Browse > Home / Archive by category 'Karya Luar Biasa'

| Subcribe via RSS

Puisi Negeriku – Sebuah Satir dan Harapan untuk Masa Depan

March 3rd, 2010 | No Comments | Posted in Karya Luar Biasa, Social Politics

Semalam saya membongkar beberapa CD/DVD berisi file-file backup zaman kuliah dulu, dan menemukan satu video ini, kalau tidak salah saya mendapatkannya dari komputer BEM-U. Entah siapa pengarangnya, yang pasti bisa membuat saya tidak mampu berkata-kata. Mengapa? Karena kondisi negeri tercinta ini yang ternyata masih juga gelap (tears) Entah kapan bisa menemukan ujung jalan yang terang benderang itu…
More »

Tags: ,

Puisi-Puisi Romantis

January 26th, 2010 | No Comments | Posted in Karya Luar Biasa

Baru saja melihat statistik blog ini secara seksama, dan ternyata salah satu keyword yang paling banyak dicari adalah “puisi pernikahan”, salah satunya menuju ke halaman ini.

More »

Tags: , , ,

Bidar dan Cinta (Sebuah Legenda)

July 10th, 2009 | 1 Comment | Posted in Karya Luar Biasa, Social Politics

Lomba Bidar

Semalam saya baru membaca kisah legenda tentang asal mula lomba bidar. Dan jujur setelah membaca kisah ini, saya tersentuh dengan keelokan Dayang Merindu dan kebaikan sikapnya. Yaa… walaupun ada beberapa bagian yang menurut saya kurang baik dan kurang pantas untuk ditiru, untuk lebih lengkapnya silakan dibaca sendiri ya. Berikut saya sadurkan :)

More »

Tags: , ,

[Kisah inspirasi] Hukuman

March 10th, 2008 | 3 Comments | Posted in Info, Karya Luar Biasa

Dikisahkan sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun bernama Ita, bersama sang pembantu di rumah. Namanya juga anak-anak yang suka mengeksplorasi diri, Ita pun demikian. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah di halaman dengan lidi, sementara pembantunya menjemur kain dekat garasi. Puas dengan mencoret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba untuk menggores-gores mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru, mobil tersebut jarang dipergunakan oleh ayahnya ke kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut dengan coretan gambar Ita.

Begitu ayahnya pulang, dengan bangga Ita memberi tahu tentang gambar-gambar yang sudah dibuat di mobil baru ayahnya tersebut. Bukan pujian yang diterimanya, melainkan kemarahan yang sangat besar. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tidak mengawasi Ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anak, maka si ayah mulai mengajarkan anaknya, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pukulan. Dipukullah kedua tangan anaknya dengan apa saja yang ditemukan disitu. Mulai dengan mistar, ranting, sampai lidi disertai luapan emosi yang tidak terkendali.

“Ampun, Bah! Sakit… Sakit, ampun!” jerit Ita sambil menahan sakit ditangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Si ibu hanya diam saja seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan oleh suaminya.

Puas menghajar anaknya, si ayah menyuruh pembantu untuk membawa Ita ke kamarnya. Dengan hati yang teriris, sang pembantu membawa Ita ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan, Ita menjerit-jerit menahan pedih. Esoknya tangan Ita mulai membengkak, sementara ayah ibunya tetap bekerja seperti biasa. Ketika dilaporkan oleh pembantunya, ibu Ita hanya mengatakan, “Oleskan obat saja!”

Hari berganti hari, hingga suhu badan Ita mulai panas karena luka tangannya sudah terinfeksi. Ketika dilaporkan, orangtuanya pun hanya mengatakan supaya diberikan obat penurun panas. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan Ita mulai mengigau. Buru-buru mereka membawa Ita yang sudah tampak melemah ke rumah sakit pada malam itu juga.

Hasil diagnosis dokter menyimpulkan bahwa demam Ita berasal dari tangannya yang sudah infeksi dan busuk akibat luka-lukanya. Setelah seminggu diopname di sana, dokter memanggil ayah dan ibunya dan mengatakan, “tidak ada pilihan lain….”

Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena infeksi yang terjadi sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawa Ita, tangannya harus diamputasi!”

Mendengar berita ini, orangtua Ita bagai disambar petir. Dengan airmata yang berurai dan tangan yang bergetar, mereka menandatangani surat persetujuan amputasi anak yang paling dikasihinya.

Setelah sadar dari pembiusan operasinya, Ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tangannya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi, dia melihat kedua orangtuanya dan pembantunya menangis disampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ita berkata kepada orangtuanya, “Abah, mama, Ita tidak akan melakukannya lagi… Ita sayang abah… sayang mama… juga sayang bibi… Ita minta ampun sudah mencoret-coret mobil abah!” Si ibu dan ayah semakin menangis mendengar kata-kata Ita tersebut.

“Bah, sekarang tolong kembalikan tangan Ita, untuk apa diambil. Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti Ita mau main dengan teman-teman karena tangan Ita sudah diambil. Abah… mama… tolong kembaliin… pinjam sebentar saja. Ita mau menyalami abah, mama, dan bibi untuk minta maaf!”

Menyesal bagi kedua orangtua Ita sudah tiada guna, nasi sudah menjadi bubur.

[Disadur dari "Setengah Isi Setengah Kosong", karangan Parlindungan Marpaung]

Cintaku Jauh di Pulau

September 2nd, 2007 | No Comments | Posted in Karya Luar Biasa

Sajak berikut merupakan salah satu sajak Chairil Anwar yang sangat gw suka. Bener-bener menyentuh hati dan sempet membuat gw terlamun sendiri sampai lewat sepertiga malam, mungkin karena sedikit mirip dengan apa yang gw alami kali yah :P

Cintaku Jauh di Pulau
(Chairil Anwar)

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju.
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu.
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Tanya sang anak (oleh Kahlil Gibran)

April 2nd, 2007 | 1 Comment | Posted in Curhatan, Karya Luar Biasa

Semalem gw dapet artikel ini dari komputer temen gw…
Bener2 menyentuh hati gw yang paling dalem…

TANYA SANG ANAK

Konon pada suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga
Terdiri dari sang ayah dan ibu
Serta seorang anak gadis muda dan naif!

Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!
Ibu! Mengapa aku dilahirkan wanita?
Sang ibu menjawab,”Kerana ibu lebih kuat dari ayah!”
Sang anak terdiam dan berkata,”Kenapa jadi begitu?”

Sang anak pun bertanya kepada sang ayah!
Ayah! Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?
Ayah pun menjawab,”Kerana ibumu seorang wanita!!!
Sang anak kembali terdiam.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ayah?
Dan sang ayah pun kembali menjawab,” Iya, kau adalah yang terkuat!”
Sang anak kembali terdiam dan sesekali mengerut dahinya.

Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.
Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ibu?
Ayah kembali menjawab,”Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!”
“Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?” Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.

Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan. “Kerana engkau adalah buah dari cintanya!
Cinta yang dapat membuat semua manusia tertunduk dan terdiam. Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, tuli serta bisu!

Dan kau adalah segalanya buat kami.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.
Tawamu adalah tawa kami.
Tangismu adalah air mata kami.
Dan cintamu adalah cinta kami.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?
Apa itu cinta, Ibu?
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,”Kau, kau adalah cinta kami sayang..”

:+: Khalil Gibran :+: