Browse > Home / Archive by category 'Social Politics'

| Subcribe via RSS

Alasan Mengapa BLT Harus Dihapuskan

July 10th, 2009 | 2 Comments | Posted in Social Politics

Bantuan Langsung Tunai

Bantuan Langsung Tunai atau yang lebih dikenal dengan akronim BLT, merupakan salah satu kebijakan pada masa pemerintahan SBY-JK yang meskipun bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat (khususnya rakyat miskin) namun menuai cukup banyak kontroversi di masyarakat karena berkesan semacam belas kasihan yang hanya menyenangkan rakyat kecil sesaat. Efek sesungguhnya dari dampak kenaikan harga BBM belum terjawab seperti adanya gejolak dalam masyarakat akibat bertambahnya angka kemiskinan.[1]

Kontroversi itu sendiri mulai muncul ke permukaan ketika pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dua kali pada Maret dan Oktober 2005, kemudian berlanjut pada penaikan BBM ketiga kalinya pada Mei 2008.

Tiga kali harga BBM dinaikkan hingga nyaris menyentuh angka 160 persen, dan tiga kali pula diturunkan secara perlahan, itu pun tidak sampai turun pada harga semula.

Selain itu, politisasi BLT pada masa kampanye Pilpres 8 Juli kemarin juga tampak begitu panas. Baik SBY maupun JK sama-sama mengklaim bahwa itu adalah kebijakan yang berasal dari ide brilian masing-masing.

Andaikatapun BLT ini benar-benar ditujukan untuk membantu rakyat (khususnya mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan) akibat dampak kenaikan harga BBM, mengutip pendapat Akbar Tandjung, bantuan tersebut harus memenuhi beberapa syarat. Yaitu, tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu. Jangan sampai juga bantuan tersebut hanya memberi masyarakat ikan tanpa memberi pancingnya.[2]

Dan pertanyaannya kini, apakah BLT telah memenuhi syarat-syarat tersebut? In my humble opinion; tidak!

Berikut beberapa alasan mengapa BLT harus dihapuskan:

More »

Tags: , ,

Golput Itu…

July 6th, 2009 | 3 Comments | Posted in Social Politics

Logo Golput, Source: Politikana

Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengklarifikasi dugaan pembaca sekalian yang mungkin mengira saya adalah golput. Perlu saya tegaskan bahwa “my politics is my business” (politik saya adalah urusan pribadi saya). Jadi, ada kemungkinan saya adalah pendukung salah satu calon tertentu atau bahkan tidak mendukung satupun dari calon yang ada. Wajar bukan? Karena menjaga kerahasiaan itu juga merupakan hak saya dan hak seluruh bangsa Indonesia pada umumnya :D Selain itu, sumber pemikiran dalam tulisan ini juga telah banyak dikontaminasi dari beberapa sumber baik itu berupa artikel online maupun media cetak, jadi ini bukanlah seratus persen hasil pemikiran saya sendiri :D

More »

Tags: , ,

The Lost City

March 2nd, 2009 | 1 Comment | Posted in Puisi Ga Jelas, Social Politics

I am a sincere man
Aku seorang pria yang tulus

From where the palm trees grow
Dari tempat dimana pohon plum tumbuh

And before death takes me
Dan sebelum kematian membawaku

I want to let the poems soar from my soul
Aku ingin membiarkan puisi menjulang tinggi dari jiwaku


I come from everywhere
Aku datang dari semua tempat

And everywhere I go;
Dan kemanapun aku pergi;

Art I am among the arts,
Seni aku berada di antara seni,

Among the mountains,
Di antara pegunungan,

Mountain I am.
Pegunungan diriku.


All is beautiful and loyal,
Semua yang indah dan setia,

All is musical and right,
Semua yang musikal dan benar,

And all, like the diamond,
Dan semua, seperti berlian,

Is charcoal before being light.
Adalah arang sebelum menjadi bersinar.


With all the poor of the world
Dengan semua puisi yang ada di dunia

I want to cast my fate;
Aku ingin melemparkan takdirku;

A little brook in the mountain
Sedikit parit di pegunungan

Pleases me more than sea.
Menyenangkanku daripada laut.


I want, whenever I die,
Aku ingin, kapanpun aku mati,

Stateless, but no matter,
Tanpa negara, tapi tanpa masalah,

To have on my tombstone, a bouquet of flowers…
Untuk memiliki batu nisanku sendiri dan sebuket bunga…

…and my country’s flag.
…dan bendera negaraku.


