Politik Rakyat
Aaahhh… politik… politik…
Pernah ada yang berguyon kepada saya seperti ini, “Politik identik dengan banyak dan beragam tikus (poli tikus).” :P *sudahlah, lupakan guyonan tersebut, lets back to topic* :P

Aaahhh… politik… politik…
Pernah ada yang berguyon kepada saya seperti ini, “Politik identik dengan banyak dan beragam tikus (poli tikus).” :P *sudahlah, lupakan guyonan tersebut, lets back to topic* :P


Tadi pas khutbah Jum’at saya bener-bener merasa ‘tertampar’ keras. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena dari apa yang disampaikan oleh khatib tersebut kepada para jamaah Jum’at. Emang apa sie yang disampaikannya?
Here the story goes…
Di deket rumah anda pasti ada masjid (atau setidaknya musholla), bukan? Apakah setiap akan memasuki waktu shalat (sebelum adzan), masjid tersebut selalu mengumandangkan tilawah Al-Quran? Bila iya, siapakah yang bertilawah? Apakah manusia (imam masjid, qari, atau masyarakat sekitar)? Ataukah… KASET?
Kalo saya mah jujur, masjid di deket rumah saya (di Palembang), setiap menjelang waktu shalat, selalu berkumandang tilawah Al-Quran nan merdu dan indah namun qari yang mengumandangkannya tak lain dan tak bukan adalah dari sebuah kaset yang diputar menggunakan tape recorder! Tidak jarang pula dari siaran radio!
Miris…
Kemanakah generasi Al-Quran kita saat ini dan masa depan?
Sedikit flash back ke masa lalu, suatu masa ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SD (Sekolah Dasar). Ya, saya merasa beruntung sempat merasakan masa-masa indah dimana para anak-anak kecil di daerah tempat tinggal saya, berbondong-bondong ikut pengajian (atau biasa dikenal dengan sebutan TPA – Taman Pendidikan Al-Qur’an).
Kala itu, masjid tempat kami belajar mengaji selalu ramai, oleh anak-anak yang belajar Al-Qur’an. Sejak siang hari, selepas jam pulang sekolah, sore hari, hingga malam hari yang selesai sekitar pukul delapan atau sembilan malam.
Sebelum pindah ke TPA di masjid deket rumah, saya sempat mengenyam pendidikan Al-Qur’an di TPA yang letaknya boleh dibilang agak jauh dari rumah. Di TPA itu pula, saya belajar Iqra, dari jilid I hingga VI. Setelah itu barulah mempelajari Al-Qur’an (baca tulis, tafsir, menghafal, dsb). Namun, ketika saya duduk di kelas V SD, saya berhenti dari TPA itu, dan pindah ke TPA di masjid deket rumah saya, dengan alasan lebih deket dan ketika itu pula saya mulai memasuki jenjang Children Class di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Palembang.
Belajar Al-Qur’an di TPA masjid deket rumah ini pun hanya bertahan hingga kelas I SMP. Alasan saya dulu begitu klasik, “karena banyak pe-er dari sekolah yang harus dikerjakan, dan selain itu masih harus belajar di rumah, dan kursus bahasa Inggris.”
Bagaimana dengan masa kecil anak-anak yang hidup di era digital saat ini? Apakah mereka masih mengikuti yang namanya TPA/pengajian? Sepanjang yang saya tau, masih. Namun, tidak sebanyak dan seramai ketika saya kecil dulu. Pun ‘kelas malam‘ pengajian seperti saya dulu sudah tidak ada lagi!
Pernah beberapa waktu lalu, ketika di Palembang, saya menanyai seorang anak tetangga saya yang masih duduk di bangku SD, “kok ga ngaji ke masjid?”. Jawabnya, “nggak ah, kak, game-nya (PlayStation as known as PS) belom tamat.” Weleh! Alesannya lebih canggih, bro! Game PS!
Stop here! Back to topic!
Sedikit gambaran yang saya jabarkan diatas, pada beberapa bagian, jelas-jelas menohok relung hati saya. Salah satunya; alasan berhenti ngaji di TPA karena harus belajar dan mengerjakan pe-er dari sekolah, kursus, ekskul, dsb. Lantas? Belajar Al-Qur’an dianaktirikan? Astaghfirullah… *karena saya dulu termasuk salah satunya…* :(
Dan, mengenai tilawah di masjid yang menggunakan kaset, sang ustadz (khatib ceramah Jum’at tadi) menyarankan agar kaset-kaset tersebut dibuang saja (bila perlu dibakar). Sebab akan lebih terasa indah bila yang mengisi tilawah di masjid adalah manusia dalam bentuk yang sebenarnya. Generasi-generasi penerus Islam.
