Select Page

Rabu, 01 Februari 2017 – 23.32 WIB.

Prolog…

Setelah terbangun dari tidur sejenak ba’da Isya tadi, mata ini terasa melek dan hilang kantuk seketika. Buka laptop, menuju sub-folder ‘Taare Zameen Par – Like Stars On Earth [2007]’ di dalam folder ‘Downloads’ yang telah bercokol tak tersentuh sejak beberapa hari yang lalu setelah selesai terunduh dari salah satu situs penyedia torrent. Double clicking it, and the movie begins…

Oiya, sebelum melanjutkan, saya ingatkan bahwa mungkin tulisan ini mengandung sedikit spoiler. Buat yang benci spoiler, silakan tonton filmnya terlebih dahulu 😀

Dialog…

Taare Zameen Par (Like Stars On Earth), sebuah film rilisan tahun 2007 nan ciamik dari Negeri Anak Benua (India) yang ditulis oleh Amol Gupte dan disutradarai oleh Aamir Khan. Bercerita tentang seorang anak yang mengidap dyslexia atau kesulitan baca tulis. Betapa hari-harinya tersiksa oleh sistem pendidikan yang mengungkungnya, tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya hebat dalam setiap mata pelajaran, dan bayang-bayang masa depan yang tak menentu akibat diliputi ketakutan akan kelemahannya itu. Film ini wajib ditonton oleh segenap orang tua, seluruh pendidik, dan mereka yang peduli akan anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Anak, bagi sebagian besar masyarakat, dipandang sebagai cerminan dari orang tua, sebentuk refleksi keluarga, dan lingkungannya. Betapa seorang anak yang mungkin ‘berbeda’ dari anak-anak lain yang sebaya dengannya akan dianggap aneh, bahkan yang lebih mengerikan lagi, di-judge sebagai beban masyarakat di masa mendatang. Dianggap sebagai salah satu bibit apkir, yang tidak akan bisa bertumbuh, berkembang, berbunga, berbuah, bahkan tidak berguna bagi dunia. Masa depannya dianggap sudah pasti: suram dan penuh kegagalan. Ironic. What a judgement.

Bahkan ketika keluarga sang anak tersebut mulai lelah dan perlahan menyerah, lantas melimpahkan kewajiban mendidik sepenuhnya kepada suatu institusi pendidikan bernama sekolah. Di sini neraka bermula bagi sang anak. Keterbatasannya tidak jarang akan membuatnya sulit untuk beradaptasi, mengejar, dan memenuhi tuntutan nilai dalam setiap pelajaran yang dikandung oleh suatu tata kurikulum yang dianggap paling baku dan paling benar dalam menentukan berhasil tidaknya-baik buruknya nasib sang anak kelak hanya dari secarik kertas nilai. Sebuah tata pendidikan yang mengharuskan anak didiknya melahap dan mahil dalam segala bidang ilmu, mulai dari bahasa, matematika, biologi, fisika, kimia, sejarah, geografi, ekonomi, antropologi, pendidikan kewarganegaraan, agama, seni, teknologi informasi, sosiologi, dan lain sebagainya. Tanpa adanya pendamping yang sabar dan mengerti serta memahami kondisi sang anak berkebutuhan khusus tersebut, mustahil rasanya sang anak akan dapat mengecap manisnya ilmu-ilmu yang diajarkan, hal yang mungkin terjadi justru kebalikannya: stres dan depresi.

Pernah saya membaca suatu kritik terhadap sistem pendidikan yang memaksa ini, suatu sistem yang monoton, yang mengarahkan dan menyetir hidup setiap anak didik, yang membenamkan pola pikir: sekolah – belajar – kuliah- belajar – lulus – cari kerja. Suatu sistem yang tidak menyukai perbedaan bahkan tidak mampu mengeksplorasi minat, bakat, dan kelebihan khusus dari tiap-tiap peserta didik untuk kemudian difokuskan berkembang maksimal pada kelebihan-kelebihan yang mereka miliki. Bukan malah menjejali dan memforsir mereka dengan hal-hal yang menjadi kelemahannya.

Dalam film ini juga digambarkan dengan sangat gamblang bahwa sejatinya seorang guru itu tidak hanya berkewajiban mengajar, mendikte, dan menilai saja melainkan seorang guru harus bisa membimbing dan mengembangkan potensi anak didiknya.

Epilog…

Let’s make the long story short. Tonton filmnya dan hayati setiap pesan yang disampaikan. Untuk empati yang lebih terasah. Untuk pendidikan yang lebih bermakna. Karena setiap anak istimewa. Dan mereka bagaikan kerlipan bintang di bumi yang makin gersang. Karena mereka adalah tumpuan masa depan.

*matiin laptop, lompat ke kasur, and… good night.*