<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Idrus Fhadli's Blog &#187; politik</title>
	<atom:link href="http://idrus.net/tag/politik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idrus.net</link>
	<description>read my mind but don't kill my kind(ness)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Apr 2012 14:02:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<image>
  <link>http://idrus.net</link>
  <url>http://xvader.110mb.com/favicon.ico</url>
  <title>Idrus Fhadli's Blog</title>
</image>
		<item>
		<title>Petisi Pecat Nudirman Munir dari DPR</title>
		<link>http://idrus.net/2011/04/18/petisi-pecat-nudirman-munir-dari-dpr.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2011/04/18/petisi-pecat-nudirman-munir-dari-dpr.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 02:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=1203</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan (Wiji Thukul) Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>Peringatan</strong><br />
(Wiji Thukul)</p>
<p>Jika rakyat pergi<br />
Ketika penguasa pidato<br />
Kita harus hati-hati<br />
Barangkali mereka putus asa</p>
<p>Kalau rakyat bersembunyi<br />
Dan berbisik-bisik<br />
Ketika membicarakan masalahnya sendiri<br />
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar</p>
<p>Bila rakyat berani mengeluh<br />
Itu artinya sudah gawat<br />
Dan bila omongan penguasa<br />
Tidak boleh dibantah<br />
Kebenaran pasti terancam</p>
<p>Apabila usul ditolak tanpa ditimbang<br />
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan<br />
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan<br />
Maka hanya ada satu kata: LAWAN!</p>
</blockquote>
<p><span id="more-1203"></span></p>
<p>Sungguh, sebagian dari kita mungkin sudah gerah dengan sikap dan tingkah laku serta tindak tanduk dan hipokrisi juga ke-hedon-an mereka yang duduk di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dengan mengatasnamakan rakyat. Ketika masa panas-panasnya iklim politik menyambut pemilu, mereka yang berkampanye dan mengharapkan suara rakyat tanpa segan dan tedeng aling-aling membuai membujuk merayu rakyat agar memilih dirinya. Namun, ketika mereka terpilih, apa yang terjadi? Lupa. Ya, lupa pada rakyat.</p>
<p>Sungguh, ada benarnya perkataan almarhum Gus Dur yang menyamakan para anggota DPR yang terhormat itu dengan anak TK. Bagaimana tidak, mereka ingin agar setiap keinginannya dipenuhi, tanpa perlu dipertanyakan. Mereka ingin plesiran ke luar negeri, rakyat harus setuju. Mereka ingin gedung baru nan megah dengan fasilitas nan mewah, rakyat harus setuju. Pokoknya semua harus disetujui rakyat, tanpa cela, tanpa harus banyak tanya. Titik!</p>
<p>Lihat saja beberapa contohnya; Marzuki Alie&#8211;sang ketua, Arifinto&#8211;the porn movie lover, Ruhut Sitompul&#8211;si mulut ember, Misbakhun, dkk. Dan satu lagi, si b*ngs*t Nudirman Munir. Bagaimana bisa ia merasa tinggi hati dan istimewa sehingga seenaknya merendahkan rakyat dengan kata-kata lacur yang meluncur dari mulut binalnya?! Fiuh.</p>
<p>Sebagai permulaan, mari rapatkan barisan mendukung petisi untuk mencabut mandat Nudirman Munir dari keanggotaannya sebagai &#8216;wakil rakyat&#8217; yang tidak bertanggung jawab. Setelah yang satu ini selesai dilakukan, selanjutnya mari lengserkan mereka yang lain&#8211;yang memiliki <em>track record</em> mengecewakan sebagai wakil rakyat. Petisi ini sebagai penyaluran suara kita sebagai rakyat, ingat dalam demokrasi, kedaulatan tertinggi suatu negara berada di tangan kita sebagai rakyat, bukan berada di tangan mereka&#8211;para wakil rakyat dan pemerintah.</p>
<blockquote><p><strong>Kepada Yth:</strong></p>
<p>- Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia<br />
- Badan Kehormatan DPR RI<br />
- Pimpinan Partai Golkar</p>
<p>Salam Hormat,</p>
<p>Mungkin Bapak-bapak mendengar sendiri ucapan Nudirman Munir, anggota Komisi III DPR, dalam sidang paripurna 8 April lalu, atau setidaknya sudah membaca di berbagai media.</p>