Selain itu, khatib tadi juga mengenai imam masjid. Khususnya yang telah ‘berumur’ dan ‘renta’ serta ‘ompong’ sehingga menyebabkan bacaan shalat yang diucapkannya tidaklah jelas lagi. Ia mempertanyakan, kemana para pemuda masjidnya? Generasi penerus yang masih segar bugar? Masak imam yang seharusnya sudah ‘pensiun’ itu masih dipekerjakan dengan keras? Yang bacaan shalatnya sudah ga terdengar jelas lagi karena sudah ompong! Wallahualam!
Mengapa hal ini dipermasalahkan? Sebab suatu bacaan Al-Qur’an akan berbeda maknanya bila satu huruf saja berbeda!
Fiuuhhh…
Saya jadi terpacu untuk mengintrospeksi diri saya lebih dalam lagi. Memperbaiki bacaan Qur’an saya yang masih ‘belepotan’ (kalo ga mau dibilang ‘kacau balau’, hehe…).
Kalo bukan kita, siapa lagi penerus generasi Islam kedepannya? Kalo ga sekarang, kapan lagi? *ga pake [dot] com, loh! :P*.
Teriakan rakyat VS rezim buta tuli
Beberapa kali saya dengan ungkapan, “buat apa berdemo! toh harga BBM tidak akan turun!”. Secara tidak langsung ungkapan itu menyiratkan kebutaan dan ketulian pemerintah akan penderitaan rakyatnya. Mereka sudah tidak peduli lagi. Demokrasi sudah tidak dijunjung lagi. Komunikasi politik tidak lagi berjalan dengan sebagaimana mestinya sebab faktor yang dibutuhkan demi efektifnya suatu proses komunikasi sudah tidak ada lagi.
Rakyat dan mahasiswa yang berdemo kita asumsikan sebagai komunikator, dalam konteks ini, mengkomunikasikan aspirasi rakyat kepada komunikan, pemerintah. Komunikasi antara komunikator dan komunikan ini sudah tidak lagi berjalan efektif. Mengapa? Karena komunikan sudah buta dan tuli! Tidak mampu lagi melihat, mendengar, bahkan merasakan apa yang dikatakan komunikator! Komunikator ngoceh sendiri, sampai jerit-jerit malah, namun komunikan cuek bebek.
Anarchy in Indonesia
Sex Pistols menciptakan lagu Anarcy in The UK bukan tanpa alasan. Nah, bagaimana kalau The UK itu diganti dengan Indonesia? Menjadi Anarchy in Indonesia (Anarki di Indonesia)?
Demonstrasi yang anarkis bukanlah cara yang baik dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Anarkisme disertai dengan perusakan fasilitas umum dan kerusuhan tentulah akan membuat negara ini tidak sedap dipandang oleh negara lain. Akibatnya apa? Secara tidak langsung ya investasi asing dan pariwisata Indonesia akan berkurang.
Pemeran utama dalam demonstrasi yang brutal ini adalah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’. Mengapa? Sungguh aneh bila yang melakukannya adalah mahasiswa yang boleh dikatakan agent of change ataupun elit pemuda yang berpendidikan tinggi serta berwawasan luas dan polisi yang katanya adalah pengayom masyarakat.
Pengejaran, pelemparan batu, pemukulan, penembakan, hingga berbagai tindak kekerasan lainnya dilakukan oleh kedua oknum ini. Miris memang melihatnya. Bukankah ‘oknum mahasiswa’ dan ‘oknum polisi’ merupakan segelintir kalangan yang merasakan dampak dari kenaikan harga BBM itu?
Fungsi agenda setting media, “demonstrasi brutal lebih menarik”
Media massa, sebagai corong paling efektif dalam menyebarluaskan pesan kepada masyarakat memiliki fungsi istimewa, yakni fungsi agenda setting.
Fungsi agenda setting adalah fungsi yang dimiliki oleh media massa dalam memilah dan memilih informasi mana yang dianggap penting dan informasi mana yang dianggap kurang penting. Pemilihan dan penekanan informasi penting ala media ini turut mempengaruhi persepsi khalayak mengenai informasi tersebut.
Demonstrasi yang brutal/anarkis, itulah yang lebih sering diangkat oleh media-media massa di republik ini sejak pra hingga pasca kenaikan harga BBM. Sedangkan demonstrasi yang berjalan damai dan simpatik justru dianggap tidak menarik. Pemilihan sudut pandang oleh media seperti ini secara tidak langsung turut mempengaruhi persepsi masyarakat mengenai demonstrasi kenaikan BBM yang notabene dilakukan oleh mahasiswa. Masyarakat menilai bahwa tidak sepantasnya mahasiswa melakukan aksi/demonstrasi tersebut. Tugas mahasiswa adalah hanya belajar, belajar, dan belajar. Mengenai isu-isu sosial politik yang tengah hangat, biarkan saja! Tidak usah diacuhkan! Konsentrasi saja pada kuliah kalian! Itulah sedikit makna yang saya tangkap melalui pembicaraan dengan beberapa orang yang tidak sependapat dengan aksi para mahasiswa itu. Benar-benar aneh. Masih bisakah anda diam disaat anda tahu rumah anda sedang dibakar orang?