I cultivate a white rose in July as in January
Aku menanam mawar putih di bulan Juli seperti juga di Januari

For the sincere friend who offers me his honest hand.
Untuk teman yang tulus yang menawariku tangannya yang jujur.

And for the cruel who rips from me
Dan untuk yang kejam yang telah merenggut dari padaku,

My heart by which I live,
Hatiku yang karenanya aku hidup,

I cultivates neither thorns nor thistles;
Aku menanam tidak duri ataupun tumbuhan berduri;

I cultivate the white rose.
Aku tanam mawar putih.

–Fico Fellove [The Lost City, 2006]–

Tags: , , , , , ,

Rekayasa Sosial yang Gagal

November 21st, 2008 | 7 Comments | Posted in Communication, Curhatan, Nganar, Social Politics

Forewords

Rekayasa sosial atau yang populer disebut sebagai social engineering adalah:

The art of manipulating people into performing actions or divulging confidential information. While similar to a confidence trick or simple fraud, the term typically applies to trickery for information gathering or computer system access and in most cases the attacker never comes face-to-face with the victim [http://en.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_(security), diakses tanggal 21 November 2008].

Yang bila diIndonesiakan kira-kira artinya:

Seni memanipulasi orang lain untuk melakukan suatu aksi atau membocorkan informasi yang bersifat rahasia. Hampir mirip dengan trik kepercayaan atau penipuan yang sederhana, terminologi ini digunakan untuk menipu daya demi menggali informasi atau sistem akses komputer dan kebanyakan kasusnya, penyerang tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan korbannya.

More »

Tags: , , ,

Politik Rakyat

November 16th, 2008 | 8 Comments | Posted in Social Politics

Aaahhh… politik… politik… :D

Pernah ada yang berguyon kepada saya seperti ini, “Politik identik dengan banyak dan beragam tikus (poli tikus).” :P *sudahlah, lupakan guyonan tersebut, lets back to topic* :P

More »

Tags: ,

Menanti kebangkitan generasi Al-Quran

July 18th, 2008 | 6 Comments | Posted in Curhatan, Social Politics


Tadi pas khutbah Jum’at saya bener-bener merasa ‘tertampar’ keras. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena dari apa yang disampaikan oleh khatib tersebut kepada para jamaah Jum’at. Emang apa sie yang disampaikannya?
Here the story goes…

Di deket rumah anda pasti ada masjid (atau setidaknya musholla), bukan? Apakah setiap akan memasuki waktu shalat (sebelum adzan), masjid tersebut selalu mengumandangkan tilawah Al-Quran? Bila iya, siapakah yang bertilawah? Apakah manusia (imam masjid, qari, atau masyarakat sekitar)? Ataukah… KASET?

Kalo saya mah jujur, masjid di deket rumah saya (di Palembang), setiap menjelang waktu shalat, selalu berkumandang tilawah Al-Quran nan merdu dan indah namun qari yang mengumandangkannya tak lain dan tak bukan adalah dari sebuah kaset yang diputar menggunakan tape recorder! Tidak jarang pula dari siaran radio!

Miris…

Kemanakah generasi Al-Quran kita saat ini dan masa depan?

Sedikit flash back ke masa lalu, suatu masa ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SD (Sekolah Dasar). Ya, saya merasa beruntung sempat merasakan masa-masa indah dimana para anak-anak kecil di daerah tempat tinggal saya, berbondong-bondong ikut pengajian (atau biasa dikenal dengan sebutan TPA – Taman Pendidikan Al-Qur’an).

Kala itu, masjid tempat kami belajar mengaji selalu ramai, oleh anak-anak yang belajar Al-Qur’an. Sejak siang hari, selepas jam pulang sekolah, sore hari, hingga malam hari yang selesai sekitar pukul delapan atau sembilan malam.

Sebelum pindah ke TPA di masjid deket rumah, saya sempat mengenyam pendidikan Al-Qur’an di TPA yang letaknya boleh dibilang agak jauh dari rumah. Di TPA itu pula, saya belajar Iqra, dari jilid I hingga VI. Setelah itu barulah mempelajari Al-Qur’an (baca tulis, tafsir, menghafal, dsb). Namun, ketika saya duduk di kelas V SD, saya berhenti dari TPA itu, dan pindah ke TPA di masjid deket rumah saya, dengan alasan lebih deket dan ketika itu pula saya mulai memasuki jenjang Children Class di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Palembang.

