Browse > Home / Archive by category 'My Words'

| Subcribe via RSS

Life is Like Rubik’s Cube

July 13th, 2010 | 3 Comments | Posted in My Words, Nganar

Yet complicated and challenging, but fun :-)

More »

Tags: , , ,

Hati yang sepi

February 17th, 2008 | No Comments | Posted in Curhatan, My Words

Semalam, kau hadir dalam mimpiku. Senyummu mengembang, bibirmu ucapkan kata-kata yang lembut dengan sesekali tergelak tawa dari canda yang terlantun.

Kau begitu nyata meski hanya untuk sesaat. Ku ingin hentikan sang waktu, persilakan malam tetap mencengkeram, lelapkan mentari dalam peraduannya, sehingga pagi tak menjelang, dan kau tak turut menghilang. Namun, aku tak miliki kuasa untuk melakukan itu semua.

Hatiku begitu sepi. Tanpa hadirnya dirimu. Aku tahu, aku memang bodoh. Tak berani ungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku selalu berkaca. Siapa diriku? Aku tak tampan, aku tak pandai, dan aku juga tak kaya. Betapa lancangnya diriku bila ternyata aku berani ungkapkan rasa itu. Kau begitu sempurna, tak pantas untuk menjadi milikku yang selalu papa.

Ku hanya mampu mimpikan dirimu. Harap kita selalu bertemu, bertatap muka, dan berkata-kata dengan diselingi canda yang ceria.

Jarak terkadang lancang, memisahkan dua insan yang berbeda. Walau zaman telah maju, sinyal radio bergentayangan di seantero bumi, kendaraan berkelebat cepat, namun semuanya seakan tak mampu pupuskan rinduku. Ku selalu berharap kau disana selalu baik-baik saja, selalu ceria, selalu bahagia, meski lautan, jarak, dan waktu bahu membahu membentuk suatu spektrum pemisah antara kita.

Aku kan selalu ada, kala kau bahagia atau pun duka.

Terkadang aku menantang sang duka, ingin menderanya dalam segenap siksa, bila ia berani menghampiri dirimu, meski sesaat.

Namamu selalu terangkai dalam bulir-bulir munajat yang senantiasa terpanjat seusai lima shalatku.

Entah sampai kapan rasa ini terpendam. Aku sendiri tak tahu. Sebab bibirku serasa kelu, bila mendengar suaramu diseberang sana. Aku tak mampu ungkapkannya. Ya, seperti kataku tadi, aku tak pantas untukmu.

Sebentar lagi kau wisuda, sedangkan aku belum apa-apa. Bahkan aku pun tak berani tanyakan, apa kau akan pulang setelahnya? Ataukah akan menetap disana? Meskipun tanya itu dapat terselip dalam canda, sedikitpun tak berani ter-udara.

Cutie, aku tak tahu lagi apa yang ingin kutuangkan dalam baris-baris kata tak terucap ini. Entah apa kau melirik baris-baris ini, walau sedikit. Atau mungkin kau memalingkan diri darinya. Anggap baris-baris ini tak pernah ada? Anggap baris-baris ini tak pernah tercipta? Anggap baris-baris ini tak bermakna? Aku tak peduli. Karena hanya melalui baris-baris inilah aku mencurahkan apa yang berkecamuk dalam jiwaku.

‘Meine Traurigkeit’ menggambarkannya jelas. Bila kau mengerti…

Kau tak bisa hilang (dari pikiranku)

August 19th, 2007 | No Comments | Posted in Curhatan, My Words

Entah mengapa, akhir-akhir ini ku semakin merindukanmu. Aku rindu wajah cantikmu, aku rindu ceplas-ceplosmu, aku rindu senyum manismu, aku rindu gemulai gerakmu, aku rindu tatapan bening matamu.

Gelisah itu mengunjungiku setiap waktu, setiap ada kesempatan, saat ku merenung sendiri, kesepian tanpa hadirmu, hanya bertemankan memori indah dalam alam pikirku.

Apa kabarmu disana, bidadari? Diri ini terus menerus memikirkanmu, apa kau tahu itu, bidadari?

Setiap kali ku ingin berpaling darimu, mencoba berlari dari bayang-bayangmu, diri ini semakin sakit, hati ini semakin teriris terperih tak tertahankan.

Setiap kali ku ingin hapus gambar tentangmu, ia semakin jelas terpampang dihadapanku. Garis demi garis sketsa itu membentuk sosok sempurna dirimu, yang membuatku tak mungkin melupakanmu.

Setiap kali ku ingin gantikan dirimu dengan yang lain, aku tersadar bahwa tak ada yang mampu menggantikan dirimu.

Setiap kali ku pandangi langit malam, purnama seakan enggan menampakkan diri, hanya desiran angin dingin yang setia menemani dan menyelimutiku. Sesekali ku berbisik pada sang angin, tolong sampaikan salamku untukmu disana, apa kau menerima salamku, bidadari?

Walau kau jauh disana, aku ingin kau selalu ceria, selalu cerah, tersenyum dan tertawa, berikan keindahan kepada dunia yang kelam ini, berikan cahaya pada malam yang gelap ini. Ku selalu berharap yang terbaik untukmu, bidadari.

Entah di pelabuhan mana lagi harus kutambatkan kapal-kapal cinta ini. Yang ada hanya bentangan samudra nan luas membiru, mengelilingi dan mengaburkan pandanganku. Membuat hidupku semakin hampa dan tak berarti.

Selalu terlintas dibenakku, apakah ada tempat berlabuh didepan sana? Agar ku bisa menepi sejenak ‘tuk sekedar pulihkan semangat hidup yang mulai terkorosi ini. Walaupun aku masih harus berlabuh berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun lagi? Kata hatiku berbisik, kau pasti menemukan pelabuhan itu di satu pulau yang lebih indah dari pulau-pulau lainnya.

Semoga…

Kamar kost-ku, Bandar Lampung
Jum’at, 17 Agustus 2007
13:15

Bunga untukmu, bidadari…

August 13th, 2007 | No Comments | Posted in Curhatan, My Words

Mawar itu merah, bidadari. Memang, mawar tidak hanya merah. Mawar ada yang kuning dan putih, tapi aku lebih suka dengan mawar merah. Kata orang, warna merah berarti berani. Namun, aku sendiri meragukan keberanianku ‘tuk nyatakan rasa yang bergejolak dihatiku. Apa ini cinta? Entahlah… tapi satu yang pasti, rasa itu kian kuat membuncah dan meluap-luap saat kuingat dirimu apalagi beradu pandang dengan mata indahmu.

Tak berani berarti pengecut. Memang, aku pengecut! Sang waktu pernah menorehkan sejarah kelam kepengecutanku yang membuatku menyesal hingga detik ini. Tapi tolong, bidadari, jangan kau tanyakan tentang sejarah itu, aku tak mau mengungkit-ungkitnya lagi. Pernah kudengar umpatan orang-orang terhadap sang pria pengecut, “potong saja kemaluanmu bila kau tak memiliki keberanian!”. Sejenak aku diam, mencerna makna tiap rangkaian huruf-huruf itu. Lalu, ingin sekali kubantah kata-kata mereka, “Hei! aku pengecut! hadapi seorang gadis saja aku takut! apalagi bila harus memotong kemaluanku! tentu saja aku tak berani melakukannya! karena aku pengecut! justru karena kalianlah sang pemberani, maka kusarankan kalian memotong kemaluan kalian! untuk buktikan keberanian kalian!”. Tapi kuurungkan niat untuk membantah itu, kau tanya kenapa, bidadari? Karena aku pengecut! Kupikir lebih baik diam daripada berbacot tak karuan.

Mawar itu bunga, bidadari. Bunga itu sangat indah, dan mereka memiliki wangi yang memanjakan penciuman. Kata orang, nyatakanlah setiap perasaanmu dengan bunga. Entah itu perasaan bahagia ataupun duka cita. Aku setuju dengan kata mereka, bidadari. Sudah terlalu sering aku melihatnya di TV, adegan romantis saat seorang pria menyatakan cinta, sembari memberikan sekuntum bunga mawar merah pada gadis pujaan hatinya yang pada akhirnya mampu meluluhkan hati sang gadis. Atau pada adegan lain, saat berlangsungnya suasana berkabung, beberapa orang membawa bunga sebagai tanda turut berduka cita mereka.