Tugu Rakyat sebagai solusi
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), telah mencanangkan Tujuh Gugatan Rakyat atau Tugu Rakyat. Tugu Rakyat itu sendiri merupakan tuntutan mahasiswa terhadap pemerintah yang berisikan:
1. Nasionalisasi aset-aset strategis bangsa
2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat
3. Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya
4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi
5. Jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat
6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan
7. Selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur Lapindo Brantas
Mari kita cermati setiap tuntutan di Tugu Rakyat itu, bukankah jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan memberikan BLT? Wallahualam.
Indonesia di masa depan
Masih ingat sajak yang dibawakan Dedi Mizwar menyambut 100 tahun kebangkitan nasional beberapa waktu lalu?
Bangkit itu susah
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang
Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri
Mencari perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku
Memang, sajak diatas tampak seperti hanya onggokan huruf-huruf yang merangkai kalimat. Namun makna dibaliknya sungguh tajam dan mengena.
Untuk bangkit dan berubah memang terkadang susah. Membutuhkan tekad dan semangat yang konsisten dan berkesinambungan. Membutuhkan kemauan dan dukungan dari seluruh elemen, tidak hanya cukup oleh segelintir kecil orang yang peduli pada perubahan saja.
Jangan hanya bicara tentang bangkit dan berubah sebelum kita dapat bangkit dan merubah diri kita sendiri, sebelum kita mengerti dan paham makna bangkit dan berubah itu.
Mari kita mulai dari diri sendiri, bertekad untuk bangkit dan berubah demi perubahan besar pada bangsa ini. Jangan kita hanya bisa berkoar-koar saja, seharusnya negara ini begini, atau seharusnya negara itu begitu. Stop NATO (No Action Talk Only).
Saya yakin bila kita mampu bangkit dan berubah, Indonesia di masa depan akan secerah harapan para pendiri pondasi bangsa ini yang telah rela berkorban apapun yang mereka miliki demi berdirinya nama besar Indonesia dihadapan dunia.
Indonesia dulu dan sekarang, apa bedanya? Tentu saja banyak berbeda. Ya, walaupun saya belum terlahir pada masa-masa perjuangan dan perang kemerdekaan dulu. Namun sedikit banyak saya tahu bagaimana keadaan bangsa ini dahulu kala, melalui sejarah tentunya.
Indonesia dulu
Yang menjadi perhatian utama rakyat dan pemerintah dulu sebelum kemerdekaan adalah bagaimana mempersatukan seluruh gerakan perjuangan dan wilayah Indonesia ini kedalam satu kesatuan negara dan ideologi yang sama serta sepaham. Mulailah kaum pemuda bersatu pada membentuk satu sumpah melalui apa yang dinamakan dengan sumpah pemuda.
Setelah Indonesia bersatu dan merdeka, bangsa ini masih harus menghadapi tantangan serta cobaan lain mulai dari G 30 S-PKI, dan lain lain hingga sampai kepada era orde baru dibawah tampuk kepemimpinan rezim Soeharto selama kurang lebih 32 tahun.
Pada 1998, seluruh elemen rakyat dan mahasiswa bersatu padu menggoyahkan dan meruntuhkan kekuasaan tangan-tangan besi di gedung rakyat dan mulai menggulirkan bola salju bernama reformasi.
Satu persatu pemimpin silih berganti menakhodai negara ini dengan keberhasilan-keberhasilannya yang dipuji dan juga kegagalan-kegagalannya yang dicaci maki.
Sekarang telah memasuki tahun keempat kepemimpinan presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab dikenal dengan nama inisialnya, SBY bersama dengan wakilnya, Jusuf Kalla (JK).
Indonesia sekarang
Ada apa dengan Indonesia sekarang? Anda mungkin sudah lebih tahu daripada saya. Indonesia sekarang tengah tertatih berjalan ditengah derasnya terpaan ujian dan badai globalisasi. Mulai dari krisis ekonomi, korupsi yang mendarah daging, kemiskinan yang semakin mengendemik, dan lain-lain. Baru saja, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang boleh dibilang hebat. Apa itu? Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Kenaikan harga BBM
Kenaikan harga BBM didalam negeri dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang sempat mencapai 130 US Dollar lebih per-barelnya.