Belajar Al-Qur’an di TPA masjid deket rumah ini pun hanya bertahan hingga kelas I SMP. Alasan saya dulu begitu klasik, “karena banyak pe-er dari sekolah yang harus dikerjakan, dan selain itu masih harus belajar di rumah, dan kursus bahasa Inggris.”

Bagaimana dengan masa kecil anak-anak yang hidup di era digital saat ini? Apakah mereka masih mengikuti yang namanya TPA/pengajian? Sepanjang yang saya tau, masih. Namun, tidak sebanyak dan seramai ketika saya kecil dulu. Pun ‘kelas malam‘ pengajian seperti saya dulu sudah tidak ada lagi!

Pernah beberapa waktu lalu, ketika di Palembang, saya menanyai seorang anak tetangga saya yang masih duduk di bangku SD, “kok ga ngaji ke masjid?”. Jawabnya, “nggak ah, kak, game-nya (PlayStation as known as PS) belom tamat.” Weleh! Alesannya lebih canggih, bro! Game PS!

Stop here! Back to topic!

Sedikit gambaran yang saya jabarkan diatas, pada beberapa bagian, jelas-jelas menohok relung hati saya. Salah satunya; alasan berhenti ngaji di TPA karena harus belajar dan mengerjakan pe-er dari sekolah, kursus, ekskul, dsb. Lantas? Belajar Al-Qur’an dianaktirikan? Astaghfirullah… *karena saya dulu termasuk salah satunya…* :(

Dan, mengenai tilawah di masjid yang menggunakan kaset, sang ustadz (khatib ceramah Jum’at tadi) menyarankan agar kaset-kaset tersebut dibuang saja (bila perlu dibakar). Sebab akan lebih terasa indah bila yang mengisi tilawah di masjid adalah manusia dalam bentuk yang sebenarnya. Generasi-generasi penerus Islam.

Selain itu, khatib tadi juga mengenai imam masjid. Khususnya yang telah ‘berumur’ dan ‘renta’ serta ‘ompong’ sehingga menyebabkan bacaan shalat yang diucapkannya tidaklah jelas lagi. Ia mempertanyakan, kemana para pemuda masjidnya? Generasi penerus yang masih segar bugar? Masak imam yang seharusnya sudah ‘pensiun’ itu masih dipekerjakan dengan keras? Yang bacaan shalatnya sudah ga terdengar jelas lagi karena sudah ompong! Wallahualam!

Mengapa hal ini dipermasalahkan? Sebab suatu bacaan Al-Qur’an akan berbeda maknanya bila satu huruf saja berbeda!

Fiuuhhh…

Saya jadi terpacu untuk mengintrospeksi diri saya lebih dalam lagi. Memperbaiki bacaan Qur’an saya yang masih ‘belepotan’ (kalo ga mau dibilang ‘kacau balau’, hehe…).

Kalo bukan kita, siapa lagi penerus generasi Islam kedepannya? Kalo ga sekarang, kapan lagi? *ga pake [dot] com, loh! :P*.

Indonesia dulu, sekarang, dan di masa depan (Part II)

May 31st, 2008 | 1 Comment | Posted in Communication, Social Politics

Teriakan rakyat VS rezim buta tuli

Beberapa kali saya dengan ungkapan, “buat apa berdemo! toh harga BBM tidak akan turun!”. Secara tidak langsung ungkapan itu menyiratkan kebutaan dan ketulian pemerintah akan penderitaan rakyatnya. Mereka sudah tidak peduli lagi. Demokrasi sudah tidak dijunjung lagi. Komunikasi politik tidak lagi berjalan dengan sebagaimana mestinya sebab faktor yang dibutuhkan demi efektifnya suatu proses komunikasi sudah tidak ada lagi.

Rakyat dan mahasiswa yang berdemo kita asumsikan sebagai komunikator, dalam konteks ini, mengkomunikasikan aspirasi rakyat kepada komunikan, pemerintah. Komunikasi antara komunikator dan komunikan ini sudah tidak lagi berjalan efektif. Mengapa? Karena komunikan sudah buta dan tuli! Tidak mampu lagi melihat, mendengar, bahkan merasakan apa yang dikatakan komunikator! Komunikator ngoceh sendiri, sampai jerit-jerit malah, namun komunikan cuek bebek.

