Browse > Home /

| Subscribe via RSS

Hedonisme Pemikiran

January 6th, 2011 | No Comments | Posted in Personal

Hedonisme, mengutip definisi yang dijabarkan KBBI Daring; adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Sedangkan definisi pemikiran, masih menurut sumber yang sama; adalah proses, cara, perbuatan memikir: problem yang memerlukan ~ dan pemecahan.

Bila kedua kata itu digabung, maka kita akan berhadapan dengan perspektif baru; hedonisme pemikiran.

Ya, terkadang, kita hanya terjebak dalam hedonisme pemikiran, bertahun-tahun, seakan tiada berujung, berargumen sana-sini, mendebat-mempersuasi kanan-kiri, mendelik depan-belakang, melempar sinisme ke atas-bawah, tanpa adanya tindakan nyata yang berarti bahkan sampai kita mati.

Jangan tanya apa yang akan dilakukan orang lain, melainkan tanyalah pada diri kita sendiri; apa yang akan kita lakukan? Apakah sesuatu yang berguna dan hebat, manifestasi dari pemikiran kita, ataukah justru sebaliknya?

Tags: ,

Life is Like Rubik’s Cube

July 13th, 2010 | 5 Comments | Posted in Personal, Stories and Inspirations

Yet complicated and challenging, but fun :-)

More »

Tags: , , ,

Tentang Masalah dan Menikmati Hidup

October 9th, 2008 | 7 Comments | Posted in Personal, Stories and Inspirations

Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?)

Hmmm…

Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit.

Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week… *lebay mode on :P*

Dowh! Entahlah…

Lo mah ga tau, drus, masalah gue berat bener nie, seberat tujuh lapis langit yang spontan jatuh menimpa kepala gue! Lo masih nanya, apakah hidup itu harus dinikmati atau tidak? Dasar!

Okay, okay…

Calm down… *loh?! kok tulisan ini jadi nyeleneh gini sih?* :P

Stop it! Let’s BTT (back to topic-red)

Saya tahu, setiap orang pasti punya masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan oleh Sang Maha Pencipta terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Bisa saja suatu masalah bagi seseorang terasa berat namun justru bagi orang lain, masalah itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Nah, ketika anda mengalami masalah terberat itu, bagaimanakah tampaknya dunia ini? Masihkah ia berwarna-warni cerah? Atau justru cuma ada tiga warna? Hitam, putih, kelabu?

Pernah saya baca di salah satu blog temen saya, “Sesungguhnya tidak ada masalah dengan masalah, karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menghadapi masalah.” I totally agree with that!

Dan ada satu hasil kontemplasi antara saya dengan seseorang mengenai hidup dan masalah, “Turn it into a joy, play it like a toy, and make sure you’ll enjoy.” Apa kau gila?! Menganggap dan menjadikan suatu masalah sebagai permainan? Yeah, that’s an alternative door to get out of a complex labyrinth. IMSO (in my stupid opinion), jangan terlalu serius dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, berikan sedikit kesenangan pada diri anda, takutnya bila terlalu serius, masalah itu kemungkinan akan membuat anda tertekan dan semakin tertekan saat ia menjadi semakin rumit. Tapi, jangan pula menganggap suatu masalah itu terlalu mudah, yang bila anda terlena karenanya, ia akan menjadi semakin rumit dan rumit, atau bahkan tidak akan terselesaikan sama sekali. Dan beberapa masalah yang tidak terselesaikan justru akan tetap menggelayut di pikiran anda dan membebaninya. Bukankah akan terasa lebih plong, bila tidak ada beban sama sekali?

More »

Tags: , ,

Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh

September 8th, 2008 | 10 Comments | Posted in Personal, Stories and Inspirations

Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik.

Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15).

Dua baris diatas adalah kalimat yang saya temukan pada halaman 15, buku Kubik Leadership karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini, ketika menanti waktu berbuka puasa kemarin sore (7/9) di Gramedia Lampung.

Pertama kali membaca kalimat tersebut, saya langsung ‘ngeh’. Kenapa? Hmmm… Entahlah, mungkin karena sedikit mirip dengan filosofi saya yang ingin selalu merasa bodoh untuk terus dapat belajar dan belajar dari mereka yang lebih pandai dari saya. Pernah seorang temen nyeletuk, “Lo ini aneh, orang laen pada pengen pinter, eeehhh… lo malah pengen tetep bodoh…?!” Dan celetukan itu cuma saya balas dengan sunggingan senyum *yang tentu saja: manis… wakakakakakaka… muntah! muntah! :P*

More »

Tags: , ,