Browse > Home / Archive by category 'Communication'

| Subcribe via RSS

Psikologi Dunia Maya

May 22nd, 2009 | 4 Comments | Posted in Communication, Net, Nganar

CATATAN: ARTIKEL INI HANYA PEMIKIRAN DANGKAL SAYA (SEORANG YANG TIDAK MENDALAMI DAN TIDAK BERKECIMPUNG DI DUNIA PSIKOLOGI) DAN HANYA MENGACU PADA LITERATUR SEADANYA. PENGGUNAAN UNTUK LINGKUNGAN AKADEMIS TIDAK DISARANKAN.

Forewords

Teknologi komunikasi dan informasi merupakan salah satu sendi kehidupan manusia modern yang berkembang dengan sangat cepat. Dan perangkat hebat yang mendasarinya tidak lain dan tidak bukan adalah komputer. Cikal bakal komputer telah ditemukan kurang lebih 5000 tahun yang lalu, dalam rupa sebuah mesin hitung sangat sederhana dan masih tradisional, Abacus. Yang kemudian terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Komputer modern sendiri mulai berkembang sejak era perang dunia I dan II. Namun kini ia telah menjelma menjadi sebuah mesin elektronik dengan kapasitas dan kemampuan yang luar biasa. Meskipun konsep kerjanya masih berkutat dengan logika 0 dan 1.

Perkembangan teknologi komputasi itu turut melahirkan generasi-generasi penerus perangkat teknologi komunikasi dan informasi. Hal itu tentu saja turut mempengaruhi dan merubah cara manusia berkomunikasi. Berkat kontribusi ARPA (Advanced Research Project Agency – Departemen Pertahanan Amerika Serikat), internet dapat ditemukan. Dan kini, internet merupakan salah satu sarana berkomunikasi dan bertukar informasi yang efektif dan efisien. Beragam fasilitas ditawarkan oleh internet, diantaranya; IRC (Internet Relay Chat; mIRC, x-chat, dsb), Instant Messaging (Yahoo! Messenger, Windows Live, dsb), E-Mail (Electronic Mail), WWW (World Wide Web), VoIP (Voice over Internet Protocol; Skype, dsb), dan lain sebagainya. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya platform Web 2.0 yang menurut saya agak mirip dengan konsep demokrasi; dari pengguna, oleh pengguna, dan untuk pengguna. Beragam platform Web 2.0 diantaranya; Blog, situs-situs social networking (Facebook, Multiply, Friendster, dsb), hingga platform micro-blogging (Plurk, Twitter, dsb). Selain itu telah banyak situs-situs konvensional yang kini mulai beralih ke platform Web 2.0.

Derasnya penetrasi internet di masyarakat, tak pelak lagi turut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tersebut. Khususnya cara mereka berkomunikasi antara satu sama lain. Marshall McLuhan dalam karyanya “The Medium is the Message” mengklaim bahwa:

“suatu alat (atau suatu proses teknologi) modern – elektronik – memberikan bentuk baru dan merestrukturisasi skema ketergantungan sosial layaknya setiap aspek kehidupan pribadi kita… Kehidupan sosial lebih bergantung pada sifat dasar alat tersebut, yang menyebabkan orang-orang saling bertentangan antara satu sama lain, daripada terhadap konteks komunikasi itu sendiri. Kurangnya pengetahuan apa dan bagaimana komunikasi itu akan menyebabkan seseorang kurang memahami perubahan sosial dan budaya.”

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengurai garis besar mengenai fenomena internet secara psikologis dan sosiologis terhadap kehidupan manusia modern.

More »

Tags: , , , , , ,

Rekayasa Sosial yang Gagal

November 21st, 2008 | 7 Comments | Posted in Communication, Curhatan, Nganar, Social Politics

Forewords

Rekayasa sosial atau yang populer disebut sebagai social engineering adalah:

The art of manipulating people into performing actions or divulging confidential information. While similar to a confidence trick or simple fraud, the term typically applies to trickery for information gathering or computer system access and in most cases the attacker never comes face-to-face with the victim [http://en.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_(security), diakses tanggal 21 November 2008].

Yang bila diIndonesiakan kira-kira artinya:

Seni memanipulasi orang lain untuk melakukan suatu aksi atau membocorkan informasi yang bersifat rahasia. Hampir mirip dengan trik kepercayaan atau penipuan yang sederhana, terminologi ini digunakan untuk menipu daya demi menggali informasi atau sistem akses komputer dan kebanyakan kasusnya, penyerang tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan korbannya.

More »

Tags: , , ,

Jemari-mu harimau-mu

June 22nd, 2008 | 2 Comments | Posted in Communication, Curhatan

Istilah “mulut-mu harimau-mu” mungkin sudah terlalu sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam posting ini, saya angkat judul “jemari-mu harimau-mu”, mengapa? Lets begin…

Seiring perkembangan teknologi, pola dan cara manusia berkomunikasi pun turut berubah. Perlahan komunikasi menggunakan tulisan mulai diadaptasi dengan berbagai alasan, diantaranya: singkat, padat, dan jelas (mungkin juga: murah :P). Bila sebelumnya komunikasi menggunakan media tulisan hanya bisa dilakukan melalui surat menyurat, yang notabene memakan waktu yang lebih lama. Namun kini, dunia internet dan seluler telah memprakarsai dan mengubah paradigma penggunaan komunikasi langsung-tulisan tersebut yang lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat dari beberapa layanan yang ditawarkan oleh dua teknologi itu antara lain: Short Messaging Services (SMS), Electronic Mail (E-mail), Internet Relay Chat (IRC), dari zaman bulletin board hingga era GMail. Tidak ketinggalan, fax.