Anarchy in Indonesia

Sex Pistols menciptakan lagu Anarcy in The UK bukan tanpa alasan. Nah, bagaimana kalau The UK itu diganti dengan Indonesia? Menjadi Anarchy in Indonesia (Anarki di Indonesia)?

Demonstrasi yang anarkis bukanlah cara yang baik dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Anarkisme disertai dengan perusakan fasilitas umum dan kerusuhan tentulah akan membuat negara ini tidak sedap dipandang oleh negara lain. Akibatnya apa? Secara tidak langsung ya investasi asing dan pariwisata Indonesia akan berkurang.

Pemeran utama dalam demonstrasi yang brutal ini adalah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’. Mengapa? Sungguh aneh bila yang melakukannya adalah mahasiswa yang boleh dikatakan agent of change ataupun elit pemuda yang berpendidikan tinggi serta berwawasan luas dan polisi yang katanya adalah pengayom masyarakat.

Pengejaran, pelemparan batu, pemukulan, penembakan, hingga berbagai tindak kekerasan lainnya dilakukan oleh kedua oknum ini. Miris memang melihatnya. Bukankah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’ merupakan segelintir kalangan yang merasakan dampak dari kenaikan harga BBM itu?

Fungsi agenda setting media, “demonstrasi brutal lebih menarik”

Media massa, sebagai corong paling efektif dalam menyebarluaskan pesan kepada masyarakat memiliki fungsi istimewa, yakni fungsi agenda setting.

Fungsi agenda setting adalah fungsi yang dimiliki oleh media massa dalam memilah dan memilih informasi mana yang dianggap penting dan informasi mana yang dianggap kurang penting. Pemilihan dan penekanan informasi penting ala media ini turut mempengaruhi persepsi khalayak mengenai informasi tersebut.

Demonstrasi yang brutal/anarkis, itulah yang lebih sering diangkat oleh media-media massa di republik ini sejak pra hingga pasca kenaikan harga BBM. Sedangkan demonstrasi yang berjalan damai dan simpatik justru dianggap tidak menarik. Pemilihan sudut pandang oleh media seperti ini secara tidak langsung turut mempengaruhi persepsi masyarakat mengenai demonstrasi kenaikan BBM yang notabene dilakukan oleh mahasiswa. Masyarakat menilai bahwa tidak sepantasnya mahasiswa melakukan aksi/demonstrasi tersebut. Tugas mahasiswa adalah hanya belajar, belajar, dan belajar. Mengenai isu-isu sosial politik yang tengah hangat, biarkan saja! Tidak usah diacuhkan! Konsentrasi saja pada kuliah kalian! Itulah sedikit makna yang saya tangkap melalui pembicaraan dengan beberapa orang yang tidak sependapat dengan aksi para mahasiswa itu. Benar-benar aneh. Masih bisakah anda diam disaat anda tahu rumah anda sedang dibakar orang?

Tugu Rakyat sebagai solusi

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), telah mencanangkan Tujuh Gugatan Rakyat atau Tugu Rakyat. Tugu Rakyat itu sendiri merupakan tuntutan mahasiswa terhadap pemerintah yang berisikan:

1. Nasionalisasi aset-aset strategis bangsa
2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat
3. Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya
4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi
5. Jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat
6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan
7. Selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo Brantas

Mari kita cermati setiap tuntutan di Tugu Rakyat itu, bukankah jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan memberikan BLT? Wallahualam.

Indonesia di masa depan

Masih ingat sajak yang dibawakan Dedi Mizwar menyambut 100 tahun kebangkitan nasional beberapa waktu lalu?

Bangkit itu susah
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang

Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu mencuri
Mencari perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku

Memang, sajak diatas tampak seperti hanya onggokan huruf-huruf yang merangkai kalimat. Namun makna dibaliknya sungguh tajam dan mengena.

Untuk bangkit dan berubah memang terkadang susah. Membutuhkan tekad dan semangat yang konsisten dan berkesinambungan. Membutuhkan kemauan dan dukungan dari seluruh elemen, tidak hanya cukup oleh segelintir kecil orang yang peduli pada perubahan saja.

