Browse > Home / Archive by category 'Communication'

| Subscribe via RSS

Lirik lagu = doa/takdir/karma?

April 30th, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Music, Personal, Social Politics

“Lagu, bisa menjadi doa atau bahkan karma bagi penyanyinya.”

Ya, itulah quote yang saya dengar ketika secara tidak sengaja menonton Silet kemarin siang (29/4/2008). Tidak hanya mengumbar quote murahan tersebut, si pembawa acara atau yang dalam bahasa kerennya host, turut memberikan contoh ‘real’ seperti misalnya Kristina dengan lagu jatuh bangun-nya dan Nia Daniati dengan lagu-lagunya yang kebanyakan bercerita tentang penderitaan cinta.

Pendapat saya? Hueeekkksss… Bener-bener jijik dan ingin muntah rasanya ketika melihat daya upaya serta tipu muslihat para pembuat acara gosip ini guna mempercantik acaranya dan menyedot perhatian pemirsa setianya. Bila Shakespeare berani berkata, “apalah arti sebuah nama”, maka saya pun berani berkata, “apalah arti sebuah lirik lagu?”. Eits, lagi, saya tegaskan, ini bukanlah bentuk arogansi saya loh melainkan hanyalah sebuah kritik bagi para gossip TV program makers tersebut. Ya, apalah arti sebuah lirik lagu? Apakah garis takdir atau bahkan karma tergores jelas layaknya goresan-goresan pensil diatas secarik kertas? Kalau iya, saya mah ga usah kerja keras lagi. Cukup ciptakan sebuah lagu indah dengan lirik yang juga bertemakan keindahan (dan bahkan kesejahteraan duniawi) bagi saya dan orang-orang yang saya cintai, maka dengan begitu garis takdir yang baik pun seketika tercipta seiring dengan seringnya saya menyanyikan lagu saya tadi.

Wahai manusia, takdir itu hanyalah kuasa-Nya. Tidak ada manusia yang mampu menebak atau bahkan meramalkan takdir-Nya. Apalah daya upaya Mama Lauren, Deddy Corbuzier, peramal bertopeng, dan lain sebagainya. Semua itu hanyalah tipu muslihat dan hanya mengantarkan ke jalan yang sesat. *Loh?! OOT yak? :P*

Lirik lagu, menurut pandangan saya *dan mungkin pandangan banyak orang*, hanyalah sebagai wadah pengungkapan perasaan penciptanya yang banyak diinspirasi oleh lingkungan sekitarnya. Misal, keadaan sosial politik, cinta, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Bisa kita ambil contoh lirik-lirik lagunya Kang Iwan Fals, yang banyak bertemakan kritik sosial, Megadeth, yang banyak berkoar mengenai dunia politik, atau Iron Maiden, dengan inspirasinya seputar kisah-kisah epic seperti Eragon, Yunani Kuno, dsb.

Saya pun seringkali mencurahkan apa yang saya rasakan dalam bait-bait lirik lagu ciptaan saya sendiri *yang jeleknya minta ampun :P*. Beberapa lirik tersebut saya angkat dari puisi-puisi saya *yang juga aneh – kalau tidak mau dikatakan norak dan jelek :P*. Misalnya, Step out of my way, down! yang berkisah tentang kehilangan semangat, dan beberapa lainnya.

Jujur, saya termasuk salah seorang yang kurang respek terhadap hal-hal seputar ramal-meramal dan baca-membaca takdir. Apalagi bila takdir itu dikaitkan dengan lirik lagu! Dan saya juga merupakan tipe orang yang sangat tidak menyukai acara gosip dan atau infotainment, sebab menurut saya mereka kadangkala melebih-lebihkan segala sesuatunya. Kapankah acara-acara gosip musnah dari dunia pertelevisian Indonesia? *berharap yang ga jelas dan ga pasti :P*

Model Jarum Hipodermik VS Model Uses and Gratification

March 10th, 2008 | 2 Comments | Posted in Communication

Dalam Kick Andy episode “Gambar Buram Layar Kaca Kita” (Minggu, 9/3), mengangkat topik mengenai tayangan boneka yang pernah populer pada beberapa tahun yang lalu, diantaranya “Si Unyil”, “Si Komo”, “Boneka Tongki”, dan “Susan”. Dulu, tayangan-tayangan tersebut boleh dikatakan populer pada zamannya. Tidak hanya itu, “cap” sebagai tayangan yang mendidik pun turut melekat pada mereka.

