Baru ngeh kemarin sore, ketika mengunjungi http://ansav.com/download/ guna mendownload Ansav/update database terbarunya. Ternyata 4nv|e, programmer Ansav, telah merilis Ansav versi Linux. Versi 2.0.11 beta-3, well… masih rilis beta memang.

21
Dec
Baru ngeh kemarin sore, ketika mengunjungi http://ansav.com/download/ guna mendownload Ansav/update database terbarunya. Ternyata 4nv|e, programmer Ansav, telah merilis Ansav versi Linux. Versi 2.0.11 beta-3, well… masih rilis beta memang.

23
Oct
Yayaya…
Akhirnya konten blog saya yang lama di http://xvader.blogspot.com saya export dan import ke http://idrus.net ini.
Ada sedikit kendala selama proses export-import ini, platform WordPress yang saya gunakan di http://idrus.net ini ga bisa import dari blogger, kalo ga salah ada pesan kesalahan “can’t establish ssl connection” ke servernya Google
Jadi deh, cara bodoh (dan mungkin cara yang paling bodoh dalam proses export-import konten blog dari Blogger.com ke WordPress, kali ya :P) saya gunakan. Gimana cara-caranya???
Hihihi…
Saya login ke akun WordPress.com saya (http://xvader.wordpress.com) yang notabene masih suci bersih murni ga terjamah postingan yang banyak
Lalu saya import from Blogger.com dan dari WordPress, saya export file xml-nya
Wuakakakaka…
Bodoh ya
*habisnya om Google ngasih caranya ribet banget seh!*
24
Aug
Pindahan apa? Dalam arti sebenernya atau?
Yup, dua-duanya, pindah kos dan pindah blog
This blog no longer maintenance by me
Hey, wait… Pindah kemane lu?
Here is my new cyber home > http://idrus.net
Visit yak, and give me your comment on any post you like
Monggo… *atau mangga?*
17
Aug
Tak terasa, 63 tahun sudah kita merdeka. Bebas dari cengkeraman penjajahan para kolonial. Tapi, apakah kita benar-benar telah merdeka seutuhnya? Apakah sudah tak ada lagi jiwa-jiwa tertindas? Oleh pemerintahan? Ataupun oleh sistemnya? Bagaimana dengan neokolonialisme? Entahlah… Tapi saya merasa Indonesia belum merdeka seutuhnya
Eniwey, DIRGAHAYU INDONESIAKU!!! Mari kita merdekakan bangsa ini!!! SEUTUHNYA!!!
9
Aug
Huhuhu…
Tinggal menunggu waktu aja, saya akan segera meninggalkan rumah (blog-red) yang telah saya tinggali selama dua tahun ini. Agak sedih sie, karena dirumah inilah saya telah banyak belajar dan berbagi (berbagai hal!), bertemu banyak temen-temen blogger dari penjuru Indonesia (dan dunia), berkenalan dan bercengkrama dengan temen-temen di WongKito, dsb. Tapi ga akan saya delete begitu saja, tetap akan saya pertahankan (dan kalo memungkinkan akan sesekali saya update).
Dan sekarang saya tengah mempersiapkan rumah baru saya. Mungkin saya akan tetep mempertahankan cara dan style yang selama ini saya gunakan (walau mungkin juga akan sedikit berubah :P). Tunggu tanggal mainnya. Tunggu aksi saya!
24
Jul
Gonjang-ganjing mengenai masalah privasi di dunia maya sepertinya masih menyisakan pertanyaan di benak para penggunanya.
Here the story goes…
Beberapa hari yang lalu, saya nyolong file-file e-book dari komputer temen. Sesampainya di kosan, setelah harddisk terpasang, saya browse file-file tadi. Ada cukup banyak e-book yang saya dapatkan. Setelah beberapa saat melakukan ritual bongkar-membongkar, saya menemukan satu e-book Playboy edisi Maret 2008 lalu. Wehehehe…
File tersebut saya double click, dan mulai menyedot lembar per-lembar halaman digitalnya. Pada halaman Forum-nya saya menemukan artikel menarik, mengenai privasi dan anonimitas, khususnya di dunia internet. Nama Facebook cukup sering disebut-sebut dalam artikel tersebut. “Profiling for Profit - It’s No Surprise Facebook is Selling Your Secrets,” itu judulnya. Yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia kira-kira menjadi: “Menyusun Profil (orang lain) Demi Mencari Keuntungan - Bukan Sesuatu yang Mengejutkan bahwa Facebook Menjual Rahasia Anda.”
