<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Idrus Fhadli's Blog &#187; Stories and Inspirations</title>
	<atom:link href="http://idrus.net/category/karya-luar-biasa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idrus.net</link>
	<description>read my mind but don't kill my kind(ness)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 13:52:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<image>
  <link>http://idrus.net</link>
  <url>http://xvader.110mb.com/favicon.ico</url>
  <title>Idrus Fhadli's Blog</title>
</image>
		<item>
		<title>Syukur</title>
		<link>http://idrus.net/2011/06/30/syukur.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2011/06/30/syukur.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 12:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=1224</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak di sebuah sekolah dasar memanjatkan doa di sepertiga malam terakhirnya, &#8220;Tuhan, Engkau kan tahu kalau ujian Bahasa Inggrisku hari ini dapat jelek. Tapi aku tetap bersyukur, Tuhan, karena waktu ujian aku tidak sekalipun mencontek, meskipun teman-teman yang lain melakukannya. Tuhan, tadi pagi, waktu berangkat ke sekolah, aku diberi ibu bekal sepotong kue dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang anak di sebuah sekolah dasar memanjatkan doa di sepertiga malam terakhirnya,</p>
<p><span id="more-1224"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Tuhan, Engkau kan tahu kalau ujian Bahasa Inggrisku hari ini dapat jelek. Tapi aku tetap bersyukur, Tuhan, karena waktu ujian aku tidak sekalipun mencontek, meskipun teman-teman yang lain melakukannya.</p>
<p>Tuhan, tadi pagi, waktu berangkat ke sekolah, aku diberi ibu bekal sepotong kue dan sebotol air. Kata ibu, sekarang sedang paceklik, jadi hanya itu yang bisa kubawa agar di sekolah tidak perlu jajan di kantin. Terima kasih kuenya, Tuhan. Di jalan, aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan kue itu kepadanya. Tahu-tahu saja laparku hilang ketika melihat pengemis itu tersenyum.</p>
<p>Tuhan, lihatlah, ini sepatu terakhirku. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau kan tahu sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa, paling tidak aku masih bisa pergi ke sekolah. Tetanggaku bilang orang-orang sedang gagal panen, sehingga teman-temanku banyak yang terpaksa berhenti sekolah. Tolong bantu mereka Tuhan, supaya bisa sekolah lagi.</p>
<p>O&#8230; iya, Tuhan. Semalam ibu memukulku. Mungkin karena aku nakal. Memang agak sakit. Tapi pasti sakitnya akan segera hilang, karena kuyakin Engkau akan menyembuhkannya. Yang penting aku masih punya seorang ibu. Jadi kumohon, Tuhan, jangan engkau marahi ibuku yah&#8230; Mungkin ibu sedang lelah saja dan panik memikirkan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahku.</p>
<p>Terakhir, Tuhan, sepertinya aku sedang jatuh cinta. Di kelasku ada seorang anak gadis yang sangat pintar, cantik, dan baik. Menurut Engkau, apa ia akan menyukaiku? Tapi, apapun yang terjadi, yang aku tahu Engkau tetap menyukaiku. Terima kasih, Tuhan.&#8221; (Disadur dari &#8220;Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk&#8221;, karya Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an, halaman 45-46, dengan perubahan seperlunya).</p></blockquote>
<p>Tadinya, saya ingin bercerita banyak tentang kaitan cerita di atas dengan hal-hal yang saya alami beberapa bulan belakangan ini, yang menyebabkan saya terpaksa <em>&#8216;menjablaykan&#8217;</em> blog ini untuk sementara waktu. Tapi, saya pikir, akan ada waktu yang pas untuk menceritakannya <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2011/06/30/syukur.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Untuk Kekasihku</title>
		<link>http://idrus.net/2011/01/29/surat-untuk-kekasihku.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2011/01/29/surat-untuk-kekasihku.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 07:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[poem]]></category>
		<category><![CDATA[Poems]]></category>
		<category><![CDATA[poetry]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Romantis]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Kekasihku&#8230; Mungkin aku memang tak romantis, tapi siapa peduli? Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku. Bagiku, kau bukan bunga, tak mampu aku samakan dirimu dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun. Bagiku, manusia adalah makhluk terindah, tersempurna, dan tertinggi. Bagiku, dirimu adalah salah satu manusia terindah, tersempurna, dan tertinggi, karena kau tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Mungkin aku memang tak romantis, tapi siapa peduli? Karena <em>toh</em> kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku. Bagiku, kau bukan  bunga, tak mampu aku samakan dirimu dengan bunga-bunga terindah dan  terharum sekalipun. Bagiku, manusia adalah makhluk terindah,  tersempurna, dan tertinggi. Bagiku, dirimu adalah salah satu manusia  terindah, tersempurna, dan tertinggi, karena kau tak membutuhkan  persamaan.</p>
<p><span id="more-1032"></span></p>
<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Jangan biarkan aku  menatapmu penuh, karena itu akan membuatku mengingatmu. Berarti memenuhi  kepalaku dengan inginkanmu. Berimbasnya dengan tersusunnya gambarmu  dalam tiap dinding khayalku. Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh  jiwa, sesemangat mentari. Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam  khayalku yang masih penuh lumpur, dirimu terlalu suci.</p>
<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Berdua  habiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung. Ada ingin tapi tak  ada henti. Menyetuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski  ujung penutupmu pun tak berani kusentuh. Jangan pernah kalah oleh mimpi  dan inginku karena sucimu, indahmu kau pertaruhkan. Mungkin kau tak  peduli, tapi kau hanya akan menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau  kalah, tak lebih dari wanita biasa.</p>
<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Jangan  pernah kau tatap aku penuh, bahkan kau tak perlu lirikkan matamu untuk  melihatku. Bukan karena aku terlalu indah, tapi aku seorang manipulator.  Aku biasa memasangkan topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan  pakaian sutra emas meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari  kubangan lumpur. Kau memang suci, tetapi masih sangat mungkin  termanipulasi. Karena toh kau hanya manusia, hanya wanita, meski kau  wanita suci.</p>
<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Beri dia sepenuh diri  sang lelaki suci yang sepenuh diri bawamu pada Tuhan. Untuk-Nya dirimu  ada. Itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu pikir lagi,  tunggu sang lelaki suci menjemputmu dalam rangkaian khitbah dan akad.  Atau kejar sang lelaki suci itu hakmu, seperti dicontohkan Ibunda  Khadijah. Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab  suci.</p>
