<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Idrus Fhadli's Blog &#187; rekayasa sosial</title>
	<atom:link href="http://idrus.net/tag/rekayasa-sosial/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idrus.net</link>
	<description>read my mind but don't kill my kind(ness)</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Apr 2012 14:02:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<image>
  <link>http://idrus.net</link>
  <url>http://xvader.110mb.com/favicon.ico</url>
  <title>Idrus Fhadli's Blog</title>
</image>
		<item>
		<title>Rekayasa Sosial yang Gagal</title>
		<link>http://idrus.net/2008/11/21/rekayasa-sosial-yang-gagal.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/11/21/rekayasa-sosial-yang-gagal.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 11:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Communication]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Social Politics]]></category>
		<category><![CDATA[hacking]]></category>
		<category><![CDATA[penipuan]]></category>
		<category><![CDATA[rekayasa sosial]]></category>
		<category><![CDATA[sosial politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Forewords Rekayasa sosial atau yang populer disebut sebagai social engineering adalah: The art of manipulating people into performing actions or divulging confidential information. While similar to a confidence trick or simple fraud, the term typically applies to trickery for information gathering or computer system access and in most cases the attacker never comes face-to-face with [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: left;">Forewords</h3>
<p style="text-align: left;">Rekayasa sosial atau yang populer disebut sebagai social engineering adalah:</p>
<blockquote style="text-align: left;"><p><em>The art of manipulating people into performing actions or divulging confidential information. While similar to a confidence trick or simple fraud, the term typically applies to trickery for information gathering or computer system access and in most cases the attacker never comes face-to-face with the victim</em> [<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_(security)" target="_blank">http://en.wikipedia.org/wiki/Social_engineering_(security)</a>, diakses tanggal 21 November 2008].</p></blockquote>
<p style="text-align: left;">Yang bila diIndonesiakan kira-kira artinya:</p>
<blockquote style="text-align: left;"><p>Seni memanipulasi orang lain untuk melakukan suatu aksi atau membocorkan informasi yang bersifat rahasia. Hampir mirip dengan trik kepercayaan atau penipuan yang sederhana, terminologi ini digunakan untuk menipu daya demi menggali informasi atau sistem akses komputer dan kebanyakan kasusnya, penyerang tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan korbannya.</p></blockquote>
<p style="text-align: left;"><span id="more-455"></span></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align: left;">
<dl id="attachment_456" class="wp-caption aligncenter" style="width: 309px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-456" title="hacker" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/11/hacker-299x300.jpg" alt="hacker" width="299" height="300" /></dt>
</dl>
</div>
<p style="text-align: left;">Yayaya&#8230; kali ini saya akan mengulas sedikit mengenai fenomena sosiologi dan psikologi manusia ini, walau hanya sedikit. Loh? Kok sedikit? Simple aja, karena saya bukanlah seorang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kevin_Mitnick" target="_blank">Kevin Mitnick</a>. Tanya kenapa saya menulis hal ini? Heee&#8230; soalnya dalam satu bulan ini, saya merasa cukup akrab dengan aksi rekayasa sosial ini. Ada dua hal yang melatarbelakangi, yakni:</p>
<ol style="text-align: left;">
<li>Ketika saya bekerja untuk salah satu perusahaan independen yang bergerak dalam bidang riset sosial politik selama satu minggu (<a href="http://idrus.net/2008/11/16/politik-rakyat.shtml" target="_blank">http://idrus.net/2008/11/16/politik-rakyat.shtml</a>). Saya sedikit banyak mengenal apa itu rekayasa sosial.</li>
<li>Fenomena penipuan yang mengatasnamakan <a href="http://www.telkomsel.com/web/home" target="_blank">Telkomsel</a> yang saya alami tadi pagi.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;">Oke, kita mulai dari yang pertama. Apa kaitannya kerja untuk perusahaan riset dengan rekayasa sosial? Tentu saja berkaitan erat. Yayaya&#8230; salah satunya karena jabatan saya sebagai orang lapangan, <em>interviewer</em> yang bertugas mengumpulkan data melalui wawancara langsung ke masyarakat.</p>
<p style="text-align: left;">Pada awalnya semua terdengar mudah. Namun pada kenyataannya, hal itu tidaklah semudah yang saya kira. Karena riset yang dilakukan berkaitan dengan politik, yakni Pemilu (Pemilihan Umum) 2009, pada sebagian responden, agak sulit untuk <em>mengorek</em> informasi dari mereka. Ada yang menolak secara halus bahkan ada yang terang-terangan memberikan alasan: &#8220;takut&#8221;. Loh? Takut kenapa? &#8220;Takut ditangkap polisi&#8221;, kata mereka. Ah&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Dalam berhadapan dengan masyarakat (demi mendapatkan data dari mereka), hal pertama yang saya pelajari dan menurut saya penting, tentu saja, <em>kesan pertama</em>. Ya, kesan pertama sangat menentukan kesediaan mereka untuk diwawancarai atau tidak. Beberapa elemen dari kesan pertama ini antara lain: penampilan, gaya bicara, dan senyum. Penampilan yang rapi dan meyakinkan, gaya bicara yang halus, tegas, dan mempersuasi, dan senyum yang senantiasa terkembang akan dapat dipastikan, responden akan tidak menolak untuk diwawancarai.</p>