Episode ini lahir karena keprihatinan para praktisi dan orang tua akan tayangan-tayangan televisi yang semakin “tidak mendidik”, penuh dengan kekerasan, dan bahkan unsur-unsur seks. Sekali lagi, televisi disalahkan.

Disini, saya bukan mau membela televisi, melainkan hanya menuangkan pendapat saya terhadap ‘kasus’ dualisme televisi ini (yang pada satu sisi dipandang positif dan pada sisi lainnya dipandang negatif).

Memang benar, dunia pertelevisian Indonesia akhir-akhir ini diramaikan oleh tayangan-tayangan yang bisa dibilang jauh dari penyampaian pesan dan nilai yang mendidik. Secara garis besar, ada 3 tipe tayangan yang menurut saya laris manis, yakni: Infotaiment, Sinetron, dan Reality Show (termasuk didalamnya acara-acara yang berkonsepkan ‘Idolisme’).

Mengapa tidak mendidik?

Boleh saya balik bertanya? Pendidikan (atau nilai dan pesan positif) apa yang ditawarkan oleh Infotainment, Sinetron, dan Reality Show? Dari balik kacamata saya, tayangan-tayangan tersebut tidak lebih hanya mengumbar mimpi-mimpi kosong. Menyebarkan harum semerbaknya dunia selebriti yang bergelimang keindahan dunia.

Unsur-unsur kekerasan yang dibalut dengan kelezatan bumbu heroik dengan mudah dapat kita temukan di banyak tayangan anak-anak. Misalnya: Power Rangers.

Model Jarum Hipodermik

Model ini mengasumsikan bahwa khalayak bersifat pasif. Dapat dengan mudah diterpa dan dipengaruhi oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator (dalam hal ini: tayangan televisi).

Dalam kasus unsur kekerasan pada tayangan-tayangan yang ditujukan untuk anak-anak, dapat dikatakan model ini berperan besar. Sebab, anak-anak akan lebih mudah terpengaruh atas apa yang mereka lihat dan tonton.

Namun, dalam kasus penonton dewasa, efektivitas model ini dapat diragukan. Mengapa? Sebab dari segi pola pikir, penonton dewasa lebih matang dan lebih dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Walaupun tidak menutup kemungkinan penonton dewasa pun akan turut terimbas dampak tayangan-tayangan tersebut, meski sedikit.

Model Uses and Gratification

Model ini menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak (Uchjana, 1993: 289-290).

Khalayak/penonton dianggap aktif dalam menentukan tayangan mana yang mereka kira akan dapat memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan.

Sebanyak apapun tayangan yang tidak mendidik, apabila khalayak menganggapnya tidak penting dan tidak akan memberikan ‘keuntungan’ bagi mereka, tidaklah berpengaruh negatif.

Apakah model ini berpengaruh pada anak-anak. Bisa ya, bisa juga tidak. Bila merujuk pada kebiasaan saya menonton televisi ketika kecil dulu, saya hanya akan menonton tayangan yang menurut saya bagus dan memberikan kepuasan bagi saya. Misal, tayangan Doraemon, Ksatria Baja Hitam, dan beberapa lainnya. Dulu, saya tidak menyukai tayangan seperti Sailor Moon karena saya anggap tidak menarik. Dari contoh ini, dapat dilihat bahwa sedari kecil kita sudah dapat memilih tayangan apa yang menurut kita menarik dan tayangan apa yang menurut kita tidak menarik. Memang, lingkungan juga berperan dalam membentuk pola pandang ini. Teman sepergaulan misalnya, bila sebelumnya kita mendoktrin bahwa tayangan ‘A’ tidak menarik tetapi menurut teman-teman kita justru sebaliknya, tayangan ‘A’ adalah sangat menarik. Persepsi kita pun dapat berubah, walaupun perlahan.

Bila orang tua mampu membimbing dan mengarahkan anak-anaknya dalam memilih tayangan mana saja yang menarik dan mendidik tentulah persepsi dan cara pandang anak terhadap tayangan televisi akan menjadi lebih baik.