Web 2.0 memang telah menancapkan kukunya dalam-dalam, mengubah paradigma dan pola berinternet manusia modern. Bila dulu, halaman-halaman website bersifat statis dan read-only, alias cuma bisa dibaca dan ga bisa dikomentari apalagi di-edit. Kini justru bermunculan tren-tren pendobrak seperti Social Networking (Facebook, Friendster, MySpace, Multiply, dsb), blogging, wiki, Social Bookmarking, dsb.
Kini tampaknya telah banyak pengguna internet yang berani memunculkan dirinya ke permukaan dengan berbagai alasan; mencari ketenaran, teman, dsb. Masih segar di ingatan saya, ketika awal perkenalan dengan internet semasa mengecap pendidikan di bangku SMP dulu (sekitar tahun 1998-1999). Prinsip ‘jangan tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya’, secara perlahan mulai memudar. Apalagi ketika saya mulai mengenal apa itu IRC. Daftar nama alias tersusun rapi di otak saya, pun kerapkali bergonta-ganti, dan tiap nama alias terdaftar di server IRC yang bersangkutan serta diproteksi dengan password. Begitu pula dengan akun e-mail, satu e-mail untuk pribadi, satu e-mail untuk umum, dan entah ada berapa e-mail lagi untuk keperluan lainnya. Mengapa harus ada lebih dari satu nama alias dan alamat e-mail? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi apapun dan siapapun yang saya mau. Tiap nama alias memiliki karakteristik dan kepribadian tersendiri begitu pula dengan alamat e-mail yang diasosiasikan dengan nama alias yang bersangkutan.
Ketika era Friendster mulai menunjukkan giginya, mulanya saya tidak terlalu acuh. Saya pun sempat memberikan statement, bahwa Friendster itu cuma untuk anak-anak remaja cewek saja. Eehhh… sekitar akhir tahun 2004 atau awal 2005, temen-temen kampus saya rame-rame mendaftarkan dirinya di Friendster dan pembicaraan di kampus pun sempat berubah, serba Friendster! Akhirnya, dengan malu-malu kucing sembari menjilat ludah sendiri, saya mendaftar juga di Friendster. Sempat keranjingan juga sie, hehehe…
Tapi kini, akun Friendster saya entah sudah berapa lama ga disentuh. Ditambah lagi dengan datangnya pesaing-pesaing baru Friendster di dunia Social Networking; MySpace, Facebook, Multiply, dsb.
Begitu pula ketika era kebangkitan massal (atau kelahiran massal?) blog di tanah air, saya mulanya tidak terlalu mengacuhkannya. Tapiii… Yep, as you all know, saya terbawa arus juga! Pada Agustus 2006, blog aneh ini lahir! Dan sampe sekarang candunya masih kuat mencengkeram saya
Baik di Friendster maupun di blog, saya terkadang memberikan informasi ‘real’ mengenai diri saya. Keadaannya sungguh terjungkir balik, tidak seperti dulu lagi. Bila dulu, memberikan nama asli kepada temen IRC terasa ‘haram’ bagi saya, boro-boro foto, curhatan, dan informasi lainnya. Anonymity is numero uno! Walaupun begitu, saya masih mengenal batas-batas sejauh mana informasi mengenai diri saya layak untuk diketahui oleh orang lain. Bila tidak…
Bila tidak, apa?