Dilema, ya itulah yang kini dirasakan oleh pemerintah kita. Disatu sisi, bila harga BBM tidak segera dinaikkan, maka APBN akan semakin carut marut akibat pemberian subsidi BBM yang konon katanya hanya dinikmati oleh sekitar 40% orang kaya di negeri ini. Sedangkan bila BBM dinaikkan tentulah akan turut berdampak pada harga-harga baik pangan, sandang, maupun papan. Sebuah kemusykilan bila harga-harga itu tidak turut naik ketika harga BBM melambung. Kenapa? Bayangkan sendiri, distribusi bahan-bahan pangan, sandang, dan papan itu menggunakan jasa apa? Transportasi bukan? Dan alat-alat transportasi itu membutuhkan apa agar bisa beroperasi, bahan bakar alias BBM!
Satu lagi yang membingungkan, pernyataan pemerintah bahwa sekitar 40% BBM yang disubsidi itu hanya dinikmati oleh orang-orang kaya. Loh? Memangnya batas jelas antara kaya dan miskin itu seperti apa? Standar agar seseorang bisa dikatakan kaya atau miskin itu bagaimana? Lah, wong standar kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) saja berbeda dengan standar dunia. Standar kemiskinan menurut World Bank adalah mereka yang berpenghasilan dibawah $1 (yang kemudian dikoreksi menjadi $2) per-kapita per-hari, bagaimana dengan standar kemiskinan yang dianut oleh BPS? Seseorang dikatakan miskin bila berpenghasilan sekitar Rp.1.600 per-kapita per-hari, yang jika dikalikan 30 maka hasilnya adalah sekitar Rp.40.000 per-bulan. Dan standar seseorang bisa dikatakan kaya itu bagaimana? Apakah yang penghasilannya diatas satu juta per-bulan atau minimal sama dengan Upah Minimum Regional (UMR)? Orang kaya maupun orang miskin yang memiliki status kewarganegaraan Indonesia (WNI) termasuk kedalam rakyat Indonesia juga, bukan? Dan rakyat haruslah diayomi oleh pemerintah tanpa memandang status sosial ekonominya.
Dalam UUD 45 saja telah menegaskan bahwa kekayaan alam akan digunakan demi sebaik-baiknya kepentingan rakyat, kalau bisa gratis. Lah, kalo begini keadaannya? Dengan menaikkan harga BBM semaunya saja? Bagaimana?
Memang, negara kita mengimpor BBM namun kita juga produksi. Bukankah Indonesia juga anggota OPEC, asosiasi negara penghasil minyak dunia? Lalu, mengapa disaat harga minyak naik, harga dalam negeri pun ikut-ikutan naik? Bukankah kita juga sepatutnya mendapatkan untung dari minyak yang kita produksi dan jual itu?
Kilah pemerintah, “APBN harus diselamatkan”
Apa pula ini? Memang benar, APBN harus diselamatkan! Tapi bagaimana caranya? Apakah harus mengorbankan kesejahteraan rakyat yang justru banyak diantaranya belum sejahtera?
Bantuan Langsung Tunai? Solusikah?
Ya, inilah salah satu program bijak pemerintah. Memanjakan rakyat miskin dengan memberikan uang Rp.100.000 per-orang per-bulan, dan harga BBM mereka naikkan. Bahkan pemerintah juga sempat mengeluarkan pernyataan yang menurut saya tidak logis, “bila mahasiswa/masyarakat menolak kenaikan harga BBM, hal itu juga berarti akan mengurangi rezeki rakyat miskin!”. Menyesatkan! Coba dipikirkan dengan seksama makna dibalik pernyataan itu.
Okelah, mungkin dana BLT ini bagi sebagian orang memang bermanfaat. Namun, sejauh mana manfaatnya itu? Berapa hari uang itu akan dapat digunakan? Dan lagi-lagi penyalurannya masih harus dipantau dan diawasi dengan seksama. Sebab, beberapa kali saya lihat di TV ataupun koran, banyak rakyat miskin yang protes karena namanya tidak tercatat sebagai nominator penerima BLT. Sedangkan orang-orang yang tidak berhak justru mengipas-ngipaskan uang Rp.100.000 itu demi kepentingannya sendiri.
Kalau mau dihitung-hitung, berapa sebenarnya dana yang dialokasikan dan yang sebenarnya dibutuhkan pemerintah untuk menyukseskan program BLT ini? Berapa jumlah rakyat miskin di Indonesia? Kalikan saja dengan Rp.100.000. Berapapun hasilnya, itu adalah jumlah yang harus dikeluarkan pemerintah dalam satu bulan. Berapa lama program BLT ini akan dilaksanakan? Wallahualam!
Kata siapa kami hanya kelinci-kelinci tak berdaya?
Yang setia diuji coba dengan ribuan baris undang-undang?
Yang kadang terkesan terus mengandangkan kami
Mengekang hak-hak kami
Mengamputasi kebebasan kami
Dan memutilasi kesejahteraan kami
Jerit orasi bercampur asam keringat
Karna rela diri terpanggang terik mentari
Demi secercah harapan perut terisi esok hari
Kadang tak bisa kau mengerti!
Tak lagi kau peduli!
