<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Idrus Fhadli's Blog &#187; filosofi</title>
	<atom:link href="http://idrus.net/tag/filosofi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idrus.net</link>
	<description>read my mind but don't kill my kind(ness)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Apr 2012 14:02:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<image>
  <link>http://idrus.net</link>
  <url>http://xvader.110mb.com/favicon.ico</url>
  <title>Idrus Fhadli's Blog</title>
</image>
		<item>
		<title>Hedonisme Pemikiran</title>
		<link>http://idrus.net/2011/01/06/hedonisme-pemikiran.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2011/01/06/hedonisme-pemikiran.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 12:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Hedonisme, mengutip definisi yang dijabarkan KBBI Daring; adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sedangkan definisi pemikiran, masih menurut sumber yang sama; adalah proses, cara, perbuatan memikir: problem yang memerlukan ~ dan pemecahan. Bila kedua kata itu digabung, maka kita akan berhadapan dengan perspektif baru; hedonisme pemikiran. Ya, terkadang, kita hanya terjebak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Hedonisme Pemikiran" src="http://lh6.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/TSW4xg6ubUI/AAAAAAAAB2E/3oU0GVpBhRw/s400/hedonisme.jpg" alt="" width="400" height="388" /></p>
<p>Hedonisme, mengutip definisi yang dijabarkan KBBI Daring; adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.</p>
<p>Sedangkan definisi pemikiran, masih menurut sumber yang sama; adalah proses, cara, perbuatan memikir: <em>problem yang memerlukan ~ dan pemecahan.</em></p>
<p>Bila kedua kata itu digabung, maka kita akan berhadapan dengan perspektif baru; hedonisme pemikiran.</p>
<p>Ya, terkadang, kita hanya terjebak dalam hedonisme pemikiran, bertahun-tahun, seakan tiada berujung, berargumen sana-sini, mendebat-mempersuasi kanan-kiri, mendelik depan-belakang, melempar sinisme ke atas-bawah, tanpa adanya tindakan nyata yang berarti bahkan sampai kita mati.</p>
<p>Jangan tanya apa yang akan dilakukan orang lain, melainkan tanyalah pada diri kita sendiri; apa yang akan kita lakukan? Apakah sesuatu yang berguna dan hebat, manifestasi dari pemikiran kita, ataukah justru sebaliknya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2011/01/06/hedonisme-pemikiran.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life is Like Rubik&#8217;s Cube</title>
		<link>http://idrus.net/2010/07/13/life-is-like-rubiks-cube.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2010/07/13/life-is-like-rubiks-cube.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 10:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Kubus Rubik]]></category>
		<category><![CDATA[Metafora]]></category>
		<category><![CDATA[Rubik's Cube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Yet complicated and challenging, but fun Tulisan ini hanyalah renungan sore, di kala Kota Palembang tercinta ini terguyur hujan. Saya hanya nongkrong di depan laptop, menunggu selesainya proses update sistem operasi sembari memantau beberapa portal berita politik dan ekonomi ditemani segelas kopi+gula+meises coklat buatan sendiri &#8220;Jejak Langkah&#8221; baru setengahnya saya baca, tutup sebentar, beralih ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img title="Life is Like Rubik's Cube" src="http://lh5.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/TDxGXnO2NhI/AAAAAAAABuQ/9mU-ABosgmI/s400/Life_is_like_rubik__s_cube_by_TetrisMaster.jpg" alt="" width="400" height="320" /></p>
<blockquote><p><em>Yet complicated and challenging, but fun</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p><span id="more-964"></span></p>