Banyak keuntungan dan kelemahan dari komunikasi tertulis ini. Diantara keuntungannya yakni seperti yang telah saya sebutkan diatas: singkat, padat, jelas, dan murah. Namun dibalik itu ada pula hal yang dapat menjadi keuntungan sekaligus kelemahannya yakni: komunikator dan komunikan tidak bertatap muka secara langsung. Keuntungannya mungkin akan sangat terasa bagi orang-orang yang sering merasa canggung dalam komunikasi langsung (tatap muka), disisi lain, karena hanya melalui baris-baris teks, tentu saja tidak tahu bagaimana keadaan dan perasaan sebenarnya antara si komunikator dan komunikan. Disinilah sering terjadi kesalahan persepsi yang pada ujungnya dapat memicu konflik.

Dalam dunia internet ada semacam aturan dan kesepakatan bersama yang dikenal dengan istilah netiquette (net etiquette/etika internet). Sedikit saya ungkit aja deh, nettiquette itu antara lain diharapkan tidak menggunakan huruf kapital semua, ukuran font yang oversized, tanda seru, ataupun menggunakan warna membara (merah) pada font-nya. Karena dianggap kasar. Namun, lagi-lagi ini tergantung dari cara dan pola pandang masing-masing individu. Untuk lebih jelasnya silakan digugel sendiri :P

Di kalangan ilmu komunikasi terkenal proposisi “words don’t mean, people mean” yang artinya kira-kira “kata-kata tidak memiliki makna maupun arti apapun, melainkan manusia-lah yang memberikannya makna dan arti. Misal: bunyi “wi” berarti “kita” menurut orang Inggris, “siapa” menurut Belanda, “bagaimana” menurut Jerman, “duhai” menurut Arab, atau hanya panggilan sayang bagi gadis Sunda yang bernama Wiwi (Rakhmat, 2001: 27).

Begitu pula dengan netiquette tadi, bagi sebagian orang ia dianggap begitu sakral, namun bagi sebagian yang lain, “toh itu cuma sederetan huruf-huruf saja kok!” atau “warna merah kan menarik”, dsb. Tidak ada siapa yang benar ataupun siapa yang salah dalam konteks ini, toh persepsi tiap orang berbeda-beda namun hendaknya disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tempat dimana ia berada (misal: milis). Tiap milis tentulah memiliki seperangkat aturan tersendiri. Ada milis yang santai, ada pula milis yang serius. Aturan-aturan ataupun budaya-budaya yang telah tumbuh dan berkembang didalam milis tersebut hendaklah kita hargai. Toh, milis juga merupakan sarana berinteraksi dan mengaktualisasikan diri dalam lingkungan sosial, bukan? Khususnya bagi manusia modern. Yaa, walaupun hanya melalui baris-baris teks doank.

Lewat baris-baris teks pun manusia dapat bersengketa (hhh…)

Setujukah anda dengan kalimat diatas? Kalo saya sih setuju sekali. Hal ini juga yang terjadi ‘di suatu tempat saya bernaung’. Sengketa terjadi hanya karena baris-baris teks! Tidak salah memang, karena seperti yang telah saya ungkapkan diatas, ‘words don’t mean, people mean’. Semuanya kembali kepada cara dan pola pandang individu yang bersangkutan. Bisa saja menurut si A, kata-katanya (atau lebih tepatnya tulisan) itu hanya sekedar joke belaka, namun menurut si B, kata-katanya itu adalah ejekan keras. Si A dan si B ini terus menerus berdebat, mempertahankan ‘kehormatannya’, sama-sama tidak mau mengalah. Okelah, mungkin kalo saya terlibat didalamnya, saya pun mungkin akan bersikap sama. Watak keras kepala saya mungkin akan muncul kembali (atau dengan sengaja saya munculkan :P).

Seperti biasa, tiba-tiba stuck nie, jadi tulisan ini saya sudahi sampai disini saja. Mohon maaf bila tulisannya ngambang, mohon maaf bila ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati, mohon maaf pula bila ada kesamaan kejadian di dunia nyata. Semuanya hanya faktor kebetulan belaka :P

Indonesia dulu, sekarang, dan di masa depan (Part II)

May 31st, 2008 | 1 Comment | Posted in Communication, Social Politics

Teriakan rakyat VS rezim buta tuli

Beberapa kali saya dengan ungkapan, “buat apa berdemo! toh harga BBM tidak akan turun!”. Secara tidak langsung ungkapan itu menyiratkan kebutaan dan ketulian pemerintah akan penderitaan rakyatnya. Mereka sudah tidak peduli lagi. Demokrasi sudah tidak dijunjung lagi. Komunikasi politik tidak lagi berjalan dengan sebagaimana mestinya sebab faktor yang dibutuhkan demi efektifnya suatu proses komunikasi sudah tidak ada lagi.