<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Bariskan harapmu pada barisan  istikharah sepenuh arti ikhlas. Relakan Tuhan pilihkan lelaki suci  bagimu, mungkin sekarang atau nanti&#8230; bahkan mungkin tak ada sampai kau  mati. Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di  alam permainan saat ini. Mungkin lelaki suci itu menanti di istana  kekalmu yang kau bangun dengan kekhusyukan ibadah.</p>
<p>Kekasihku&#8230;</p>
<p>Pilihan  Tuhan tak selalu seindah inginmu, tapi itulah pilihan-Nya. Tak ada yang  lebih baik dari pilihan Tuhan. Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki  terpilih itu, melainkan ada pada jalan yang kau pilih itu seperti kisah  seorang wanita di masa lalu yang meminta mahar keislaman sebagai mahar  pernikahan. Atau kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima  keputusan sang kekasih tertinggi. Kekasih tempat kita (seharusnya)  memberikan semua cinta dan menerima cinta tak terhingga dalam tiap detik  hidup kita.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em> Disadur dengan sedikit perubahan dari &#8220;Cerita Sebuah Pensil&#8221; karya Vanny Chrisma W.</em></p>
<p>Note: Saya suka rangkaian kata-katanya, maka saya salinkan di sini. <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/scenic.gif' alt='(scenic)' class='wp-smiley' /> <em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2011/01/29/surat-untuk-kekasihku.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life is Like Rubik&#8217;s Cube</title>
		<link>http://idrus.net/2010/07/13/life-is-like-rubiks-cube.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2010/07/13/life-is-like-rubiks-cube.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 10:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Kubus Rubik]]></category>
		<category><![CDATA[Metafora]]></category>
		<category><![CDATA[Rubik's Cube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Yet complicated and challenging, but fun Tulisan ini hanyalah renungan sore, di kala Kota Palembang tercinta ini terguyur hujan. Saya hanya nongkrong di depan laptop, menunggu selesainya proses update sistem operasi sembari memantau beberapa portal berita politik dan ekonomi ditemani segelas kopi+gula+meises coklat buatan sendiri &#8220;Jejak Langkah&#8221; baru setengahnya saya baca, tutup sebentar, beralih ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img title="Life is Like Rubik's Cube" src="http://lh5.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/TDxGXnO2NhI/AAAAAAAABuQ/9mU-ABosgmI/s400/Life_is_like_rubik__s_cube_by_TetrisMaster.jpg" alt="" width="400" height="320" /></p>
<blockquote><p><em>Yet complicated and challenging, but fun</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p><span id="more-964"></span></p>
<p>Tulisan ini hanyalah renungan sore, di kala Kota Palembang tercinta ini terguyur hujan. Saya hanya nongkrong di depan laptop, menunggu selesainya proses <em>update</em> sistem operasi sembari memantau beberapa portal berita politik dan ekonomi ditemani segelas kopi+gula+meises coklat buatan sendiri <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/coffee.gif' alt='(coffee)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8220;Jejak Langkah&#8221; baru setengahnya saya baca, tutup sebentar, beralih ke laptop, dan pandang tanpa sengaja tertumbuk pada seonggok Rubik&#8217;s Cube di samping <em>mouse</em>. Bergeraklah jari jemari saya merangkai kata, demi mengisi blog yang mulai gersang dengan sentuhan kata-kata ini <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p><em>Yet complicated and challenging, but fun</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p>Itulah sebaris kata yang terbayang. Betapa bangunan kubus yang tersusun dari 26 kubus yang lebih kecil ini ketika teracak memang tampak hampir mustahil untuk diselesaikan oleh seseorang yang baru memainkannya. Persis seperti bayi yang baru terlahir ke dunia, tanpa suatu pengetahuan apa pun, tanpa penglihatan sedikitpun akan masa depan. Menjalani hidup dengan belajar di setiap detiknya, tiada henti, hingga Yang Maha Kuasa menghendakinya untuk berhenti. Sekompleks apapun suatu permasalahan pasti akan ada jalan keluarnya, tergantung usaha tiap-tiap individu dan sejauh mana pembelajaran dan pemahamannya tentang hidup.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Rubik's Cube" src="http://lh3.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/TDxF6CdeStI/AAAAAAAABuI/-qZtajxVRDE/s800/220px-Rubik%27s_cube.svg.png" alt="" width="220" height="229" /></p>
<p>Empat puluh tiga <a title="Quintillion" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quintillion">quintillion</a> permutasi dalam suatu Rubik&#8217;s Cube bukanlah angka yang kecil, dan dari sejumlah itu, hanya satu tujuan akhir yang harus dicapai. Persis seperti tujuan kehidupan, hanya satu tujuan akhir yang ingin dicapai; kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.</p>
<p>Rubik&#8217;s Cube pun selalu menawarkan tantangan, meskipun seseorang telah berhasil memecahkan persoalannya, tetap ada persoalan lain yang menanti untuk dipecahkan. Silih berganti. Sebuah tantangan yang menggelitik untuk dijamah. Mahir menyelesaikan Rubik&#8217;s Cube 3x3x3, masih ada tantangan untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat, sedapatnya dalam hitungan detik. Selain itu, masih ada beragam tantangan lain dari berbagai variasi Rubik&#8217;s Cube; 2x2x2, 4x4x4, 5x5x5, 6x6x6, 7x7x7, dst. Ada pula kombinasi yang unik, 2&#215;3, 3&#215;4, void cube, pyraminx, megaminx, dsb. Dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Tergantung seseorang itu, apakah mau menjajaki variasi tantangan tersebut atau tidak. Bilapun mau menerimanya, tentulah akan ada peningkatan kemampuan dalam diri individu tersebut. <em>The more the practice, the better the result, isn&#8217;t it?</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hidup tidak terlepas dari kompetisi, sama halnya dengan Rubik&#8217;s Cube. beragam kompetisi sering diadakan di antara sesama pemain Rubik&#8217;s Cube, semua mengejar hasil terbaik mereka dengan mengerahkan kemampuan terbaik pula. Masing-masing memiliki strategi sendiri, mencari jalan terpendek dan tercepat untuk satu tujuan yang sama. Sang pemenang, akan mendapat sanjungan dan <em>respect</em> dari kompetitor lain. Singkat kata, kompetisi selalu akan kita hadapi dalam hidup, baik yang dikehendaki maupun yang tidak, disadari maupun tidak. Semua menuntut agar kita mengerahkan kemampuan maksimal demi memenangkan kompetisi itu, kalau bisa secara mutlak di atas orang lain. Apa jadinya hidup tanpa kompetisi?  <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/thinking.gif' alt='(thinking)' class='wp-smiley' /> Tentu saja kompetisi yang diharapkan untuk terjadi adalah kompetisi yang sehat, bukan kompetisi saling jegal saling bunuh, <em>am I right</em>? <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/drinking.gif' alt='(drinking)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ah, kalau dipikir-pikir, alangkah banyaknya perbandingan filosofi hidup dengan sebuah benda atau sesuatu hal. Alangkah luasnya dunia ini, dan alangkah kecilnya kita sebagai manusia  <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2010/07/13/life-is-like-rubiks-cube.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Negeriku &#8211; Sebuah Satir dan Harapan untuk Masa Depan</title>