<p>Tulisan ini hanyalah renungan sore, di kala Kota Palembang tercinta ini terguyur hujan. Saya hanya nongkrong di depan laptop, menunggu selesainya proses <em>update</em> sistem operasi sembari memantau beberapa portal berita politik dan ekonomi ditemani segelas kopi+gula+meises coklat buatan sendiri <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/coffee.gif' alt='(coffee)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8220;Jejak Langkah&#8221; baru setengahnya saya baca, tutup sebentar, beralih ke laptop, dan pandang tanpa sengaja tertumbuk pada seonggok Rubik&#8217;s Cube di samping <em>mouse</em>. Bergeraklah jari jemari saya merangkai kata, demi mengisi blog yang mulai gersang dengan sentuhan kata-kata ini <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p><em>Yet complicated and challenging, but fun</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p>Itulah sebaris kata yang terbayang. Betapa bangunan kubus yang tersusun dari 26 kubus yang lebih kecil ini ketika teracak memang tampak hampir mustahil untuk diselesaikan oleh seseorang yang baru memainkannya. Persis seperti bayi yang baru terlahir ke dunia, tanpa suatu pengetahuan apa pun, tanpa penglihatan sedikitpun akan masa depan. Menjalani hidup dengan belajar di setiap detiknya, tiada henti, hingga Yang Maha Kuasa menghendakinya untuk berhenti. Sekompleks apapun suatu permasalahan pasti akan ada jalan keluarnya, tergantung usaha tiap-tiap individu dan sejauh mana pembelajaran dan pemahamannya tentang hidup.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Rubik's Cube" src="http://lh3.ggpht.com/_oL1jBL8WDoY/TDxF6CdeStI/AAAAAAAABuI/-qZtajxVRDE/s800/220px-Rubik%27s_cube.svg.png" alt="" width="220" height="229" /></p>
<p>Empat puluh tiga <a title="Quintillion" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quintillion">quintillion</a> permutasi dalam suatu Rubik&#8217;s Cube bukanlah angka yang kecil, dan dari sejumlah itu, hanya satu tujuan akhir yang harus dicapai. Persis seperti tujuan kehidupan, hanya satu tujuan akhir yang ingin dicapai; kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.</p>
<p>Rubik&#8217;s Cube pun selalu menawarkan tantangan, meskipun seseorang telah berhasil memecahkan persoalannya, tetap ada persoalan lain yang menanti untuk dipecahkan. Silih berganti. Sebuah tantangan yang menggelitik untuk dijamah. Mahir menyelesaikan Rubik&#8217;s Cube 3x3x3, masih ada tantangan untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat, sedapatnya dalam hitungan detik. Selain itu, masih ada beragam tantangan lain dari berbagai variasi Rubik&#8217;s Cube; 2x2x2, 4x4x4, 5x5x5, 6x6x6, 7x7x7, dst. Ada pula kombinasi yang unik, 2&#215;3, 3&#215;4, void cube, pyraminx, megaminx, dsb. Dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Tergantung seseorang itu, apakah mau menjajaki variasi tantangan tersebut atau tidak. Bilapun mau menerimanya, tentulah akan ada peningkatan kemampuan dalam diri individu tersebut. <em>The more the practice, the better the result, isn&#8217;t it?</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hidup tidak terlepas dari kompetisi, sama halnya dengan Rubik&#8217;s Cube. beragam kompetisi sering diadakan di antara sesama pemain Rubik&#8217;s Cube, semua mengejar hasil terbaik mereka dengan mengerahkan kemampuan terbaik pula. Masing-masing memiliki strategi sendiri, mencari jalan terpendek dan tercepat untuk satu tujuan yang sama. Sang pemenang, akan mendapat sanjungan dan <em>respect</em> dari kompetitor lain. Singkat kata, kompetisi selalu akan kita hadapi dalam hidup, baik yang dikehendaki maupun yang tidak, disadari maupun tidak. Semua menuntut agar kita mengerahkan kemampuan maksimal demi memenangkan kompetisi itu, kalau bisa secara mutlak di atas orang lain. Apa jadinya hidup tanpa kompetisi?  <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/thinking.gif' alt='(thinking)' class='wp-smiley' /> Tentu saja kompetisi yang diharapkan untuk terjadi adalah kompetisi yang sehat, bukan kompetisi saling jegal saling bunuh, <em>am I right</em>? <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/drinking.gif' alt='(drinking)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ah, kalau dipikir-pikir, alangkah banyaknya perbandingan filosofi hidup dengan sebuah benda atau sesuatu hal. Alangkah luasnya dunia ini, dan alangkah kecilnya kita sebagai manusia  <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2010/07/13/life-is-like-rubiks-cube.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Masalah dan Menikmati Hidup</title>
		<link>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 23:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Stupid Thought (?!)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?) Hmmm&#8230; Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit. Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week&#8230; *lebay mode on :P* Dowh! Entahlah&#8230; Lo mah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?)</p>
<p>Hmmm&#8230;</p>
<p>Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit.</p>
<p>Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week&#8230; *lebay mode on :P*</p>
<p>Dowh! Entahlah&#8230;</p>
<p>Lo mah ga tau, drus, masalah gue berat bener nie, seberat tujuh lapis langit yang spontan jatuh menimpa kepala gue! Lo masih nanya, apakah hidup itu harus dinikmati atau tidak? Dasar!</p>
<p>Okay, okay&#8230;</p>
<p>Calm down&#8230; *loh?! kok tulisan ini jadi nyeleneh gini sih?* :P</p>
<p>Stop it! Let&#8217;s BTT (back to topic-red)</p>
<p>Saya tahu, setiap orang pasti punya masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan oleh Sang Maha Pencipta terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Bisa saja suatu masalah bagi seseorang terasa berat namun justru bagi orang lain, masalah itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Nah, ketika anda mengalami masalah terberat itu, bagaimanakah tampaknya dunia ini? Masihkah ia berwarna-warni cerah? Atau justru cuma ada tiga warna? Hitam, putih, kelabu?</p>
<p>Pernah saya baca di salah satu blog temen saya, &#8220;Sesungguhnya tidak ada masalah dengan masalah, karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menghadapi masalah.&#8221; I totally agree with that!</p>
<p>Dan ada satu hasil kontemplasi antara saya dengan seseorang mengenai hidup dan masalah, &#8220;Turn it into a joy, play it like a toy, and make sure you&#8217;ll enjoy.&#8221; Apa kau gila?! Menganggap dan menjadikan suatu masalah sebagai permainan? Yeah, that&#8217;s an alternative door to get out of a complex labyrinth. IMSO (in my stupid opinion), jangan terlalu serius dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, berikan sedikit kesenangan pada diri anda, takutnya bila terlalu serius, masalah itu kemungkinan akan membuat anda tertekan dan semakin tertekan saat ia menjadi semakin rumit. Tapi, jangan pula menganggap suatu masalah itu terlalu mudah, yang bila anda terlena karenanya, ia akan menjadi semakin rumit dan rumit, atau bahkan tidak akan terselesaikan sama sekali. Dan beberapa masalah yang tidak terselesaikan justru akan tetap menggelayut di pikiran anda dan membebaninya. Bukankah akan terasa lebih plong, bila tidak ada beban sama sekali?</p>
<p><span id="more-121"></span></p>
<p>Bahkan, salah satu filsuf Yunani kuno yang terkenal itu, mister Plato, menyatakan, &#8220;Kalau begitu, bagaimana cara menjalani hidup yang benar? Jalani hidup seperti permainan.&#8221;</p>
<p>Yayaya&#8230;</p>