<p>Dia mengatakan: &#8220;Kita jangan aneh-aneh membandingkan dengan rakyat yang susah. Itu jelas berbeda. Apa kita harus tinggal di gubuk reot juga, becek-becekan, kita harus realistis.&#8221; Seperti dikutip <a title="http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/04/08/brk,20110408-326098,id.html" rel="nofollow" href="http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/04/08/brk,20110408-326098,id.html" target="_blank"><strong>Tempointeraktif</strong></a> dan <a title="http://news.okezone.com/read/2011/04/08/339/443848/politisi-dpr-masa-kita-harus-tinggal-di-gubuk-reyot" rel="nofollow" href="http://news.okezone.com/read/2011/04/08/339/443848/politisi-dpr-masa-kita-harus-tinggal-di-gubuk-reyot" target="_blank"><strong>Okezone</strong></a>.</p>
<p>Pernyataan itu, telah menyinggung nurani kami sebagai rakyat Indonesia. Nudirman Munir telah memosisikan masyarakat sebagai rakyat yang susah. Sedang anggota DPR mesti berbeda,  berkantor harus dengan kemewahan.</p>
<p>Pernyataan itu sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang anggota Dewan yang juga Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR. Apalagi Nudirman Munir adalah pimpinan rombongan BK DPR yang baru saja melakukan kunjungan kerja  ke Yunani untuk belajar etika.</p>
<p>Pernyataan itu sangat tidak beretika, membedakan kelas sosial yang tidak sesuai dengan dasar negara, dan sama sekali tidak memiliki empati sosial.</p>
<p>Setelah mengendapkan beberapa saat, dengan penuh kesadaran dan hati yang jernih, kami meminta kepada Bapak-bapak yang terhormat, untuk memberhentikan yang disebut dibawah ini sebagai anggota DPR, karena tidak layak menjadi wakil rakyat:</p>
<ul>
<li>Nama: H. Nudirman Munir, SH</li>
<li>No. Anggota: A-184</li>
<li>Tempat/Tanggal Lahir: Serawak, 17 Agustus 1953</li>
<li>Alamat Tempat Tinggal: Jl.K.Caringin/3C RT.011/RW.04 Kel.Cideng Kec.Gambir, Jakarta Pusat</li>
<li>Jenis Kelamin: Laki-laki</li>
<li>Agama: Islam</li>
<li>Pendidikan Terakhir: S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia</li>
<li>Pekerjaan: Pengacara/Penasehat Hukum</li>
<li>FRAKSI: Partai Golongan Karya</li>
<li>KOMISI: III (tiga) Hukum, HAM, Keamanan</li>
<li>Daerah Pemilihan: Sumatera Barat 2:  Kab. Pasaman, Kab. Pasaman Barat, Kota Payakumbuh, Kab. Lima Puluh Koto, Kota Bukittinggi, Kab. Agam, Kota Pariaman, Kab. Padang Pariaman</li>
<li>Perolehan Suara: 31.418</li>
</ul>
<p>Demikian, petisi ini kami buat dengan sungguh-sungguh, sebagai panggilan jiwa dan kecintaan kami pada Indonesia.</p>
<p>Salam hormat,</p>
<p></p>
<p><strong><em>Catatan:</em></strong><br />
<em>*Petisi membutuhkan 50.000 dukungan untuk menandingi jumlah perolehan suara YBS.</em></p>
</blockquote>
<p>Dukung petisi ini melalui <a title="http://tentukan.com/petisi/pecat_nudirman_munir_dari_dpr" rel="nofollow" href="http://tentukan.com/petisi/pecat_nudirman_munir_dari_dpr" target="_blank">http://tentukan.com/petisi/pecat_nudirman_munir_dari_dpr</a>. Ayo lawan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2011/04/18/petisi-pecat-nudirman-munir-dari-dpr.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Golput Itu&#8230;</title>
		<link>http://idrus.net/2009/07/06/golput-itu.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2009/07/06/golput-itu.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 09:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Golput]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengklarifikasi dugaan pembaca sekalian yang mungkin mengira saya adalah golput. Perlu saya tegaskan bahwa &#8220;my politics is my business&#8221; (politik saya adalah urusan pribadi saya). Jadi, ada kemungkinan saya adalah pendukung salah satu calon tertentu atau bahkan tidak mendukung satupun dari calon yang ada. Wajar bukan? Karena menjaga kerahasiaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2009/07/logo-golput.jpg" alt="Logo