Oknum yang tidak bertanggung jawab

Tidak dapat dipungkiri, pemroduksian tayangan-tayangan tertentu, yang memuat nilai-nilai negatif, berdiri dibelakangnya orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memiliki tujuan-tujuan khusus, misal merusak generasi muda.

Kasus yang sempat heboh belakangan adalah DVD film anak-anak yang disisipi adegan tak senonoh.

Jelas sekali ada semacam pergerakan bawah tanah yang terstruktur demi merusak generasi muda bangsa ini?

Lantas, siapa yang salah?

Bila ditanya demikian, saya serahkan pertanyaan ini kepada anda. Anda dapat menyalahkan televisi dan orang-orang yang berada dibelakangnya (stasiun televisi, rumah produksi, advertising agency, dll), yang terus menerus memproduksi dan menyajikan tayangan-tayangan yang dianggap tidak mendidik. Anda dapat pula menyalahkan diri anda sendiri yang telah dengan sukarela dibuai dan dimanjakan oleh televisi dan tayangan-tayangannya.

Belakangan, santer orang-orang yang menggembar-gemborkan gerakan untuk mematikan televisi dengan alasan yang telah saya sebut sebelumnya. Itu kembali lagi kepada anda, kepada bagaimana pola penggunaan media televisi oleh anda. So? It’s up to you as the consumer of the massive generation of audio-visual called Television.

[9 Maret 2008]

Antara kulit putih dan cinta sejati (?!)

January 15th, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Personal, Social Politics

Akhir-akhir ini semakin sering kita melihat iklan-iklan produk pemutih kulit dan wajah, terutama di televisi. Dan anehnya, inti pesan yang ingin disampaikan dalam iklan-iklan itu cenderung sama yaitu “bila memiliki kulit putih maka akan semakin mudah mendapatkan cinta”, baik secara tersurat maupun tersirat. Ada satu iklan yang saya lihat akhir-akhir ini yang membuat saya geli, kalau tidak salah sang wanita mengatakan “seminggu yang lalu saya jomblo loh!”, lalu ditampilkan adegan saat ia sedang chatting, dan di layar laptopnya tiba-tiba terpampang jendela-jendela yang menyatakan banyak ‘orang/lelaki’ yang ingin chatting dengannya, dan pada akhirnya ia bilang “duh, jadi bingung nih (yang secara tersirat menurut saya, ia bingung untuk memutuskan dengan lelaki mana ia akan chatting atau bahkan menjalin hubungan).

Janji-janji yang ditawarkan oleh produsen-produsen produk pemutih kulit tersebut, melalui iklan-iklannya sungguh hebat dan memukau bahkan terkadang terdengar tidak masuk akal dan terlalu dilebih-lebihkan, “dapatkan kulit putih dan mempesona hanya dalam tujuh hari”, bahkan kurang!!! Atau “dapatkan kembali cintamu hanya dalam tujuh hari”, dll. Entah apakah janji-janji itu memang terbukti atau tidak.

Contoh iklan lainnya adalah produk-produk ‘anti aging’ atau bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti ‘anti penuaan’, ‘anti keriput’, dll. Pesan yang disampaikan disini pun tidak jauh berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh produk-produk pemutih kulit yang telah saya sebutkan sebelumnya, namun dengan sedikit ‘improvisasi’, yakni “bila kulit anda sudah tidak putih, tidak kencang (keriput), tidak bercahaya (kusam), dll, maka anda akan ditinggalkan oleh suami anda. Terdengar lucu bukan? Bukankah sebelum menikah dulu sepasang suami istri telah berjanji untuk sehidup semati, setia, dan menerima pasangannya dengan apa adanya? Apakah ikatan suci pernikahan itu dengan mudah dapat ‘digunting’ hanya karena masalah kulit? Aneh.

Ada dua hal yang mengusik pikiran saya, yang pertama adalah dari inti pesan tersebut. Memamg, wanita dengan kulit putih, halus, lembut, bercahaya, dan entah apa lagi istilahnya, terlihat lebih menawan. Tapi lantas apakah dengan ‘bermodalkan’ kulit putih saja ia akan dengan mudah mendapat apa yang ia inginkan? Cinta pria idaman misalnya. Apakah wanita dengan kulit yang ‘tidak putih’ akan sulit untuk ‘menemukan cintanya?’. Tampak adanya pembentukan sugesti diantara para wanita tentang ‘kelebihan-kelebihan’ bila memiliki kulit putih, yang ujung-ujungnya adalah mereka berbondong-bondong membeli dan memakai produk pemutih kulit tersebut.

