Islamophobia, atau yang secara singkat dapat didefinisikan sebagai phobia atau ketakutan terhadap Islam. Pernahkah kita berpikir, apa sebenarnya yang menyebabkan munculnya islamophobia itu? Media salah satunya. Media termasuk alat propaganda paling efektif, namun dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai media dan propaganda. I will focus on the oh so funny term, “we are moslem, we are terrorists”.

Janggut panjang nan lebat, celana yang menggantung diatas mata kaki, hijab yang menutupi seluruh tubuh, dan atribut-atribut fisik seorang muslim lainnya yang kerap dianggap aneh oleh kaum non-muslim. Ketika setiap aksi demonstrassi, kekerasan atas nama agama, pengeboman, kerusuhan dan huru-hara yang terkait dengan isu-isu agama seringkali diidentikkan dengan statement, “lihat, itulah islam, agama teroris, yang mengajarkan kekerasan dan intoleransi.”

Lucu, ketika ada seseorang yang menganggap lucu ketika dengan semena-menanya dan tanpa tedeng aling-aling menempelkan cap “teroris” kepada orang lain, meskipun itu dalam konteks untuk lelucon atau bercanda semata. “Eh, fulan, jenggot lo lebat bener, kayak teroris. Mau ngebom dimana? Hahaha…” Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika ada segolongan muslim yang berusaha menjalankan Islam secara kaffah dan menegakkan khilafah dan syariah di muka bumi dianggap kaum ekstrimis, aliran/garis keras, pendidikan bakal calon teroris, pengebom yang mengkhayalkan dirinya disambut bidadari-bidadari cantik dalam matinya, dan seribu stereotipe miring lainnya. Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika seorang muslimah menjulurkan jilbab keseluruh tubuhnya, menutupi kepalanya dengan kerudung, dan menghijabi sebagian mukanya dengan cadar dianggap sebagai wanita aneh, tidak keren, tidak ‘cool’, weirdo, kuper, ketinggalan zaman, istri dan pendidik anak-anak calon teroris, dan lain sebagainya yang melahirkan diskriminasi dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan. Sedangkan membuka dan mempertontonkan aurat merupakan perbuatan yang dianggap sangat wajar dan sudah seharusnya dilakukan di era modern ini. “Hey, ini auratku, mana auratmu? Halah, kok auratmu ditutup-tutupin kayak gitu, gak gaul ih, ketinggalan zaman, norak, sok alim! Gak perlulah berhijab dan berpakaian lebar-lebar kedodoran kayak gitu, sexiness is everything! Yang penting dihijabi itu adalah hati!” See? Hingga ada satu anekdot, “if a woman is free to show up her body, why isn’t she free to cover it up?” Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika dalam interaksi pria-wanita dalam Islam amat sangat dibatasi kecuali pada beberapa perkara antara lain: pendidikan, pengobatan, muamalah, ta’aruf, ibadah haji, dan saksi dalam pengadilan, sedangkan diluar hal-hal tersebut sangat dihindari terjadinya kontak dan hubungan antara pria dan wanita yang bukan muhrim. Ketika manusia modern, kaum sekuler, demokrat, atheis, dan kawan-kawannya justru dengan bangga melepaskan sekat-sekat dalam interaksi antar lawan jenis ini. Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika sekelompok muslim yang taat berkumpul mendaras Al-Quran maupun kitab kajian Islam lainnya dianggap seklompok orang yang ekstrem dan sedang membuat makar untuk merusak tatanan kehidupan bermasyarakat yang lepas bebas berkiblat penuh hikmat dan takzim pada paham sekulerisme yang memisahkan kehidupan dengan agama. Keberadaan agama dianggap hanya untuk konsumsi pribadi, sebatas hubungan personal antar seorang manusia dengan Sang Penciptanya, tidaklah perlu diumbar maupun dibawa-bawa ke ranah publik apalagi politik dan tatanan bernegara dan bermasyarakat. Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika ada seorang muslim yang mengingatkan sesama saudaranya kepada jalan kebaikan justru dianggap orang yang ‘sok alim’, tidak mampu mengadopsi nilai-nilai masyarakat modern, ketinggalan zaman, ekstrimis, fundamentalis, dsb. Sebaliknya ketika seseorang mengajak kepada jalan kemaksiatan yang mengarah pada kemurkaan Tuhan Semesta Alam, justru dianggap sebuah hal yang ‘oh so cool’, gaul, keren, modern, dan lain sebagainya. Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika ada seorang muslim yang justru mengingkari ayat-ayat Allah dengan tetap mengagungkan sebuah sistem yang bobrok dan penuh kemudharatan dan berdalih bahwa sistem itulah yang paling sempurna, layak, dan mungkin untuk diterapkan dalam tata kehidupan dewasa ini guna menjamin terselenggaranya interaksi sosial yang baik, dinamis, dan harmonis, menafikan seruan untuk kembali kepada tatanan hukum Allah, syariat Islam, yang berdasarkan pada Al-Quran dan manhaj kenabian. Sistem Islam justru dianggap aneh dan tidak layak untuk diterapkan. Mereka dengan nyinyir berargumen, “Hey, sistem hasil olah pikir manusia; demokrasi-sekuler, sosialis-komunis, dan sohib-sohibnya itu jauh lebih keren daripada sistem Islam!” Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Lucu, ketika umat Islam dianggap umat yang terbelakang, tertinggal, dan jauh dari kemajuan. Justru Barat dengan ideologi, pemahaman, dan pemikirannya lah yang dianggap yang terbaik, terdepan, dan terpercaya untuk memandu manusia dalam menjalani hidupnya. Al-Quran dan As-Sunnah hanyalah sebatas barisan ayat yang patut ditaati selama itu hanya menyangkut masalah ibadah: shalat, zakat, puasa, naik haji, nikah, khitan, dsb namun tidak untuk tata kehidupan yang lebih luas: bernegara dan bermasyarakat. Coba pikir, adakah kelucuan dalam hal tersebut? Sungguh, ada.

Ya, memang hidup ini hanyalah senda gurau belaka. Bahkan berlelucon dengan Tuhan pun dianggap biasa dan wajar. Toh, kita hidup di dunia hanya satu kali, maka nikmati sebelum mati, alam akhirat itu urusan nanti. Benar-benar logika pikir yang aneh bagi sebagian anak Adam, dan para setan pun bersorak-sorai, bertepuk tangan, penuh euforia.

The Small Room, August 06, 2014, 05:14 WIB.