<p>Lagi-lagi nyangkut ke permainan. Mari sedikit mengenang, kapankah terakhir kali kita bermain? Bermain apa? Berapa lama? Dan apakah permainan itu memberikan perasaan senang?</p>
<p>Bermain bukan hanya hak yang dimonopoli oleh anak-anak. Kita pun butuh bermain. Ummm&#8230; Terakhir kali saya bermain adalah tiga puluh menit sebelum saya memulai menulis artikel ini. Saya bermain-main dengan kucing saya, lalu menjalankan game Alien Arena di mesin Ubuntu saya, memainkan beberapa riff lagu dengan gitar kesayangan, dan mencoret-coret di beberapa lembar kertas bekas.</p>
<p>Dengan menganggap suatu masalah sebagai sebuah permainan (anggap saja seperti dalam sebuah game) yang tentu saja ingin dimenangkan, saya merasa termotivasi untuk tetap tegak berdiri menghadapi gelombang hidup.</p>
<h3>Memandang Masalah Secara Terbalik</h3>
<p>Aaahhh&#8230;</p>
<p>Apa pula ini? Entahlah, saya juga rada bingung dengan konsep itu :P</p>
<p>Memangnya masalah bisa dibolak-balik? Tentu tidak! Namun cara kita memandang masalahlah yang bisa dibolak-balik. Misalnya gini, A merasa suntuk dengan masalah pekerjaannya, dimarahi bos tiap hari, kerjaan yang terus menumpuk, dsb. Bila A memandang masalah itu secara linear, tentu ia akan terjebak pada arus masalah tersebut.</p>
<p>Sekali-sekali melawan arus boleh, kan? Ga ada yang melarang kok! Tapi resiko tanggung sendiri. Balik lagi ke contoh si A diatas, bila ia merasa suntuk dengan pekerjaannya, cobalah sekali-sekali menganggap pekerjaannya itu sebagai permainan yang menyenangkan yang justru akan semakin menyenangkan bila semakin banyak permainan dan waktu yang dapat dihabiskan untuk bermain. Begitu pula bila ia bosan dan merasa gerah karena sering dimarahi oleh bosnya, coba pandang dan anggap kemarahan si bos itu sebagai sebuah lagu perjuangan yang mengingatkannya pada masa-masa penjajahan dulu, tentu semangatnya akan berkobar-kobar, bukan? Kemarahan si bos akan menjadi suatu hal yang senantiasa dirindukannya. Atau, mengapa tidak berbalik saja? Si A yang memarahi si bos? :P</p>
<p>Hahaha&#8230; Ternyata ada banyak cara dalam memandang dan menyikapi masalah&#8230; <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hhhh&#8230; Udah! Udah! Makin ngawur tho? Hihihi&#8230; Stop dulu ah nulisnya, ntar laen kali disambung lagi&#8230; :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh</title>
		<link>http://idrus.net/2008/09/08/tetaplah-lapar-tetaplah-bodoh.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/09/08/tetaplah-lapar-tetaplah-bodoh.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik. Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Orang lapar adalah orang yang paling bisa mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya meraih kehidupan yang lebih baik.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Orang bodoh tidak punya prasangka. Orang bodoh terbuka terhadap hal-hal baru. Orang yang senantiasa merasa dirinya bodoh tidak akan berhenti untuk belajar (Poniman, Farid, et al, 2008: 15).</em></p>
<p style="text-align: left;">Dua baris diatas adalah kalimat yang saya temukan pada halaman 15, buku Kubik Leadership karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini, ketika menanti waktu berbuka puasa kemarin sore (7/9) di Gramedia Lampung.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama kali membaca kalimat tersebut, saya langsung <em>&#8216;ngeh&#8217;</em>. Kenapa? Hmmm&#8230; Entahlah, mungkin karena sedikit mirip dengan filosofi saya yang ingin selalu merasa bodoh untuk terus dapat belajar dan belajar dari mereka yang lebih pandai dari saya. Pernah seorang temen nyeletuk, <em>&#8220;Lo ini aneh, orang laen pada pengen pinter, eeehhh&#8230; lo malah pengen tetep bodoh&#8230;?!&#8221;</em> Dan celetukan itu cuma saya balas dengan sunggingan senyum <em>*yang tentu saja: manis&#8230; wakakakakakaka&#8230; muntah! muntah! :P*</em></p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-62"></span></p>
