The Lost City
I am a sincere man
Aku seorang pria yang tulus
From where the palm trees grow
Dari tempat dimana pohon plum tumbuh
And before death takes me
Dan sebelum kematian membawaku
I want to let the poems soar from my soul
Aku ingin membiarkan puisi menjulang tinggi dari jiwaku
I come from everywhere
Aku datang dari semua tempat
And everywhere I go;
Dan kemanapun aku pergi;
Art I am among the arts,
Seni aku berada di antara seni,
Among the mountains,
Di antara pegunungan,
Mountain I am.
Pegunungan diriku.
All is beautiful and loyal,
Semua yang indah dan setia,
All is musical and right,
Semua yang musikal dan benar,
And all, like the diamond,
Dan semua, seperti berlian,
Is charcoal before being light.
Adalah arang sebelum menjadi bersinar.
With all the poor of the world
Dengan semua puisi yang ada di dunia
I want to cast my fate;
Aku ingin melemparkan takdirku;
A little brook in the mountain
Sedikit parit di pegunungan
Pleases me more than sea.
Menyenangkanku daripada laut.
I want, whenever I die,
Aku ingin, kapanpun aku mati,
Stateless, but no matter,
Tanpa negara, tapi tanpa masalah,
To have on my tombstone, a bouquet of flowers…
Untuk memiliki batu nisanku sendiri dan sebuket bunga…
…and my country’s flag.
…dan bendera negaraku.
I cultivate a white rose in July as in January
Aku menanam mawar putih di bulan Juli seperti juga di Januari
For the sincere friend who offers me his honest hand.
Untuk teman yang tulus yang menawariku tangannya yang jujur.
And for the cruel who rips from me
Dan untuk yang kejam yang telah merenggut dari padaku,
My heart by which I live,
Hatiku yang karenanya aku hidup,
I cultivates neither thorns nor thistles;
Aku menanam tidak duri ataupun tumbuhan berduri;
I cultivate the white rose.
Aku tanam mawar putih.
—
–Fico Fellove [The Lost City, 2006]–
Tags: 2006, che guevara, cuba, movie, poem, poetry, the lost city