Jangan hanya bicara tentang bangkit dan berubah sebelum kita dapat bangkit dan merubah diri kita sendiri, sebelum kita mengerti dan paham makna bangkit dan berubah itu.

Mari kita mulai dari diri sendiri, bertekad untuk bangkit dan berubah demi perubahan besar pada bangsa ini. Jangan kita hanya bisa berkoar-koar saja, seharusnya negara ini begini, atau seharusnya negara itu begitu. Stop NATO (No Action Talk Only).

Saya yakin bila kita mampu bangkit dan berubah, Indonesia di masa depan akan secerah harapan para pendiri pondasi bangsa ini yang telah rela berkorban apapun yang mereka miliki demi berdirinya nama besar Indonesia dihadapan dunia.

Indonesia dulu, sekarang, dan di masa depan (Part I)

May 31st, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Social Politics

Indonesia dulu dan sekarang, apa bedanya? Tentu saja banyak berbeda. Ya, walaupun saya belum terlahir pada masa-masa perjuangan dan perang kemerdekaan dulu. Namun sedikit banyak saya tahu bagaimana keadaan bangsa ini dahulu kala, melalui sejarah tentunya.

Indonesia dulu

Yang menjadi perhatian utama rakyat dan pemerintah dulu sebelum kemerdekaan adalah bagaimana mempersatukan seluruh gerakan perjuangan dan wilayah Indonesia ini kedalam satu kesatuan negara dan ideologi yang sama serta sepaham. Mulailah kaum pemuda bersatu pada membentuk satu sumpah melalui apa yang dinamakan dengan sumpah pemuda.

Setelah Indonesia bersatu dan merdeka, bangsa ini masih harus menghadapi tantangan serta cobaan lain mulai dari G 30 S-PKI, dan lain lain hingga sampai kepada era orde baru dibawah tampuk kepemimpinan rezim Soeharto selama kurang lebih 32 tahun.

Pada 1998, seluruh elemen rakyat dan mahasiswa bersatu padu menggoyahkan dan meruntuhkan kekuasaan tangan-tangan besi di gedung rakyat dan mulai menggulirkan bola salju bernama reformasi.

Satu persatu pemimpin silih berganti menakhodai negara ini dengan keberhasilan-keberhasilannya yang dipuji dan juga kegagalan-kegagalannya yang dicaci maki.

Sekarang telah memasuki tahun keempat kepemimpinan presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab dikenal dengan nama inisialnya, SBY bersama dengan wakilnya, Jusuf Kalla (JK).

Indonesia sekarang

Ada apa dengan Indonesia sekarang? Anda mungkin sudah lebih tahu daripada saya. Indonesia sekarang tengah tertatih berjalan ditengah derasnya terpaan ujian dan badai globalisasi. Mulai dari krisis ekonomi, korupsi yang mendarah daging, kemiskinan yang semakin mengendemik, dan lain-lain. Baru saja, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang boleh dibilang hebat. Apa itu? Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Kenaikan harga BBM

Kenaikan harga BBM didalam negeri dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang sempat mencapai 130 US Dollar lebih per-barelnya.

Dilema, ya itulah yang kini dirasakan oleh pemerintah kita. Disatu sisi, bila harga BBM tidak segera dinaikkan, maka APBN akan semakin carut marut akibat pemberian subsidi BBM yang konon katanya hanya dinikmati oleh sekitar 40% orang kaya di negeri ini. Sedangkan bila BBM dinaikkan tentulah akan turut berdampak pada harga-harga baik pangan, sandang, maupun papan. Sebuah kemusykilan bila harga-harga itu tidak turut naik ketika harga BBM melambung. Kenapa? Bayangkan sendiri, distribusi bahan-bahan pangan, sandang, dan papan itu menggunakan jasa apa? Transportasi bukan? Dan alat-alat transportasi itu membutuhkan apa agar bisa beroperasi, bahan bakar alias BBM!