Rakyat dan mahasiswa yang berdemo kita asumsikan sebagai komunikator, dalam konteks ini, mengkomunikasikan aspirasi rakyat kepada komunikan, pemerintah. Komunikasi antara komunikator dan komunikan ini sudah tidak lagi berjalan efektif. Mengapa? Karena komunikan sudah buta dan tuli! Tidak mampu lagi melihat, mendengar, bahkan merasakan apa yang dikatakan komunikator! Komunikator ngoceh sendiri, sampai jerit-jerit malah, namun komunikan cuek bebek.

Anarchy in Indonesia

Sex Pistols menciptakan lagu Anarcy in The UK bukan tanpa alasan. Nah, bagaimana kalau The UK itu diganti dengan Indonesia? Menjadi Anarchy in Indonesia (Anarki di Indonesia)?

Demonstrasi yang anarkis bukanlah cara yang baik dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Anarkisme disertai dengan perusakan fasilitas umum dan kerusuhan tentulah akan membuat negara ini tidak sedap dipandang oleh negara lain. Akibatnya apa? Secara tidak langsung ya investasi asing dan pariwisata Indonesia akan berkurang.

Pemeran utama dalam demonstrasi yang brutal ini adalah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’. Mengapa? Sungguh aneh bila yang melakukannya adalah mahasiswa yang boleh dikatakan agent of change ataupun elit pemuda yang berpendidikan tinggi serta berwawasan luas dan polisi yang katanya adalah pengayom masyarakat.

Pengejaran, pelemparan batu, pemukulan, penembakan, hingga berbagai tindak kekerasan lainnya dilakukan oleh kedua oknum ini. Miris memang melihatnya. Bukankah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’ merupakan segelintir kalangan yang merasakan dampak dari kenaikan harga BBM itu?

Fungsi agenda setting media, “demonstrasi brutal lebih menarik”

Media massa, sebagai corong paling efektif dalam menyebarluaskan pesan kepada masyarakat memiliki fungsi istimewa, yakni fungsi agenda setting.

Fungsi agenda setting adalah fungsi yang dimiliki oleh media massa dalam memilah dan memilih informasi mana yang dianggap penting dan informasi mana yang dianggap kurang penting. Pemilihan dan penekanan informasi penting ala media ini turut mempengaruhi persepsi khalayak mengenai informasi tersebut.

Demonstrasi yang brutal/anarkis, itulah yang lebih sering diangkat oleh media-media massa di republik ini sejak pra hingga pasca kenaikan harga BBM. Sedangkan demonstrasi yang berjalan damai dan simpatik justru dianggap tidak menarik. Pemilihan sudut pandang oleh media seperti ini secara tidak langsung turut mempengaruhi persepsi masyarakat mengenai demonstrasi kenaikan BBM yang notabene dilakukan oleh mahasiswa. Masyarakat menilai bahwa tidak sepantasnya mahasiswa melakukan aksi/demonstrasi tersebut. Tugas mahasiswa adalah hanya belajar, belajar, dan belajar. Mengenai isu-isu sosial politik yang tengah hangat, biarkan saja! Tidak usah diacuhkan! Konsentrasi saja pada kuliah kalian! Itulah sedikit makna yang saya tangkap melalui pembicaraan dengan beberapa orang yang tidak sependapat dengan aksi para mahasiswa itu. Benar-benar aneh. Masih bisakah anda diam disaat anda tahu rumah anda sedang dibakar orang?

Tugu Rakyat sebagai solusi

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), telah mencanangkan Tujuh Gugatan Rakyat atau Tugu Rakyat. Tugu Rakyat itu sendiri merupakan tuntutan mahasiswa terhadap pemerintah yang berisikan:

1. Nasionalisasi aset-aset strategis bangsa
2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat
3. Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya
4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi
5. Jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat
6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan
7. Selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo Brantas

Mari kita cermati setiap tuntutan di Tugu Rakyat itu, bukankah jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan memberikan BLT? Wallahualam.

Indonesia di masa depan

Masih ingat sajak yang dibawakan Dedi Mizwar menyambut 100 tahun kebangkitan nasional beberapa waktu lalu?

Bangkit itu susah
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang

Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu mencuri
Mencari perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku

Memang, sajak diatas tampak seperti hanya onggokan huruf-huruf yang merangkai kalimat. Namun makna dibaliknya sungguh tajam dan mengena.

Untuk bangkit dan berubah memang terkadang susah. Membutuhkan tekad dan semangat yang konsisten dan berkesinambungan. Membutuhkan kemauan dan dukungan dari seluruh elemen, tidak hanya cukup oleh segelintir kecil orang yang peduli pada perubahan saja.

Jangan hanya bicara tentang bangkit dan berubah sebelum kita dapat bangkit dan merubah diri kita sendiri, sebelum kita mengerti dan paham makna bangkit dan berubah itu.

Mari kita mulai dari diri sendiri, bertekad untuk bangkit dan berubah demi perubahan besar pada bangsa ini. Jangan kita hanya bisa berkoar-koar saja, seharusnya negara ini begini, atau seharusnya negara itu begitu. Stop NATO (No Action Talk Only).