Golput, Source: Politikana" title="logo-golput" width="191" height="275" class="size-full wp-image-623" /></center></p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		A:link { color: #0000ff } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengklarifikasi dugaan pembaca sekalian yang mungkin mengira saya adalah golput. Perlu saya tegaskan bahwa <em>&#8220;my politics is my business&#8221;</em> (politik saya adalah urusan pribadi saya). Jadi, ada kemungkinan saya adalah pendukung salah satu calon tertentu atau bahkan tidak mendukung satupun dari calon yang ada. Wajar bukan? Karena menjaga kerahasiaan itu juga merupakan hak saya dan hak seluruh bangsa Indonesia pada umumnya <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Selain itu, sumber pemikiran dalam tulisan ini juga telah banyak dikontaminasi dari beberapa sumber baik itu berupa artikel online maupun media cetak, jadi ini bukanlah seratus persen hasil pemikiran saya sendiri <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span id="more-619"></span><span style="font-size: medium;"><strong>Forewords</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pemilihan umum (Pemilu), menurut Wikipedia berbahasa Indonesia, &#8220;adalah proses pemilihan orang(-orang) untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat, di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa.&#8221;<sup>[1]</sup></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Fenomena golongan putih atau yang lebih populer dengan sebutan golput merupakan hal yang menarik di ranah demokrasi terutama pada masa-masa menjelang pemilihan pemimpin bangsa seperti sekarang ini. Beberapa alasan melatarbelakangi aksi golput, mulai dari alasan-alasan yang logis dan bersifat teknis hingga alasan-alasan yang terkesan dibuat-buat dan dipaksakan. Definisi golput menurut Wikipedia berbahasa Inggris, <em>&#8220;Golput is used to refer from voters who abstain from voting, from Golongan Putih, &#8220;blank party&#8221; or &#8220;white party.&#8221;</em><sup>[2]</sup> Atau dengan kata lain, golput adalah pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilihnya dan suara yang tidak sah.<sup>[3]</sup> Namun sialnya, definisi golput yang umum digunakan saat ini masih terbilang membingungkan seperti misalnya dua contoh yang saya angkat diatas. Lalu definisi golput yang sebenarnya apa dong? Hehehe&#8230; Saya tidak mau berspekulasi mengenai hal ini, silakan anda jawab sendiri ya :P Namun mungkin definisi yang diungkapkan oleh Arief Budiman berikut bisa menjadi panduan;</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;">&#8220;Golput adalah orang yang sengaja datang ke TPS dan membuat pilihannya tidak sah dengan mencoblos gambar putih. Kita bisa memperluas definisi golput dengan orang yang tidak percaya dengan hasil pemilu dan tidak mau berpartisipasi. Ia bisa tidak datang ke TPS atau dia datang, tapi membuat suaranya tidak sah.&#8221; (Media Indonesia Dinny Mutiah mewawancarai Direktur Eksekutif Cetro, Hadar Navis Gumay di Jakarta).<sup>[4]</sup></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pada pemilihan legislatif bulan April yang lalu, jumlah golput tercatat sebesar 49.677.076 jiwa dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) 31 provinsi sebanyak 171.265.442 jiwa.<sup>[5]</sup> Entah berapa besar jumlah golput pada pemilihan presiden 8 Juli mendatang yang hanya tinggal hitungan hari lagi.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-size: medium;"><strong>Katanya Golput Itu Haram?</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><em>&#8220;Golput kok bangga? Dimana letak nasionalismemu bila golput? Tahu tidak bahwa golput itu haram? Lima menit di bilik suara menentukan nasib bangsa lima tahun kedepan!