Hehehe… Terpengaruh oleh novel nie. Saya tidak ingin cerita yang dikarang oleh Jeffery Deaver dalam The Blue Nowhere benar-benar terjadi, apalagi ke diri saya
Ada beberapa informasi yang sebaiknya tidak tersebar luas di internet. Semisal: nomor telepon, alamat rumah, nama ibu, nama ayah, nomor rekening bank, tempat dan tanggal lahir, asal sekolah, dan informasi-informasi sensitif lainnya.
The story ends here…
Jadi, apa kesimpulannya?
Sebisa mungkin untuk tidak mengekspos informasi pribadi. Bila memang ingin melakukannya (di situs-situs Social Networking, misalnya) dengan alasan tertentu (menjalin hubungan pertemanan, mencari ketenaran, dsb), silakan saja, asal ada batas-batas yang anda tentukan sendiri, sejauh mana anda ingin terekspos di dunia maya.
24
Jul

Hari & Tanggal: Sabtu, 26 Juli 2008 jam 11:00 - selesai
Tempat: SMAN 3 Palembang
Disponsori oleh:
19
Jul
Huh! Saya bener-bener merasa dipermainkan nie, oleh toko tempat saya nginfus printer tiga bulan yang lalu! Emang apa masalahnya sie?
Here the story goes…
Empat hari yang lalu, saya baru nyadar kalo ternyata tangki tinta item printer saya udah sekarat. Nyawanya udah di ujung tanduk. Demi memperpanjang nyawanya, maka saya pergi ke toko tempat masang infusnya dulu, bareng sama temen saya (dia baru mau masang infus).
Di toko, saya menanyakan harga tinta refill infus printer saya. Trus ditanya oleh pelayan tokonya, “tintanya pake merek apa, mas?”. Trus saya jawab, “printernya Canon IP1600, merek tinta gimana maksudnya? Dulu saya pasang infusnya disini loh.”
“Iya mas, tapi merek tinta yang dipake apa? Good Ink? PrintPal? Blue Print? Atau yang laen?”, lanjut si pelayan toko.
Sontak saya bingung, lah wong sejak awalnya saya ga terlalu memperhatikan apalagi mempedulikan merek tinta yang dipasang di infus printer saya. Eh, sekarang malah ditanya mereknya. Trus saya tanya lagi, “harga Good Ink, PrintPal, sama BluePrint berapaan, mas? Yang 100 mililiternya?”
“Kalo Good Ink sama PrintPal, itu yang biasa mas, BluePrint yang bagus, harganya Rp.22500 per-botol isi 100 ml,” cerocos si pelayan.
Saya telpon temen saya untuk menanyakan tinta infusnya pake merek apa. Ternyata dia pake PrintPal. Saya tanya lagi, “yang PrintPal berapaan?”
“Dua belas ribu, mas.”
“Kalo Good Ink?”
“Kalo Good Ink sama mas, segitu juga harganya. Tapi kita ga jual yang botolan isi 100 ml. Adanya yang 1 Liter.”
“Hoh? Satu liter?” Saya sedikit kaget. “Berapa harganya? Emang ga bisa ya beli 100 ml aja?”
“Satu liternya seratus sepuluh ribu. Maaf mas, tapi kita ga jual yang 100 ml.”
God! Seratus sepuluh ribu Rupiah! Siiggghhh… Lagian satu liter mah kebanyakan, batin saya. “Kalo misalnya saya refill sama merek tinta laen, semisal BluePrint, bisa ga mas?”
“Bisa aja, tapi tabungnya harus dikuras dulu. Itungannya kena biaya servis. Kalo sembarang refill pake tinta yang ga sejenis ntar printernya kenapa-kenapa, mas” Sahut si pelayan toko.
Saya tanya lagi, “emang biaya servisnya berapa?”
“Lima puluh ribu.”
Otak saya mulai buka program kalkulator, servis 50000 ditambah tinta BluePrint yang seratus mili 22500. Jadi totalnya, 72500. Sedangkan Good Ink satu liternya 110000. Duh! Saya jadi bimbang. Akhirnya saya urungkan niat beli tinta refillnya dikarenakan saat itu saya lagi ga ada duit selain itu saya juga masih ragu, tinta infus saya pake merek apa. Lagian kalo saya sembarang refill pake tinta yang ga sejenis, takutnya apa yang dibilangin oleh si pelayan toko itu jadi kenyataan, printernya ‘kenapa-kenapa’.
