<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Idrus Fhadli's Blog &#187; Bumi Ruwa Jurai</title>
	<atom:link href="http://idrus.net/tag/bumi-ruwa-jurai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idrus.net</link>
	<description>read my mind but don't kill my kind(ness)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Apr 2012 14:02:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<image>
  <link>http://idrus.net</link>
  <url>http://xvader.110mb.com/favicon.ico</url>
  <title>Idrus Fhadli's Blog</title>
</image>
		<item>
		<title>Budaya; Kenal Namun Tak Kenal (Bagian II)</title>
		<link>http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-ii.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-ii.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 06:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture and Society]]></category>
		<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Benteng Kuto Besak]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi Ruwa Jurai]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kambang Iwak Family Park]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Balaputra Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Wong Kito]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=976</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan dari Bagian I&#8230; Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia, berumur pas 1327 tahun pada 16 Juni 2010 lalu. Meski begitu, arus zaman turut menyeret kota tua ini ke era modern. Dan berimbas pada mulai lunturnya nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Dari segi bahasa, Palembang masih termasuk kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lanjutan dari </em><a href="http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-i.shtml" target="_blank"><em>Bagian I</em></a><em>&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Palembang dalam Peta" src="http://lh4.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/TD6vkv1DnxI/AAAAAAAABuk/q9FyzRLYONE/s800/280px-Palembang_location.png" alt="" width="280" height="238" /></p>
<p><span id="more-976"></span></p>
<p>Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia, berumur pas 1327 tahun pada 16 Juni 2010 lalu. Meski begitu, arus zaman turut menyeret kota tua ini ke era modern. Dan berimbas pada mulai lunturnya nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun temurun dari nenek moyang. Dari segi bahasa, Palembang masih termasuk kota yang konservatif. Terbukti bahasa yang dipergunakan masih bahasa Palembang ari-ari (sehari-hari). Kalau boleh mengambil perbandingan, hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi yang ada di Lampung, tepatnya Kota Bandar Lampung. Meski Lampung memiliki bahasa dan bahkan aksara sendiri, namun bahasa dan aksara asli Lampung tersebut tampak terpinggirkan oleh bahasa suku-suku pendatang (terutama Jawa) dan bahasa gaul elo-elo-gue-gue (yang umum dipergunakan sebagai bahasa pergaulan). Lampung sendiri, dalam penglihatan saya cenderung didominasi oleh pendatang luar Lampung (dan lagi-lagi, terutama Jawa; entah, mungkin ini akibat dari politik etik yang dijalankan oleh Belanda dahulu kala; Emigrasi (juga Irigasi dan Edukasi), sehingga penduduk pulau Jawa yang di-emigrasi-kan (sekarang dikenal dengan istilah; transmigrasi) tersebar di seantero nusantara).</p>
<p>Arus modernisasi memang deras. Tidak sedikit aturan-aturan dan norma-norma yang turun temurun di masyarakat tanpa ampun, ambruk diterjangnya, tergantikan oleh budaya global atau yang lazim dikenal sebagai popular (pop) culture. Banyak daerah di Indonesia, dengan berbagai daya dan upaya, bahu-membahu mempertahankan budaya asli mereka agar tidak tergerus dan hilang sama sekali. Idealnya, budaya asli itu dapat bersanding dengan budaya populer. Ada satu contoh yang menarik bagi saya, yakni; Bali. Betapa pulau dewata itu seakan berdiri tegar meski gempuran budaya dari luar begitu deras. Bali tetap menyuguhkan keunikan budayanya (dan keindahan alamnya) kepada dunia luar. Wisatawan lokal dan mancanegara berduyun-duyun datang untuk menikmati suguhan khas Bali itu.</p>
<p>Palembang sendiri, menurut saya, berdiri diantara kedua garis budaya itu. Namun generasi mudanya tidak berusaha untuk melestarikan budayanya, tidak menutup kemungkinan di kemudian hari, Palembang pun hanya akan jadi kota modern tanpa warna, tanpa corak, tanpa suguhan khas yang membedakannya dari kota-kota lain di Indonesia bahkan dunia. Bila dari segi makanan khas, saya pikir Palembang merupakan surganya. Begitu banyak variasi dan jenis makanan khas Palembang, mulai dari pempek, mie celor, martabak HAR, tekwan, celimpungan, dan sebagainya. Dan masih menurut saya, dengan keberagaman citarasa itu, Palembang dapat menonjolkan dirinya dalam segi wisata kuliner. Namun, bila dari wisata budaya yang lain, saya belum tahu banyak. Beberapa yang layak untuk disebutkan antara lain; perlombaan bidar (yang biasanya hanya diselenggarakan pada momen agustusan) dan tari tradisional. Jangan harap di Palembang, para wisatawan akan dapat menemukan pagelaran-pagelaran budaya tradisional yang meriah dan diselenggarakan secara berkala laiknya di Jawa dan Bali.</p>