		<link>http://idrus.net/2010/03/03/puisi-negeriku-sebuah-satir-dan-harapan-untuk-masa-depan.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2010/03/03/puisi-negeriku-sebuah-satir-dan-harapan-untuk-masa-depan.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 05:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Negeriku]]></category>
		<category><![CDATA[Satir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=861</guid>
		<description><![CDATA[Semalam saya membongkar beberapa CD/DVD berisi file-file backup zaman kuliah dulu, dan menemukan satu video ini, kalau tidak salah saya mendapatkannya dari komputer BEM-U. Entah siapa pengarangnya, yang pasti bisa membuat saya tidak mampu berkata-kata. Mengapa? Karena kondisi negeri tercinta ini yang ternyata masih juga gelap Entah kapan bisa menemukan ujung jalan yang terang benderang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semalam saya membongkar beberapa CD/DVD berisi file-file <em>backup</em> zaman kuliah dulu, dan menemukan satu video ini, kalau tidak salah saya mendapatkannya dari komputer BEM-U. Entah siapa pengarangnya, yang pasti bisa membuat saya tidak mampu berkata-kata. Mengapa? Karena kondisi negeri tercinta ini yang ternyata masih juga gelap <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/tears.gif' alt='(tears)' class='wp-smiley' /> Entah kapan bisa menemukan ujung jalan yang terang benderang itu&#8230;<br />
<span id="more-861"></span></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/EFrQR8n8r3I&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/EFrQR8n8r3I&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong># Transkrip berbahasa Indonesia</strong></p>
<blockquote><p>Kasihku, aku masih di sini<br />
di negeri berjuta impian<br />
negeri selembut awan<br />
negeri yang manis<br />
luhur<br />
tulus<br />
dan penuh sukacita</p>
<p>Negeri di mana aku leluasa merindukanmu<br />
di setiap nafas<br />
setiap detik<br />
setiap waktu</p>
<p>Kasihku, negeri ini begitu indah<br />
makmur dan subur seperti ladang permata<br />
Penduduknya ramah<br />
sopan<br />
dan suka tolong-menolong&#8230;</p>
<p>Mereka begitu terbuka<br />
Semua membuatku senang dan bahagia</p>
<p>Kasihku, negeri ini aman sentosa<br />
Siapapun pasti akan merasa nyaman di sini<br />
seperti duduk di sofa</p>
<p>Kasihku, di negeriku&#8230;<br />
rumah-rumahnya rapi tersusun<br />
Anak-anak berangkat ke sekolah&#8230;<br />
orang tua pergi bekerja mencari nafkah yang halal&#8230;<br />
semua hidup sehat&#8230;<br />
&#8230; semua hidup rukun dan harmonis</p>
<p>Kasihku, aku baru saja terbangun&#8230;<br />
&#8230; rupanya aku bermimpi&#8230;<br />
Aku takut, ternyata di sini masih gelap&#8230;</p>
<p>Kasihku, mungkin selama ini aku terlalu jauh dari-Mu<br />
melupakan pesan-pesan dalam surat-Mu terdahulu</p>
<p>Kasihku, aku tahu jalan ini panjang dan melelahkan&#8230;<br />
tapi, pasti ini jalan kemenangan<br />
Di ujung jalan ini&#8230;<br />
Kuyakin ada cahaya yang terang benderang</p></blockquote>
<p><strong># English transcript</strong></p>
<blockquote><p>My Love, I&#8217;m still here&#8230;<br />
in The Land of Million Dreams<br />
the land as tender as the clouds<br />
the land so sweet<br />
noble<br />
sincere<br />
and delightful</p>
<p>The land where I long for you<br />
in every breath I take<br />
every second<br />
every single time</p>
<p>My Love, the land is very beautiful<br />
prosperous and fertile as a diamond mine<br />
The citizens are friendly<br />
polite<br />
and open-handed&#8230;</p>
<p>They are so open-hearted<br />
They all excite me and make me happy</p>
<p>My Love, the land is safe and peaceful<br />
Anybody must be feeling comfortable here<br />
as comfortable as sitting on a sofa</p>
<p>My Love, in my place&#8230;<br />
houses are neatly built in rows<br />
Children leave for schools&#8230;<br />
parents working for decent income&#8230;<br />
everybody lives healthily&#8230;<br />
&#8230; peacefully and harmoniously</p>
<p>My Love, I just woke up&#8230;<br />
&#8230; I was dreaming&#8230;<br />
I&#8217;m scared, it&#8217;s still dark here&#8230;</p>
<p>My Love, maybe I&#8217;ve been away from You lately<br />
abandoning the messages in Your early &#8216;Manuscripts&#8217;</p>
<p>My Love, the road is indeed long and exhausting&#8230;<br />
but, this must be the road of glory<br />
At the end of this road&#8230;<br />
I am sure that there will be a bright light</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2010/03/03/puisi-negeriku-sebuah-satir-dan-harapan-untuk-masa-depan.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Romantis</title>
		<link>http://idrus.net/2010/01/26/puisi-puisi-romantis.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2010/01/26/puisi-puisi-romantis.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 06:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Puisi Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Puisi Romantis]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi Djoko Damono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=774</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja melihat statistik blog ini secara seksama, dan ternyata salah satu keyword yang paling banyak dicari adalah &#8220;puisi pernikahan&#8221;, salah satunya menuju ke halaman ini. Ada satu puisi yang sering ditemukan dalam undangan pernikahan, bunyinya sebagai berikut; Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru saja melihat statistik blog ini secara seksama, dan ternyata salah satu <em>keyword </em>yang paling banyak dicari adalah &#8220;puisi pernikahan&#8221;, salah satunya menuju ke <a href="http://idrus.net/2008/02/12/puisi-di-undangan-pernikahan.shtml" target="_blank">halaman ini</a>.</p>
<p><span id="more-774"></span></p>
<p>Ada satu puisi yang sering ditemukan dalam undangan pernikahan, bunyinya sebagai berikut;</p>
<blockquote><p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br />dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />kayu kepada api yang menjadikannya abu</p>
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br />dengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br />awan kepada hujan yang menjadikannya tiada  <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/scenic.gif' alt='(scenic)' class='wp-smiley' /> </p>
