan untuk jangka waktu yang lebih lama. Suara-suara sumbang yang sempat saya dengar pun bertebaran, antara lain; program Visit Musi 2008 itu belumlah memberikan imbas positif secara langsung kepada masyarakat Palembang.
Kembali ke masalah budaya. Sebenarnya, Palembang merupakan kota dengan warisan budaya yang melimpah, di beberapa sumber (cetak dan elektronik), banyak disebutkan kekayaan budaya itu. Namun sayangnya, apakah warisan budaya tersebut akan tetap terjaga hingga ke generasi-generasi penerus nanti atau tidak, tergantung pada generasi sekarang ini. Lalu, bagaimana cara melestarikan warisan budaya? Jujur, saya sendiri belum tahu bagaimana cara melestarikan budaya. Hal yang dapat saya lakukan baru sebatas mempelajari melalui sumber-sumber tertulis saja, setidak-tidaknya untuk mengenal lebih dekat warisan budaya itu terlebih dahulu. Jangan sampai nanti ketika saya menunaikan shalat di Masjid Agung Palembang, saya tidak mengetahui sejarah di balik masjid tersebut. Atau ketika menghabiskan sore di BKB, saya tidak tahu peran Benteng itu di masa lalu. Saya tidak ingin kenal namun sebenarnya saya tidak mengenal warisan budaya Palembang ini.
Isi blog ini dilindungi dibawah lisensi Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported, yang berarti anda bebas mendistribusikan ulang serta mengadaptasinya dengan ketentuan sebagai berikut: [1] cantumkan sumber asal, dan [2] tidak untuk tujuan komersial.
Related posts:



