Teriakan rakyat VS rezim buta tuli
Beberapa kali saya dengan ungkapan, “buat apa berdemo! toh harga BBM tidak akan turun!”. Secara tidak langsung ungkapan itu menyiratkan kebutaan dan ketulian pemerintah akan penderitaan rakyatnya. Mereka sudah tidak peduli lagi. Demokrasi sudah tidak dijunjung lagi. Komunikasi politik tidak lagi berjalan dengan sebagaimana mestinya sebab faktor yang dibutuhkan demi efektifnya suatu proses komunikasi sudah tidak ada lagi.
Rakyat dan mahasiswa yang berdemo kita asumsikan sebagai komunikator, dalam konteks ini, mengkomunikasikan aspirasi rakyat kepada komunikan, pemerintah. Komunikasi antara komunikator dan komunikan ini sudah tidak lagi berjalan efektif. Mengapa? Karena komunikan sudah buta dan tuli! Tidak mampu lagi melihat, mendengar, bahkan merasakan apa yang dikatakan komunikator! Komunikator ngoceh sendiri, sampai jerit-jerit malah, namun komunikan cuek bebek.
Anarchy in Indonesia
Sex Pistols menciptakan lagu Anarcy in The UK bukan tanpa alasan. Nah, bagaimana kalau The UK itu diganti dengan Indonesia? Menjadi Anarchy in Indonesia (Anarki di Indonesia)?
Demonstrasi yang anarkis bukanlah cara yang baik dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Anarkisme disertai dengan perusakan fasilitas umum dan kerusuhan tentulah akan membuat negara ini tidak sedap dipandang oleh negara lain. Akibatnya apa? Secara tidak langsung ya investasi asing dan pariwisata Indonesia akan berkurang.
Pemeran utama dalam demonstrasi yang brutal ini adalah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’. Mengapa? Sungguh aneh bila yang melakukannya adalah mahasiswa yang boleh dikatakan agent of change ataupun elit pemuda yang berpendidikan tinggi serta berwawasan luas dan polisi yang katanya adalah pengayom masyarakat.
Pengejaran, pelemparan batu, pemukulan, penembakan, hingga berbagai tindak kekerasan lainnya dilakukan oleh kedua oknum ini. Miris memang melihatnya. Bukankah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’ merupakan segelintir kalangan yang merasakan dampak dari kenaikan harga BBM itu?
Fungsi agenda setting media, “demonstrasi brutal lebih menarik”
Media massa, sebagai corong paling efektif dalam menyebarluaskan pesan kepada masyarakat memiliki fungsi istimewa, yakni fungsi agenda setting.
Fungsi agenda setting adalah fungsi yang dimiliki oleh media massa dalam memilah dan memilih informasi mana yang dianggap penting dan informasi mana yang dianggap kurang penting. Pemilihan dan penekanan informasi penting ala media ini turut mempengaruhi persepsi khalayak mengenai informasi tersebut.
Demonstrasi yang brutal/anarkis, itulah yang lebih sering diangkat oleh media-media massa di republik ini sejak pra hingga pasca kenaikan harga BBM. Sedangkan demonstrasi yang berjalan damai dan simpatik justru dianggap tidak menarik. Pemilihan sudut pandang oleh media seperti ini secara tidak langsung turut mempengaruhi persepsi masyarakat mengenai demonstrasi kenaikan BBM yang notabene dilakukan oleh mahasiswa. Masyarakat menilai bahwa tidak sepantasnya mahasiswa melakukan aksi/demonstrasi tersebut. Tugas mahasiswa adalah hanya belajar, belajar, dan belajar. Mengenai isu-isu sosial politik yang tengah hangat, biarkan saja! Tidak usah diacuhkan! Konsentrasi saja pada kuliah kalian! Itulah sedikit makna yang saya tangkap melalui pembicaraan dengan beberapa orang yang tidak sependapat dengan aksi para mahasiswa itu. Benar-benar aneh. Masih bisakah anda diam disaat anda tahu rumah anda sedang dibakar orang?
Tugu Rakyat sebagai solusi
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), telah mencanangkan Tujuh Gugatan Rakyat atau Tugu Rakyat. Tugu Rakyat itu sendiri merupakan tuntutan mahasiswa terhadap pemerintah yang berisikan:
1. Nasionalisasi aset-aset strategis bangsa
2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat
3. Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya
4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi
5. Jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat
6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan
7. Selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo Brantas
Mari kita cermati setiap tuntutan di Tugu Rakyat itu, bukankah jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan memberikan BLT? Wallahualam.
Indonesia di masa depan
Masih ingat sajak yang dibawakan Dedi Mizwar menyambut 100 tahun kebangkitan nasional beberapa waktu lalu?
Bangkit itu susah
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang
Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri
Mencari perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku
Memang, sajak diatas tampak seperti hanya onggokan huruf-huruf yang merangkai kalimat. Namun makna dibaliknya sungguh tajam dan mengena.
Untuk bangkit dan berubah memang terkadang susah. Membutuhkan tekad dan semangat yang konsisten dan berkesinambungan. Membutuhkan kemauan dan dukungan dari seluruh elemen, tidak hanya cukup oleh segelintir kecil orang yang peduli pada perubahan saja.
Jangan hanya bicara tentang bangkit dan berubah sebelum kita dapat bangkit dan merubah diri kita sendiri, sebelum kita mengerti dan paham makna bangkit dan berubah itu.
Mari kita mulai dari diri sendiri, bertekad untuk bangkit dan berubah demi perubahan besar pada bangsa ini. Jangan kita hanya bisa berkoar-koar saja, seharusnya negara ini begini, atau seharusnya negara itu begitu. Stop NATO (No Action Talk Only).
Saya yakin bila kita mampu bangkit dan berubah, Indonesia di masa depan akan secerah harapan para pendiri pondasi bangsa ini yang telah rela berkorban apapun yang mereka miliki demi berdirinya nama besar Indonesia dihadapan dunia.