<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Idrus Fhadli's Blog &#187; Stupid Thought (?!)</title>
	<atom:link href="http://idrus.net/tag/stupid-thought/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://idrus.net</link>
	<description>read my mind but don't kill my kind(ness)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 13:52:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<image>
  <link>http://idrus.net</link>
  <url>http://xvader.110mb.com/favicon.ico</url>
  <title>Idrus Fhadli's Blog</title>
</image>
		<item>
		<title>Salah Siapa?</title>
		<link>http://idrus.net/2008/12/19/salah-siapa.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/12/19/salah-siapa.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 09:28:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[judge]]></category>
		<category><![CDATA[Stupid Thought (?!)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Jadi&#8230; semuanya salah siapa? Salah dia! Bukan! Salah si anu! Oh iya, salah si Mister X! Saling salah menyalahkan&#8230; Pernah terlibat dalam situasi seperti itu? Saya yakin tiap orang pernah. Apa? Ada yang ga pernah? Oke&#8230; oke&#8230; Mari kita buat sebuah contoh kasus (hanya sebuah contoh kasus! bukanlah suatu kejadian yang benar-benar terjadi!). Misalkan, anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi&#8230; semuanya salah siapa? Salah dia! Bukan! Salah si anu! Oh iya, salah si Mister X!</p>
<p>Saling salah menyalahkan&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-477 aligncenter" title="judge-handing-down-verdict-bxp64659" src="http://idrus.net/wp-content/uploads/2008/12/judge-handing-down-verdict-bxp64659.jpg" alt="judge-handing-down-verdict-bxp64659" width="300" height="300" /></p>
<p>Pernah terlibat dalam situasi seperti itu? Saya yakin tiap orang pernah. Apa? Ada yang ga pernah? Oke&#8230; oke&#8230; Mari kita buat sebuah contoh kasus (hanya sebuah contoh kasus! bukanlah suatu kejadian yang benar-benar terjadi!).</p>
<p><span id="more-474"></span></p>
<p>Misalkan, anda bekerja di perusahaan XYZ. Posisi anda disitu hanya sebagai bawahan namun anda kenal dekat dengan salah seorang atasan. Suatu ketika, perusahaan anda tengah dilanda masalah, katakanlah gaji pegawai yang kurang memadai. Teman-teman anda sibuk bergunjing sana-sini membicarakan masalah gaji ini. Memang, anda turut merasakan dampaknya. Namun, si A, atasan yang kenal dekat dengan anda, suatu kali bercerita mengenai kebobrokan ini, mengenai masalah gaji pegawai yang tidak mencukupi, mengenai bagaimana tindak tanduk perusahaan dalam menghadapi krisis global, dsb. Anda dengan segera turut memahami dan prihatin dengan kondisi yang ada.</p>
<p>Beberapa minggu kemudian, keadaan makin memanas, beberapa pegawai yang tergabung dalam aliansi kesejahteraan pegawai mulai mengkoordinasi sebuah aksi menuntut kenaikan gaji. Pegawai terus menerus menyerukan kenaikan gaji, kemudian perusahaan menjelaskan dengan bijak bahwa hal itu tidak mungkin untuk dilakukan pada saat seperti ini, kondisi keuangan perusahaan sedang kritis. Pegawai terus terus dan terus ngotot dan menyalahkan perusahaan. Perusahaan mulai kesal, dan balik menyalahkan pegawainya, bahwa para pegawai kurang giat bekerja.</p>
<p>Adu argumentasi terus berlangsung&#8230;</p>
<p>Dan anda? Ya, anda! Anda yang berdiri di persimpangan, diantara dilema nasib pegawai dan masalah keuangan perusahaan. Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan turut bersuara bersama para pegawai, atau turut membela perusahaan dengan memberikan penjelasan. Atau&#8230; mungkin juga anda akan diam saja?</p>
<p>Ketiga opsi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bila anda memilih yang pertama, turut mendukung perjuangan para pegawai, anda telah mengambil langkah yang benar. Walaupun mungkin akan ada rasa tidak enak hati dengan teman anda, sang atasan yang akrab dan dekat dengan anda, yang telah menumpahkan keluh kesahnya kepada anda, dsb.</p>
<p>Anda juga bisa memilih opsi nomor dua, turut memberikan penjelasan kepada teman-teman anda sesama pegawai mengenai permasalaham yang sebenarnya. Teman yang akrab yang sekaligus atasan anda mungkin akan merasa senang dan berterima kasih kepada anda karena telah turut membela perusahaan. Konsekuensinya, anda mungkin akan dianggap tidak memiliki solidaritas oleh teman-teman anda yang lain, sesama pegawai. Atau separah-parahnya, anda juga mungkin akan dianggap sebagai mata-mata dan pengkhianat.</p>