Satu lagi yang membingungkan, pernyataan pemerintah bahwa sekitar 40% BBM yang disubsidi itu hanya dinikmati oleh orang-orang kaya. Loh? Memangnya batas jelas antara kaya dan miskin itu seperti apa? Standar agar seseorang bisa dikatakan kaya atau miskin itu bagaimana? Lah, wong standar kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) saja berbeda dengan standar dunia. Standar kemiskinan menurut World Bank adalah mereka yang berpenghasilan dibawah $1 (yang kemudian dikoreksi menjadi $2) per-kapita per-hari, bagaimana dengan standar kemiskinan yang dianut oleh BPS? Seseorang dikatakan miskin bila berpenghasilan sekitar Rp.1.600 per-kapita per-hari, yang jika dikalikan 30 maka hasilnya adalah sekitar Rp.40.000 per-bulan. Dan standar seseorang bisa dikatakan kaya itu bagaimana? Apakah yang penghasilannya diatas satu juta per-bulan atau minimal sama dengan Upah Minimum Regional (UMR)? Orang kaya maupun orang miskin yang memiliki status kewarganegaraan Indonesia (WNI) termasuk kedalam rakyat Indonesia juga, bukan? Dan rakyat haruslah diayomi oleh pemerintah tanpa memandang status sosial ekonominya.

Dalam UUD 45 saja telah menegaskan bahwa kekayaan alam akan digunakan demi sebaik-baiknya kepentingan rakyat, kalau bisa gratis. Lah, kalo begini keadaannya? Dengan menaikkan harga BBM semaunya saja? Bagaimana?

Memang, negara kita mengimpor BBM namun kita juga produksi. Bukankah Indonesia juga anggota OPEC, asosiasi negara penghasil minyak dunia? Lalu, mengapa disaat harga minyak naik, harga dalam negeri pun ikut-ikutan naik? Bukankah kita juga sepatutnya mendapatkan untung dari minyak yang kita produksi dan jual itu?

Kilah pemerintah, “APBN harus diselamatkan”

Apa pula ini? Memang benar, APBN harus diselamatkan! Tapi bagaimana caranya? Apakah harus mengorbankan kesejahteraan rakyat yang justru banyak diantaranya belum sejahtera?

Bantuan Langsung Tunai? Solusikah?

Ya, inilah salah satu program bijak pemerintah. Memanjakan rakyat miskin dengan memberikan uang Rp.100.000 per-orang per-bulan, dan harga BBM mereka naikkan. Bahkan pemerintah juga sempat mengeluarkan pernyataan yang menurut saya tidak logis, “bila mahasiswa/masyarakat menolak kenaikan harga BBM, hal itu juga berarti akan mengurangi rezeki rakyat miskin!”. Menyesatkan! Coba dipikirkan dengan seksama makna dibalik pernyataan itu.

Okelah, mungkin dana BLT ini bagi sebagian orang memang bermanfaat. Namun, sejauh mana manfaatnya itu? Berapa hari uang itu akan dapat digunakan? Dan lagi-lagi penyalurannya masih harus dipantau dan diawasi dengan seksama. Sebab, beberapa kali saya lihat di TV ataupun koran, banyak rakyat miskin yang protes karena namanya tidak tercatat sebagai nominator penerima BLT. Sedangkan orang-orang yang tidak berhak justru mengipas-ngipaskan uang Rp.100.000 itu demi kepentingannya sendiri.

Kalau mau dihitung-hitung, berapa sebenarnya dana yang dialokasikan dan yang sebenarnya dibutuhkan pemerintah untuk menyukseskan program BLT ini? Berapa jumlah rakyat miskin di Indonesia? Kalikan saja dengan Rp.100.000. Berapapun hasilnya, itu adalah jumlah yang harus dikeluarkan pemerintah dalam satu bulan. Berapa lama program BLT ini akan dilaksanakan? Wallahualam!

Bersambung…

Untuk engkau, penguasa!

May 9th, 2008 | 3 Comments | Posted in Curhatan, Puisi Ga Jelas, Social Politics

Kata siapa kami hanya kelinci-kelinci tak berdaya?
Yang setia diuji coba dengan ribuan baris undang-undang?
Yang kadang terkesan terus mengandangkan kami
Mengekang hak-hak kami
Mengamputasi kebebasan kami
Dan memutilasi kesejahteraan kami

Jerit orasi bercampur asam keringat
Karna rela diri terpanggang terik mentari
Demi secercah harapan perut terisi esok hari
Kadang tak bisa kau mengerti!
Tak lagi kau peduli!
Pun tak mungkin kau penuhi!

Tidak semua dari kami kaya, penguasa!
Tidak semua dari kami selalu hidup bahagia!
Tidak lagikah kau perhatikan kami?
Tidak lagikah kau pedulikan kami?