<p style="text-align: left;">Selain kesan pertama, persuasi juga penting. <em>Demosthenes</em> dan <em>Aristoteles</em> mengingatkan kita dengan rumus-rumus sederhana dalam mempersuasi orang. Rumusan itu adalah:</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p class="MsoNormal"><em>The etical or emotional mode of persuasion. </em><span lang="SV">Metode persuasi dengan etika. Komunikator ulung adalah komunikator yang perilaku nya menjadi rujukan banyak orang. Seorang komunikator mesti menjadi teladan bagi banyak orang </span></p>
<p class="MsoNormal"><em>The pathetic or emotional mode of persuasion. </em>Persuasi dengan memakai emosi. Komunikan akan berubah dan mengikuti pandangan seorang komunikator yang berhasil melakukan pendekatan emosional.</p>
<p class="MsoNormal"><em>The logical mode of persuasion. </em>Komunikan akan mengikuti pembicaraan komunikator yang sistematis dan logis [<a href="http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=102" target="_blank">http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=102</a>].</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;">Biasanya, untuk orang yang merasa takut dan terkesan menutup-nutupi apa yang ia ketahui, agak sulit untuk mengorek informasi yang lebih mendalam dari mereka. Hal ini dapat diakali dengan memposisikan diri kita sejajar dengan mereka. Buatlah diri kita ikut prihatin dan merasakan penderitaan mereka. Dan mereka akan memberikan informasi apa saja yang kita tanyakan.</p>
<h3 class="MsoNormal" style="text-align: left;">Rekayasa Sosial yang Gagal #1</h3>
<p style="text-align: left;">Ini adalah yang pertama. Ada seorang yang mengaku cross checker dari perusahaan riset tempat saya bekerja waktu itu. Dia juga mengaku mahasiswa angkatan 2004 di salah satu fakultas di universitas yang sama dengan saya. Anehnya, saya tidak menemukan sedikitpun informasi mengenai dia dari website sistem informasi akademik mahasiswa yang ada di kampus saya <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<h3 style="text-align: left;">Rekayasa Sosial yang Gagal #2</h3>
<p style="text-align: left;">Ini yang kedua. Tadi pagi sekitar jam 9, saya baru selesai mandi pagi. Seorang wanita dengan nomor 0813XXXXXXXX menelepon saya dan memberitahukan bahwa saya memenangkan undian poin plus-plus dari Telkomsel, sebuah mobil! Wooowww&#8230; senangnya hatiku&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Ya, saking senangnya, saya teruskan pembicaraan via telepon itu hingga saya mendapatkan nama si penelepon berikut nomor rekening bank mana saya disuruhnya mentransfer sejumlah uang. Percakapan ngalur ngindur, memanjangkan tali kolor terus dan terus berlangsung, hingga akhirnya dia merasa curiga. Ya! Curiga!</p>
<p style="text-align: left;">Curiga karena apa?</p>
<p style="text-align: left;">Huakakakakaka&#8230; si cewek penelepon dengan logat batak yang kentara tiba-tiba marah dan mencaci maki saya dengan kata-kata hinaan yang tidak pantas untuk saya tuliskan disini, salah satunya: Anj*ng. Dia dengan suara keras dan membentak bertanya kepada saya, &#8220;Keparat! Anda merekam pembicaraan ini ya?!&#8221;. Saya jawab, &#8220;Merekam? Pake apa, Mbak yang cantik? Saya ga lagi nyalain <em>tape recorder</em> kok.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Ga usah berlagak bodoh kamu! Itu suara tat-tit-tut di hape kamu itu suara apa hah, Bangsat?!&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Fffiiiuuuhhh&#8230; saya dibilang bangsat? Wakakakakakakaka&#8230; makin dia marah makin senang saya dan semakin panjang durasi obrolan yang terekam di kartu memori hape saya.</p>
<p style="text-align: left;">Dan hubungan telepon pun diputuskannya. Tentu saja, senyum kemenangan mengembang di wajah saya :P</p>
<p style="text-align: left;">Yayaya&#8230; tentu saja obrolan itu benar saya rekam. Pake apa? Sebuah aplikasi <em>recorder</em> untuk <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Symbian" target="_blank">Symbian</a>, SpyCall. Linknya cari aja sendiri ya :P</p>
<h3 style="text-align: left;">Registrasi SIM <em>Card</em>, Efektifkah?</h3>
<p style="text-align: left;">Patut dipertanyakan. Registrasi yang dilakukan ketika akan mengaktifkan SIM <em>card</em> yang baru kita beli via 4444, apakah efektif dalam menanggulangi kasus seperti ini? Lalu validitas informasi pengguna SIM card itu juga, <em>valid</em>kah?</p>
<p style="text-align: left;">Kenapa saya meragukan hal ini? Karena ketika tadi siang saya mencoba untuk menghubungi kembali nomor si penipu itu, ternyata nomornya sudah tidak aktif lagi. Hal ini juga dipicu dengan menjamurnya konter penjual SIM <em>card</em> yang telah diaktivasi. Hhh&#8230;</p>
<h3 style="text-align: left;">Final Words</h3>
<p style="text-align: left;">Apa ya? Saya bingung kalo disuruh bikin kata penutup<em></em>nya. Ya udah, kalo gitu saya akhiri tulisan ini sampai disini, dan Insya Allah bila memungkinkan, akan saya <em>update</em> <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/11/21/rekayasa-sosial-yang-gagal.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