<p>Opsi ketiga, diam, adalah opsi yang juga bisa anda pilih. Sebuah opsi yang bisa dibilang bijak namun juga bisa dibilang penakut. Dengan tidak memihak salah satu diantara keduanya, anda mungkin akan merasa sedikit aman. Ya, hanya sedikit aman. Namun hati anda tetap diliputi gundah gulana, disatu sisi anda ingin berjuang bersama teman-teman anda sesama pegawai, dan disisi lain, anda ingin turut membantu teman anda, sang atasan, dalam memberi penjelasan tentang keadaan perusahaan yang sebenarnya kepada teman-teman pegawai anda.</p>
<p>Dilema memang&#8230;</p>
<p>Tapi itulah adanya. Dan saya saat ini memilih opsi ketiga.</p>
<p>Baik, mari kita telaah dari kedua sisi. Pertama, dari sisi para pegawai. Menurut mereka, perusahaan terlalu egois dan tidak memperhatikan kesejahteraan para pegawainya. Bagaimana para pegawai akan menghidupi diri dan keluarganya dengan gaji yang hanya segitu? Sementara harga-harga bahan pokok semakin melambung akibat krisis global ditambah lagi dengan dicabutnya subsidi minyak yang menyebabkan harga minyak melambung gila-gilaan. Ini pandangan para pegawai, perusahaanlah yang salah dan patut dipersalahkan serta mempertanggungjawabkan semuanya.</p>
<p>Sekarang kita pindah ke sisi yang kedua, dari sisi perusahaan. Krisis global dan pencabutan subsidi minyak oleh pemerintah secara tidak langsung turut mempengaruhi faktor produksi perusahaan. Harga bahan-bahan baku produksi turut melambung, dengan alasan menjaga kualitas hasil produksi, perusahaan tetap menggunakan bahan baku produksi yang sama, yang menyebabkan perusahaan mau tidak mau ikut menaikkan harga jual produknya. Konsumen, yang merasa produk perusahaan XYZ mahal, mulai melirik produk lain sejenis dari perusahaan ZXY yang harganya lebih murah walau dengan kualitas yang lebih rendah. Secara tidak langsung hal tersebut turut mempengaruhi kondisi perekonomian perusahaan XYZ. Kini masalah yang harus dihadapi perusahaan XYZ semakin bertambah dengan adanya tuntutan kenaikan gaji dari para pegawainya. Perusahaan berusaha menjelaskan situasi kepada para pegawai, namun segera ditampik oleh para pegawai yang tampaknya mulai bosan mendengar alasan dari para jajaran elite perusahaan yang menurut mereka klise. Serta merta perusahaan balik menyalahkan para pegawainya yang kurang rajinlah, sering terlambatlah, egoislah, banyak tuntutanlah, dan lah lah lah yang lainnya.</p>
<p>Got my point?</p>
<p>Sulit memang&#8230;</p>
<p>Jadi, bila anda berada di posisi seperti itu, jalan apa yang akan anda tempuh?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/12/19/salah-siapa.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Masalah dan Menikmati Hidup</title>
		<link>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml</link>
		<comments>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 23:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xvader</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Stories and Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Stupid Thought (?!)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://idrus.net/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?) Hmmm&#8230; Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit. Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week&#8230; *lebay mode on :P* Dowh! Entahlah&#8230; Lo mah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup harus dinikmati. Anda setuju? (Atau tidak?)</p>
<p>Hmmm&#8230;</p>
<p>Saya yakin sebagian besar pasti akan menjawab setuju, meskipun tidak menyatakannya secara eksplisit.</p>
<p>Masihkah anda akan menjawab setuju terhadap pernyataan tersebut, bila saat ini anda tengah dilanda masalah yang berat-hebat-luar biasa? Like what I feel for last a week&#8230; *lebay mode on :P*</p>
<p>Dowh! Entahlah&#8230;</p>
<p>Lo mah ga tau, drus, masalah gue berat bener nie, seberat tujuh lapis langit yang spontan jatuh menimpa kepala gue! Lo masih nanya, apakah hidup itu harus dinikmati atau tidak? Dasar!</p>
<p>Okay, okay&#8230;</p>
<p>Calm down&#8230; *loh?! kok tulisan ini jadi nyeleneh gini sih?* :P</p>
<p>Stop it! Let&#8217;s BTT (back to topic-red)</p>