&#8221;</em> Ungkapan-ungkapan itu adalah beberapa yang paling sering digunakan untuk menyindir para pelaku golput. Beberapa yang <em>&#8216;lemah iman golputnya&#8217;</em> mungkin akan segera &#8216;murtad&#8217; dan menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon. Namun bagi mereka yang keukeuh dan banyak merasakan asam garam kehidupan berbangsa dan bergolput ria, ungkapan diatas hanyalah angin lalu saja.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Fatwa haram yang dikeluarkan MUI awal 2009 lalu itu sendiri masih merupakan suatu kerancuan, sebab memilih ataupun tidak memilih adalah suatu hak dan bukan kewajiban, hal ini telah tercatat dalam UU Pemilu itu sendiri. Lagipula memilih untuk tidak memilih itu juga dapat dikategorikan kedalam memilih, bukan?</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Humas MUI, Djalal, memaparkan golput hukumnya haram bila masih ada calon yang amanah dan imarah.<sup>[6]</sup> Andaikata golput itu memang haram, maka memilih wakil rakyat yang salah (yang tidak amanah dan tidak imarah, yang dapat mengantarkan ke jurang kebobrokan) pun hukumnya haram?</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-size: medium;"><strong>Beberapa Alasan Seseorang Memilih Untuk Golput:</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><em><strong>1. Faktor Teknis</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Salah satu faktor teknis yang bisa menyebabkan seseorang golput adalah tidak terdaftar di DPT. Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa golput dengan cara ini meluapkan kekesalannya kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahkan ke aparat pemerintah (RT, RW, Kepala Desa, dsb). Bisa jadi mereka benar-benar ingin memberikan suaranya kepada salah satu jagoannya namun terhalang oleh faktor teknis yang mempertaruhkan profesionalitas aparat penyelenggara Pemilu ini.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><em><strong>2. Memilih dengan Pertimbangan, Bukan dengan Perasaan</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Biasanya golongan ini adalah mereka yang memiliki kesadaran politik yang baik. Sebelum menentukan pilihan, mereka menggali informasi sebanyak-banyaknya dari para kandidat kemudian membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Siapa yang lebih unggul dari siapa, juga siapa yang dianggap memiliki kelemahan terbanyak. Beberapa kriteria, faktor, dan pertimbangan-pertimbangan khusus digulirkan dalam benak mereka. Mulai dari latar belakang para kandidat, prestasi apa saja yang pernah mereka dapatkan, kontroversi apa saja yang pernah melibatkan mereka, hingga visi misi dan program kerja seperti apa yang mereka tawarkan bila nanti terpilih menjadi pemimpin bangsa ini. Bagi golongan ini, &#8216;isi&#8217; dari calon pemimpin itu adalah yang utama sedangkan &#8216;kulit&#8217; hanyalah faktor kesekian yang harus dipertimbangkan. Bersyukurlah bila ternyata dari sekian jumlah kandidat ternyata ada satu atau dua kandidat yang mampu menarik simpati golongan ini. Namun, bila tidak ada satupun yang dianggap pantas untuk dipilih, tentu saja bagi mereka golput adalah pilihan paling logis yang bisa diambil.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><em><strong>3. Kurangnya Kesadaran Politik</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><em>&#8220;Pemilu itu apaan sih?&#8221;</em> atau <em>&#8220;Pemilu gak Pemilu, sama saja!&#8221;</em> atau yang lebih kasar lagi, <em>&#8220;Politic is bullshit!&#8221;</em>. Hal itu menunjukkan kurangnya kesadaran politik dari pribadi yang bersangkutan. Bagi golongan ini, politik itu omong kosong, begitu pula dengan menggali informasi seputar politik itu adalah <em>&#8220;a waste of time&#8221;</em>, dan lebih parah lagi, terlibat di dalamnya adalah seperti tercebur ke dalam kubangan got yang sangat kotor, berlumpur, serta menebarkan bau busuk.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Oke, saya akui, tidak semua orang suka mendengarkan peristiwa seputar politik apalagi seputar para politikus yang (beberapa) dianggap busuk dan berbau comberan. Adalah lumrah bila banyak yang berpikir politik itu kotor. Namun dengan menggali dan memilah informasi seputar politik bukanlah sebuah perbuatan yang kotor, sebaliknya justru dapat menjauhkan kita dari hal-hal kotor itu sendiri.