Mawar itu berduri tajam, bidadari. Kata orang, durinya itu untuk melindungi dirinya dari tangan-tangan jahil. Aku ingin kau memiliki duri seperti sang mawar untuk melindungi dirimu dari ‘pria setan’, bidadari.

Bidadari, ingin rasanya saat ini juga kunyatakan rasa-ku ini padamu melalui setangkai bunga mawar merah. Namun, aku masih ragu, bidadari, aku masih takut. Aku merasa tak pantas untuk menyatakannya, kau begitu sempurna, sedangkan aku hanyalah manusia biasa yang tak sesempurna dirimu.

Mungkin, lebih baik kupendam saja rasa ini, hingga malaikat maut datang berderap dengan kuda-kudanya dan mencambuki jiwaku agar bercerai dengan ragaku. Aku tahu, bidadari, memendam rasa itu sama halnya dengan menancapkan duri-duri tajam bunga mawar ke dalam bilik-bilik jantungku, sakit dan perih tak tertahankan. Tapi aku rela, bidadari, aku rela dan siap menerima semua itu…

Hanya satu yang kupinta darimu, izinkan aku ‘tuk sekedar membayangkan eloknya paras pahatan Yang Maha Kuasa, setiap waktu sebelum aku tiba di depan gerbang alam mimpi dan memasukinya untuk bertemu dengan dirimu yang semu…

Hanya itu yang kupinta, bidadari…

Home Sweet Home, Palembang
Minggu, 12 Agustus, 2007
00:14

Karena kamu…aku sedih…

August 2nd, 2007 | No Comments | Posted in Curhatan, My Words


Fuuh…hembusan karbondioksida keluar dari mulut dan hidungku. Pikiranku kacau, melanglang buana entah kemana. Hari ini aku tak lagi melihat dirimu, senyummu, celotehanmu, candamu, dan guraumu. Sepi…

Diluar cerah, mentari berpijar garang, namun kurasa mendung dan hujan menyelimutiku. Malas menggelayutiku. Aku masih tergolek di tempat tidurku, kipas angin mendera-dera mengusir udara panas disekitarku. Lamunan membawaku jalan-jalan ke alamnya. Satu persatu frame itu terpampang bagaikan slide show presentasi. Kenangan itu indah, sangat indah. Saat-saat pertama bertemu denganmu diri ini sempat ragu untuk menyapamu dan sekedar berkenalan denganmu, namun dapat kurenggut ragu itu dan kupenjarakan di balik tembok-tembok besi yang kokoh. Kupaksakan mulut ini bicara sepatah dua patah tuk sekedar melihat reaksimu. Positif aktif, kau ternyata berbeda dari apa yang kukira sebelumnya. Mulanya kau tampak bagaikan seorang yang sombong, ketus, judes, dan lain sebagainya. Setelahnya kau tampak bagaikan seorang yang supel, baik hati, apa adanya, murah senyum, ramah, dan lain sebagainya. Hati ini begitu senang bisa kenal dan mengobrol denganmu. Ku tak ingin hari itu berakhir, kutarik tangan sang waktu sembari menunjukkan wajah memelasku, berharap ia berhenti, namun ia menepisku, tak hiraukanku, tak sudi langkahnya terusik.

Esoknya dan esoknya lagi, selalu kunantikan dirimu, yang cantikmu menjadi penyemangat dan pencerah hatiku, yang senyummu menumbuhsuburkan bunga-bunga indah dalam relung-relung jiwaku, yang manismu membuatku tak gentar hadapi apapun. Kau tak sama dengan wanita yang pernah kukenal selama ini, kau begitu unik, begitu spesial. Jujur, hati ini senang dan bahagia saat ada didekatmu, apalagi melihat senyummu dan mendengarkan celotehanmu. Aku sayang padamu, berharap kau selalu ada disampingku, walaupun kutahu itu tak mungkin terjadi. Ku hanyalah pungguk dan kau bulannya. Aku hanya bisa merindukanmu, takkan mampu memilikimu. Tapi kuingin selalu melindungimu, menyertaimu, dan menjadi perisaimu, tuk dengarkan keluh kesahmu dan singkirkan mereka yang berpikiran kotor dan bernafsu setan dari dirimu, kuingin menjaga kesucianmu karena kesucianmu hanya untuk ia yang benar-benar berhak, ia yang benar-benar kau cintai dan mencintaimu, ia yang takkan menyia-nyiakanmu, ia yang takkan munafik padamu, ia yang takkan sedikitpun menyakitimu.