<p>Pada 2008 lalu, Pemerintah Kota Palembang mencanangkan program Visit Musi 2008, namun bagi saya, program itu hanyalah bersifat sesaat. Dan sepertinya tidak ditujukan untuk jangka waktu yang lebih lama. Suara-suara sumbang yang sempat saya dengar pun bertebaran, antara lain; program Visit Musi 2008 itu belumlah memberikan imbas positif secara langsung kepada masyarakat Palembang.</p>
<p>Kembali ke masalah budaya. Sebenarnya, Palembang merupakan kota dengan warisan budaya yang melimpah, di beberapa sumber (cetak dan elektronik), banyak disebutkan kekayaan budaya itu. Namun sayangnya, apakah warisan budaya tersebut akan tetap terjaga hingga ke generasi-generasi penerus nanti atau tidak, tergantung pada generasi sekarang ini. Lalu, bagaimana cara melestarikan warisan budaya? Jujur, saya sendiri belum tahu bagaimana cara melestarikan budaya. Hal yang dapat saya lakukan baru sebatas mempelajari melalui sumber-sumber tertulis saja, setidak-tidaknya untuk mengenal lebih dekat warisan budaya itu terlebih dahulu. Jangan sampai nanti ketika saya menunaikan shalat di Masjid Agung Palembang, saya tidak mengetahui sejarah di balik masjid tersebut. Atau ketika menghabiskan sore di BKB, saya tidak tahu peran Benteng itu di masa lalu. Saya tidak ingin kenal namun sebenarnya saya tidak mengenal warisan budaya Palembang ini. <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-ii.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya; Kenal Namun Tak Kenal (Bagian I)</title>
		<link>http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-i.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-i.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 06:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture and Society]]></category>
		<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Benteng Kuto Besak]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi Ruwa Jurai]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kambang Iwak Family Park]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Balaputra Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Wong Kito]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=973</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar: Dalam tulisan ini mungkin saya akan lebih banyak mengetengahkan mengenai Palembang dan sedikit Lampung (Bandar Lampung), dikarenakan kedua kota ini saya rasa cukup lekat di hati saya. Hampir seminggu yang telah lalu, beberapa teman dari Lampung datang berkunjung ke Palembang. Kunjungan itu bukan sekedar kunjungan biasa, melainkan dalam rangka mempertaruhkan otak dan peruntungan demi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar: Dalam tulisan ini mungkin saya akan lebih banyak mengetengahkan mengenai Palembang dan sedikit Lampung (Bandar Lampung), dikarenakan kedua kota ini saya rasa cukup lekat di hati saya.</p>
<p>Hampir seminggu yang telah lalu, beberapa teman dari Lampung datang berkunjung ke Palembang. Kunjungan itu bukan sekedar kunjungan biasa, melainkan dalam rangka mempertaruhkan otak dan peruntungan demi memperebutkan segelintir kursi di suatu departemen pemerintahan.</p>
<p><span id="more-973"></span></p>
<p>Ah, betapa banyak anak negeri yang tertarik untuk mengisi kursi-kursi kosong itu. Banyak yang telah bekerja di tempat lain, namun masih juga datang entah karena merasa tertantang atau apa. Mungkin pula hanya untuk mengadu peruntungan, seakan apa yang telah didapat saat ini masih kurang mencukupi kebutuhan (atau nafsu?) duniawi sekarang dan masa depan. Tidak kalah banyak pula para pengangguran intelektual, pengangguran dengan otak cemerlang atau gelar gemilang setinggi bintang atau juga dua-duanya, ikut dalam barisan yang tampak rukun, adem, ayem, dan bersahabat satu sama lain, namun siapa tahu isi hati masing-masing. Kepala sama hitam, dalamnya hati siapa yang tahu? Ya, barisan itu bila dilihat dari sisi yang lain, tidaklah serukun, seadem, seayem, dan se-bersahabat seperti tampak luarnya, melainkan terpancar ambisi berkompetisi dalam diri tiap-tiap individu untuk saling bunuh dan saling jegal guna bertahta dalam satu dua tampuk abdi pada <em>gubermen</em> yang boleh dikatakan langka.</p>