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Bila disuruh untuk memilih, biasanya golongan ini akan memilih calon berdasarkan perasaan. Siapa yang dianggapnya paling bagus, paling santun, paling ganteng, dan paling paling yang lainnya itulah yang cenderung akan mendapatkan tempat di hati mereka. Latar belakang dan tindak-tanduk calon yang mereka usung di masa lalu dan yang akan datang bukanlah merupakan hal yang harus mereka permasalahkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><em><strong>4. Tidak Percaya Kepada Calon-Calon yang Ada</strong></em></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Saya pikir poin ini jelas, tidak sedikit dari pemilih logis yang mengangkat poin ini sebagai salah satu diktenya. Ketidakpercayaan itu sendiri bisa berasal dari kekecewaan terhadap kinerja pemerintah.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Mengenai hal ini, ada yang berpendapat; <em>&#8220;Lah, kalau begitu, bagaimana rakyat akan maju bila rakyat tidak menaruh kepercayaan kepada (calon) pemimpinnya?&#8221; </em><span style="font-style: normal;">Hmmm&#8230; Kalau begitu, analoginya mungkin bisa diputarbalik seperti ini;</span><em> &#8220;Bagaimana rakyat akan menaruh kepercayaan kepada (calon) pemimpinnya yang dianggap tidak bisa memberikan kemajuan bagi rakyatnya?&#8221;</em> Mungkin perlu untuk diingat, Pemilu bukanlah ajang perjudian, jadi sebelum menentukan pilihan, kenali dengan baik siapa dan bagaimana kepribadian calon pemimpin tersebut, dan mengetahui siapa saja orang-orang di belakangnya pun patut untuk menjadi bahan pertimbangan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-size: medium;"><strong>Pertentangan Golput</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Ada kalangan yang berpendapat,</p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;"><em>Sebagai golput mestinya harus konsisten, artinya jika sudah memutuskan untuk tidak diwakili atau memilih presidennya maka selama 5 tahun kedepan seharusnya tidak boleh menuntut atau meminta sesuatu dari wakil atau presidennya dan secara ekstrim tidak boleh menerima apapun dari mereka.</em></p>
<p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;"><em>Kalau pemerintah gagal maka golput seharusnya tidak boleh terkena dampaknya. Juga kalau pemerintahan berhasil dan rakyat makmur maka golput tidak boleh menikmati kemakmuran. Tetapi kenyatannya khan tidak, kalau pemerintah gagal atau sukses golput pasti terkena pengaruhnya.</em><sup>[7]</sup></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Nah loh? Bagaimana menurut anda? <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-size: medium;"><strong>Final Words</strong></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pemilihan presiden tinggal dua hari lagi, sudahkah menentukan pilihan anda?</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Atau, jika anda adalah seorang <em>golputer</em>, <em>just spreading the words from the underground</em>, tetaplah datang ke TPS dan buatlah kertas suara anda menjadi tidak sah, dengan mencontreng diluar ketentuan yang berlaku misalnya. Loh? Kenapa? Agar kertas suara anda tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Tapi walaupun begitu, harap diingat bahwa golput itu tidak diakui dalam undang-undang, dan meskipun golput menang dalam pemilihan presiden kali ini, bukan berarti golput berhak untuk menentukan siapa presiden dan wakil presiden impian sendiri loh ya :P</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">&#8211;</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Sebagian sumber literatur:</p>
<p>[1] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum">http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan_umum</a></span></span></p>