Pun tak mungkin kau penuhi!
Tidak semua dari kami kaya, penguasa!
Tidak semua dari kami selalu hidup bahagia!
Tidak lagikah kau perhatikan kami?
Tidak lagikah kau pedulikan kami?
Kalau benar begitu, sahkan saja undang-undang itu!
Naikkan saja harga-harga itu!
Hapuskan saja subsidi-subsidi itu!
Lestarikan budaya korupsi, kolusi, nepotisme itu!
Biar kau senang!
Biar kau tertawa!
Dan esok hari, hanya akan kau temukan kami semua mati
Meregang nyawa, lantas teronggok tak berarti
Home sweet home
6 Mei 2008
13:01
—
*Duh, BBM mau naik lagi yak? Dilema… dilema…*
“Lagu, bisa menjadi doa atau bahkan karma bagi penyanyinya.”
Ya, itulah quote yang saya dengar ketika secara tidak sengaja menonton Silet kemarin siang (29/4/2008). Tidak hanya mengumbar quote murahan tersebut, si pembawa acara atau yang dalam bahasa kerennya host, turut memberikan contoh ‘real’ seperti misalnya Kristina dengan lagu jatuh bangun-nya dan Nia Daniati dengan lagu-lagunya yang kebanyakan bercerita tentang penderitaan cinta.
Pendapat saya? Hueeekkksss… Bener-bener jijik dan ingin muntah rasanya ketika melihat daya upaya serta tipu muslihat para pembuat acara gosip ini guna mempercantik acaranya dan menyedot perhatian pemirsa setianya. Bila Shakespeare berani berkata, “apalah arti sebuah nama”, maka saya pun berani berkata, “apalah arti sebuah lirik lagu?”. Eits, lagi, saya tegaskan, ini bukanlah bentuk arogansi saya loh melainkan hanyalah sebuah kritik bagi para gossip TV program makers tersebut. Ya, apalah arti sebuah lirik lagu? Apakah garis takdir atau bahkan karma tergores jelas layaknya goresan-goresan pensil diatas secarik kertas? Kalau iya, saya mah ga usah kerja keras lagi. Cukup ciptakan sebuah lagu indah dengan lirik yang juga bertemakan keindahan (dan bahkan kesejahteraan duniawi) bagi saya dan orang-orang yang saya cintai, maka dengan begitu garis takdir yang baik pun seketika tercipta seiring dengan seringnya saya menyanyikan lagu saya tadi.
Wahai manusia, takdir itu hanyalah kuasa-Nya. Tidak ada manusia yang mampu menebak atau bahkan meramalkan takdir-Nya. Apalah daya upaya Mama Lauren, Deddy Corbuzier, peramal bertopeng, dan lain sebagainya. Semua itu hanyalah tipu muslihat dan hanya mengantarkan ke jalan yang sesat. *Loh?! OOT yak? :P*
Lirik lagu, menurut pandangan saya *dan mungkin pandangan banyak orang*, hanyalah sebagai wadah pengungkapan perasaan penciptanya yang banyak diinspirasi oleh lingkungan sekitarnya. Misal, keadaan sosial politik, cinta, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Bisa kita ambil contoh lirik-lirik lagunya Kang Iwan Fals, yang banyak bertemakan kritik sosial, Megadeth, yang banyak berkoar mengenai dunia politik, atau Iron Maiden, dengan inspirasinya seputar kisah-kisah epic seperti Eragon, Yunani Kuno, dsb.
Saya pun seringkali mencurahkan apa yang saya rasakan dalam bait-bait lirik lagu ciptaan saya sendiri *yang jeleknya minta ampun :P*. Beberapa lirik tersebut saya angkat dari puisi-puisi saya *yang juga aneh – kalau tidak mau dikatakan norak dan jelek :P*. Misalnya, Step out of my way, down! yang berkisah tentang kehilangan semangat, dan beberapa lainnya.
Jujur, saya termasuk salah seorang yang kurang respek terhadap hal-hal seputar ramal-meramal dan baca-membaca takdir. Apalagi bila takdir itu dikaitkan dengan lirik lagu! Dan saya juga merupakan tipe orang yang sangat tidak menyukai acara gosip dan atau infotainment, sebab menurut saya mereka kadangkala melebih-lebihkan segala sesuatunya. Kapankah acara-acara gosip musnah dari dunia pertelevisian Indonesia? *berharap yang ga jelas dan ga pasti :P*
Ummm…
Apa yang mau ditulis yak? :P *bingung…*
Mulai darimana yak? :P *masih bingung…*
Dah, daripada kelamaan mikir, dimulai aja deh. Step by step…
Nah… dateng juga kan tu ide :P
—
Yupe, step by step aka (as known as) langkah per-langkah seperti itulah pertumbuhan segala sesuatunya. Tidak ada yang langsung tiba-tiba besar dan terkenal serta dikagumi banyak orang. Semua melalui proses…
Manusia misalnya, proses pertumbuhan dan hidupnya panjang dan berliku-liku. Dimulai dari *** *Tuuutttt… disensor, ada UU ITE :P* kemudian manusia dilahirkan, perlahan mulai tumbuh dan berkembang menjadi bayi, dari bayi menjadi anak, dari anak menjadi remaja, dari remaja menjadi tua, dan setelah tua kehidupannya berakhir. Sebab, tidak ada yang abadi!