Saya yakin bila kita mampu bangkit dan berubah, Indonesia di masa depan akan secerah harapan para pendiri pondasi bangsa ini yang telah rela berkorban apapun yang mereka miliki demi berdirinya nama besar Indonesia dihadapan dunia.

Indonesia dulu, sekarang, dan di masa depan (Part I)

May 31st, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Social Politics

Indonesia dulu dan sekarang, apa bedanya? Tentu saja banyak berbeda. Ya, walaupun saya belum terlahir pada masa-masa perjuangan dan perang kemerdekaan dulu. Namun sedikit banyak saya tahu bagaimana keadaan bangsa ini dahulu kala, melalui sejarah tentunya.

Indonesia dulu

Yang menjadi perhatian utama rakyat dan pemerintah dulu sebelum kemerdekaan adalah bagaimana mempersatukan seluruh gerakan perjuangan dan wilayah Indonesia ini kedalam satu kesatuan negara dan ideologi yang sama serta sepaham. Mulailah kaum pemuda bersatu pada membentuk satu sumpah melalui apa yang dinamakan dengan sumpah pemuda.

Setelah Indonesia bersatu dan merdeka, bangsa ini masih harus menghadapi tantangan serta cobaan lain mulai dari G 30 S-PKI, dan lain lain hingga sampai kepada era orde baru dibawah tampuk kepemimpinan rezim Soeharto selama kurang lebih 32 tahun.

Pada 1998, seluruh elemen rakyat dan mahasiswa bersatu padu menggoyahkan dan meruntuhkan kekuasaan tangan-tangan besi di gedung rakyat dan mulai menggulirkan bola salju bernama reformasi.

Satu persatu pemimpin silih berganti menakhodai negara ini dengan keberhasilan-keberhasilannya yang dipuji dan juga kegagalan-kegagalannya yang dicaci maki.

Sekarang telah memasuki tahun keempat kepemimpinan presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab dikenal dengan nama inisialnya, SBY bersama dengan wakilnya, Jusuf Kalla (JK).

Indonesia sekarang

Ada apa dengan Indonesia sekarang? Anda mungkin sudah lebih tahu daripada saya. Indonesia sekarang tengah tertatih berjalan ditengah derasnya terpaan ujian dan badai globalisasi. Mulai dari krisis ekonomi, korupsi yang mendarah daging, kemiskinan yang semakin mengendemik, dan lain-lain. Baru saja, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang boleh dibilang hebat. Apa itu? Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Kenaikan harga BBM

Kenaikan harga BBM didalam negeri dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang sempat mencapai 130 US Dollar lebih per-barelnya.

Dilema, ya itulah yang kini dirasakan oleh pemerintah kita. Disatu sisi, bila harga BBM tidak segera dinaikkan, maka APBN akan semakin carut marut akibat pemberian subsidi BBM yang konon katanya hanya dinikmati oleh sekitar 40% orang kaya di negeri ini. Sedangkan bila BBM dinaikkan tentulah akan turut berdampak pada harga-harga baik pangan, sandang, maupun papan. Sebuah kemusykilan bila harga-harga itu tidak turut naik ketika harga BBM melambung. Kenapa? Bayangkan sendiri, distribusi bahan-bahan pangan, sandang, dan papan itu menggunakan jasa apa? Transportasi bukan? Dan alat-alat transportasi itu membutuhkan apa agar bisa beroperasi, bahan bakar alias BBM!

Satu lagi yang membingungkan, pernyataan pemerintah bahwa sekitar 40% BBM yang disubsidi itu hanya dinikmati oleh orang-orang kaya. Loh? Memangnya batas jelas antara kaya dan miskin itu seperti apa? Standar agar seseorang bisa dikatakan kaya atau miskin itu bagaimana? Lah, wong standar kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) saja berbeda dengan standar dunia. Standar kemiskinan menurut World Bank adalah mereka yang berpenghasilan dibawah $1 (yang kemudian dikoreksi menjadi $2) per-kapita per-hari, bagaimana dengan standar kemiskinan yang dianut oleh BPS? Seseorang dikatakan miskin bila berpenghasilan sekitar Rp.1.600 per-kapita per-hari, yang jika dikalikan 30 maka hasilnya adalah sekitar Rp.40.000 per-bulan. Dan standar seseorang bisa dikatakan kaya itu bagaimana? Apakah yang penghasilannya diatas satu juta per-bulan atau minimal sama dengan Upah Minimum Regional (UMR)? Orang kaya maupun orang miskin yang memiliki status kewarganegaraan Indonesia (WNI) termasuk kedalam rakyat Indonesia juga, bukan? Dan rakyat haruslah diayomi oleh pemerintah tanpa memandang status sosial ekonominya.

Dalam UUD 45 saja telah menegaskan bahwa kekayaan alam akan digunakan demi sebaik-baiknya kepentingan rakyat, kalau bisa gratis. Lah, kalo begini keadaannya? Dengan menaikkan harga BBM semaunya saja? Bagaimana?

Memang, negara kita mengimpor BBM namun kita juga produksi. Bukankah Indonesia juga anggota OPEC, asosiasi negara penghasil minyak dunia? Lalu, mengapa disaat harga minyak naik, harga dalam negeri pun ikut-ikutan naik? Bukankah kita juga sepatutnya mendapatkan untung dari minyak yang kita produksi dan jual itu?