<p>[2] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Portmanteau#Indonesian_.28Bahasa_Indonesia.29">http://en.wikipedia.org/wiki/Portmanteau#Indonesian_.28Bahasa_Indonesia.29</a></span></span></p>
<p>[3] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0408/03/Politikhukum/1183215.htm">http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0408/03/Politikhukum/1183215.htm</a></span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"> </span>[4] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.pemiluindonesia.com/pemilu-2009/jumlha-golput-hampir-50-juta-orang.html">http://www.pemiluindonesia.com/pemilu-2009/jumlha-golput-hampir-50-juta-orang.html</a></span></span></p>
<p>[5] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://forum.detik.com/showthread.php?t=86783">http://forum.detik.com/showthread.php?t=86783</a></span></span></p>
<p>[6] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/01/27/golput-haram/">http://hizbut-tahrir.or.id/2009/01/27/golput-haram/</a></span></span></p>
<p>[7] <span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://public.kompasiana.com/2009/05/09/golput-perlukah-diatur/">http://public.kompasiana.com/2009/05/09/golput-perlukah-diatur/</a></span></span></p>
<ol></ol>
<p>&#8211;<br />
Gambar dicomot dengan semena-mena dari <a href="http://www.politikana.com">Politikana</a> :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2009/07/06/golput-itu.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Politik Rakyat</title>
		<link>http://idrus.net/2008/11/16/politik-rakyat.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/11/16/politik-rakyat.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Aaahhh&#8230; politik&#8230; politik&#8230; Pernah ada yang berguyon kepada saya seperti ini, &#8220;Politik identik dengan banyak dan beragam tikus (poli tikus).&#8221; :P *sudahlah, lupakan guyonan tersebut, lets back to topic* :P Seminggu yang lalu (2 &#8211; 10 November), saya bekerja untuk sebuah perusahaan independen yang bergerak di bidang riset sosial dan politik. Yayaya&#8230; kasta saya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aaahhh&#8230; politik&#8230; politik&#8230; <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pernah ada yang berguyon kepada saya seperti ini, &#8220;Politik identik dengan banyak dan beragam tikus (poli tikus).&#8221; :P <em>*sudahlah, lupakan guyonan tersebut, lets back to topic*</em> :P</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-421 aligncenter" title="checkmate640x320" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/11/checkmate640320-300x150.jpg" alt="" width="300" height="150" /></p>
<p><span id="more-420"></span></p>
<p>Seminggu yang lalu (2 &#8211; 10 November), saya bekerja untuk sebuah perusahaan independen yang bergerak di bidang riset sosial dan politik. Yayaya&#8230; kasta saya adalah yang paling rendah, <em>surveyor/interviewer </em>lapangan. Apa tugas saya? Ya itu tadi, <em>survey </em>dan <em>interview </em>dari rumah ke rumah secara <em>random sampling</em> dalam dua wilayah kelurahan. Sebagai <em>surveyor/in</em><em>terviewer</em>, saya hanya berhak dan berkewajiban mendengar serta mencatat jawaban dari para responden di lembar kuesioner yang telah disediakan, dan tidak dibenarkan untuk mengintervensi mereka dengan pendapat-pendapat pribadi<em> *walau terkadang ingin juga sie mengutarakan pendapat pribadi saya, tapi apa daya, tak punya hak, hehehe&#8230;*</em> :P</p>
<p>Memang capek sie, tapi ada banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya petik. Diantaranya pandangan masyarakat terhadap kancah dunia perpolitikan Indonesia, yang akhir-akhir ini <em>hot </em>adalah Pemilihan Umum pada April 2009 nanti.</p>
<p>Apa kesan bapak/ibu terhadap partai &#8216;X&#8217; yang bapak/ibu sebutkan tadi?</p>
<p><em>Kesan? Bapak/ibu ga punya kesan apa-apa terhadap partai &#8216;X&#8217; itu&#8230;</em></p>
<p>Tapi bapak/ibu suka dan mendukung partai &#8216;X&#8217; itu untuk berlaga di Pemilu 2009 nanti?</p>