</blockquote>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 119px"><img title="Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono" src="http://lh3.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/S16GhSk3WcI/AAAAAAAABco/f3UtfbUrPAU/s144/Sapardi%20Djoko%20Damono.jpg" alt="" width="109" height="144" /><p class="wp-caption-text">Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono</p></div>
<p>Puisi indah berjudul &#8220;Aku Ingin&#8221; tersebut banyak disalah duga sebagai karya sang penyair besar, Kahlil Gibran. Namun ternyata merupakan karya pujangga bangsa sendiri, Bapak Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono.</p>
<p>Secuil informasi mengenai beliau dapat diintip di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono" target="_blank">Wikipedia berbahasa Indonesia</a>.</p>
<p>Masih banyak karya beliau yang tidak kalah romantis dan menarik, antara lain yang berjudul &#8220;Hujan Bulan Juni&#8221; berikut;</p>
<blockquote><p>Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni<br />Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu<br />Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni<br />Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu<br />Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni<br />Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu</p>
</blockquote>
<p>Aahhh&#8230; Benar-benar sajak yang dalam, sedalam lautan&#8230;</p>
<p>Masih ingin sajak-sajak Pak Sapardi lainnya? <em>Here they are</em>;</p>
<p><strong>Sajak Kecil Tentang Cinta</strong></p>
<blockquote><p>Mencintai angin harus menjadi siut<br />Mencintai air harus menjadi ricik<br />Mencintai gunung harus menjadi terjal<br />Mencintai api harus menjadi jilat<br />Mencintai cakrawala harus menebas jarak<br />MencintaiMu harus menjadi aku</p>
</blockquote>
<p><strong>Nokturno</strong></p>
<blockquote><p>Kubiarkan cahaya bintang memilikimu<br />Kubiarkan angin yang pucat<br />Dan tak habis-habisnya gelisah</p>
<p>Tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu<br />Entah kapan kau bisa kutangkap&#8230;</p>
</blockquote>
<p><strong>Hatiku Selembar Daun</strong></p>
<blockquote><p>Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput<br />Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini<br />Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput<br />Sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi</p>
</blockquote>
<p><strong>Hutan Kelabu</strong></p>
<blockquote><p>Kau pun kekasihku<br /> Langit di mana berakhir setiap pandangan<br /> Bermula kepedihan rindu itu<br /> Temaram kepadaku semata<br /> Memutih dari seribu warna<br /> Hujan senandung dalam hutan<br /> Lalu kelabu menabuh nyanyian</p>
</blockquote>
<p><strong>Ketika Jari-Jari Bunga Terluka</strong></p>
<blockquote><p>Ketika jari-jari bunga terluka<br /> Mendadak terasa betapa sengit, cinta kita<br /> Cahaya bagai kabut, kabut cahaya<br /> Di langit menyisih awan hari ini<br /> Di bumi meriap sepi yang purba<br /> Ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata</p>
<p>Suatu pagi, di sayap kupu-kupu<br /> Di sayap warna, suara burung<br /> Di ranting-ranting cuaca<br /> Bulu-bulu cahaya<br /> Betapa parah cinta kita<br /> Mabuk berjalan diantara<br /> Jerit bunga-bunga rekah…</p>
<p>Ketika jari-jari bunga terbuka<br /> Mendadak terasa betapa sengit, cinta kita<br /> Cahaya bagai kabut, kabut cahaya<br /> Di langit menyisih awan hari ini<br /> Di bumi meriap sepi yang purba<br /> Ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata</p>
</blockquote>
<p><strong>Pada Suatu Hari Nanti</strong></p>
<blockquote><p>Pada suatu hari nanti<br /> Jasadku tak akan ada lagi<br /> Tapi dalam bait-bait sajak ini<br /> Kau takkan kurelakan sendiri</p>
<p>Pada suatu hari nanti<br /> Suaraku tak terdengar lagi<br /> Tapi di antara larik-larik sajak ini<br /> Kau akan tetap kusiasati</p>
<p>Pada suatu hari nanti<br /> Impianku pun tak dikenal lagi<br /> Namun di sela-sela huruf sajak ini<br /> Kau takkan letih-letihnya kucari</p>
</blockquote>
<p>Masih kurang juga? <em>I suggest you to buy his poem anthology, there you&#8217;ll find more and more interesting and high quality poems</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/scenic.gif' alt='(scenic)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2010/01/26/puisi-puisi-romantis.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bidar dan Cinta (Sebuah Legenda)</title>
		<link>http://idrus.net/2009/07/10/bidar-dan-cinta-sebuah-legenda.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2009/07/10/bidar-dan-cinta-sebuah-legenda.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 09:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Bidar]]></category>
		<category><![CDATA[Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Semalam saya baru membaca kisah legenda tentang asal mula lomba bidar. Dan jujur setelah membaca kisah ini, saya tersentuh dengan keelokan Dayang Merindu dan kebaikan sikapnya. Yaa&#8230; walaupun ada beberapa bagian yang menurut saya kurang baik dan kurang pantas untuk ditiru, untuk lebih lengkapnya silakan dibaca sendiri ya. Berikut saya sadurkan :) Lomba bidar adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-638 aligncenter" title="Lomba Bidar" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2009/07/bidarskyfj2-300x189.jpg" alt="Lomba Bidar" width="300" height="189" /></p>
<p>Semalam saya baru membaca kisah legenda tentang asal mula lomba bidar. Dan jujur setelah membaca kisah ini, saya tersentuh dengan keelokan Dayang Merindu dan kebaikan sikapnya. Yaa&#8230; walaupun ada beberapa bagian yang menurut saya kurang baik dan kurang pantas untuk ditiru, untuk lebih lengkapnya silakan dibaca sendiri ya. Berikut saya sadurkan :)</p>
<p><span id="more-637"></span>Lomba bidar adalah lomba mendayung perahu yang dinamai &#8216;bidar&#8217;. Seni dayung tradisional Palembang ini hidup sejak zaman dahulu kala hingga sekarang. Pada perayaan hari besar, terutama Hari Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, lomba bidar dilangsungkan di sungai Musi yang mengalir ditengah-tengah kota Palembang.</p>
<p>Perahu bidar berbentuk khusus. Menurut cerita, bidar adalah singkatan dari biduk lancar. Sejenis biduk (perahu) yang zaman dahulu kala khusus digunakan oleh petugas penghubung atau kurir. Bentuknya kecil dan hanya muat untuk seorang. Akan tetapi, pada perlombaan sekarang, satu perahu didayung oleh belasan orang.</p>
<p>Menurut cerita, lomba bidar bermula dari peristiwa Putri Dayang Merindu. Seorang gadis cantik jelita tinggal di bagian hulu kota Palembang. Anak tunggal, ayahnya bernama Sah Denar, bersahabat dengan Tua Adil, teman sekampung keluarga kaya raya yang mempunyai anak bernama Dewa Jaya.</p>