Kilah pemerintah, “APBN harus diselamatkan”

Apa pula ini? Memang benar, APBN harus diselamatkan! Tapi bagaimana caranya? Apakah harus mengorbankan kesejahteraan rakyat yang justru banyak diantaranya belum sejahtera?

Bantuan Langsung Tunai? Solusikah?

Ya, inilah salah satu program bijak pemerintah. Memanjakan rakyat miskin dengan memberikan uang Rp.100.000 per-orang per-bulan, dan harga BBM mereka naikkan. Bahkan pemerintah juga sempat mengeluarkan pernyataan yang menurut saya tidak logis, “bila mahasiswa/masyarakat menolak kenaikan harga BBM, hal itu juga berarti akan mengurangi rezeki rakyat miskin!”. Menyesatkan! Coba dipikirkan dengan seksama makna dibalik pernyataan itu.

Okelah, mungkin dana BLT ini bagi sebagian orang memang bermanfaat. Namun, sejauh mana manfaatnya itu? Berapa hari uang itu akan dapat digunakan? Dan lagi-lagi penyalurannya masih harus dipantau dan diawasi dengan seksama. Sebab, beberapa kali saya lihat di TV ataupun koran, banyak rakyat miskin yang protes karena namanya tidak tercatat sebagai nominator penerima BLT. Sedangkan orang-orang yang tidak berhak justru mengipas-ngipaskan uang Rp.100.000 itu demi kepentingannya sendiri.

Kalau mau dihitung-hitung, berapa sebenarnya dana yang dialokasikan dan yang sebenarnya dibutuhkan pemerintah untuk menyukseskan program BLT ini? Berapa jumlah rakyat miskin di Indonesia? Kalikan saja dengan Rp.100.000. Berapapun hasilnya, itu adalah jumlah yang harus dikeluarkan pemerintah dalam satu bulan. Berapa lama program BLT ini akan dilaksanakan? Wallahualam!

Bersambung…

Lirik lagu = doa/takdir/karma?

April 30th, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Curhatan, Music, Social Politics

“Lagu, bisa menjadi doa atau bahkan karma bagi penyanyinya.”

Ya, itulah quote yang saya dengar ketika secara tidak sengaja menonton Silet kemarin siang (29/4/2008). Tidak hanya mengumbar quote murahan tersebut, si pembawa acara atau yang dalam bahasa kerennya host, turut memberikan contoh ‘real’ seperti misalnya Kristina dengan lagu jatuh bangun-nya dan Nia Daniati dengan lagu-lagunya yang kebanyakan bercerita tentang penderitaan cinta.

Pendapat saya? Hueeekkksss… Bener-bener jijik dan ingin muntah rasanya ketika melihat daya upaya serta tipu muslihat para pembuat acara gosip ini guna mempercantik acaranya dan menyedot perhatian pemirsa setianya. Bila Shakespeare berani berkata, “apalah arti sebuah nama”, maka saya pun berani berkata, “apalah arti sebuah lirik lagu?”. Eits, lagi, saya tegaskan, ini bukanlah bentuk arogansi saya loh melainkan hanyalah sebuah kritik bagi para gossip TV program makers tersebut. Ya, apalah arti sebuah lirik lagu? Apakah garis takdir atau bahkan karma tergores jelas layaknya goresan-goresan pensil diatas secarik kertas? Kalau iya, saya mah ga usah kerja keras lagi. Cukup ciptakan sebuah lagu indah dengan lirik yang juga bertemakan keindahan (dan bahkan kesejahteraan duniawi) bagi saya dan orang-orang yang saya cintai, maka dengan begitu garis takdir yang baik pun seketika tercipta seiring dengan seringnya saya menyanyikan lagu saya tadi.

Wahai manusia, takdir itu hanyalah kuasa-Nya. Tidak ada manusia yang mampu menebak atau bahkan meramalkan takdir-Nya. Apalah daya upaya Mama Lauren, Deddy Corbuzier, peramal bertopeng, dan lain sebagainya. Semua itu hanyalah tipu muslihat dan hanya mengantarkan ke jalan yang sesat. *Loh?! OOT yak? :P*

Lirik lagu, menurut pandangan saya *dan mungkin pandangan banyak orang*, hanyalah sebagai wadah pengungkapan perasaan penciptanya yang banyak diinspirasi oleh lingkungan sekitarnya. Misal, keadaan sosial politik, cinta, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Bisa kita ambil contoh lirik-lirik lagunya Kang Iwan Fals, yang banyak bertemakan kritik sosial, Megadeth, yang banyak berkoar mengenai dunia politik, atau Iron Maiden, dengan inspirasinya seputar kisah-kisah epic seperti Eragon, Yunani Kuno, dsb.

Saya pun seringkali mencurahkan apa yang saya rasakan dalam bait-bait lirik lagu ciptaan saya sendiri *yang jeleknya minta ampun :P*. Beberapa lirik tersebut saya angkat dari puisi-puisi saya *yang juga aneh – kalau tidak mau dikatakan norak dan jelek :P*. Misalnya, Step out of my way, down! yang berkisah tentang kehilangan semangat, dan beberapa lainnya.