Tak berlebihan bila kuumpamakan kau bagai seorang bidadari. Beribu lelaki ingin memilikimu yang membuat iri dan cemburu beribu bidadari lainnya sebab kau begitu sempurna.

Kemarin hari terakhir kubertemu dirimu, banyak yang ingin kukatakan padamu, namun ragu itu berhasil membobol dan merobohkan tembok-tembok besi yang kubangun, ia melarikan diri dan serta merta menginvasi keberanianku, membekapnya erat hingga ia lemas tak berdaya. Aku hanya bisa mengucapkan kata-kata bisu. Miris hatiku, hancur perasaanku saat melihatmu terakhir kali itu. Wajahku tetap cerah dan tenang, namun hatiku hujan deras dan berbadai, hatiku menangis tersedu.

Dan sekarang bukan hanya hatiku yang menangis tersedu, bahkan kedua indera penglihatanku menitikkan air mata kesedihan. Kumerasa bagai kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ya, ku kehilangan dirimu.

Entah bagaimana denganmu, aku tak tahu…

Apakah kau menangis, ataukah bahagia karena tak melihatku lagi?

Aku peduli, namun kupaksakan untuk tak peduli…

Ku tak mau jadi pengganjal dihatimu. Ku tak mau membuatmu sedih apalagi menangis…

Aku tak keberatan bila kau melupakanku…

Karena kuyakin kau pasti menemukan ia yang lebih baik dan lebih sempurna dari diriku yang hanya pungguk ini…

TeraNet, Veteran, Palembang
2 Agustus 2007
19:40


*Didedikasikan untukmu, bidadari, kuharap kau membacanya…*
*Diedit tanggal 3 Agustus 2007 pukul 3:48*

Diam…

July 28th, 2007 | No Comments | Posted in Curhatan, My Words

Oleh: Idrus Fhadli

Disini, di lapangan yang luas membentang ini, dalam gelap dan pekatnya malam. Aku berdiri terdiam, menerawangkan imaji, sendiri tiada kawan maupun lawan, terlarut dalam belaian mesra sang khayal yang masih setia menceritakan kisah-kisah indah dunia.

Angin malam itu begitu kencang, menggoyangkan rerumputan ilalang disekelilingku, menciptakan sederetan ritme yang semakin membuaiku. Sekejap ku tersentak, kulihat sesuatu yang berkelebat cepat mendekatiku, dekat, semakin dekat. Aku ingin mundur dan berlari tapi sendi-sendiku serasa kaku, membuatku semakin terdiam membisu, terpejam tak berkutik. Sesuatu itu menyambar dan mencengkeram erat kedua lenganku dengan lengan-lengannya yang besar, kuat, dan kokoh. Kurasakan kakiku yang sedari tadi menjejak tanah, terangkat, aku terbang. Ingin ku mengetahui apa yang terjadi, namun kedua mataku masih terpejam, belum cukup keberanianku untuk mengetuk dan memintanya membukakan pintu-pintu yang menghalangi segenap pandanganku.

Sekarang kakiku menjejak angkasa, begitu luas, begitu bebas, tak ada kerikil ataupun perakaran pohon yang dapat membuatku berhenti berlari sejenak kemudian terjatuh, menangis tersedu, tergugu, dan bangkit berdiri untuk kemudian berlari lagi.

Aku lelaki! pikirku, apa yang harus kutakutkan? Kecuali penciptaku! Kuhimpun keberanianku, perlahan kuketuk pintu itu sembari mengucapkan salam, dengan perlahan pula pintu itu terbuka lebar, dan lebar hingga sepasukan cahaya berebut masuk dengan leluasa. Silau, sangat silau, ingin rasanya ku memekik dan meminta sang tuan rumah menutup kembali pintu-pintunya. Namun percuma, ia telah menghilang entah kemana.