Yang kedua adalah ketidaksamaan persepsi saya dengan inti pesan tersebut. Sebagai seorang pria, yang saya lihat dari seorang wanita tidak terbatas pada putih tidaknya kulitnya, cantik tidaknya ia, atau seksi tidaknya ‘body-nya’. Ada satu hal yang lebih penting dari kesemuanya itu menurut saya, yakni sikap dan tingkah lakunya. Setuju?!

Menanti revolusi dunia perfilman Indonesia

September 5th, 2007 | No Comments | Posted in Communication, Social Politics

Well, dunia perfilman negara tercinta kita ini dapat dikatakan telah mencapai titik jenuhnya, alias membosankan! ga’ kreatif! kampungan! norak! dan lain sebagainya. Mengapa gw bilang begitu? Anda tentu telah mengetahui jawabannya, yaitu: “KE-MONOTON-AN TEMA!”.

Emang, gw bukan seorang yang professional dalam bidang perfilman, gw nulis artikel ini semata-mata karena keprihatinan gw terhadap keterpurukan dunia perfilman kita.

Monoton! Apanya yang monoton? Ya itu tadi, TEMA! Mengapa monoton? Karena ga’ jauh-jauh dari yang namanya cinta dan setan. Cinta-cintaan versus setan-setanan. Lalu, siapa yang menang? Saat ini keduanya masih dalam kedudukan imbang, satu sama :P (hehehe…udah kayak tanding bola aja yah). Keduanya masih mendapat tempat di hati para penggemarnya yang notabene adalah kaum remaja. Disinilah letak ketidakkreatifannya! Coba hitung, film yang mengusung tema cinta ada berapa? Dan yang mengusung tema setan ada berapa? Kandidat dari ‘cinta’ antara lain: Eiffel I’m in Love, Love is Cinta, Kangen, Dealova, Merah Itu Cinta, Cinta Pertama, dan lain sebagainya. Sedangkan dari kubu ‘setan’ ada Pocong, Hantu Jeruk Purut, Lantai 13, Kuntilanak, Hantu, Jaelangkung, dan hampir semua jenis hantu/setan telah difilmkan.

Walaupun begitu, masih ada beberapa film yang mencoba untuk keluar dari kungkungan kedua kubu tersebut walaupun tidak 100%, antara lain: Jomblo!, Ada Apa dengan Cinta?, Realita Cinta dan Rock ‘n Roll, Janji Joni, Gie, Nagabonar Jadi 2, I Love You Om, dan beberapa lainnya yang mengusung tema yang lebih kreatif.

Gw juga pernah mengutarakan tentang hal ini kepada beberapa temen gw, trus kata mereka, “yang nguntungin mah emang kedua tema itu, kalo ngangkat tentang hal laen mungkin ga akan selaku dan selaris ini.” Gw lantas berpikir, “emang kedua tema ‘besar’ itu nguntungin bener yach?”. Tapi gw yakin kalo tema-tema kreatif lainnya yang dipadu dengan alur cerita dan penokohan yang apik serta akting yang baik, tentulah akan menghasilkan film yang berkualitas!

Beberapa pakar justru mengatakan kalau film-film Indonesia yang diproduksi akhir-akhir ini lebih condong ke arah ‘instan’ atau dengan kata lain ‘cepat saji’ yang pada akhirnya menurunkan kualitas film itu sendiri baik dari segi cerita, penokohan, akting, dll. Coba kita bandingkan, bagaimana kualitas film yang dihasilkan oleh cara ‘instan’ tersebut dengan film-film yang dihasilkan oleh studio-studio besar luar negeri seperti 20th Century Fox, Disney, dan Universal Pictures misalnya. Dari segi tema aja kita udah ‘ke-bantai’ sama mereka. Lihat saja contohnya kayak Spiderman, Titanic, Jaws, 300, Star Wars, dan film-film ‘box office’ lainnya.