Namun, adakalanya dalam proses pertumbuhan itu terjadi sesuatu hal yang menyebabkan berubahnya ‘jalan hidup’ manusia tersebut. Bisa jadi prosesnya begini: Bayi > Anak > Meninggal. Terlihat ada bagian dari roda hidup yang terpotong *kalo yang ini mah rahasia yang maha kuasa :)*.
Karena disini yang akan saya bicarakan adalah dalam konteks komunitas, ada baiknya bila kita mengetahui terlebih dahulu apa itu komunitas. Menurut Wikipedia, komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”.
Seperti itu pula sebuah komunitas, organisasi, ataupun perusahaan *duh, bongkar2 arsip diotak mengenai mata kuliah Komunikasi Organisasi lagi nih :P*. Prosesnya panjang. Dan tidak tertutup kemungkinan roda hidupnya terpotong, tiba-tiba bangkrut atau bubar misalnya.
WongKito, sebuah komunitas blogger asal Palembang, yang bertujuan untuk merangkul seluruh blogger Palembang dan Sumatera Selatan dalam satu wadah. Terbentuk pada 16 Oktober 2007, berarti usia komunitas ini baru sekitar 6 bulan. Masih bayi, begitu mungil, begitu menggemaskan. Bila merujuk pada perkembangan seorang bayi yang baru lahir, usia 6 bulan, seorang bayi itu baru bisa ‘mengangkat dada dan perut atas saat tengkurap’, masih dalam tahap belajar merangkak.
Dalam usia 6 bulan pula, seorang bayi “bila belum mulai makan makanan padat, mulai saat ini bisa dimulai.” Dari sudut pandang saya, bila hal ini dikaitkan dalam konteks komunitas, makanan = pekerjaan dan atau cobaan. Ya, dalam usia ini sebuah komunitas sudah wajar bila diberi pekerjaan besar. WongKito misalnya, telah berani menunjukkan giginya kepada masyarakat melalui acara bertajuk Blogger Day yang akan diselenggarakan pada 1 Mei 2008 mendatang.
Perkembangan seorang bayi sangat ditentukan oleh pola dan kualitas asuhan orang tuanya. Semakin baik pola dan kualitas asuhannya maka perkembangan bayi tersebut pun akan semakin baik. Begitu pula sebaliknya. Bila dalam suatu komunitas, yang menentukan adalah orang-orang yang ada dalam komunitas itu sendiri. Apakah mereka mau komunitasnya terus berkembang dan menjadi besar serta terkenal dan diakui dalam masyarakat atau tidak.
Kerjasama dengan KapanLagi
Alhamdulillah, KapanLagi telah sepakat untuk mengadakan kerjasama dengan WongKito. Hal ini dapat dilihat pada halaman utama rumah maya WongKito yang beralamat di http://wongkito.net. Disana telah terpampang banner KapanLagi :)
Harapan kedepan
Simpel aja, “semoga WongKito semakin besar dan selalu eksis kedepannya dalam membangun hubungan kekerabatan antar blogger sekaligus sebagai wadah pembelajaran Teknologi Informasi bagi masyarakat Palembang pada khususnya dan Sumatera Selatan pada umumnya.”
Let’s move forward…!!! :)
Innalillahiwainnailaihirajiuun…
Setelah 23 hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta (sejak tanggal 4 Januari 2008), dengan kondisi kesehatan yang fluktuatif alias naik turun, akhirnya pada pukul 13:10 tadi, telah berpulang ke sisi-Nya, Bapak Haji Muhammad Soeharto (1921 – 2008), mantan presiden kedua kita, penguasa orde baru dengan masa jabatan kurang lebih 32 tahun.
Semoga amal dan perbuatan baik beliau diterima disisinya.
Yah, walaupun banyak pihak yang merasa kecewa selama masa kepemimpinan beliau, namun tidak sedikit pula yang bersimpati dan merasakan kemajuan negara ini di berbagai bidang.
Namun sepeninggal beliau, masih tersimpan banyak tanda tanya dibalik sejarah bangsa ini yang terkesan kabur dan ditutup-tutupi, diantaranya adalah kasus SuPerSeMar. Akankah terungkap?