Cahaya itu perlahan meredup dan kunang-kunang dihadapanku satu-persatu pergi menjauh. Kudongakkan kepalaku, mencoba mencari tahu apa dan siapa yang membawaku terbang. Aku terkesima, takjub sekaligus kagum atas apa yang kulihat, seekor burung besar dengan jambul indah dan bulu panjang berwarna-warni yang meninggalkan jejak-jejak pelangi di setiap jengkal angkasa yang dilaluinya. Belum pernah kulihat apalagi kubayangkan keindahan seperti ini sebelumnya.

Burung itu masih melesat cepat, membelah gumpalan-gumpalan awan sedemikian rupa, membawaku terbang jauh, semakin jauh, hingga ku tak bisa menerka-nerka lagi dimana aku sekarang. Belum habis bengongku, tiba-tiba ia menukik tajam secepat ia melesat. Samar-samar kulihat di bawahku, di kejauhan yang masih diluar jarak pandangku, titik-titik kecil dengan diameter yang berbeda, berkerumun, membentuk pola-pola yang tidak beraturan. Saat ketinggian kami semakin berkurang, semakin jelas pula mataku melihat titik-titik itu. Bentuknya seperti kerucut dengan ujung-ujungnya yang meruncing. Otakku bekerja keras dengan kecepatan petaflops yang aku tak tahu berapa nominalnya, memerintahkan milyaran neuron didalamnya untuk memasuki ruang perpustakaan dan perbendaharaan kata, mencari tahu apakah titik-titik itu.

Stalagmit! Kontan ku terkesiap dan menjerit, memekik, melengking sejadi-jadinya, sampai putus pita suaraku, saat burung itu menukik tajam, semakin cepat, mendekati stalagmit-stalagmit itu dan seketika itu pula melepaskan cengkeraman kaki-kakinya seraya melemparku, membanting tubuhku ke gugusan yang beberapa milidetik lalu berupa titik-titik tak bermakna. Kucoba meraih ekornya yang terjuntai melambai kearahku. Kugenggamkan tanganku, berharap juntaian ekor indah itu turut tergenggam didalamnya. Namun hanya sebentuk kosong yang kugapai. Ekor indah itu semakin menjauhiku dan masih melambai kepadaku seakan ingin mengucapkan salam perpisahan. Aku melayang sejenak kemudian jatuh, tubuhku hancur tercerai-berai, tertusuk, tersobek, dan terkoyak tombak alam itu.

Kembali aku terdiam, terpana, tanpa suara, namun kali ini untuk selamanya…

Home Sweet Home, Palembang
27 Juli 2007
20:50

Tentang Hidup

March 31st, 2007 | No Comments | Posted in My Words

Terkadang hidup itu indah, cerah, penuh warna, berbumbu canda dan tawa…
Tapi kadang hidup terasa begitu membosankan, gelap, tak ada cahaya, sunyi dan bisu, yang tersisa hanya rasa kesepian…

Terkadang keberadaan sahabat begitu berarti, ia mencerahkan, melukis, dan mewarnai hidup dengan begitu indahnya, merangkai melodi yang begitu memanjakan telinga, dan menorehkan kenangan yang tak terlupakan…

Tapi kadang rasa sendiri dan sepi itu begitu menyenangkan, melakukan apapun sendiri dan seenaknya, tanpa ada yang mengusik, tanpa ada yang peduli…

Memang, hidup itu bagai gelombang, kadang pasang, kadang surut…
Gelombang tak selamanya pasang, tapi juga tak selamanya surut, begitu pula hidup…

Kadang diatas, kadang dibawah, kadang tergelak tawa, kadang tercucur air mata, kadang bergelimang harta, kadang mengharap nafkah, kadang bercahaya bak bintang, kadang segelap dasar lautan, kadang dikelilingi teman dan sahabat, kadang mereka pergi darimu…

Itulah hidup, setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menjalaninya…
Dan hidupmu tak mesti mencontek hidup mereka, tak mesti sama seperti mereka…
Tentukan sendiri…

Kopi 15
28 Februari 2007
20:38