<p>Saya tahu, setiap orang pasti punya masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan oleh Sang Maha Pencipta terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Bisa saja suatu masalah bagi seseorang terasa berat namun justru bagi orang lain, masalah itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Nah, ketika anda mengalami masalah terberat itu, bagaimanakah tampaknya dunia ini? Masihkah ia berwarna-warni cerah? Atau justru cuma ada tiga warna? Hitam, putih, kelabu?</p>
<p>Pernah saya baca di salah satu blog temen saya, &#8220;Sesungguhnya tidak ada masalah dengan masalah, karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menghadapi masalah.&#8221; I totally agree with that!</p>
<p>Dan ada satu hasil kontemplasi antara saya dengan seseorang mengenai hidup dan masalah, &#8220;Turn it into a joy, play it like a toy, and make sure you&#8217;ll enjoy.&#8221; Apa kau gila?! Menganggap dan menjadikan suatu masalah sebagai permainan? Yeah, that&#8217;s an alternative door to get out of a complex labyrinth. IMSO (in my stupid opinion), jangan terlalu serius dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, berikan sedikit kesenangan pada diri anda, takutnya bila terlalu serius, masalah itu kemungkinan akan membuat anda tertekan dan semakin tertekan saat ia menjadi semakin rumit. Tapi, jangan pula menganggap suatu masalah itu terlalu mudah, yang bila anda terlena karenanya, ia akan menjadi semakin rumit dan rumit, atau bahkan tidak akan terselesaikan sama sekali. Dan beberapa masalah yang tidak terselesaikan justru akan tetap menggelayut di pikiran anda dan membebaninya. Bukankah akan terasa lebih plong, bila tidak ada beban sama sekali?</p>
<p><span id="more-121"></span></p>
<p>Bahkan, salah satu filsuf Yunani kuno yang terkenal itu, mister Plato, menyatakan, &#8220;Kalau begitu, bagaimana cara menjalani hidup yang benar? Jalani hidup seperti permainan.&#8221;</p>
<p>Yayaya&#8230;</p>
<p>Lagi-lagi nyangkut ke permainan. Mari sedikit mengenang, kapankah terakhir kali kita bermain? Bermain apa? Berapa lama? Dan apakah permainan itu memberikan perasaan senang?</p>
<p>Bermain bukan hanya hak yang dimonopoli oleh anak-anak. Kita pun butuh bermain. Ummm&#8230; Terakhir kali saya bermain adalah tiga puluh menit sebelum saya memulai menulis artikel ini. Saya bermain-main dengan kucing saya, lalu menjalankan game Alien Arena di mesin Ubuntu saya, memainkan beberapa riff lagu dengan gitar kesayangan, dan mencoret-coret di beberapa lembar kertas bekas.</p>
<p>Dengan menganggap suatu masalah sebagai sebuah permainan (anggap saja seperti dalam sebuah game) yang tentu saja ingin dimenangkan, saya merasa termotivasi untuk tetap tegak berdiri menghadapi gelombang hidup.</p>
<h3>Memandang Masalah Secara Terbalik</h3>
<p>Aaahhh&#8230;</p>
<p>Apa pula ini? Entahlah, saya juga rada bingung dengan konsep itu :P</p>
<p>Memangnya masalah bisa dibolak-balik? Tentu tidak! Namun cara kita memandang masalahlah yang bisa dibolak-balik. Misalnya gini, A merasa suntuk dengan masalah pekerjaannya, dimarahi bos tiap hari, kerjaan yang terus menumpuk, dsb. Bila A memandang masalah itu secara linear, tentu ia akan terjebak pada arus masalah tersebut.</p>
<p>Sekali-sekali melawan arus boleh, kan? Ga ada yang melarang kok! Tapi resiko tanggung sendiri. Balik lagi ke contoh si A diatas, bila ia merasa suntuk dengan pekerjaannya, cobalah sekali-sekali menganggap pekerjaannya itu sebagai permainan yang menyenangkan yang justru akan semakin menyenangkan bila semakin banyak permainan dan waktu yang dapat dihabiskan untuk bermain. Begitu pula bila ia bosan dan merasa gerah karena sering dimarahi oleh bosnya, coba pandang dan anggap kemarahan si bos itu sebagai sebuah lagu perjuangan yang mengingatkannya pada masa-masa penjajahan dulu, tentu semangatnya akan berkobar-kobar, bukan? Kemarahan si bos akan menjadi suatu hal yang senantiasa dirindukannya. Atau, mengapa tidak berbalik saja? Si A yang memarahi si bos? :P</p>
<p>Hahaha&#8230; Ternyata ada banyak cara dalam memandang dan menyikapi masalah&#8230; <img src='http://idrus.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hhhh&#8230; Udah! Udah! Makin ngawur tho? Hihihi&#8230; Stop dulu ah nulisnya, ntar laen kali disambung lagi&#8230; :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://idrus.net/2008/10/09/tentang-masalah-dan-menikmati-hidup.shtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