<p><em>Iya. Sangat suka dan mendukung.</em></p>
<p>Bapak/ibu tau ga apa program kerja dari partai &#8216;X&#8217; dan calon &#8216;A&#8217;, &#8216;B&#8217;, &#8216;C&#8217;? Indonesia ini mau dibawa kemana?</p>
<p><em>Duh&#8230; dek&#8230; bapak/ibu ga tau&#8230; Bapak/ibu cuma tau partai &#8216;X&#8217; dan calon &#8216;A&#8217;, &#8216;B&#8217;, &#8216;C&#8217; itu sering muncul di tivi-tivi dan radio&#8230; Kelihatannya sie bagus dan memberi harapan baru&#8230;</em></p>
<p>Itulah sekelumit gambaran politik di mata rakyat. Rada miris memang, mereka tahu, suka, dan mendukung partai &#8216;X&#8217;, &#8216;Y&#8217;, &#8216;Z&#8217; dan calon &#8216;A&#8217;, &#8216;B&#8217;, &#8216;C&#8217;, namun mereka justru tidak tahu visi dan misi dari partai dan calon tersebut.</p>
<p>Beberapa kali juga saya dengar jawaban dari pertanyaan berikut:</p>
<p>Kalo boleh saya tahu, mengapa bapak/ibu suka dan mendukung partai &#8216;X&#8217;?</p>
<p><em>Ga tau juga dek, lah wong di daerah sini orang-orangnya dukung partai &#8216;X&#8217; semua, tho?</em></p>
<p><em>Peer group </em>dan lingkungan ternyata berperan besar terhadap persepsi politik mereka. Partai apa yang paling banyak didukung oleh teman/kerabat/tetangga mereka, partai itulah yang mereka suka dan dukung. Sebagian justru tanpa pertimbangan terlebih dahulu (nurani, visi-misi, dsb).</p>
<h3>Hidup Di Zaman Orde Baru Lebih Tenteram</h3>
<p>Pernah kata-kata ini terlontar dari mulut salah seorang responden saya.</p>
<p><em>&#8220;Kalo bapak/ibu bisa milih, bapak/ibu lebih suka hidup di zaman orde baru. Lebih aman, tenteram, damai. Harga-harga murah. Ga ada huru-hara dan demonstrasi mahasiswa. Jumlah partai ikut pemilu pun ga sebanyak seperti tahun-tahun terakhir ini. Makin banyak partai makin ruwet.&#8221;</em></p>
<p>Aaahhh&#8230; Orde baru&#8230; Zaman penuh penindasan berkedok kemakmuran&#8230;</p>
<p>Cengkeraman tangan besi keluarga Cendana dan konco-konconya yang kekar dan kuat. Aroma korupsi, kolusi, dan nepotisme yang disamarkan dibalik harumnya kesturi. Hanya mata-mata yang kasat yang bisa melihat kebobrokan tersebut, namun mereka hanya bisa melihat, tidak mampu (atau tidak berani) untuk mengungkapkan. Karena bila mereka <em>&#8216;membangkang&#8217;</em>, dalam hitungan hari mereka hanya akan tinggal nama.</p>
<p>Wallahualam&#8230;</p>
<h3>Partai-Partai Itu, Tidak Usahlah Menunggangi Agama</h3>
<p>Ah&#8230; Sulit juga mencerna kata-kata ini. Kata-kata dari seorang responden yang kurang suka (bila tidak mau disebut anti) terhadap partai-partai bernafaskan agama (khususnya Islam).</p>
<p>Indonesia ini negara demokrasi, berlandaskan Pancasila, bukan negara agama. Tidak usahlah partai-partai itu menunggangi agama sebagai kendaraannya. Lurus-lurus sajalah&#8230; <em>*ini yang membuat saya miris, apakah agama itu tidak lurus?*</em>. Saya yakin bila mereka terpilih nanti, negara ini akan mereka jadikan negara agama yang memberlakukan hukum rajam dan potong tangan. Masya Allah, astaghfirullah, wallahualam&#8230; <em>*cuma bisa ngurut dada mendengar penuturan bapak itu sembari menonton ilustrasi yang digambarkannya*</em>.</p>
<h3>Tidak Satupun Yang Saya Suka Dan Dukung! Mereka Hanya Mengumbar Janji, Tanpa Ada Realisasi!</h3>
<p><em>Golput </em>(Golongan Putih, mereka yang tidak memberikan suaranya dalam pemilihan) itu pilihan. Apalagi bila dilandasi oleh perasaan capek. Ya, capek mendengar janji-janji, capek menonton mereka yang dengan semangat merangsek maju, senggol kanan senggol kiri, ke kursi pemerintahan, dan capek dibohongi.</p>
<p>Sudah bukan rahasia umum, ketika mereka butuh rakyat (dukungan suara), janji-janji manis (yang bahkan lebih manis daripada <em>&#8216;gula&#8217;</em> dan <em>&#8216;madu&#8217;</em>) silih berganti dan tanpa henti digembar-gemborkan kesana kemari. Namun ketika mereka terpilih, dan rakyat membutuhkan mereka, hanya <em>&#8216;garam&#8217;</em> yang bisa mereka berikan.</p>