Jujur, saya termasuk salah seorang yang kurang respek terhadap hal-hal seputar ramal-meramal dan baca-membaca takdir. Apalagi bila takdir itu dikaitkan dengan lirik lagu! Dan saya juga merupakan tipe orang yang sangat tidak menyukai acara gosip dan atau infotainment, sebab menurut saya mereka kadangkala melebih-lebihkan segala sesuatunya. Kapankah acara-acara gosip musnah dari dunia pertelevisian Indonesia? *berharap yang ga jelas dan ga pasti :P*

Model Jarum Hipodermik VS Model Uses and Gratification

March 10th, 2008 | 2 Comments | Posted in Communication

Dalam Kick Andy episode “Gambar Buram Layar Kaca Kita” (Minggu, 9/3), mengangkat topik mengenai tayangan boneka yang pernah populer pada beberapa tahun yang lalu, diantaranya “Si Unyil”, “Si Komo”, “Boneka Tongki”, dan “Susan”. Dulu, tayangan-tayangan tersebut boleh dikatakan populer pada zamannya. Tidak hanya itu, “cap” sebagai tayangan yang mendidik pun turut melekat pada mereka.

Episode ini lahir karena keprihatinan para praktisi dan orang tua akan tayangan-tayangan televisi yang semakin “tidak mendidik”, penuh dengan kekerasan, dan bahkan unsur-unsur seks. Sekali lagi, televisi disalahkan.

Disini, saya bukan mau membela televisi, melainkan hanya menuangkan pendapat saya terhadap ‘kasus’ dualisme televisi ini (yang pada satu sisi dipandang positif dan pada sisi lainnya dipandang negatif).

Memang benar, dunia pertelevisian Indonesia akhir-akhir ini diramaikan oleh tayangan-tayangan yang bisa dibilang jauh dari penyampaian pesan dan nilai yang mendidik. Secara garis besar, ada 3 tipe tayangan yang menurut saya laris manis, yakni: Infotaiment, Sinetron, dan Reality Show (termasuk didalamnya acara-acara yang berkonsepkan ‘Idolisme’).

Mengapa tidak mendidik?

Boleh saya balik bertanya? Pendidikan (atau nilai dan pesan positif) apa yang ditawarkan oleh Infotainment, Sinetron, dan Reality Show? Dari balik kacamata saya, tayangan-tayangan tersebut tidak lebih hanya mengumbar mimpi-mimpi kosong. Menyebarkan harum semerbaknya dunia selebriti yang bergelimang keindahan dunia.

Unsur-unsur kekerasan yang dibalut dengan kelezatan bumbu heroik dengan mudah dapat kita temukan di banyak tayangan anak-anak. Misalnya: Power Rangers.

Model Jarum Hipodermik

Model ini mengasumsikan bahwa khalayak bersifat pasif. Dapat dengan mudah diterpa dan dipengaruhi oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator (dalam hal ini: tayangan televisi).

Dalam kasus unsur kekerasan pada tayangan-tayangan yang ditujukan untuk anak-anak, dapat dikatakan model ini berperan besar. Sebab, anak-anak akan lebih mudah terpengaruh atas apa yang mereka lihat dan tonton.

Namun, dalam kasus penonton dewasa, efektivitas model ini dapat diragukan. Mengapa? Sebab dari segi pola pikir, penonton dewasa lebih matang dan lebih dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Walaupun tidak menutup kemungkinan penonton dewasa pun akan turut terimbas dampak tayangan-tayangan tersebut, meski sedikit.

Model Uses and Gratification

Model ini menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak (Uchjana, 1993: 289-290).

Khalayak/penonton dianggap aktif dalam menentukan tayangan mana yang mereka kira akan dapat memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan.

Sebanyak apapun tayangan yang tidak mendidik, apabila khalayak menganggapnya tidak penting dan tidak akan memberikan ‘keuntungan’ bagi mereka, tidaklah berpengaruh negatif.

Apakah model ini berpengaruh pada anak-anak. Bisa ya, bisa juga tidak. Bila merujuk pada kebiasaan saya menonton televisi ketika kecil dulu, saya hanya akan menonton tayangan yang menurut saya bagus dan memberikan kepuasan bagi saya. Misal, tayangan Doraemon, Ksatria Baja Hitam, dan beberapa lainnya. Dulu, saya tidak menyukai tayangan seperti Sailor Moon karena saya anggap tidak menarik. Dari contoh ini, dapat dilihat bahwa sedari kecil kita sudah dapat memilih tayangan apa yang menurut kita menarik dan tayangan apa yang menurut kita tidak menarik. Memang, lingkungan juga berperan dalam membentuk pola pandang ini. Teman sepergaulan misalnya, bila sebelumnya kita mendoktrin bahwa tayangan ‘A’ tidak menarik tetapi menurut teman-teman kita justru sebaliknya, tayangan ‘A’ adalah sangat menarik. Persepsi kita pun dapat berubah, walaupun perlahan.

Bila orang tua mampu membimbing dan mengarahkan anak-anaknya dalam memilih tayangan mana saja yang menarik dan mendidik tentulah persepsi dan cara pandang anak terhadap tayangan televisi akan menjadi lebih baik.

Oknum yang tidak bertanggung jawab

Tidak dapat dipungkiri, pemroduksian tayangan-tayangan tertentu, yang memuat nilai-nilai negatif, berdiri dibelakangnya orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memiliki tujuan-tujuan khusus, misal merusak generasi muda.

