Surat Untuk Kekasihku
Kekasihku…
Mungkin aku memang tak romantis, tapi siapa peduli? Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku. Bagiku, kau bukan bunga, tak mampu aku samakan dirimu dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun. Bagiku, manusia adalah makhluk terindah, tersempurna, dan tertinggi. Bagiku, dirimu adalah salah satu manusia terindah, tersempurna, dan tertinggi, karena kau tak membutuhkan persamaan.
Tags: poem, Poems, poetry, puisi, Romantis, SajakLife is Like Rubik’s Cube

Tags: filosofi, Kubus Rubik, Metafora, Rubik's CubeYet complicated and challenging, but fun
![]()
Puisi Negeriku – Sebuah Satir dan Harapan untuk Masa Depan
Semalam saya membongkar beberapa CD/DVD berisi file-file backup zaman kuliah dulu, dan menemukan satu video ini, kalau tidak salah saya mendapatkannya dari komputer BEM-U. Entah siapa pengarangnya, yang pasti bisa membuat saya tidak mampu berkata-kata. Mengapa? Karena kondisi negeri tercinta ini yang ternyata masih juga gelap
Entah kapan bisa menemukan ujung jalan yang terang benderang itu…
More »
Puisi-Puisi Romantis
Baru saja melihat statistik blog ini secara seksama, dan ternyata salah satu keyword yang paling banyak dicari adalah “puisi pernikahan”, salah satunya menuju ke halaman ini.
Tags: Sajak Puisi Cinta, Sajak Puisi Pernikahan, Sajak Puisi Romantis, Sapardi Djoko DamonoBidar dan Cinta (Sebuah Legenda)

Semalam saya baru membaca kisah legenda tentang asal mula lomba bidar. Dan jujur setelah membaca kisah ini, saya tersentuh dengan keelokan Dayang Merindu dan kebaikan sikapnya. Yaa… walaupun ada beberapa bagian yang menurut saya kurang baik dan kurang pantas untuk ditiru, untuk lebih lengkapnya silakan dibaca sendiri ya. Berikut saya sadurkan :)
Tags: Bidar, Legenda, PalembangTentang Masalah dan Menikmati Hidup
Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?)
Hmmm…
Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit.
Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week… *lebay mode on :P*
Dowh! Entahlah…
Lo mah ga tau, drus, masalah gue berat bener nie, seberat tujuh lapis langit yang spontan jatuh menimpa kepala gue! Lo masih nanya, apakah hidup itu harus dinikmati atau tidak? Dasar!
Okay, okay…
Calm down… *loh?! kok tulisan ini jadi nyeleneh gini sih?* :P
Stop it! Let’s BTT (back to topic-red)
Saya tahu, setiap orang pasti punya masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan oleh Sang Maha Pencipta terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Bisa saja suatu masalah bagi seseorang terasa berat namun justru bagi orang lain, masalah itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Nah, ketika anda mengalami masalah terberat itu, bagaimanakah tampaknya dunia ini? Masihkah ia berwarna-warni cerah? Atau justru cuma ada tiga warna? Hitam, putih, kelabu?
Pernah saya baca di salah satu blog temen saya, “Sesungguhnya tidak ada masalah dengan masalah, karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menghadapi masalah.” I totally agree with that!
Dan ada satu hasil kontemplasi antara saya dengan seseorang mengenai hidup dan masalah, “Turn it into a joy, play it like a toy, and make sure you’ll enjoy.” Apa kau gila?! Menganggap dan menjadikan suatu masalah sebagai permainan? Yeah, that’s an alternative door to get out of a complex labyrinth. IMSO (in my stupid opinion), jangan terlalu serius dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, berikan sedikit kesenangan pada diri anda, takutnya bila terlalu serius, masalah itu kemungkinan akan membuat anda tertekan dan semakin tertekan saat ia menjadi semakin rumit. Tapi, jangan pula menganggap suatu masalah itu terlalu mudah, yang bila anda terlena karenanya, ia akan menjadi semakin rumit dan rumit, atau bahkan tidak akan terselesaikan sama sekali. Dan beberapa masalah yang tidak terselesaikan justru akan tetap menggelayut di pikiran anda dan membebaninya. Bukankah akan terasa lebih plong, bila tidak ada beban sama sekali?
Tags: filosofi, masalah, Stupid Thought (?!)Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh
Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik.
Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15).
Dua baris diatas adalah kalimat yang saya temukan pada halaman 15, buku Kubik Leadership karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini, ketika menanti waktu berbuka puasa kemarin sore (7/9) di Gramedia Lampung.
Pertama kali membaca kalimat tersebut, saya langsung ‘ngeh’. Kenapa? Hmmm… Entahlah, mungkin karena sedikit mirip dengan filosofi saya yang ingin selalu merasa bodoh untuk terus dapat belajar dan belajar dari mereka yang lebih pandai dari saya. Pernah seorang temen nyeletuk, “Lo ini aneh, orang laen pada pengen pinter, eeehhh… lo malah pengen tetep bodoh…?!” Dan celetukan itu cuma saya balas dengan sunggingan senyum *yang tentu saja: manis… wakakakakakaka… muntah! muntah! :P*
Tags: belajar, filosofi, thoughtCul De Sac (Cool The Suck?) dan Labirin?

Cul de sac?
Ya, cul de sac. Kalo saya sie lebih prefer nulisnya gini: Cool The Suck. Atau Ahmad Dhani, dia menuliskannya Kuldesak, dan menjadi salah satu lagu yang dulu dinyanyikannya bareng Ahmad Band. Yupe, I love that song so much! Tapi… disini saya bukan mau membahas mengenai lagu tersebut :P
Apa sih cul de sac itu? Jalan yang tertutup disalah satu ujungnya. Ya, cuma satu ujung yang terbuka dan bisa dilewati sedangkan ujung yang lainnya tidak.
Tags: cul de sac, kuliah, labirin, labyrinthWhen a Man Lost a Woman
Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka
akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa,
kecuali saputan mendung di wajahnya.
Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan,
kau akan melihat kedua tangannya terkepal
dan rahangnya mengeras karena amarah.
Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang
yang disayang, dia masih bertahan dalam bisunya
tapi air matanya tak sanggup ditahannya lagi.
Tetapi… coba tanyakan padanya, mengapa sudi
dipecundangi cinta. Yakinlah, laki-laki itu pasti tertawa.
Menertawakan pertanyaanmu yang dianggapnya bodoh,
lalu berkata, “Kalau kau pernah mengecap cinta,
kau tak akan pernah bertanya,”
More »