Sebenarnya kita juga bisa membuat film ‘besar’ seperti mereka. Coba cari dan angkat tema serta ide cerita yang unik dan fresh serta menarik. Misalnya memfilmkan skenario “Aku” karya Sjuman Djaya yang mengisahkan tentang kehidupan penyair besar kita, Chairil Anwar. Dalam bukunya gw baca bahwa akan sulit untuk mewujudkan skenario tersebut kedalam bentuk visual (baca: film) dikarenakan beberapa alasan seperti: sulitnya menggambarkan kembali suasana kota Jakarta pada masa itu, susahnya menemukan mobil-mobil yang dipakai pada saat itu, hingga masalah dana. Tapi bila memang diniatkan, gw yakin skenario itu akan dapat difilmkan, apalagi bila didukung oleh semua pihak mulai dari pemerintah, sutradara-sutradara ternama yang berbakat, produser-produser yang berkantong tebal, tokoh politik, sejarawan, seniman, hingga masyarakat. Bila mereka (studio luar negeri) mampu, mengapa kita tidak? Iya sih, tapi mereka mah enak, punya duit banyak, studio besar dengan peralatan super canggih, dll. Ya, itu tadi! Kalau emang diniatkan pasti bisa! Kita bahkan bisa mengadakan kerjasama dengan mereka agar turut membantu dalam melahirkan sebuah karya sinema Indonesia yang revolusioner yang bisa dibanggakan kepada ‘dunia luar’.

Ayo! Insan perfilman Indonesia! Bangkit berdiri! Jangan cuma mengekor tren aja! Masih banyak tema lain yang bisa dieksplorasi! Ga cuma terbatas pada cinta dan setan! Kami sudah bosan dengan kedua tema bulukan tersebut!

Situs informasi jurnalistik

July 9th, 2007 | 2 Comments | Posted in Communication, Internet and Social Media


Everything you need to be a better journalist…

Buat yang tertarik sama dunia tulis menulis dan jurnalistik, situshttp://poynter.org/ mungkin bisa menjadi salah satu referensi. Disini kamu bisa nemuin segala sesuatu yang menyangkut dunia jurnalistik, mulai dari teknik wawancara, teknik penulisan, career center, foto jurnalistik dll.

Namun sayangnya, situs ini hanya memiliki pilihan bahasa inggris, no Indonesian version.

English is a Stupid Language???

April 14th, 2007 | No Comments | Posted in Communication

Hehehe… :D
Gw semalem sempet ngakak pas mbaca artikel ini…

–##–

Subject: English is a Stupid Language
Date: Tue, 20 Nov 2001 18:06:45 +0700
Organization: Brainstorm Communications

Let’s face it: English is a stupid language.
There is no egg in the eggplant, no ham in the hamburger and
neither pine nor apple in the pineapple.

English muffins were not invented in England, French fries were not
invented in France.

We sometimes take English for granted. But if we examine its paradoxes we
find that Quicksand takes you down slowly, boxing rings are square and
guinea pig is neither from Guinea nor is it a pig. If writers write, how
come fingers don’t fing.
If the plural of tooth is teeth, shouldn’t the plural of phone booth be
phone beeth.
If the teacher taught, why didn’t the preacher praught.

If a vegetarian eats vegetables, what the heck does a humanitarian eat!?
Why do people recite at a play yet play at a recital? Park on driveways
and drive on parkways.
And more … Some food for “Thought”.
Do infants enjoy infancy as much as adults enjoy adultery?
If love is blind, why is lingerie so popular?
Why is the man who invests all your money called a broker?
Why is a person who plays the piano called a pianist, but a person
who drives a race car not called a racist?

Why are a wise man and a wise guy opposites?
Why do overlook and oversee mean opposite things?
If horrific means to make horrible, does terrific mean to make terrible?
Why isn’t 11 pronounced onety one?
If lawyers are disbarred and clergymen defrocked, doesn’t it follow that
electricians can be delighted, musicians denoted, cowboys deranged, models
deposed, tree surgeons debarked and dry cleaners depressed?
Why is it that if someone tells you that there are 1 billion stars in the
universe you will believe them, but if they tell you a wall has wet paint you will
have to touch it to be sure?

If you take an Oriental person and spin him around several times,
does he become disoriented?

If people from Poland are called “Poles,” why aren’t people from Holland
called “Holes?”

–##–

Daftar alamat televisi Indonesia

January 9th, 2007 | 2 Comments | Posted in Communication

Ini daftar alamat televisi Indonesia, siapa tau berguna…
Trus kalo ada kesalahan atau pindah alamat, tolong informasikan saya ya…

RCTI
PT RAJAWALI CITRA TELEVISI INDONESIA
Jalan Raya Perjuangan Kebon Jeruk Jakarta. 11530
Tel: 530 3540-50
Fax: 532 0846
Website: www.rcti.tv
Email: webmaster@rcti.tv

SCTV
PT SURYA CITRA TELEVISI INDONESIA
GRAHA SCTV 2nd Floor
Jln. Gatot Subroto Kav.21 Jakarta. 12930
Tel: (62-21) 522 5555
Fax: (62-21) 522 4777 – 0220
Website: www.sctv.co.id

INDOSIAR
PT INDOSIAR VISUAL MANDIRI.TBK
Jalan Damai No. 11 Daan Mogot Jakarta. 11510
Tel: (62-21) 567 2222, 568 8888
Fax: (62-21) 565 5675 – 60
Website : www.indosiar.com
Corporate Secretary : corpsecr@indosiar.com
Humas : humas@indosiar.com
Marketing : market@indosiar.com
Sales : sls@indosiar.com
Finance : finacc@indosiar.com
Produksi : product@indosiar.com
Program : program@indosiar.com
News : news@indosiar.com
Webmedia : webadmin@indosiar.com

ANTEVE
PT CAKRAWALA ANDALAS TELEVISI INDONESIA
Sentra Mulia Building, 18th Floor
Jl.HR.Rasuna Said Kav.X-6 No.8
Jakarta Selatan 12940 Indonesia
Tel: (62-21) 522 2086
Fax: (62-21) 527 7068
Website: www.an.tv
Email: humas@an.tv

TPI
PT CIPTA TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Jalan Pintu II – TMII Jakarta Timur. 13810
Tel : (62-21) 841 2473 – 83, 841 6118
Fax : (62-21) 841 2471, 841 6119
Website : www.tpi.tv
Email : [EMAIL PROTECTED]

METRO – TV
PT MEDIA TELEVISI INDONESIA
Jalan Pilar Mas Raya Kav. A-D Kedoya
Kebon Jeruk Jakarta. 11520. Indonesia
Tel: (62-21) 583 000 77
Fax: (62-21) 583 000 66
Website: metrotvnews.com
Email: webmetro@metrotvnews.com

TRANS TV
PT TELEVISI TRANSFORMASI INDONESIA
Jl. Kapt. P. Tendean Kavling 12 14A
Jakarta 12790, Indonesia
Tel: (62-21) 7917 7000, 7917 7000
Fax: (62-21) 7918 4546, 7918 4537
Website: web.transtv.co.id
Email: public.relations@transtv.co.id

Trans|7
PT DUTA VISUAL NUSANTARA TIVI TUJUH
(TRANS|7 a TRANS corp COMPANY)
Menara Bank Mega Lt.20
Jl.Kapt.P.Tendean Kav.12-14A
Jakarta 12790 Indonesia
Tel: (62-21) 791 77 000
Fax: (62-21) 791 84 684
Website : www.trans7.co.id
Email: public.relations@trans7.co.id

GLOBAL TV
PT GLOBAL INFORMASI BERMUTU
Head Office:
Wisma Indovision Lt.17
Jl. Raya Panjang Z/III Green Garden
Jakarta 11520, INDONESIA
Tel: (62-21) 582 8555
Fax: (62-21) 582 3636
Website: www.globaltv.co.id
Email: suratpemirsa@globaltv.co.id
Technical Department:
Komplek RCTI
Jl. Raya Perjuangan Kebun Jeruk
Jakarta, INDONESIA
Tel: (62-21) 536 0601
Fax: (62-21) 536 0602

LATIVI
PT LATIVI MEDIA KARYA
Kawasan Industri Pulo Gadung
Jalan Rawa Teratai II No. 2 Jakarta Timur. 13260
Tel : 461 3545-461 5044 Fax : 461 6255