Kasus yang sempat heboh belakangan adalah DVD film anak-anak yang disisipi adegan tak senonoh.

Jelas sekali ada semacam pergerakan bawah tanah yang terstruktur demi merusak generasi muda bangsa ini?

Lantas, siapa yang salah?

Bila ditanya demikian, saya serahkan pertanyaan ini kepada anda. Anda dapat menyalahkan televisi dan orang-orang yang berada dibelakangnya (stasiun televisi, rumah produksi, advertising agency, dll), yang terus menerus memproduksi dan menyajikan tayangan-tayangan yang dianggap tidak mendidik. Anda dapat pula menyalahkan diri anda sendiri yang telah dengan sukarela dibuai dan dimanjakan oleh televisi dan tayangan-tayangannya.

Belakangan, santer orang-orang yang menggembar-gemborkan gerakan untuk mematikan televisi dengan alasan yang telah saya sebut sebelumnya. Itu kembali lagi kepada anda, kepada bagaimana pola penggunaan media televisi oleh anda. So? It’s up to you as the consumer of the massive generation of audio-visual called Television.

[9 Maret 2008]

Antara kulit putih dan cinta sejati (?!)

January 15th, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Curhatan, Social Politics

Akhir-akhir ini semakin sering kita melihat iklan-iklan produk pemutih kulit dan wajah, terutama di televisi. Dan anehnya, inti pesan yang ingin disampaikan dalam iklan-iklan itu cenderung sama yaitu “bila memiliki kulit putih maka akan semakin mudah mendapatkan cinta”, baik secara tersurat maupun tersirat. Ada satu iklan yang saya lihat akhir-akhir ini yang membuat saya geli, kalau tidak salah sang wanita mengatakan “seminggu yang lalu saya jomblo loh!”, lalu ditampilkan adegan saat ia sedang chatting, dan di layar laptopnya tiba-tiba terpampang jendela-jendela yang menyatakan banyak ‘orang/lelaki’ yang ingin chatting dengannya, dan pada akhirnya ia bilang “duh, jadi bingung nih (yang secara tersirat menurut saya, ia bingung untuk memutuskan dengan lelaki mana ia akan chatting atau bahkan menjalin hubungan).

Janji-janji yang ditawarkan oleh produsen-produsen produk pemutih kulit tersebut, melalui iklan-iklannya sungguh hebat dan memukau bahkan terkadang terdengar tidak masuk akal dan terlalu dilebih-lebihkan, “dapatkan kulit putih dan mempesona hanya dalam tujuh hari”, bahkan kurang!!! Atau “dapatkan kembali cintamu hanya dalam tujuh hari”, dll. Entah apakah janji-janji itu memang terbukti atau tidak.

Contoh iklan lainnya adalah produk-produk ‘anti aging’ atau bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti ‘anti penuaan’, ‘anti keriput’, dll. Pesan yang disampaikan disini pun tidak jauh berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh produk-produk pemutih kulit yang telah saya sebutkan sebelumnya, namun dengan sedikit ‘improvisasi’, yakni “bila kulit anda sudah tidak putih, tidak kencang (keriput), tidak bercahaya (kusam), dll, maka anda akan ditinggalkan oleh suami anda. Terdengar lucu bukan? Bukankah sebelum menikah dulu sepasang suami istri telah berjanji untuk sehidup semati, setia, dan menerima pasangannya dengan apa adanya? Apakah ikatan suci pernikahan itu dengan mudah dapat ‘digunting’ hanya karena masalah kulit? Aneh.

Ada dua hal yang mengusik pikiran saya, yang pertama adalah dari inti pesan tersebut. Memamg, wanita dengan kulit putih, halus, lembut, bercahaya, dan entah apa lagi istilahnya, terlihat lebih menawan. Tapi lantas apakah dengan ‘bermodalkan’ kulit putih saja ia akan dengan mudah mendapat apa yang ia inginkan? Cinta pria idaman misalnya. Apakah wanita dengan kulit yang ‘tidak putih’ akan sulit untuk ‘menemukan cintanya?’. Tampak adanya pembentukan sugesti diantara para wanita tentang ‘kelebihan-kelebihan’ bila memiliki kulit putih, yang ujung-ujungnya adalah mereka berbondong-bondong membeli dan memakai produk pemutih kulit tersebut.

Yang kedua adalah ketidaksamaan persepsi saya dengan inti pesan tersebut. Sebagai seorang pria, yang saya lihat dari seorang wanita tidak terbatas pada putih tidaknya kulitnya, cantik tidaknya ia, atau seksi tidaknya ‘body-nya’. Ada satu hal yang lebih penting dari kesemuanya itu menurut saya, yakni sikap dan tingkah lakunya. Setuju?!

Menanti revolusi dunia perfilman Indonesia

September 5th, 2007 | No Comments | Posted in Communication, Social Politics

Well, dunia perfilman negara tercinta kita ini dapat dikatakan telah mencapai titik jenuhnya, alias membosankan! ga’ kreatif! kampungan! norak! dan lain sebagainya. Mengapa gw bilang begitu? Anda tentu telah mengetahui jawabannya, yaitu: “KE-MONOTON-AN TEMA!”.