<p>Beranjak remaja, Dewa Jaya dikirim orang tuanya ke beberapa negeri lain untuk menuntut ilmu bela diri, terutama pencak silat. Bertahun-tahun menuntut ilmu, ketika kembali dia sudah jadi pemuda yang tampan. Ia sangat kagum dan jatuh cinta pada Dayang Merindu, yang sejak kecil menjadi teman bermainnya.</p>
<p>Dewa Jaya minta agar orang tuanya melamar. Sah Denar dan istrinya senang mendengar hasrat melamar itu. Ketika suami istri itu menanyai anak mereka, Dayang Merindu dengan lemah lembut menjawab, &#8220;Mohon ampun pada Ayah dan Bunda. Belum tersirat rasa cinta di hati saya terhadapnya. Oleh karena itu, saya belum mau mengatakan bersedia jadi istrinya. Namun jika Ayah dan Bunda memaksa, saya tidak akan durhaka pada orang tua.&#8221;</p>
<p>Sah Denar dan istrinya berpendapat, mungkin karena Dayang Merindu baru berusia sembilan belas tahun, belum ada hasrat bercintaan dengan pemuda. Ketika keluarga Tua Adil datang melamar, mereka menerima lamaran itu dengan ikatan bertunangan. Sementara itu, di sebuah kampung di hilir Kota Palembang, ada seorang pemuda bernama Kemala Negara, anak keluarga petani di tepi sungai Musi. Selama merantau mencari nafkah ke negeri lain, dia banyak belajar ilmu bela diri.</p>
<p>Pada suatu hari, Kemala Negara sedang mandi bersama teman-temannya di sungai Musi, mereka melihat sebuah cawan tembaga kecil hanyut terapung dari hulu. Kemala Negara berenang ke tengah sungai mengambilnya.</p>
<p>&#8220;Biasanya cawan dan bunga serta minyak yang wangi seperti ini adalah bahan keramas cuci rambut wanita,&#8221; kata Kemala Negara. Temannya sependapat dan ada yang mengatakan, pastilah benda keramas itu milik wanita kaya raya, bangsawan.</p>
<p>Benar. Apa gerangan sebabnya benda seanggun dan semahal ini bisa hanyut? Mungkin ada pria jahat yang mengganggu wanita yang sedang keramas itu. Kita harus berusaha mengembalikannya,&#8221; ujar Kemala Negara.</p>
<p>Temannya berkata, &#8220;Benar. Carilah siapa pemiliknya, Kemala! Mana tahu nasib baik, pemiliknya masih gadis dan cantik pula. Sepadan dengan kau.&#8221;</p>
<p>Kemala Negara setuju pendapat temannya. Disimpannya cawan itu tanpa mengusik isinya. Hari itu juga dia sendiri berperahu menghulu sungai Musi.</p>
<p>Dua hari berperahu menghulu, terus bertanya, dan bersua dengan seorang gadis yang sedang mengambil air. Gadis itu tersenyum menjawab, &#8220;Benar, Tuan Muda. Ini cawan keramas milik temanku. Dayang Merindu namanya. Tiga hari yang lalu kami mandi beramai-ramai. Dia keramas mencuci rambutnya. Diletakkannya cawan ini di rakit dan kami mandi bermain simbur-simburan. Dia sangat risau karena cawannya ini hanyut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih. Tolonglah Adik kembalikan padanya,&#8221; ujar Kemala Negara.</p>
<p>Gadis itu kagum melihat pemuda yang berwajah tampan dihadapannya. Dia berkata, &#8220;Tuan Muda sendirilah yang mengembalikannya. Itu rumahnya di hulu situ. Pasti dia sangat berterima kasih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tolong kembalikanlah, Dik. Saya khawatir nanti kalau-kalau dia mengira cawannya ini saya ambil begitu saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, Tuan Muda. Dayang Merindu itu gadis paling cantik jelita di seluruh kampung ini. Sangat rendah hati dan ramah. Tuan Muda sudah menemukan dan dua hari jauh-jauh dari hilir sana mengantarkannya kesini.&#8221; Tapi karena Kemala Negara menolak untuk mengantarkan, gadis itu berkata, &#8220;Baiklah. Sebentar lagi saya akan ke rumahnya. Kami akan mandi ramai-ramai petang ini. Nanti akan saya ceritakan semua kepadanya. Tuan Muda tunggu kami di tepi semak ke tepian mandi. Serahkanlah langsung kepadanya.&#8221;</p>
<p>Kemala Negara setuju. Ditambatkannya perahunya di dekat belukar, dia menanti di jalan ke tepian mandi. Ketika dilihatnya gadis tadi datang bersama empat gadis, dapatlah dia menduga yang mana Dayang Merindu. Ketika saling pandang dari jarak yang masih agak jauh, pertama kali dalam hidupnya Dayang Merindu merasa darahnya bergetar, kagum melihat Kemala Negara yang bertubuh kekar dan berwajah tampan. Ketika gadis tadi mengenalkan yang mana Dayang Merindu, Kemala Negara membungkuk tanda hormat. Dayang Merindu langsung berujar, &#8220;Temanku ini sudah menceritakan semua. Alangkah tingginya baik budi Tuan, telah menemukan dan sudi bersusah payah mengantarkan cawan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf Putri Jelita. Terimalah cawan ini. Saya bahagia karena telah dapat mengembalikannya,&#8221; kata Kemala Negara. Dayang Merindu menyambut cawan itu. Masih saling memegang cawan, Dayang Merindu berujar, &#8220;Dengan apa gerangan saya dapat membalas baik budi Tuan?&#8221;</p>
<p>Kemala Negara tak mampu berkata-kata. Darahnya gemuruh. Keduanya saling merasakan api cinta pertama bergelora di jiwa.</p>
<p>Dayang Merindu sadar dan merasa malu pada teman-temannya. Ditariknya cawan itu. Namun, teman-temannya yang sudah maklum sengaja menjauh. Kemudian, berbincang-bincanglah kedua remaja yang sedang jatuh cinta itu. Berkatalah Kemala Negara, &#8220;Silakanlah mandi. Teman-teman sudah menanti. Bolehkah kita bersua lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya juga ingin berkata begitu. Dapatkah kita bersua lagi? Kami mandi dua kali sehari. Tunggulah di jalan ini.&#8221;</p>
<p>Tiga hari lamanya Kemala Negara berada di kampung itu. Enam kali mereka bersua dan berbincang. Ketika pulang ke kampungnya, Kemala Negara minta orang tuanya melamar Dayang Merindu. Akan tetapi, alangkah kecewanya mereka, ketika Sah Denar dan istrinya menolak lamaran, dengan alasan Dayang Merindu sudah dipertunangkan.</p>
<p>Kemala Negara sangat marah. Ditantangnya Dewa Jaya bertanding. Dewa Jaya tidak menolak. Keduanya menghadap Datuk kampung itu. Mereka menyatakan ingin bertanding. Siapa yang menang dialah yang berhak jadi suami Dayang Merindu.</p>
<p>Diumumkanlah ke seluruh kampung akan diadakan pertandingan. Seluruh penduduk pun berkumpul menyaksikan. Hanya Dayang Merindu yang tak mau keluar dari rumah. Dia sangat cemas kalau-kalau Kemala Negara kalah.</p>
<p>Setengah hari penuh kedua pemuda itu bertanding pencak silat. Ternyata tak ada yang kalah. Oleh karena itu, Datuk memutuskan, pertandingan dialihkan pada lomba bidar. Siapa yang lebih dahulu mencapai garis finish dialah yang menang.</p>
<p>Pada hari yang ditentukan, seluruh penduduk menyaksikan di tepi sungai Musi. Kedua pemuda itu mendapat sebuah perahu bidar yang kecil. Seluruh penduduk berdebar-debar menyaksikan karena kedua pemuda itu sama kuat dan sama cepat. Keduanya menggunakan tenaga dalam masing-masing. Ternyata keduanya mencapai tali garis finish pada saat yang bersamaan. Akan tetapi, seluruh penduduk menjadi cemas karena melihat kedua pemuda itu tertelungkup di perahu masing-masing. Ketika diperiksa, keduanya sudah tidak bernyawa lagi.</p>
<p>Mendengar berita itu, Dayang Merindu meninggalkan rumahnya. Datang ke pendopo dimana kedua mayat pemuda itu dibaringkan. Dia berdiri menghadap sang Datuk yang duduk di kursi kehormatan dekat kedua mayat itu.</p>