<p>Setelah pesta peras otak yang berlangsung kurang lebih 180 menit itu selesai, teman-teman saya yang asli kelahiran Bumi Ruwa Jurai sontak memberondong agar diboyong berkeliling Bumi Sriwijaya ini. Perhentian pertama adalah Toko Kopi HAR. Di sana kami memperkenalkan makanan khas Palembang hasil derivasi racikan bumbu India, martabak HAR. Sekedar informasi, HAR adalah singkatan nama pemilik toko kopi itu, Haji Abdul Rozak. Sebagian besar lidah orang Palembang tentu sudah sangat akrab dengan citarasa menggugah selera yang ditawarkan oleh martabak HAR. Namun, tidak demikian adanya dengan orang luar Palembang, ada yang langsung terpincut lidah dan hatinya, namun ada pula yang berkata lain. Selepas mengisi perut, kami mengajak teman-teman dari Lampung itu ke pusat perbelanjaan (mall). Dari tiga mall yang ada di Palembang, dijatuhkanlah pilihan kepada Palembang Square (PS). Namun ternyata, teman-teman dari Lampung itu menginginkan untuk melihat sisi Palembang yang sebenarnya, budaya dan kehidupan masyarakatnya. Sontak kami pun bingung. Ya, sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Palembang, kami pun sangat jarang mengunjungi tempat-tempat bernuansa budaya yang mereka inginkan.</p>
<p>Sembari memikirkan beberapa lokasi yang dianggap layak kunjung, kami mengajak mereka ke Kambang Iwak Family (KIF) Park, sebuah taman kota yang menawarkan kesejukan dan rimbunan pohon-pohon hijau dengan suguhan kolam retensi di tengah-tengahnya. Tempat ini memang nyaman, dan terbukti teman-teman dari Lampung turut menyukainya. Setelah berdiskusi lebih lanjut, kami berencana untuk mengajak mereka ke Museum Balaputra Dewa, Punti Kayu, dan Benteng Kuto Besak (BKB). Namun sebelumnya kami tunaikan shalat Dzuhur terlebih dahulu di Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Agung Palembang, Selepas shalat, perjalanan (atau wisata budaya?) dilanjutkan dengan tujuan singgah pertama; Museum Balaputra Dewa.</p>
<p>Ketika dulu masih berkuliah di Bandar Lampung, saya dan beberapa teman asal Palembang baru sempat mengunjungi Museum Lampung persis beberapa hari menjelang disematkannya gelar sarjana ke tampuk pangkuan kami. Dan saya sendiri, jujur, tidak mengetahui kapan persisnya terakhir kali berkunjung ke Museum Balaputra Dewa di kota kelahiran saya ini.</p>
<p>Museum memang sebuah tempat yang ajaib, bila tidak ingin dikatakan gerbang waktu. Betapa tidak, di dalamnya terdapat begitu banyak benda-benda peninggalan dari leluhur yang hidup di tanah Swarna Dwipa ini. Dan saya dengan pengetahuan sejarah yang sangat terbatas ini, mengagumi sembari memvisualisasikan di benak saya; bagaimana kehidupan masa lalu. Pun begitu tampaknya dengan teman-teman dari Lampung, mereka terlihat cukup menikmatinya. Yah, walau porsi bernarsis-ria di depan delik lensa kamera sepertinya lebih besar daripada porsi kontemplasi masa lalu negeri <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Karena hari telah memasuki pukul 4 sore, rencana ke Punti Kayu dibatalkan. Sebagai gantinya, perjalanan dilanjutkan ke Benteng Kuto Besak (BKB). BKB sendiri merupakan salah satu tempat kumpul favorit masyarakat Palembang. Letaknya yang persis di sisi Sungai Musi dihiasi dengan pesona lanskap Jembatan Ampera diriuhi oleh ramainya manusia. Apalagi bila sore hari, di kala cahaya mentari tak begitu membakar kulit lagi, sepoian angin sungguh amboi melenakan diri. Sayangnya, malam itu, teman-teman dari Lampung sudah harus bertolak dari Palembang, melaju kembali ke Lampung guna memulai aktivitas seperti sediakala keesokan harinya. BKB ini menjadi kenangan terakhir hari itu di Palembang.</p>
<p>Dan pada akhirnya, ada beberapa hal yang tetap mengusik pikiran saya; Bagaimana budaya Palembang yang sesungguhnya? Di mana tempat untuk menikmatinya secara langsung selain di museum?</p>
<p>Beberapa gambaran lokasi sempat terpikir; BKB, Museum Balaputra Dewa, Punti Kayu, Pulau Kemaro, Monpera, dan Masjid Agung Palembang. Memang tampaknya ada beberapa tempat layak kunjung yang terlewat dari pengetahuan kami. Dan sepanjang ingatan saya, beberapa tempat wisata budaya di Palembang itu pernah sekilas terbaca entah di mana, kalau tidak salah di buku panduan wisata Visit Musi 2008 silam. Sayangnya, arsip penyimpanan di otak tampaknya tidak begitu lekat mengingat hal-hal semacam itu, terbaca sekilas, teringat sejenak, dan kemudian tercecer lupa entah ke mana. Memang, Palembang agak tertinggal dalam hal objek wisata. Hanya beberapa gelintir lokasi saja yang dapat dituju. Dan belakangan baru giat dibangun beberapa objek wisata lain, diantaranya; Fantasy Island Danau OPI, dsb. Bila di Lampung dulu, saya paling suka bila bertamasya melihat laut, di Palembang, hal itu tidak akan dapat saya temukan.</p>
<p><em>Bersambung ke <a href="http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-ii.shtml" target="_blank">Bagian II</a></em><em>&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2010/07/15/budaya-kenal-namun-tak-kenal-bagian-i.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