Beberapa hari terakhir ini ada tiga topik utama yang terjadi di negeri ini yang menyedot perhatian banyak orang, yakni: kondisi kesehatan mantan presiden Soeharto, mahalnya harga kedelai, dan kelangkaan minyak tanah yang masih saja terjadi. Dengan mudah informasi seputar tiga topik ini ditemukan di program-program acara berita baik di media cetak maupun media elektronik.
Tarik ulur ‘nafas’ Pak Harto, mengapa saya tulis begini? Karena kondisi kesehatan mantan presiden kedua republik ini yang naik turun. Kalau kata temen-temen saya sih, Pak Harto sulit meninggalnya karena kebanyakan dosa. Soal dosa, wallahualam deh. Malaikat seakan ‘mempermainkan’ nyawanya dengan sesekali menariknya dan sesekali mengulurnya, ibarat bermain layang-layang, dan setelah ‘ia’ bosan barulah dengan perlahan ia ‘menyentak’ benangnya dan me-lego-kan layang-layangnya (istilah lego dalam bahasa Palembang sering digunakan untuk istilah layang-layang yang putus karena kalah aduan). Beberapa hari yang lalu, saya menonton berita di salah satu stasiun TV (lupa…) yang menayangkan komentar dari Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Ustadz Abu Bakar Baasyir, ia menyatakan bahwa sebaiknya Pak Harto segera bertobat atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap negeri ini.
Jadi inget pas saya kecil dulu, waktu itu pemilihan umum, dan hanya ada tiga partai yang mengikuti pemilihan umum tersebut. Saya berkata kepada kedua orang tua saya, “Kenapa harus memilih Golkar pa? Kenapa tidak partai yang lain? PDI atau PPP?”, saya berkata seperti itu saat berada dalam keramaian. Di daerah rumah saya waktu itu memang ‘dipenuhi’ oleh pendukung Golkar. Kontan saja orang tua saya ‘membekap’ mulut saya dan membawa saya pulang ke rumah. Di rumah, saya disuruh supaya tidak mengulangi hal yang sama atau bila tidak bisa-bisa saya ditangkap Polisi atau ABRI trus dipenjarakan!!! Mereka juga menceritakan beberapa kasus yang entah benar entah tidak mengenai orang-orang yang ditangkap gara-gara ‘berbicara’ mengenai Golkar dan kepemimpinan Soeharto serta Dwifungsi ABRI saat itu. Mendengar ‘wejangan’ seperti itu saya serta-merta merasa takut (maklum masih kecil :P). Dari sini dapat dilihat bagaimana kondisi rakyat semasa pemerintahan (rezim) Soeharto.
Pernah saya baca disebuah artikel/buku (lagi-lagi lupa sumbernya… maaf…), bahwa kondisi negara ini pada masa pemerintahan Pak Harto adalah kuat namun rapuh. Negara ini tampaknya kuat bila dilihat dari luar, namun keadaan didalamnya sungguh berlawanan, begitu lemah begitu rapuh. Kebebasan rakyat banyak dibungkam, pembredelan pers adalah hal yang biasa, insiden ‘orang hilang’ pun adalah biasa.
Baik, saya sudahi pembicaraan mengenai Pak Harto, saya jadi pusing sendiri bila harus banyak menulis tentangnya :P.
Yang kedua, harga kedelai yang meroket hingga tembus persen ke-seratus. Harganya melambung gila-gilaan, yang semula berkisar tiga ribuan per-kilo-nya, sekarang mencapai tujuh ribuan per-kilonya. Industri tahu tempe pun ‘megap-megap’. Sebagian produsen menyiasatinya dengan memperkecil ukuran produksi tahu/tempe-nya dan mengurangi jumlah tenaga kerjanya bahkan beberapa nekat berutang kepada pengepul kedelai. Tapi sebagian lainnya memutuskan untuk ‘beristirahat’ untuk jangka waktu yang belum diketahui.
Tahu dan tempe merupakan salah satu makanan/lauk pauk favorit rakyat. Selain harganya yang relatif terjangkau dan rasanya yang enak, kandungan gizinya pun baik. Bila disuruh memilih antara tahu atau tempe, saya sih lebih suka tahu :P. Oh ya, dampak lain dari mahalnya harga kedelai ini adalah jumlah tahu dan tempe yang beredar di pasaran pun berkurang bahkan harganya ikut-ikutan naik. Contoh yang saya alami, tadi pagi saya sarapan nasi uduk di dekat kos-an, nasi uduk itu disajikan bersama tempe dan atau bakwan. Tempe yang saya makan ternyata ukurannya kecil sekali, terlihat besar karena tepungnya saja.
Yang ketiga, masalah kelangkaan minyak tanah yang tak kunjung menampakkan akhirnya. Kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah semakin menjadi-jadi, antrian semakin panjang dan semakin lama, Rupiah yang harus dikeluarkan semakin banyak, dan jumlah pembelian pun dibatasi (rata-rata dua liter per-orang).