<p>Dengan hormat gadis itu berkata, &#8220;Saya dan Kemala Negara saling mencinta. Akan tetapi saya tahu Dewa Jaya juga sangat mencintai saya. Cintanya direstui oleh orang tua saya. Sekarang keduanya sudah menjadi mayat. Keduanya bertarung untuk memperebutkan saya. Saya ingin berlaku adil terhadap keduanya. Mohon agar Datuk belah menjadi dua tubuh saya ini. Yang sebelah mohon dikuburkan bersama Kemala Negara dan yang sebelah lagi dikuburkan bersama Dewa Jaya.&#8221;</p>
<p>Hadirin dan Datuk terpana mendengar keputusan Dayang Merindu itu. Sebelum mereka sempat berkata dan berbuat sesuatu, tangan kanan Dayang Merindu yang sejak tadi memaegang sebilah pisau yang diolesi dengan racun terayun cepat. Ujung pisau menusuk dadanya. Dia rebah dan tewas di tempat itu.</p>
<p>Menurut cerita, seluruh penduduk sangat menghormati dan menyanjung Dayang Merindu yang berani berlaku adil terhadap pemuda yang mencintainya. Jika mereka mengadakan acara untuk memperingati Dayang Merindu yang jadi idola seluruh penduduk, mereka mengadakan lomba bidar.</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p>Cerita ini legenda belaka. Orang tak percaya bahwa itu pernah terjadi. Namun, di Palembang, tempat Dayang Merindu mandi berkeramas, sampai sekarang bernama Kampung Keramasan. Lomba bidar dikembangkan, sampai sekarang dan seterusnya akan hidup sebagai seni tradisional dayung Palembang.</p>
<p>Kisah Dayang Merindu masih terus hidup sampai sekarang. Kisah ini sering dipentaskan dengan tari, melambangkan kecantikan, kejujuran, penghormatan pada orang tua, dan kemampuan bertindak adil terhadap orang yang telah berkorban jiwa karena mencintainya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>* Disadur dari buku berjudul Cerita Rakyat dari Sumatera Selatan 2, oleh B. Yass, diterbitkan oleh PT Grasindo, cetakan kedua tahun 2000.</p>
<p>* Gambar dicomot semena-mena dari <a href="http://img225.imageshack.us/i/bidarskyfj2.jpg/" target="_blank">http://img225.imageshack.us/i/bidarskyfj2.jpg/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2009/07/10/bidar-dan-cinta-sebuah-legenda.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Masalah dan Menikmati Hidup</title>
		<link>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 23:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Stupid Thought (?!)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?) Hmmm&#8230; Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit. Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week&#8230; *lebay mode on :P* Dowh! Entahlah&#8230; Lo mah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?)</p>
<p>Hmmm&#8230;</p>
<p>Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit.</p>
<p>Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week&#8230; *lebay mode on :P*</p>
<p>Dowh! Entahlah&#8230;</p>
<p>Lo mah ga tau, drus, masalah gue berat bener nie, seberat tujuh lapis langit yang spontan jatuh menimpa kepala gue! Lo masih nanya, apakah hidup itu harus dinikmati atau tidak? Dasar!</p>
<p>Okay, okay&#8230;</p>
<p>Calm down&#8230; *loh?! kok tulisan ini jadi nyeleneh gini sih?* :P</p>
<p>Stop it! Let&#8217;s BTT (back to topic-red)</p>
<p>Saya tahu, setiap orang pasti punya masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan oleh Sang Maha Pencipta terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Bisa saja suatu masalah bagi seseorang terasa berat namun justru bagi orang lain, masalah itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Nah, ketika anda mengalami masalah terberat itu, bagaimanakah tampaknya dunia ini? Masihkah ia berwarna-warni cerah? Atau justru cuma ada tiga warna? Hitam, putih, kelabu?</p>
<p>Pernah saya baca di salah satu blog temen saya, &#8220;Sesungguhnya tidak ada masalah dengan masalah, karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menghadapi masalah.&#8221; I totally agree with that!</p>
<p>Dan ada satu hasil kontemplasi antara saya dengan seseorang mengenai hidup dan masalah, &#8220;Turn it into a joy, play it like a toy, and make sure you&#8217;ll enjoy.&#8221; Apa kau gila?! Menganggap dan menjadikan suatu masalah sebagai permainan? Yeah, that&#8217;s an alternative door to get out of a complex labyrinth. IMSO (in my stupid opinion), jangan terlalu serius dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, berikan sedikit kesenangan pada diri anda, takutnya bila terlalu serius, masalah itu kemungkinan akan membuat anda tertekan dan semakin tertekan saat ia menjadi semakin rumit. Tapi, jangan pula menganggap suatu masalah itu terlalu mudah, yang bila anda terlena karenanya, ia akan menjadi semakin rumit dan rumit, atau bahkan tidak akan terselesaikan sama sekali. Dan beberapa masalah yang tidak terselesaikan justru akan tetap menggelayut di pikiran anda dan membebaninya. Bukankah akan terasa lebih plong, bila tidak ada beban sama sekali?</p>
<p><span id="more-121"></span></p>
<p>Bahkan, salah satu filsuf Yunani kuno yang terkenal itu, mister Plato, menyatakan, &#8220;Kalau begitu, bagaimana cara menjalani hidup yang benar? Jalani hidup seperti permainan.&#8221;</p>
<p>Yayaya&#8230;</p>
<p>Lagi-lagi nyangkut ke permainan. Mari sedikit mengenang, kapankah terakhir kali kita bermain? Bermain apa? Berapa lama? Dan apakah permainan itu memberikan perasaan senang?</p>
<p>Bermain bukan hanya hak yang dimonopoli oleh anak-anak. Kita pun butuh bermain. Ummm&#8230; Terakhir kali saya bermain adalah tiga puluh menit sebelum saya memulai menulis artikel ini. Saya bermain-main dengan kucing saya, lalu menjalankan game Alien Arena di mesin Ubuntu saya, memainkan beberapa riff lagu dengan gitar kesayangan, dan mencoret-coret di beberapa lembar kertas bekas.</p>
<p>Dengan menganggap suatu masalah sebagai sebuah permainan (anggap saja seperti dalam sebuah game) yang tentu saja ingin dimenangkan, saya merasa termotivasi untuk tetap tegak berdiri menghadapi gelombang hidup.</p>
<h3>Memandang Masalah Secara Terbalik</h3>
<p>Aaahhh&#8230;</p>
<p>Apa pula ini? Entahlah, saya juga rada bingung dengan konsep itu :P</p>
<p>Memangnya masalah bisa dibolak-balik? Tentu tidak! Namun cara kita memandang masalahlah yang bisa dibolak-balik. Misalnya gini, A merasa suntuk dengan masalah pekerjaannya, dimarahi bos tiap hari, kerjaan yang terus menumpuk, dsb. Bila A memandang masalah itu secara linear, tentu ia akan terjebak pada arus masalah tersebut.</p>
<p>Sekali-sekali melawan arus boleh, kan? Ga ada yang melarang kok! Tapi resiko tanggung sendiri. Balik lagi ke contoh si A diatas, bila ia merasa suntuk dengan pekerjaannya, cobalah sekali-sekali menganggap pekerjaannya itu sebagai permainan yang menyenangkan yang justru akan semakin menyenangkan bila semakin banyak permainan dan waktu yang dapat dihabiskan untuk bermain. Begitu pula bila ia bosan dan merasa gerah karena sering dimarahi oleh bosnya, coba pandang dan anggap kemarahan si bos itu sebagai sebuah lagu perjuangan yang mengingatkannya pada masa-masa penjajahan dulu, tentu semangatnya akan berkobar-kobar, bukan? Kemarahan si bos akan menjadi suatu hal yang senantiasa dirindukannya. Atau, mengapa tidak berbalik saja? Si A yang memarahi si bos? :P</p>