Sepulangnya, pas di kosan, saya bongkar arsip nota pembelanjaan saya, mencari tahu merek tinta yang digunakan ketika memasang infus pertama kali dulu. Jreeng… Ternyata pake tinta Good Ink, yang ga dijual per-100 ml, dan cuma ada yang 1 L. Oh my ghost!
Baru tadi siang, saya lagi bener-bener butuh tinta buat nge-print. Saya muter-muter di toko komputer di seputaran Unila buat nanyain, siapa tau mereka ada yang jual tinta Good Ink yang 100 ml. Ternyata ga ada yang jual! Damn!

Ujung-ujungnya, pikir saya, daripada bimbang, harus ganti merek tinta + biaya servis, atau beli tinta Good Ink satu liter. Enakan saya beli yang satu liter aja. Agak mahal memang, tapi setidaknya bisa dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama. Dan saya pun meluncur ke toko tersebut, dengan melarikan motor temen kosan saya. Pulangnya botol satu liter berisi tinta item saya boyong.
Doh! Keluar duit lagi deh. Tinggal ngirit aja sampe akhir bulan
Pelajaran yang saya petik, sekaligus bisa jadi pembelajaran buat yang mau pasang infus di printernya; “ketika memasang infus, carilah/mintalah kepada toko untuk menggunakan tinta yang well-known dan mudah didapat serta menyediakan jual ‘eceran’ (100 ml).”
12
Jul
Ternyata Simpati menurunkan juga tarif GPRS-nya, menjadi Rp.5/Kb. Hmmm… Terjadi penurunan Rp.7/Kb. Lumayan… Bila dibandingkan dengan tarif sebelumnya yang menurut saya bener-bener mencekik leher konsumen, yakni Rp.12/Kb.
Walaupun begitu, masih kalah murah nih sama IM3 yang menerapkan tarif akses Rp.1/Kb.
Dari segi kepuasan *halah*, saya akui kecepatan akses data Telkomsel (Simpati) memang lebih cepat dan stabil bila dibandingkan dengan provider lain. Yaaa… Adakalanya kualitas layanannya kurang memuaskan, tidak bisa terhubung ke server misalnya.
Dan satu pertanyaan lagi yang menggantung mengenai tarif baru GPRS Simpati ini, yaaa… Seperti yang kita semua tahu, sudah tabiat Telkomsel untuk menerapkan yang namanya tarif promo. Nah, tarif baru GPRS ini sampe kapan ya? Apakah untuk seterusnya? Ataukah hanya tarif promo yang berlaku untuk jangka waktu tertentu saja?
22
Jun
Ya, saya memutuskan untuk: “hibernasi sejenak dari segala aktivitas online (milis, ym, blogging, etc - namun tidak menutup kemungkinan untuk mencari jurnal loh :P)”. Sebenernya agak susah sie meninggalkan dunia maya ini
Tapi, apa boleh buat, semua terpaksa saya lakukan demi memberikan fokus penuh kepada skripsi saya yang telah sekian lama mandeg.
Hibernasi ini tidak diketahui akan sampai kapan, bisa satu bulan, dua bulan, tiga bulan, atau bahkan lebih. Intinya, sampai saya dapat sedikit bernafas lega menyangkut urusan skripsi ini
Wish me luck, all…
See you next time, until I awakens from my hibernation

Jika sulit, maka patut dicoba
— Unknown
art arts balada belajar cdma cul de sac Curhatan dirgahayu filosofi imaging indonesia ingin Internet irfanview kost kuliah labirin labyrinth liburan Linux love lyric maaf modem Music pengusiran photo Photos poetry Programming puasa Puisi Ga Jelas ramadhan skripsi Stupid Thought (?!) sweetheart team teamwork terbang thought tips n trick ubuntu visual basic Windows Software wordpress
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.