<p style="text-align: left;">Alasan saya ingin tetap merasa bodoh karena saya tidak ingin seperti beberapa orang yang saya kenal-yang tentu saja pandai-namun angkuh dan sombong dengan kepandaiannya. Tidak jarang pula meremehkan pendapat dan pola pikir orang lain yang dianggapnya tidak sejalan dengannya. Alasan lain adalah saya ingin terus belajar dan belajar, mengenal dan mengeksplorasi hal-hal baru, agar kebodohan dalam bentuk sebenarnya tidak serta merta dan dengan semena-mena datang lantas membodohkan saya sampai menjadi bodoh sebodoh-bodohnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-63 aligncenter" style="border: 5px none white;" title="studying-main_full" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/09/studying-main_full-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></p>
<p style="text-align: left;">Hhh&#8230; Kalo bicara tentang belajar memang terkadang ditanggapi negatif oleh beberapa orang. Pernah saya bertanya kepada salah seorang temen, yang kerjaannya tidur melulu :P Apakah kelak ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi? Menggapai gelar Masternya. Lantas, apa jawabnya? <em>&#8220;Aaahhh&#8230; Entahlah drus, gw ga mau lagi kuliah S2, udah capek rasanya. Udah ga jaman lagi kuliah!&#8221;</em> Duh&#8230; Ada benarnya juga sie tapi bertolak belakang dengan saya. Saya justru malah merencanakan (dan jika Allah menghendaki) untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita coba telaah (tentu saja dengan logika yang bodoh), mengapa temen saya itu mengeluh bahwa ia capek kuliah dan berharap tidak akan bertemu lagi dengan yang namanya &#8216;kuliah&#8217; di masa depannya? Menurut saya ada beberapa faktor, diantaranya; dia telah merasa betah dan nyaman berada di zona nyamannya. Apa pula itu? Zona nyaman?</p>
<p style="text-align: left;">Ya, zona nyaman! Suatu zona (tempat atau kondisi) dimana anda sudah merasa sangat terpuaskan dengan keadaan yang sekarang dan tidak ingin beranjak darinya untuk mencapai suatu zona yang (mungkin) lebih nyaman dari yang sekarang, yang mungkin akan dapat dicapai dengan melakukan sedikit pengorbanan lagi. Pernah saya dengar kalau ingin maju dan jadi lebih baik lagi, maka bagaimanapun caranya kita harus keluar dari zona nyaman kita.</p>
<p style="text-align: left;">Memang, belajar tidak hanya terbatas pada pendidikan formal (sekolah dan kuliah) saja, melainkan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Ada banyak cara dan metode belajar, yang tiap orang tentu memiliki cara dan metode favoritnya tersendiri dan belum tentu cocok bila diaplikasikan pada orang lain. Saya misalnya, jujur, saya tidak menyukai suasana kuliah dalam kelas. Membosankan! Saya justru menyukai cara membaca dan diskusi mendalam juga aplikasi secara langsung, tidak hanya sebatas teori dalam baris-baris buku teks saja. Tanya lagi, mengapa membaca? Karena: <em>The more you read, the more things you will know. The more you learn, the more place you will go.</em> (Dr. Seuss)</p>
<p style="text-align: left;">Dan kini, filosofi tetaplah merasa bodoh itu memiliki pasangan jiwanya, yakni tetaplah merasa lapar. Namun perlu ada sedikit penambahan dalam istilah lapar disini; lapar dalam arti duniawi dan ukhrawi yang seimbang dan tidak berat sebelah. Mengapa? Karena tujuan akhir hidup bukan dunia, melainkan akhirat.</p>
<p style="text-align: left;">Wallahualam bi shawab.</p>
<p style="text-align: left;">&#8212;<br />
<em>Wishlist: Pengen beli dan baca buku Kubik Leadership tersebut&#8230; Tapi blom ada duit :(</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/09/08/tetaplah-lapar-tetaplah-bodoh.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