<p>Hahaha&#8230; Ternyata ada banyak cara dalam memandang dan menyikapi masalah&#8230; <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hhhh&#8230; Udah! Udah! Makin ngawur tho? Hihihi&#8230; Stop dulu ah nulisnya, ntar laen kali disambung lagi&#8230; :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh</title>
		<link>http://idrus.net/2008/09/08/tetaplah-lapar-tetaplah-bodoh.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/09/08/tetaplah-lapar-tetaplah-bodoh.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik. Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15).</em></p>
<p style="text-align: left;">Dua baris diatas adalah kalimat yang saya temukan pada halaman 15, buku Kubik Leadership karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini, ketika menanti waktu berbuka puasa kemarin sore (7/9) di Gramedia Lampung.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama kali membaca kalimat tersebut, saya langsung <em>&#8216;ngeh&#8217;</em>. Kenapa? Hmmm&#8230; Entahlah, mungkin karena sedikit mirip dengan filosofi saya yang ingin selalu merasa bodoh untuk terus dapat belajar dan belajar dari mereka yang lebih pandai dari saya. Pernah seorang temen nyeletuk, <em>&#8220;Lo ini aneh, orang laen pada pengen pinter, eeehhh&#8230; lo malah pengen tetep bodoh&#8230;?!&#8221;</em> Dan celetukan itu cuma saya balas dengan sunggingan senyum <em>*yang tentu saja: manis&#8230; wakakakakakaka&#8230; muntah! muntah! :P*</em></p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-62"></span></p>
<p style="text-align: left;">Alasan saya ingin tetap merasa bodoh karena saya tidak ingin seperti beberapa orang yang saya kenal-yang tentu saja pandai-namun angkuh dan sombong dengan kepandaiannya. Tidak jarang pula meremehkan pendapat dan pola pikir orang lain yang dianggapnya tidak sejalan dengannya. Alasan lain adalah saya ingin terus belajar dan belajar, mengenal dan mengeksplorasi hal-hal baru, agar kebodohan dalam bentuk sebenarnya tidak serta merta dan dengan semena-mena datang lantas membodohkan saya sampai menjadi bodoh sebodoh-bodohnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-63 aligncenter" style="border: 5px none white;" title="studying-main_full" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/09/studying-main_full-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></p>
<p style="text-align: left;">Hhh&#8230; Kalo bicara tentang belajar memang terkadang ditanggapi negatif oleh beberapa orang. Pernah saya bertanya kepada salah seorang temen, yang kerjaannya tidur melulu :P Apakah kelak ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi? Menggapai gelar Masternya. Lantas, apa jawabnya? <em>&#8220;Aaahhh&#8230; Entahlah drus, gw ga mau lagi kuliah S2, udah capek rasanya. Udah ga jaman lagi kuliah!&#8221;</em> Duh&#8230; Ada benarnya juga sie tapi bertolak belakang dengan saya. Saya justru malah merencanakan (dan jika Allah menghendaki) untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita coba telaah (tentu saja dengan logika yang bodoh), mengapa temen saya itu mengeluh bahwa ia capek kuliah dan berharap tidak akan bertemu lagi dengan yang namanya &#8216;kuliah&#8217; di masa depannya? Menurut saya ada beberapa faktor, diantaranya; dia telah merasa betah dan nyaman berada di zona nyamannya. Apa pula itu? Zona nyaman?</p>
<p style="text-align: left;">Ya, zona nyaman! Suatu zona (tempat atau kondisi) dimana anda sudah merasa sangat terpuaskan dengan keadaan yang sekarang dan tidak ingin beranjak darinya untuk mencapai suatu zona yang (mungkin) lebih nyaman dari yang sekarang, yang mungkin akan dapat dicapai dengan melakukan sedikit pengorbanan lagi. Pernah saya dengar kalau ingin maju dan jadi lebih baik lagi, maka bagaimanapun caranya kita harus keluar dari zona nyaman kita.</p>
<p style="text-align: left;">Memang, belajar tidak hanya terbatas pada pendidikan formal (sekolah dan kuliah) saja, melainkan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Ada banyak cara dan metode belajar, yang tiap orang tentu memiliki cara dan metode favoritnya tersendiri dan belum tentu cocok bila diaplikasikan pada orang lain. Saya misalnya, jujur, saya tidak menyukai suasana kuliah dalam kelas. Membosankan! Saya justru menyukai cara membaca dan diskusi mendalam juga aplikasi secara langsung, tidak hanya sebatas teori dalam baris-baris buku teks saja. Tanya lagi, mengapa membaca? Karena: <em>The more you read, the more things you will know. The more you learn, the more place you will go.</em> (Dr. Seuss)</p>
<p style="text-align: left;">Dan kini, filosofi tetaplah merasa bodoh itu memiliki pasangan jiwanya, yakni tetaplah merasa lapar. Namun perlu ada sedikit penambahan dalam istilah lapar disini; lapar dalam arti duniawi dan ukhrawi yang seimbang dan tidak berat sebelah. Mengapa? Karena tujuan akhir hidup bukan dunia, melainkan akhirat.</p>
<p style="text-align: left;">Wallahualam bi shawab.</p>
<p style="text-align: left;">&#8212;<br />
<em>Wishlist: Pengen beli dan baca buku Kubik Leadership tersebut&#8230; Tapi blom ada duit :(</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/09/08/tetaplah-lapar-tetaplah-bodoh.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cul De Sac (Cool The Suck?) dan Labirin?</title>
		<link>http://idrus.net/2008/08/28/cul-de-sac-cool-the-suck-dan-labirin.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/08/28/cul-de-sac-cool-the-suck-dan-labirin.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 06:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[cul de sac]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[labirin]]></category>
		<category><![CDATA[labyrinth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Cul de sac? Ya, cul de sac. Kalo saya sie lebih prefer nulisnya gini: Cool The Suck. Atau Ahmad Dhani, dia menuliskannya Kuldesak, dan menjadi salah satu lagu yang dulu dinyanyikannya bareng Ahmad Band. Yupe, I love that song so much! Tapi&#8230; disini saya bukan mau membahas mengenai lagu tersebut :P Apa sih cul de [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-28 aligncenter" title="culdesac-kids" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/08/culdesac-kids-197x300.jpg" alt="" width="197" height="300" /><em></em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Cul de sac</em>?</p>
<p style="text-align: left;">Ya, <em>cul de sac</em>. Kalo saya sie lebih prefer nulisnya gini: <em>Cool The Suck</em>. Atau Ahmad Dhani, dia menuliskannya Kuldesak, dan menjadi salah satu lagu yang dulu dinyanyikannya bareng Ahmad Band. Yupe, <em>I love that song so much!</em> Tapi&#8230; disini saya bukan mau membahas mengenai lagu tersebut :P</p>