<p>Sebenarnya saya kurang suka dengan golput. Mengapa? Simpel aja, ilustrasinya begini: <em>&#8220;Lima menit di bilik suara akan turut menentukan nasib kita lima tahun kedepan. Bila hasilnya baik, selama lima tahun kita akan hidup sejahtera, namun bila hasilnya buruk, selama lima tahun pula kita akan menderita.&#8221;</em></p>
<p>Pelajari dan kenali partai dan calonnya sebelum menentukan pilihan.</p>
<h3>Mahasiswa, Untuk Apa Sih Kalian Berdemonstrasi?</h3>
<p>Seorang bapak (responden) bertanya kepada saya, <em>&#8220;Mahasiswa, untuk apa sih kalian berdemonstrasi? Tidak ada untungnya. Yang ada malah menambah masalah!&#8221;</em></p>
<p>Hhh&#8230; Disini saya dituntut untuk memberikan jawaban.</p>
<p><em>&#8220;Pak, tidak semua dari kami (mahasiswa) setuju dengan aksi demonstrasi. Tidak semua. Melainkan hanya segelintir yang merasa terpanggil dan percaya bahwa harapan itu masih ada.&#8221;</em></p>
<p>Lalu, untuk apa berdemonstrasi, sampai-sampai melakukan aksi anarkis segala?<br />
<em><br />
&#8220;Kami tidak ingin aksi anarkis itu terjadi, Pak. Bila memang itu terjadi, tentulah ada provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan ingin menghancurkan aksi damai kami. Demonstrasi kami letakkan sebagai opsi kesekian, mendekati terakhir, bila melalui opsi-opsi lain belum menampakkan perubahan yang berarti. Sebagian besar yang kami suarakan dan perjuangkan dalam aksi demonstrasi itu adalah suara hati nurani rakyat, Pak.&#8221;</em></p>
<h3>Hidup Kami Susah, Dek&#8230;</h3>
<p>Pada bagian menjelang akhir dari kuesioner wawancara, ada bagian Aspirasi Masyarakat. Disini, saya banyak mendengar keluhan dari mereka. Berbagai keluhan. Yang beberapa sempat membuat saya terenyuh dan hampir menumpahkan air mata.</p>
<p><em>&#8220;Bapak tidak punya pekerjaan, Dek&#8230; Bagaimana mau kerja, umur bapak sudah tua, pendidikan hanya setingkat SD, itupun tidak tamat. Istri bapak juga sudah tua, anak-anak ada empat. Mereka semua harus dihidupi, diberi makan, anak-anak harus disekolahkan, biar mereka pintar. Untunglah satu anak bapak yang paling tua sudah bekerja. Dia yang menopang hidup bapak, ibu, dan adik-adiknya.&#8221;</em></p>
<p>Jleb! Jleb! Jleb! Subhanallah&#8230; Mulianya anak sulung itu&#8230;</p>
<p>Atau adegan lain.</p>
<p><em>&#8220;Ibu ingin kedepannya nanti, harga-harga bisa murah, khususnya sembako. Suami ibu cuma tukang ojek, yang penghasilannya tidak menentu. Anak ibu juga harus sekolah (masih SD), alhamdulillah sekolahnya gratis. Tapi yang ga nahan itu buku sekolahnya, dek&#8230; Mana? Katanya ada program pemerintah dalam hal buku sekolah ini? Nyatanya tidak ada. Harga satu buku sekolah aja mencapai 20.000 Rupiah&#8230; Uang segitu ga sedikit&#8230; Lebih baik ibu belikan beras buat dimakan&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Jleb! Jleb! Jleb! <em>*lagi*</em> :(</p>
<h3>Untuk Penguasa</h3>
<p><em>Penguasa&#8230; Penguasa&#8230; Berilah hambamu uang&#8230; Beri hamba uang&#8230;</em></p>
<p>Penggalan lirik dalam salah satu lagu Iwan Fals itu mungkin pantas digunakan untuk menggambarkan kehidupan rakyat kecil yang papa. Disaat mereka yang di atas bertarung dan berlaga (tidak jarang sampai menjatuhkan dan menjelekkan lawannya) memperebutkan kursi kekuasaan tertinggi republik ini, mereka yang di bawah justru sibuk berkutat mengais tanah, memeras keringat, membanting tulang demi sesuap dua suap nasi untuk keluarganya.</p>
<p>Obral janji harus diikuti dengan obral realisasi janji.</p>
<p>Rakyat bukan hanya butuh materi, tapi mereka juga butuh teladan yang baik. Teladan yang bisa menjadi inspirasi dan dicintai. Teladan yang memahami nurani rakyatnya&#8230;</p>
<p>HIDUP RAKYAT INDONESIA!</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Sumber gambar: http://lovesandcares.files.wordpress.com/2007/05/checkmate.jpg</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/11/16/politik-rakyat.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