Kalau benar begitu, sahkan saja undang-undang itu!
Naikkan saja harga-harga itu!
Hapuskan saja subsidi-subsidi itu!
Lestarikan budaya korupsi, kolusi, nepotisme itu!
Biar kau senang!
Biar kau tertawa!

Dan esok hari, hanya akan kau temukan kami semua mati
Meregang nyawa, lantas teronggok tak berarti

Home sweet home
6 Mei 2008
13:01

*Duh, BBM mau naik lagi yak? Dilema… dilema…*

Lirik lagu = doa/takdir/karma?

April 30th, 2008 | No Comments | Posted in Communication, Curhatan, Music, Social Politics

“Lagu, bisa menjadi doa atau bahkan karma bagi penyanyinya.”

Ya, itulah quote yang saya dengar ketika secara tidak sengaja menonton Silet kemarin siang (29/4/2008). Tidak hanya mengumbar quote murahan tersebut, si pembawa acara atau yang dalam bahasa kerennya host, turut memberikan contoh ‘real’ seperti misalnya Kristina dengan lagu jatuh bangun-nya dan Nia Daniati dengan lagu-lagunya yang kebanyakan bercerita tentang penderitaan cinta.

Pendapat saya? Hueeekkksss… Bener-bener jijik dan ingin muntah rasanya ketika melihat daya upaya serta tipu muslihat para pembuat acara gosip ini guna mempercantik acaranya dan menyedot perhatian pemirsa setianya. Bila Shakespeare berani berkata, “apalah arti sebuah nama”, maka saya pun berani berkata, “apalah arti sebuah lirik lagu?”. Eits, lagi, saya tegaskan, ini bukanlah bentuk arogansi saya loh melainkan hanyalah sebuah kritik bagi para gossip TV program makers tersebut. Ya, apalah arti sebuah lirik lagu? Apakah garis takdir atau bahkan karma tergores jelas layaknya goresan-goresan pensil diatas secarik kertas? Kalau iya, saya mah ga usah kerja keras lagi. Cukup ciptakan sebuah lagu indah dengan lirik yang juga bertemakan keindahan (dan bahkan kesejahteraan duniawi) bagi saya dan orang-orang yang saya cintai, maka dengan begitu garis takdir yang baik pun seketika tercipta seiring dengan seringnya saya menyanyikan lagu saya tadi.

Wahai manusia, takdir itu hanyalah kuasa-Nya. Tidak ada manusia yang mampu menebak atau bahkan meramalkan takdir-Nya. Apalah daya upaya Mama Lauren, Deddy Corbuzier, peramal bertopeng, dan lain sebagainya. Semua itu hanyalah tipu muslihat dan hanya mengantarkan ke jalan yang sesat. *Loh?! OOT yak? :P*

Lirik lagu, menurut pandangan saya *dan mungkin pandangan banyak orang*, hanyalah sebagai wadah pengungkapan perasaan penciptanya yang banyak diinspirasi oleh lingkungan sekitarnya. Misal, keadaan sosial politik, cinta, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Bisa kita ambil contoh lirik-lirik lagunya Kang Iwan Fals, yang banyak bertemakan kritik sosial, Megadeth, yang banyak berkoar mengenai dunia politik, atau Iron Maiden, dengan inspirasinya seputar kisah-kisah epic seperti Eragon, Yunani Kuno, dsb.

Saya pun seringkali mencurahkan apa yang saya rasakan dalam bait-bait lirik lagu ciptaan saya sendiri *yang jeleknya minta ampun :P*. Beberapa lirik tersebut saya angkat dari puisi-puisi saya *yang juga aneh – kalau tidak mau dikatakan norak dan jelek :P*. Misalnya, Step out of my way, down! yang berkisah tentang kehilangan semangat, dan beberapa lainnya.

Jujur, saya termasuk salah seorang yang kurang respek terhadap hal-hal seputar ramal-meramal dan baca-membaca takdir. Apalagi bila takdir itu dikaitkan dengan lirik lagu! Dan saya juga merupakan tipe orang yang sangat tidak menyukai acara gosip dan atau infotainment, sebab menurut saya mereka kadangkala melebih-lebihkan segala sesuatunya. Kapankah acara-acara gosip musnah dari dunia pertelevisian Indonesia? *berharap yang ga jelas dan ga pasti :P*