<p style="text-align: left;">Apa sih <em>cul de sac</em> itu? Jalan yang tertutup disalah satu ujungnya. Ya, cuma satu ujung yang terbuka dan bisa dilewati sedangkan ujung yang lainnya tidak.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-24"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-29 aligncenter" title="500px-labyrinthsvg" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/08/500px-labyrinthsvg-300x300.png" alt="" width="261" height="261" /></p>
<p style="text-align: left;"><em>Labyrinth?</em> Labirin?</p>
<p style="text-align: left;">Apa sih labirin itu? Sebuah jalan/lorong berkelok-kelok yang setelah masuk kedalamnya akan sulit (bahkan terkadang) tidak akan bisa keluar lagi.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu, apa hubungannya dengan postingan nganar ini? Eit, eit&#8230; Tunggu dulu! Lagi-lagi keluar kata-kata aneh! Nganar tuh apaan?</p>
<p style="text-align: left;">Owh, kalo nganar itu artinya: ga jelas <em>(Palembangnese)</em> :P</p>
<p style="text-align: left;">Yupe, <em>cul de sac</em> dan labirin, adalah apa yang saya rasakan saat ini. Berada di satu jalan dengan hanya salah satu ujung yang terbuka sebagai jalan keluarnya serta berkelok-kelok yang membutuhkan usaha lebih untuk keluar dari dalamnya. Tidak lain dan tidak bukan, yang menyebabkan saya merasakan hal ini adalah skripsi saya! Fiuuuhhh&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Dulu pas semester 5 (atau 6?), saya dan temen-temen sangat berambisi untuk menelurkan suatu skripsi dengan bahasan yang hebat dan lain dari yang lain. Begitu pula pas mata kuliah Kapita Selekta Komunikasi pada semester 7 yang lalu, simulasi skripsi yang kami kerjakan terlihat begitu &#8216;wah&#8217;. Tapi kini, setelah saya dan tiga temen karib saya mendapatkan proyek dari dosen, dengan judul dan bahasan serta metodologi yang prestisius (menurut saya). Terkadang semua terasa mengasyikkan ketika performa dan semangat kami sedang <em>&#8216;at top of the world&#8217;</em>, tapi begitu pula kebalikannya, terkadang semua terasa suram ketika kami <em>down.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Progress</em>nya hampir setengah jalan. Tidak mudah memang, begitu banyak halangan dan rintangan disepanjang perjalanan. Semua itu menyebabkan kami merasa <em>cul de sac</em> dan berputar-putar dalam sebuah labirin yang ujungnya belum tampak dimata. Dan satu-satunya jalan keluar adalah terus berjalan walaupun harus tertatih bahkan merangkak! Tidak ada opsi mundur. Mundur berarti &#8216;mati&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Just believe and do it with full of spirits</em>. <em>Fight like a tiger, win like a champion</em>. Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan hambanya. SEMANGAT!!!</p>
<p style="text-align: left;">&#8212;</p>
<p style="text-align: left;">Gambar dicomot dari:</p>
<ul style="text-align: left;">
<li><a href="http://dailycartoonist.com/images/culdesac-kids.jpg" target="_blank">http://dailycartoonist.com/images/culdesac-kids.jpg</a></li>
<li><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2b/Labyrinth.svg/500px-Labyrinth.svg.png" target="_blank">http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2b/Labyrinth.svg/500px-Labyrinth.svg.png</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/08/28/cul-de-sac-cool-the-suck-dan-labirin.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>When a Man Lost a Woman</title>
		<link>http://idrus.net/2008/08/23/when-a-man-lost-a-woman.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/08/23/when-a-man-lost-a-woman.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 12:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[sweetheart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa, kecuali saputan mendung di wajahnya. Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan, kau akan melihat kedua tangannya terkepal dan rahangnya mengeras karena amarah. Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang yang disayang, dia masih bertahan dalam bisunya tapi air matanya tak sanggup ditahannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka<br />
akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa,<br />
kecuali saputan mendung di wajahnya.<br />
Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan,<br />
kau akan melihat kedua tangannya terkepal<br />
dan rahangnya mengeras karena amarah.<br />
Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang<br />
yang disayang, dia masih bertahan dalam bisunya<br />
tapi air matanya tak sanggup ditahannya lagi.<br />
Tetapi&#8230; coba tanyakan padanya, mengapa sudi<br />
dipecundangi cinta. Yakinlah, laki-laki itu pasti tertawa.<br />
Menertawakan pertanyaanmu yang dianggapnya bodoh,<br />
lalu berkata, &#8220;Kalau kau pernah mengecap cinta,<br />
kau tak akan pernah bertanya,&#8221;</em><br />
<span id="more-19"></span><br />
Itulah sepenggal kalimat di sampul belakang novel karangan Ita Sembiring, <a href="http://www.bukukita.com/Cerita-Fiksi/Romance/54280-When-a-Man-Lost-a-Woman.html?PHPSESSID=a8c981c7740784c0db6739acd220d0f7" target="_blank"><em>When a Man Lost a Woman</em></a>, ketika seorang lelaki kehilangan seorang wanita (pujaannya). Dan penggalan kalimat itu pula lah yang menarik hati saya untuk memboyong pulang novel ini sekitar setahun yang lalu ketika jalan-jalan ke <a href="http://gramedia.com" target="_blank">Gramedia</a> di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bandung" target="_blank">Kota Kembang</a> bareng temen-temen saya.</p>
<p>Kenapa sih nulis tentang ini? Hihihi&#8230; Karena komentar <a href="http://riavenclaw.blogspot.com" target="_blank">temen saya yang satu ini</a> di halaman <a title="Pustaka Mini" href="http://idrus.net/pustaka-mini" target="_blank">Pustaka Mini</a> <a href="http://idrus.net" target="_blank">blog ini</a> :) <em>But,</em> disini saya bukan mau membahas mengenai novel. Melainkan <em>just asking a relax question, what would you do when you lost your sweetheart?</em></p>
<p>Hmmm&#8230; Ada yang menangis tersedu-sedu, ada yang marah bahkan mengamuk, ada yang cuek bebek, ada yang memanjatkan syukur karena telah keluar dari <em>&#8216;neraka jalinan cinta</em>&#8216;, ada yang tertawa terbahak-bahak, dan lain-lain. Tambahkan sendiri bila ada yang kurang <em>*hihihi&#8230;*</em></p>
<p><em>What? You ask me? What would I do when I lost my sweetheart?</em></p>
<p>Jawabannya seperti penggalan kalimat diatas. Yang mana? Nuu&#8230; yang paling atas posting ini :P But, <em>the two I hate most is:</em> dibohongi dan dikhianati. Dan maaf saja bila karena itu sikap saya (kepadanya) berubah :)</p>
<p><em>Got it?</em></p>
<p><em>*huaaahhh&#8230; another posting ngawur dari saya&#8230;*</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/08/23/when-a-man-lost-a-woman.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