Emang, gw bukan seorang yang professional dalam bidang perfilman, gw nulis artikel ini semata-mata karena keprihatinan gw terhadap keterpurukan dunia perfilman kita.

Monoton! Apanya yang monoton? Ya itu tadi, TEMA! Mengapa monoton? Karena ga’ jauh-jauh dari yang namanya cinta dan setan. Cinta-cintaan versus setan-setanan. Lalu, siapa yang menang? Saat ini keduanya masih dalam kedudukan imbang, satu sama :P (hehehe…udah kayak tanding bola aja yah). Keduanya masih mendapat tempat di hati para penggemarnya yang notabene adalah kaum remaja. Disinilah letak ketidakkreatifannya! Coba hitung, film yang mengusung tema cinta ada berapa? Dan yang mengusung tema setan ada berapa? Kandidat dari ‘cinta’ antara lain: Eiffel I’m in Love, Love is Cinta, Kangen, Dealova, Merah Itu Cinta, Cinta Pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan dari kubu ’setan’ ada Pocong, Hantu Jeruk Purut, Lantai 13, Kuntilanak, Hantu, Jaelangkung, dan hampir semua jenis hantu/setan telah difilmkan.

Walaupun begitu, masih ada beberapa film yang mencoba untuk keluar dari kungkungan kedua kubu tersebut walaupun tidak 100%, antara lain: Jomblo!, Ada Apa dengan Cinta?, Realita Cinta dan Rock ‘n Roll, Janji Joni, Gie, Nagabonar Jadi 2, I Love You Om, dan beberapa lainnya yang mengusung tema yang lebih kreatif.

Gw juga pernah mengutarakan tentang hal ini kepada beberapa temen gw, trus kata mereka, “yang nguntungin mah emang kedua tema itu, kalo ngangkat tentang hal laen mungkin ga akan selaku dan selaris ini.” Gw lantas berpikir, “emang kedua tema ‘besar’ itu nguntungin bener yach?”. Tapi gw yakin kalo tema-tema kreatif lainnya yang dipadu dengan alur cerita dan penokohan yang apik serta akting yang baik, tentulah akan menghasilkan film yang berkualitas!

Beberapa pakar justru mengatakan kalau film-film Indonesia yang diproduksi akhir-akhir ini lebih condong ke arah ‘instan’ atau dengan kata lain ‘cepat saji’ yang pada akhirnya menurunkan kualitas film itu sendiri baik dari segi cerita, penokohan, akting, dll. Coba kita bandingkan, bagaimana kualitas film yang dihasilkan oleh cara ‘instan’ tersebut dengan film-film yang dihasilkan oleh studio-studio besar luar negeri seperti 20th Century Fox, Disney, dan Universal Pictures misalnya. Dari segi tema aja kita udah ‘ke-bantai’ sama mereka. Lihat saja contohnya kayak Spiderman, Titanic, Jaws, 300, Star Wars, dan film-film ‘box office’ lainnya.

Sebenarnya kita juga bisa membuat film ‘besar’ seperti mereka. Coba cari dan angkat tema serta ide cerita yang unik dan fresh serta menarik. Misalnya memfilmkan skenario “Aku” karya Sjuman Djaya yang mengisahkan tentang kehidupan penyair besar kita, Chairil Anwar. Dalam bukunya gw baca bahwa akan sulit untuk mewujudkan skenario tersebut kedalam bentuk visual (baca: film) dikarenakan beberapa alasan seperti: sulitnya menggambarkan kembali suasana kota Jakarta pada masa itu, susahnya menemukan mobil-mobil yang dipakai pada saat itu, hingga masalah dana. Tapi bila memang diniatkan, gw yakin skenario itu akan dapat difilmkan, apalagi bila didukung oleh semua pihak mulai dari pemerintah, sutradara-sutradara ternama yang berbakat, produser-produser yang berkantong tebal, tokoh politik, sejarawan, seniman, hingga masyarakat. Bila mereka (studio luar negeri) mampu, mengapa kita tidak? Iya sih, tapi mereka mah enak, punya duit banyak, studio besar dengan peralatan super canggih, dll. Ya, itu tadi! Kalau emang diniatkan pasti bisa! Kita bahkan bisa mengadakan kerjasama dengan mereka agar turut membantu dalam melahirkan sebuah karya sinema Indonesia yang revolusioner yang bisa dibanggakan kepada ‘dunia luar’.

Ayo! Insan perfilman Indonesia! Bangkit berdiri! Jangan cuma mengekor tren aja! Masih banyak tema lain yang bisa dieksplorasi! Ga cuma terbatas pada cinta dan setan! Kami sudah bosan dengan kedua tema bulukan tersebut!

Situs informasi jurnalistik

July 9th, 2007 | 2 Comments | Posted in Communication, Net


Everything you need to be a better journalist…

Buat yang tertarik sama dunia tulis menulis dan jurnalistik, situshttp://poynter.org/ mungkin bisa menjadi salah satu referensi. Disini kamu bisa nemuin segala sesuatu yang menyangkut dunia jurnalistik, mulai dari teknik wawancara, teknik penulisan, career center, foto jurnalistik dll.

Namun sayangnya, situs ini hanya memiliki pilihan bahasa inggris, no Indonesian version.