Saya pantau di media, kelangkaan ini berkaitan dengan kebijakan Pertamina mengurangi jumlah pasokan minyak tanahnya. Dan juga guna mendukung program konversi minyak tanah ke gas.
Tidakkah mereka lihat ‘kebawah’? Rakyat kecil yang semakin tercekik? Tadi pagi, saya menonton berita di salah satu stasiun TV, tentang seorang tukang gorengan yang diduga stress gara-gara kelangkaan minyak tanah ini, omzet penjualannya menurun drastis, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di tali gantungan. Tragis memang, gantung diri gara-gara kelangkaan minyak.
Contoh yang saya temui di lapangan adalah turut naiknya harga jual gorengan. Bila dulu biasanya dengan uang seribu Rupiah, bisa mendapatkan ‘tiga biji’ gorengan atau setidaknya empat ratus rupiah per-bijinya, sekarang cuma dapat dua. Duh.
Harapan saya tidak jauh berbeda dengan harapan kebanyakan orang yaitu; Pak Harto segera diberi kesembuhan (atau segera berakhir penderitaannya alias ‘pass away’), harga kedelai segera stabil sehingga keberadaan tempe dan tahu di pasaran kembali seperti semula, dan kelangkaan minyak segera diselesaikan demi ‘keberlangsungan’ kepulan asap dapur rakyat. (15 Januari 2007, 13:03)
Akhir-akhir ini semakin sering kita melihat iklan-iklan produk pemutih kulit dan wajah, terutama di televisi. Dan anehnya, inti pesan yang ingin disampaikan dalam iklan-iklan itu cenderung sama yaitu “bila memiliki kulit putih maka akan semakin mudah mendapatkan cinta”, baik secara tersurat maupun tersirat. Ada satu iklan yang saya lihat akhir-akhir ini yang membuat saya geli, kalau tidak salah sang wanita mengatakan “seminggu yang lalu saya jomblo loh!”, lalu ditampilkan adegan saat ia sedang chatting, dan di layar laptopnya tiba-tiba terpampang jendela-jendela yang menyatakan banyak ‘orang/lelaki’ yang ingin chatting dengannya, dan pada akhirnya ia bilang “duh, jadi bingung nih (yang secara tersirat menurut saya, ia bingung untuk memutuskan dengan lelaki mana ia akan chatting atau bahkan menjalin hubungan).
Janji-janji yang ditawarkan oleh produsen-produsen produk pemutih kulit tersebut, melalui iklan-iklannya sungguh hebat dan memukau bahkan terkadang terdengar tidak masuk akal dan terlalu dilebih-lebihkan, “dapatkan kulit putih dan mempesona hanya dalam tujuh hari”, bahkan kurang!!! Atau “dapatkan kembali cintamu hanya dalam tujuh hari”, dll. Entah apakah janji-janji itu memang terbukti atau tidak.
Contoh iklan lainnya adalah produk-produk ‘anti aging’ atau bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa berarti ‘anti penuaan’, ‘anti keriput’, dll. Pesan yang disampaikan disini pun tidak jauh berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh produk-produk pemutih kulit yang telah saya sebutkan sebelumnya, namun dengan sedikit ‘improvisasi’, yakni “bila kulit anda sudah tidak putih, tidak kencang (keriput), tidak bercahaya (kusam), dll, maka anda akan ditinggalkan oleh suami anda. Terdengar lucu bukan? Bukankah sebelum menikah dulu sepasang suami istri telah berjanji untuk sehidup semati, setia, dan menerima pasangannya dengan apa adanya? Apakah ikatan suci pernikahan itu dengan mudah dapat ‘digunting’ hanya karena masalah kulit? Aneh.
Ada dua hal yang mengusik pikiran saya, yang pertama adalah dari inti pesan tersebut. Memamg, wanita dengan kulit putih, halus, lembut, bercahaya, dan entah apa lagi istilahnya, terlihat lebih menawan. Tapi lantas apakah dengan ‘bermodalkan’ kulit putih saja ia akan dengan mudah mendapat apa yang ia inginkan? Cinta pria idaman misalnya. Apakah wanita dengan kulit yang ‘tidak putih’ akan sulit untuk ‘menemukan cintanya?’. Tampak adanya pembentukan sugesti diantara para wanita tentang ‘kelebihan-kelebihan’ bila memiliki kulit putih, yang ujung-ujungnya adalah mereka berbondong-bondong membeli dan memakai produk pemutih kulit tersebut.
Yang kedua adalah ketidaksamaan persepsi saya dengan inti pesan tersebut. Sebagai seorang pria, yang saya lihat dari seorang wanita tidak terbatas pada putih tidaknya kulitnya, cantik tidaknya ia, atau seksi tidaknya ‘body-nya’. Ada satu hal yang lebih penting dari kesemuanya itu menurut saya, yakni sikap dan tingkah lakunya. Setuju?!